411. “Dengan diamnya antah-karana lewat samãdhi[1], nikmatilah keagungan tanpa batas dari Sang Diri-jati. Dengan penuh semangat hancurkanlah belenggu bau harum-busuk dari kelahiran dan kematian; jadilah ia yang telah mencapai tujuan-akhir dari kelahiran berjasad manusia ini!

412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”

Tuesday, March 27, 2007

MERAJAN BALI

Om Swastyastu,

Pelinggih-pelinggih umum yang terdapat di Sanggah Pamerajan adalah stana dalam niyasa Sang Hyang Widhi dan roh leluhur yang dipuja :
1. Padmasana/Padmasari : Sang Hyang Tri Purusha, Sang Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Siwa - SadaSiwa - Parama Siwa.
2. Kemulan rong tiga : Sang Hyang Trimurti, Sang Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Brahma - Wisnu - Siwa atau disingkat Bhatara Hyang Guru. Ada juga kemulan rong 1 (Sanghyang Tunggal), rong 2 (Arda nareswari),rong 4 (Catur Dewata), rong lima (Panca Dewata)
3. Sapta Petala : Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai pertiwi dengan tujuh lapis : patala,
witala, nitala, sutala, tatala, ratala, satala. Sapta petala juga berisi patung naga sebagai symbol
naga Basuki, pemberi kemakmuran.
4. Taksu : Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagaiBhatari Saraswati (sakti Brahma)
penganugrah pengetahuan.
5. Limascari dan limasctu : Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai ardanareswari : pradana
- Purusha, rwa bhineda.
6. Pangrurah : Sanghyang Widhi sebagai manifestasi Bhatara Kala, pengatur kehidupan dan waktu
7. Manjangan Saluwang : pelinggih sebagai penyungsungan Mpu Kuturan, mengingat jasa-jasa beliau yang meng-ajegkan Hindu di Bali.
8. Raja-Dewata : pelinggih roh para leluhur (dibawahBhatara Kawitan)

Om Santih, santih, santih, Om

Thursday, March 22, 2007

PURA BUKIT DHARMA DI KUTRI,
MASUKNYA BUDAYA HINDU KE BALI

Pada waktu Raja Udayana memerintah di Bali sekitar abad X Masehi, masuknya budaya Hindu ke Bali mulai agak deras sampai pada zaman Majapahit sebagai puncaknya. Pura Bukit Dharma di Kutri, Desa Buruan, Blahbatuh ini sebagai salah satu buktinya. Pura Bukit Dharma hasil budaya Hindu purbakala ini dapat dijadikan salah satu sumber untuk menelusuri proses pengaruh Hindu dari Jawa ke Bali. Seperti apakah sejarah Pura Bukit Dharma di Kutri itu?

===================================================== Gunapriya Dharma Patni yang roh sucinya (Dewa Pitara) distanakan di pura ini berasal dari Jawa Timur. Permaisuri Raja Udayana ini sangat besar pengaruhnya pada sang Raja sehingga namanya selalu disebutkan di depan nama Raja Udayana. Pelinggih utama pura ini juga disebut Gedong Pajenengan, tempat distanakan arca Durga Mahisasura Mardini. Upacara piodalan di pura ini setiap purnama sasih Kasa bersamaan dengan pujawali di Pura Semeru Agung di Lumajang, Jawa Timur. Pura ini letaknya di puncak Bukit Kutri, Desa Buruan. Di areal bawah pura ini terdapat dua buah pura lagi. Pura yang paling bawah di pinggir jalan menuju kota Gianyar adalah Pura Puseh Desa Adat Buruan. Di atasnya Pura Pedharman. Naik dari Pura Padharman inilah letak Pura Bukit Dharma atau Pura Durga Kutri. Yang menarik dari keberadaan pura ini adalah distanakannya permaisuri Raja sebagai Dewi Durga. Sejak Raja berpermaisurikan putri dari Jawa Timur ini pengaruh kebudayaan Hindu dari Jawa sangat kuat masuk ke Bali. Tanpa proses tersebut mungkin kebudayaan Hindu di Bali tidak semarak dan kaya dengan nilai-nilai kehidupan yang adiluhung seperti sekarang ini. Fakta sejarah menyatakan bahwa budaya agama Hindu masuk ke Jawa dari India telah berhasil menjadikan Jawa sebagai Jawa yang ada nilai plusnya. Dari Jawa budaya agama Hindu masuk ke Bali menyebabkan Bali menjadi Bali yang plus. Agama Hindu telah berhasil menjiwai budaya setempat. Dengan demikian agama Hindu dapat menghasilkan kebudayaan Bali yang adiluhung. Hal itu dimulai dari masuknya bahasa Jawa Kuno ke Bali. Dengan demikian bahasa dan kesusastraan Jawa Kuno sangat kuat pengaruhnya membentuk kebudayaan Bali seperti sekarang ini. Ramayana, Mahabharata dan berbagai cerita dan tutur-tutur dalam bahasa Jawa Kuno masuk dengan kuat dan halus ke Bali. Derasnya bahasa Jawa Kuno masuk ke Bali nampaknya disebabkan kesusastraan Jawa Kuno itu muatannya adalah ajaran agama Hindu. Di lain pihak masyarakat Bali saat itu sudah memeluk agama Hindu yang saat itu disebut agama Tirtha atau agama Siwa Budha. Agama Tirtha tersebut sumber ajarannya adalah kitab suci Weda dan kitab-kitab susastranya. Seni budaya Hindu yang berbahasa Jawa Kuno demikian digemari oleh masyarakat Bali. Sampai saat ini orang awam akan menganggap kesusastraan Jawa Kuno itu sudah kesusastraan Bali. Sejak itulah Bali mengenal adanya seni sastra dari Jawa Kuno seperti Sekar Alit, Sekar Madya dan Sekar Agung. Andaikata Raja Udayana saat itu bersikap kaku tidak membolehkan budaya luar masuk Bali, keadaan Bali dapat dibayangkan. Mungkin orang Bali tidak kenal geguritan, kidung maupun kekawin. Geguritan memang berbahasa Bali pada umumnya, tetapi tembang-tembang seperti Semarandhana, Dhurma, Sinom, Ginanti, Megatruh dll. itu semuanya berasal dari kesusastraan Jawa Kuno atau sering disebut bahasa Kawi. Apalagi kekawin sepenuhnya adalah berbahasa Jawa Kuno. Lewat seni sastra Jawa Kuno inilah menjadi media untuk menanamkan ajaran agama Hindu melalui seni budaya. Dengan seni budaya itu umat Hindu di Bali dapat menyerap ajaran agama Hindu secara halus. Derasnya pengaruh Hindu Jawa ke Bali sangat menonjol sejak zaman Raja Udayana memerintah Bali sampai zaman Kerajaan Majapahit berkuasa di Jawa sampai ke Bali. Keberadaan Gunapriya Dharma Patni itu dinyatakan dalam Prasasti Bebetin sbb: Aji Anak Wungsu nira kalih Bhatari lumahing Burwan Bhatara lumahing banyu weka.Yang dimaksud Bhatari Lumahing Burwan tiada lain adalah ibunya Anak Wungsu yaitu Gunapriya Dharma Patni yang wafat dan distanakan roh sucinya di Burwan yaitu di Bukit Kutri, Desa Buruan. Prasasti ini berbahasa Jawa Kuno diperkirakan berada pada abad X Masehi. Seandainya Raja saat itu tidak berpikir luas dan melakukan proteksi pada kebudayaan asli Bali yang berlaku pada saat itu, mungkin di Bali kita tidak mengenal adanya Pesantian yang demikian marak sampai pada saat ini. Keberadaan Arca Durga Mahisasura Mardini ini sangat erat kaitannya dengan cerita-cerita Purana dari India. Cerita ini memang sangat populer di kalangan umat Hindu di India dan di Bali. Diceritakan Dewi Parwati atau Dewi Uma berperang melawan raksasa. Raksasa itu sangatlah sakti dan sulit ditaklukkan. Karena itulah disebut Durga. Artinya sulit dicapai, karena raksasa itu sampai bisa bersembunyi di dalam tubuh seekor lembu atau Mahisa. Karena ada raksasa atau Asura di dalam tubuh lembu itu, maka ia disebut Mahisasura. Dewi Parwati adalah Saktinya Dewa Siwa juga sangat sakti. Raksasa yang sulit ditaklukkan (Durga) itu karena kesaktian Dewi Parwati akhirnya dapat juga menaklukkan raksasa tersebut dengan pedangnya. Sejak dapat ditaklukannya Asura yang bersembunyi di tubuh Mahisa atau lembu itulah Dewi Parwati disebut Dewi Durga. Kemenangan Dewi Durga ini dirayakan setiap hari raya Dasara atau Wijaya Dasami sebagai hari raya Durgha Puja. Durgha Puja ini lebih menonjol di India Selatan. Hari suci Wijaya Dasami umumnya dirayakan pada bulan April dan Oktober di India. Hari raya Wijaya Dasami juga merayakan kemenangan Sri Rama melawan Rahwana. Wijaya Dasami ini diperingati selama sepuluh hari. Seperti Galungan di Bali. Tiga hari melakukan Durga Puja, tiga hari berikutnya memuja Dewi Saraswati dan tiga harinya lagi memuja Laksmi. Pada hari kesepuluh barulah dirayakan dengan perayaan yang meriah. Pada hari kesepuluh ini dipuja Dewa Ganesia dan Dewi Laksmi. Ini melambangkan bahwa kemenangan itu adalah terwujudnya rasa aman dan sejahtera. Dewa Ganesia lambang pemujaan Tuhan untuk mencapai rasa aman. Sedangkan pemujaan Dewi Laksmi lambang kesejahteraan. Senjata-senjata yang dipegang oleh tangan Arca Durga Kutri itu adalah lambang senjata spiritual. Bukan lambang senjata untuk membunuh badan jasmaniah secara kejam dalam perang duniawi. Senjata itu adalah lambang senjata spiritual untuk membasmi kegelapan hati nurani membangun kesadaran rohani menuju kehidupan yang cerah. * suastra

Sumber: BaliPost

Sejarah masuknya Agama Hindu

Masuknya Agama Hindu

Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masa-masa pengaruh Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah. Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa prasasti, di antaranya dari prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata "Walidwipa". Demikian pula dari prasasti-prasasti RajaJayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi.
Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus , Jayasakti, dan Anak Wungsu.
Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882 Masehi–-914 Masehi badan ini disebut dengan istilah "panglapuan". Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah "pakiran-kiran i jro makabaihan". Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha.
Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja.
Dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Kadang-kadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Budha) sebagai pembantu raja.

Masa 1343--1846

Masa ini dimulai dengan kedatangan ekspedisi Gajah Mada pada tahun 1343. Secara detail masa ini dapat diuraikan sebagai berikut : Kedatangan Ekspedisi Gajah Mada Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang Arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga.
Zaman Gelgel Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel. Pada saat inilah dimulai zaman Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460--1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga beliau dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550--1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605--1686).
Zaman Kerajaan Klungkung Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya, yaitu Semarapura. Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710--1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil ini selanjutnya menjadi Swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.

Masa 1846--1949

Perlawanan Terhadap Orang-Orang Belanda

Masa ini merupakan masa perlawanan terhadap kedatangan bangsa Belanda di Bali. Perlawanan-perlawanan ini ditandai dengan meletusnya berbagai perang di wilayah Bali. Perlawanan-perlawanan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Perang Buleleng (1846) 2. Perang Jagaraga (1848--1849) 3. Perang Kusamba (1849) 4. Perang Banjar (1868) 5. Puputan Badung (1906) 6. Puputan Klungkung (1908) Dengan kemenangan Belanda dalam seluruh perang dan jatuhnya kerajaan Klungkung ke tangan Belanda, berarti secara keseluruhan Bali telah jatuh ke tangan Belanda.

Zaman Penjajahan Belanda

Sejak kerajaan Buleleng jatuh ke tangan Belanda mulailah pemerintah Belanda ikut campur mengurus soal pemerintahan di Bali. Hal ini dilaksanakan dengan mengubah nama raja sebagai penguasa daerah dengan nama regent untuk daerah Buleleng dan Jembrana serta menempatkan P.L. Van Bloemen Waanders sebagai controleur yang pertama di Bali. Struktur pemerintahan di Bali masih berakar pada struktur pemerintahan tradisional, yaitu tetap mengaktifkan kepemimpinan tradisional dalam melaksanakan pemerintahan di daerah-daerah. Untuk di daerah Bali, kedudukan raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, yang pada waktu pemerintahan kolonial didampingi oleh seorang controleur. Di dalam bidang pertanggungjawaban, raja langsung bertanggung jawab kepada Residen Bali dan Lombok yang berkedudukan di Singaraja, sedangkan untuk Bali Selatan, raja-rajanya betanggung jawab kepada Asisten Residen yang berkedudukan di Denpasar. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga administrasi, pemerintah Belanda telah membuka sebuah sekolah rendah yang pertama di Bali, yakni di Singaraja (1875) yang dikenal dengan nama Tweede Klasse School. Pada tahun 1913 dibuka sebuah sekolah dengan nama Erste Inlandsche School dan kemudian disusul dengan sebuah sekolah Belanda dengan nama Hollands Inlandshe School (HIS) yang muridnya kebanyakan berasal dari anak-anak bangsawan dan golongan kaya.

Lahirnya Organisasi Pergerakan

Akibat pengaruh pendidikan yang didapat, para pemuda pelajar dan beberapa orang yang telah mendapatkan pekerjaan di kota Singaraja berinisiatif untuk mendirikan sebuah perkumpulan dengan nama "Suita Gama Tirta" yang bertujuan untuk memajukan masyarakat Bali dalam dunia ilmu pengetahuan melalui ajaran agama. Sayang perkumpulan ini tidak burumur panjang. Kemudian beberapa guru yang masih haus dengan pendidikan agama mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Shanti" pada tahun 1923. Perkumpulan ini memiliki sebuah majalah yang bernama "Shanti Adnyana" yang kemudian berubah menjadi "Bali Adnyana". Pada tahun 1925 di Singaraja juga didirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Suryakanta" dan memiliki sebuah majalah yang diberi nama "Suryakanta". Seperti perkumpulan Shanti, Suryakanta menginginkan agar masyarakat Bali mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan menghapuskan adat istiadat yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sementara itu, di Karangasem lahir suatu perhimpunan yang bernama "Satya Samudaya Baudanda Bali Lombok" yang anggotanya terdiri atas pegawai negeri dan masyarakat umum dengan tujuan menyimpan dan mengumpulkan uang untuk kepentingan studie fons.

Zaman Pendudukan Jepang

Setelah melalui beberapa pertempuran, tentara Jepang mendarat di Pantai Sanur pada 18 dan 19 Februari 1942. Dari arah Sanur ini tentara Jepang memasuki kota Denpasar dengan tidak mengalami perlawanan apa-apa. Kemudian, dari Denpasar inilah Jepang menguasai seluruh Bali. Mula-mula yang meletakkan dasar kekuasaan Jepang di Bali adalah pasukan Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Kemudian, ketika suasana sudah stabil penguasaan pemerintahan diserahkan kepada pemerintahan sipil. Karena selama pendudukan Jepang suasana berada dalam keadaan perang, seluruh kegiatan diarahkan pada kebutuhan perang. Para pemuda dididik untuk menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA). Untuk daerah Bali, PETA dibentuk pada Januari 1944 yang program dan syarat-syarat pendidikannya disesuaikan dengan PETA di Jawa.

Zaman Kemerdekaan

Menyusul Proklamasi Kemerdekaan, pada 23 Agustus 1945 Mr. I Gusti Ketut Puja tiba di Bali dengan membawa mandat pengangkatannya sebagai Gubernur Sunda Kecil. Sejak kedatangan beliau inilah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Bali mulai disebarluaskan sampai ke desa-desa. Pada saat itulah mulai diadakan persiapan-persiapan untuk mewujudkan susunan pemerintahan di Bali sebagai daerah Sunda Kecil dengan ibu kotanya Singaraja. Menyusul Proklamasi Kemerdekaan, pada 23 Agustus 1945 Mr. I Gusti Ketut Puja tiba di Bali dengan membawa mandat pengangkatannya sebagai Gubernur Sunda Kecil. Sejak kedatangan beliau inilah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Bali mulai disebarluaskan sampai ke desa-desa. Pada saat itulah mulai diadakan persiapan-persiapan untuk mewujudkan susunan pemerintahan di Bali sebagai daerah Sunda Kecil dengan ibu kotanya Singaraja. Sejak pendaratan Nica di Bali, Bali selalu menjadi arena pertempuran. Dalam pertempuran itu pasukan RI mengunakan sistem gerilya. Oleh karena itu, MBO sebagai induk pasukan selalu berpindah-pindah. Untuk memperkuat pertahanan di Bali, didatangkan bantuan ALRI dari Jawa yang kemudian menggabungkan diri ke dalam pasukan yang ada di Bali. Karena seringnya terjadi pertempuran, pihak Belanda pernah mengirim surat kepada Rai untuk mengadakan perundingan. Akan tetapi, pihak pejuang Bali tidak bersedia, bahkan terus memperkuat pertahanan dengan mengikutsertakan seluruh rakyat. Untuk memudahkan kontak dengan Jawa, Rai pernah mengambil siasat untuk memindahkan perhatian Belanda ke bagian timur Pulau Bali. Pada 28 Mei 1946 Rai mengerahkan pasukannya menuju ke timur dan ini terkenal dengan sebutan "Long March". Selama diadakan "Long March" itu pasukan gerilya sering dihadang oleh tentara Belanda sehingga sering terjadi pertempuran. Pertempuran yang membawa kemenangan di pihak pejuang ialah pertempuran Tanah Arun, yaitu pertempuran yang terjadi di sebuah desa kecil di lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem. Dalam pertempuran Tanah Arun yang terjadi 9 Juli 1946 itu pihak Belanda banyak menjadi korban. Setelah pertempuran itu pasukan Ngurah Rai kembali menuju arah barat yang kemudian sampai di Desa Marga (Tabanan). Untuk lebih menghemat tenaga karena terbatasnya persenjataan, ada beberapa anggota pasukan terpaksa disuruh berjuang bersama-sama dengan masyarakat.

Puputan Margarana

Pada waktu staf MBO berada di Marga, Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi Nica yang ada di kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 18 November 1946 (malam hari) dan berhasil baik. Beberapa pucuk senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi Nica ikut menggabungkan diri kepada pasukan Ngurah Rai. Setelah itu pasukan segera kembali ke Desa Marga. Pada 20 November 1946 sejak pagi-pagi buta tentara Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan Nica dengan pasukan Ngurah Rai. Pada pertempuran yang seru itu pasukan bagian depan Belanda banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makasar. Di dalam pertempuran yang sengit itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan "Puputan" sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Rai sendiri sebagai kusuma bangsa. Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas. Untuk mengenang peristiwa tersebut kini pada bekas arena pertempuran itu didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa.

Konferensi Denpasar

Pada 18--24 Desember 1946 bertempat di pendopo Bali Hotel, Denpasar berlangsung konferensi Denpasar. Konferensi itu dibuka oleh Van Mook yang bertujuan untuk membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) dengan ibu kota Makasar (Ujung Pandang). Dengan terbentuknya Negara Indonesia Timur itu susunan pemerintahan di Bali dihidupkan kembali seperti pada zaman raja-raja dulu, yaitu pemerintahan dipegang oleh raja yang dibantu oleh patih, punggawa, perbekel, dan pemerintahan yang paling bawah adalah kelian. Di samping itu, masih ada lagi suatu dewan yang berkedudukan di atas raja, yaitu dewan raja-raja.

Penyerahan Kedaulatan

Agresi militer yang pertama terhadap pasukan pemeritahan Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta dilancarakan oleh Belanda 21 Juli 1947. Belanda melancarkan lagi agresinya yang kedua 18 Desember 1948. Pada masa agresi yang kedua itu di Bali terus-menerus diusahakan berdirinya badan-badan perjuangan bersifat gerilya yang lebih efektif. Sehubungan dengan hal itu, pada Juli 1948 dapat dibentuk organisasi perjuangan dengan nama Gerakan Rakyat Indonesia Merdeka (GRIM). Selanjutnya, 27 November 1949 GRIM menggabungkan diri dengan organisasi perjuangan lainnya dengan nama Lanjutan Perjuangan. Nama itu kemudian diubah lagi menjadi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sunda Kecil. Sementara itu, Konferensi Meja Bundar (KMB) mengenai persetujuan tentang pembentukan Uni Indonesia - Belanda dimulai sejak akhir Agustus 1949. Akhirnya, 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan RIS. Selanjutnya, 17 Agustus 1950 RIS diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masa 1949-2007

Pada 12 Oktober 2002, terjadi pengeboman di daerah Kuta yang menyebabkan sekitar 202 orang meninggal dan ratusan lainnya luka-luka. Sebagian besar korban meninggal adalah warga Australia.

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Bali"

Bhatara Ganapati

Om Swastyastu,

1. Patung Bhatara Gana atau Ganapati atau Ganesa yang diletakkan di pekarangan rumah dimaksud untuk menstanakan Bhatara Gana, putra Siwa dan Parvati, yang memberi perlindungan dan pemusnah rintangan bagi umat manusia. Selain Ganesa, putra Siwa yang lain adalah Karttikeya (Baca : Siva Purana dan Lingga Purana) atau di Bali dikenal sebagai Bhatara Hyang Kumara yang 'bertugas' melindungi bayi-bayi kita. Beliau tidak dibuatkan patung, tetapi distanakan di pelangkiran kamar tidur bayi dengan bentuk bulat yang disebut pelangkiran ingka (acuan : Lontar Kala Tattwa). Bila si bayi sudah diupacari tiga bulanan maka Bhatara Hyang Kumara 'menyerahkan tugas ngemban manusia' kepada 'Kanda-Pat'

2. Kanda-Pat yang sudah suci distanakan di pekarangan dalam wujud tugu sebagai Sedahan Karang. Bila di Sanggah Pamerajan di stanakan di palinggih Panglurah (acuan : Buku Dharmopadesa, PHDI Kota Denpasar, halaman 44).

Dados yen ngelinggihang Sedaan/Penunggun Karang/Tugu, punika matiosan pisan sareng ngelinggihang Ganesa, sakewanten sami tatujon nyane pateh, inggih punika nunas paswecan Sanghyang Parama Kawi mangda iraga sareng sami ngemangguhang rahayu tur rahajeng. Tiang ring Geria ngelinggihang makekalih inggih punika Patung Bhatara Gana lan Sedahan Karang.
Punika kirang langkung sane panggihin titiang, ampura.

Om Santih, santih, santih

Wednesday, March 21, 2007

Sorga & Neraka



Om Swastyastu,

Millis ramai oleh Sorga, Neraka, dan re-inkarnasi.Saya lama berpikir apakah berani memberikan sedikitinfo (dari pengalaman muput Pitra Yadnya), karenatakut tidak dipercaya atau dikira yang nggak-nggak.Tapi kalau terus diam, kasihan juga bagi yang belumtahu. Sekarang juga anda boleh percaya, boleh tidak.Kalau saya salah, mohon maaf.1. Sorga itu ada, namanya 'Banjaran Kembang'2. Neraka itu ada, namanya 'Titi Gonggang'3. Ujian perjalanan ke Sorga melalui wilayah yangbernama : Kayu Curiga, dan Alang-alang Reges.4. Bila roh sudah berada di Sorga, belum tentu bisaamoring acintya. Untuk roh-roh ini, boleh tinggal diSorga hanya 7 bulan 7 hari. Jika belum ada kesempatanre-inkarnasi, tunggu giliran, dan berstana di SanggahKemulan.5. Yang masuk neraka, tinggalnya lebih lama yaitu 3 x7 bulan, 7 hari. Terus re-inkarnasi lagi (entah jadimanusia atau binatang atau tumbuh-tumbuhan)6. Roh yang dari Sorga, lahir kembali menjadi manusiayang : ganteng, cantik, kaya, sehat, pintar, banyakteman, suka sembahyang, pokoknya 'dimudahkan segalajalan hidupnya' Roh yang dari neraka kalau jadimanusia, jelek/cacat, bodoh, miskin, suka berkelahi,tidak mau sembahyang, sial, semuanya serba sulithidupnya.Saran :1. Bila anda sekarang sedang baik (roh dari sorga),jangan takabur, sombong, arogan, dll. karena andamasih harus menabung karmawasana lebih banyak agarkelak anda bisa amoring acintya atau moksah, sebagaitujuan akhir roh-roh.2. Bila anda sekarang sedang susah (roh dari neraka),jangan putus asa, jangan menuruti asuri sampad, harusbangkit memperbaiki hidup dan mengadakan koreksitotal, agar kelak anda bisa menjadi orang baik (padakehidupan y.a.d), atau kalau anda sangat kuatmelaksanakan Tapa Yadnya, bisa juga roh/manusia darineraka setelah hidup kemudian mati lagi, lalu amoringacintya. Contohnya : Bhagawan Walmiki, Lubdhaka.3. Maka kehidupan di dunia sebenarnya bagaikan prosesmesin cuci. Pakaian kotor (roh yang re-inkarnasi)masuk mesin cuci (lahir ke madyapada), lalu dikeluarkan dari mesin cuci (meninggal dunia). Kalausudah bersih (suci) masuk almari (amoring acintya);kalau masih kotor (belum suci) masuk mesin cuci lagi(lahir kembali = samsara = sengsara). Ya, hidup didunia ini sebenarnya 'Sengsara' karena ada : suka -duka - lara - pati; tetapi kalau amoring acintya,disitulah : suka tan pawali duhka.Sekian dahulu, maaf, bagi yang ragu/kurangpercaya/tidak percaya, di delete saja.


Om Santih, santih, santih

MAKNA HARI RAYA NYEPI



Brata Nyepi Melatih Hidup Mandiri
Oleh Brahmacarya Bhargawa Chaitanya

SETIAP pergantian Tahun Baru Saka, umat Hindu menyambutnya dengan melaksanakan suatu brata atau latihan spiritual pada saat hari raya Nyepi. Empat Brata Nyepi yang lazim di kalangan umat Hindu yang disebut Catur Brata Penyepian biasa dilaksanakan pada saat nyepi. Pelaksanaannya masih terkesan rutin dan tak jarang tanpa pemahaman makna yang sesungguhnya.
CATUR Brata Penyepian meliputi Amati Gni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan. Amati Gni secara leksikal berarti tidak menyalakan api, Amati Karya berarti tidak melakukan aktivitas atau kerja, Amati Lelungan berarti tidak keluar rumah atau bepergian, dan Amati Lelanguan berarti tidak menikmati kesenangan.
Pelaksanaan Catur Brata Penyepian ini hendaknya dikaji secara filosofis. Amati Gni, misalnya. Selain tidak menyalakan api sehingga tak jarang di rumah-rumah orang Hindu umumnya pada saat Nyepi tidak ada penerangan atau gelap, Amati Gni sebenarnya juga mengandung suatu pesan simbolis yang bermakna mematikan api hawa nafsu yang ada dalam diri manusia.
Apakah ada kaitannya dengan tidak menyalakan api secara fisik, tentu saja ada. Api merupakan simbol ketertarikan pada obyek atau sesuatu benda yang menimbulkan keinginan untuk memilikinya (desire). Di tempat yang gelap kita tidak bisa membedakan satu benda dengan benda lainnya, karena itu dibutuhkan cahaya untuk melihat benda-benda tersebut. Obyek atau benda dengan sendirinya tidak akan menimbulkan suatu masalah. Masalah umumnya timbul ketika kita melakukan kontak dan kita memberikan nilai yang lebih pada obyek atau benda itu. Padahal, nilai ini sebenarnya tidak mutlak.
Ketertarikan akan benda ataupun obyek senantiasa berubah. Sebenarnya ini adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah ketika dalam proses untuk mendapatkan suatu obyek atau benda tersebut, kita lupa bahwa pikiran kita telah dikuasai secara penuh oleh keinginan untuk memilikinya. Tak jarang pikiran kita menjadi sedih dan gelisah. Kita berpikir tanpa obyek itu kita merasa tidak akan lengkap, padahal sebelumnya kita tenang saja. Inilah yang akan menimbulkan hasrat untuk menguasai (desire), dan setelah kita berhasil mendapatkan, kita akan berusaha mempertahankannya mati-matian yang menimbulkan rasa keterikatan yang kuat dan rasa ketakutan untuk kehilangan (fear).
Dalam proses untuk mendapatkan benda itu tak jarang ada penghalang dan rintangan karena mungkin saja ada orang lain yang juga menginginkannya atau tidak memberikan kepada kita. Otomatis kita menjadi kesal dan menimbulkan rasa marah kepada orang itu (anger). Inilah awal kita menciptakan permusuhan di dalam diri kita yang berupa konflik batin dan permusuhan dengan orang lain, berupa konflik kepentingan atau perkelahian. Nah, jelas sudah karena adanya cahaya, kita bisa melihat obyek yang menarik perhatian kita, kemudian mempunyai hasrat untuk memilikinya yang tak jarang juga menimbulkan perasaan takut untuk tidak mendapatkan dan perasaan ketakutan akan kehilangan. Kita berpikir setelah kita bisa mendapatkan obyek keinginan itu kita akan bahagia, tetapi justru sebaliknya kita menjadi tidak tenang. Dengan mematikan api secara fisik diharapkan kita bisa menguasai nafsu keinginan kita untuk mendapatkan suatu ketenangan.
Kita tidak akan mati jika dalam satu hari saja tidak menyalakan api, tidak melakukan aktivitas kerja, tidak bepergian, ataupun tidak melakukan kegiatan memenuhi kesenangan akan obyek di luar diri kita. Justru sebaliknya kita bisa mengistirahatkan pikiran kita dan mengoptimalkan diri kita secara lahir dan batin. Kegiatan untuk memenuhi hasrat keinginan ini hampir setiap hari kita lakukan dan merupakan rutinitas hidup selama bertahun-tahun. Obyek keinginan itu selalu berubah dan berlipat ganda jumlahnya. Keinginan yang satu akan berlanjut dengan keinginan-keinginan yang lain dan pemenuhan akan obyek keinginan itu tak jarang membuat hidup kita menderita.
JIKA kita kembangkan lebih luas, dengan melihat kondisi negara dan bangsa saat ini, keadaannya tidak jauh berbeda. Hingga dekade yang lalu pola pikir dan pola hidup masyarakat kita berubah. Kita berpikir kita sudah menjadi sama dengan negara maju dan modern, padahal kenyataannya kita masih negara berkembang. Pola hidup masyarakat agraris cenderung ditinggalkan berganti menjadi pola hidup masyarakat industri. Lahan pertanian berubah menjadi pabrik- pabrik.
Sebenarnya ini tidak masalah. Yang menjadi permasalahan adalah kita menjadi masyarakat yang konsumtif. Masyarakat tidak lagi menganut pola hidup sederhana, tetapi cenderung hidup luxury. Ini mendorong perubahan dari hal-hal kecil, seperti pola makan, sampai hal-hal yang mendasar seperti prestise. Kini sebagian dari kita lebih suka makan fast food dan segala sesuatu yang berbau impor. Tidak hanya sebatas pola makan, tetapi semua kebutuhan hidup pun menjadi meningkat. Tuntutan hidup dirasa semakin sulit. Belum lagi makin menjamurnya pertokoan dan pusat perbelanjaan, kita menjadi terbiasa dan bergantung pada produk luar. Sementara kemampuan dan daya beli masyarakat masih rendah sehingga tak jarang yang terpaksa berutang.
Belum lagi keadaan ini tidak diimbangi dengan kerja keras. Masyarakat kita cenderung mau makan enak, tetapi ogah kerja. Keadaan ini terjadi bertahun-tahun tanpa kita sadari. Sampai mencapai klimaks yang berupa krisis ekonomi dan multikrisis. Semua mencari kambing hitam, rakyat menyalahkan pejabat, pejabat menyalahkan pengusaha, dan pengusaha menyalahkan sistem birokrasi pemerintahan.
Sampai kapan keadaan ini akan berlangsung?
Selama kita merasa bergantung pada produk luar dan belum bisa menghargai dan meningkatkan produksi dalam negeri, selamanya kita akan bergantung pada negara lain, kita tidak akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri, apalagi jika setiap individu masih memegang prestise yang salah dengan menganut pola pikir biar miskin tetapi gaya. Untuk mengejar kepentingan materi, orang kadang menghalalkan segala cara. Korupsi, kolusi dan nepotisme dianggap hal yang biasa.
Apakah keadaan ini bisa berubah? Bisa saja asalkan setiap individu menyadari kepentingan dan peranannya masing-masing. Perubahan akan terjadi jika kita mau memulai dan mengubahnya dari diri kita sendiri. Kita berubah, orang lain pun akan berubah. Kalau setiap individu mengubah pola pikir yang keliru, maka akan terjadi perubahan dalam masyarakat, yang pada akhirnya perubahan keadaan negara pada umumnya.
Apa yang harus diubah?
Cara pandang dan visi kita dalam melihat kenyataan hidup ini yang harus diubah. Perubahan diawali dengan mengubah pola pikir kita yang keliru. Jika selama ini kita berpikir bahwa hidup hanya untuk hari ini, kita harus mulai berpikir tentang masa depan. Jika selama ini kita lebih mementingkan prestise yang salah demi gengsi, mulai sekarang kita harus bisa melihat kenyataan dan menerima keadaan serta menjadi diri kita apa adanya. Jika selama ini kita lebih mementingkan pola hidup mewah, mulai sekarang kita harus kembali ke pola hidup sederhana.
Jika selama ini kita merasa bergantung kepada orang lain, mulai sekarang kita harus berani mencoba kemampuan kita sendiri dan berusaha mandiri di dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Jika selama ini kita selalu bertanya, apa yang keluarga, orang lain, dan negara berikan kepada kita, maka mulai sekarang kita harus bertanya apa yang dapat kita berikan kepada keluarga, orang lain, dan negara? Bukankah lebih baik memberi daripada meminta?

KEMBALI ke pelaksanaan Catur Brata Nyepi. Ada yang menanyakan, apakah pada saat Nyepi harus puasa? Sebenarnya puasa tidak termasuk dalam Catur Brata Nyepi. Cuma untuk memudahkan kita melaksanakan brata, puasa dirasa perlu tetapi tidak diharuskan. Puasa tidak makan (upawasa), puasa tidak berbicara (mauna), dan puasa tidak tidur (jagra) adalah brata pada saat Siwalatri.

Kalau pada saat Nyepi kita juga melaksanakan puasa, secara otomatis kita akan lebih mudah melaksanakan Amati Gni karena pada saat itu kita tidak memasak. Kita tidak mempersiapkan hidangan (Amati Karya), otomatis kita tidak keluar rumah untuk berbelanja misalnya (Amati Lelungan) lebih-lebih kalau kita tidak menikmati hidangan yang enak, kita sudah melaksanakan Amati Lelanguan.
Yang terpenting dari pelaksanaan Nyepi adalah Catur Brata Nyepi Adi. Percuma saja kita berpuasa, tetapi kita menyalakan api, bepergian, atau mengerjakan sesuatu yang tidak perlu bahkan asyik ngerumpi. Sebaiknya Brata Nyepi dibarengi dengan olah batin dan perenungan. Pada siang hari mungkin bisa membaca sastra suci tentang tutur suci atau purana. Sore harinya diisi dengan diskusi agama dan pada malam harinya bisa melaksanakan kegiatan sambang samadhi atau meditasi, yaitu merenungkan apa yang telah kita perbuat, apa yang akan kita perbuat, serta mengevaluasi apa yang telah kita capai. Selanjutnya perenungan diarahkan menuju perenungan akan jati diri kita yang sebenarnya.
Kegiatan seperti ini sudah bertahun-tahun dilaksanakan di Pura Aditya Jaya dan pura- pura lain di Jakarta pada saat hari raya Nyepi. Biasanya umat akan datang ke pura pada pagi hari. Untuk pelaksanaan hari raya Nyepi tahun ini, panitia Tawur Kesanga dan Nyepi tingkat DKI Jakarta akan melaksanakan Tawur Kesanga di pelataran Pura Aditya Jaya, Rawamangun, sehari sebelum hari raya Nyepi, di mana sehari sebelumnya dilaksanakan upacara Merasti yang dilaksanakan di Pura Segara Cilincing.
Marilah kita pergunakan momen hari raya Nyepi ini untuk menciptakan konsolidasi umat pada khususnya dan stabilitas serta keamanan Ibu Kota pada umumnya. Lebih-lebih hari raya Nyepi pada tahun ini bersamaan dengan dilaksanakannya pesta demokrasi Pemilu 2004. Umat Hindu di mana pun berada dituntut peran aktifnya untuk secara langsung menciptakan suatu kondisi yang kondusif dan harmonis dalam pelaksanaan Brata Nyepi dan pelaksanaan Pemilu 2004.
Selamat hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1926. Semoga pikiran yang jernih datang dari segala arah.

Brahmacarya Bhargawa Chaitania Pimpinan Pura Aditya Jaya Rawamangun dan Pusat Spiritual Hindu Chinmaya Jakarta, PhD lulusan Sandeepany Sadhanalaya Hindu University, Mumbay, India

Thursday, March 15, 2007

Tirthayatra ke Pura Melanting

Pura Melanting
Sadereng rauh ring Pura Melanting Tirthayatra prthisentana Kaki Djelantik lan Kaki Bongol taler polih nangkil ring Ida Bhetari sane malinggih ring Pura Pulaki, sugra pakulun ring Ida Bhetari Ayu Swabhawa.

Tirthayatra ke Menjangan

Dalem Penataran Menjangan
Ring selat segara Bali Utara kawentenan pura puniki. Pura puniki anyar kawangun ring Pulau Menjangan puniki. Rombongan Tirthayatra prthisentana Kaki Djelantik lan Kaki Bongol taler nangkil ring pura puniki.

Tirthayatra ke Segara Rupek Negara

Segara Rupek
Sawusan nangkil ring Lumajang, taler nyakupang tanga kalih ring Pura Segara Rupek.

Tirthayatra ke Senduro Agung Semeru

Semeru Agung
Ring Pura Semeru Agung, makasami Prthisentana Pasek Gelgel Sawangan pemekas trah Kaki Djelantik lan Kaki Bongol ngaturang bhakti ring Ida Bhetara Sasuhunan.

Tirthayatra ke Blambangan

Blambangan
Prthisentana Pasek Gelgel Sawangan ring sajeroning pacang nangkil ring Ida Bhetara Lingsir sane malinggih ring Semeru Agung Senduro Lumajang, nenten taler lali nangkil ring Ida Bethara ring Blambangan.

Tirthayatra ke Alas Purwo

Alas purwo


Inggih ida dane para jana lan sujana sami sane oneng ngwacen tur magendu wirasa, puniki aturang tityang lampah prthisentana Pasek Gelgel Sawangan ring sajroning ngaturang bhakti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tuesday, March 13, 2007

Wayan Wiswa Krishna Adipranata
Sosok bocah sebagai generasi sugra pakulun I Nyoman Tampa, yang akan memikul segala kewajiban yang diwariskan kepada semua warih leluhur.
"Jangan pernah ingkar kepada bhisama leluhur"


"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."

OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.