ketika nilai luhur budaya telah pudar......
ketika akal manusia terkontaminasi...
ketika hayalan telah sirna.....
maka bumi terasa hampa dari nilai-nilai luhur budaya bangsa......
anak tidak lagi ingat pada orang tua...
saudara telah melupakan adik kakaknya....
yang kaya menjadi raja segala raja.....
yang miskin menjadi pelabuhan kemarahan dan emosi....
sopan dan santun seolah bukan kewajiban bagi mereka yang berlencana kebijaksanaan...
pertanda apakah ini.......
inikah yang disebut yuganya kali ?....
ataukah karena proses evolusi tabiat..... bagi semua mahluk ciptaan-Nya....
Selamatkanlah kami ya Tuhan......
Selamatkan kami dari keriuhan dan kegelapan ini....
nyalakanlah lentera-Mu, hingga kami temukan dian yang menuntun kami ke arah-Mu...
Ya Tuhan, Engkaulah kehendak dari semua kehendak.....
hendaknyalah Engkau menuang setetes air surgawi.... bagi kami yang sarat akan pengetahuan-Mu...
Ya Tuhan..... Engkau adalah pemaaf dari segala kesalahan....
Maafkanlah kiranya kami... yang tak pernah jauh dari garis kekeliruan-Mu...
Engkau yang mencipta.. Engkau pulalah yang kami harapkan untuk meleburnya....
hingga kami bisa bersama-Mu....
Suka tanpa wali dukita
Amoring Acintya......
Namaste,
412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”
Saturday, March 08, 2008
Thursday, February 21, 2008
Mantan Jro Bendesa PemingeBerpulang
Adalah sudah ditakdirkan adanya perputaran..TRI KONA..
Utpeti, Stiti Pralina adalah merupakan perputaran yang abadi sebagai suatu siklus yang tak terhindarkan. Tak dapat dijauhi dan tak pula dapat dipercepat.
Oleh karenanya Beliau yang telah mengabdi kepada Desa Adat yang mapepasih I Wayan Rentok tak terhindar dari siklus tersebut. Beliau telah berpulang dengan tenang tanpa menyisakan beban apaun pada hari Wrahaspati nemonin Purnama Raya sasih Kesanga tanggal 21 Februari 2008.
Semoga berpulangnya beliau kepada-Nya dapat bersatu dengan-Nya (Amoring Acintya) seiring tabungan kebajikan yang beliau miliki. Dan akhirnya mereka yang ditinggalkan semoga diberikan ketenangan dan ketabahan hati.
namaste,
Ditulis oleh
Suastra
at
Thursday, February 21, 2008
0
Comment
Monday, December 24, 2007
NGAYAH RING PURA BIAS TUGEL
Ditulis oleh
Suastra
at
Monday, December 24, 2007
0
Comment
Friday, October 05, 2007
SASIH BAGI UMAT HINDU
Ditulis oleh
Suastra
at
Friday, October 05, 2007
2
Comment
Thursday, September 20, 2007
ALIEN

Aham bhumim adadam aryaya.aham vrsthim dasuse martyaya,aham apo anayam vavasanamama devaso anu ketam ayam. (Rgveda IV.26.2).
Artinya:
Aku anugerahkan bumi ini kepada orang yang mulia.
Aku turunkan hujan yang bermanfaat bagi semua makhluk.
Aku alirkan terus gemuruhnya air dan
hukum alam yang patut pada kehendak-Ku.
1. Did Extraterrestrials Visit Earth Before the Flood?
2. Was Adam a Alien Half-Breed? by James Donahue
3. ebook FLYING SERPENTS AND DRAGONS by R.A. Boulay
4. Humanity's Extraterrestrial Origins: The Lizzies
Proyek Adam di Lab Eden Apa Yang Terjadi di Eden 6000 Tahun Lalu? Sering menjadi pertanyaan, apakah Adam merupakan manusia pertama di bumi ini? Benarkah dia dibuat di Eden? Apakah sebenarnya yang terjadi di sana? Apakah yang ada di kitab kejadian (Genesis), khususnya penciptaan dalam enam hari itu, di mana manusia diciptakan (atau dibikin) pada hari keenam, itu merujuk kepada penciptaan Adam dan Hawa? Bagaimana dengan petunjuk yang ada dalam kitab-kitab lain? Bagaimana pula jika dikaitkan dengan mitologi bangsa Sumeria kuno? Apakah Adam Manusia Pertama? Kebanyakan orang mempercayai bahwa Adam adalah nenek moyang dari semua manusia. Dengan demikian, sebelum Adam tidaklah ada manusia sama sekali. Tapi, banyak orag tentunya meragukan hal ini, apalagi menurut temuan arkeologi, sudah ada peradaban manusia yang jauh lebih tua dari perkiraan masa kehidupan Adam.
Yang jadi pertanyaan, benarkah kisah yang dikemukakan dalam berbagai manuskrip bahwa Adam itu dibuat dari tanah?
Ada pendapat yang mengkaitkan proses pembuatan Adam ini dengan makhluk luar angkasa. Hal ini dikaitkan dengan adanya fenomena makhluk dari dimensi lain yang dikisahkan bersamaan dengan proses pembuatan Adam. Dan ada anggapan bahwa yang dimaksud "dari tanah" itu bukan berarti bahan materi dari Adam adalah tanah, melainkan diciptakan dari sisa-sisa yang ada di dalam tanah.
Proses penciptaan Adam dari sisa-sisa makhluk hidup yang ada sebelumnya, mungkin bisa ditunjang dengan adanya pandangan bahwa dalam proses menciptakan langit dan bumi, sang pencipta berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu.
Ada kepercayaan bahwa penciptaan bumi dan langit ini terjadi berulang-ulang, sehingga ada proses penciptaan pertama dan penciptaan yang berikutnya. Hal itu dikatakan supaya manusia yang hidup saat ini bisa mengambil pelajaran dari pengalaman "manusia" terdahulu.
Dari studi yang ada, umumnya sampai pada kesimpulan bahwa Adam hidup sekitar 6000 tahun yang lalu. Kalau memang Adam dianggap hidup 6000 tahun yang lalu, maka mestinya ada catatan kuno tentang hal itu. Hanya saja, kalaupun ada catatan kuno, apakah catatan kuno itu bisa dipakai sebagai bukti atau cuma sekedar mitos dan legenda saja?
Adam, kalau memang pernah ada, harusnya hidup di daerah sekitar Mesopotamia, atau sekarang ini daerah Irak, Iran atau sekitarnya. Ada yang bilang, Adam sebenarnya muncul (turun) di India. kalau memang di India, harusnya ada keterangan tentang hal itu. Di India ada kisah tentang Manu dengan bencana air bah, di mana kata "Manu" ini sama dengan "Nuh" dan juga kemudian dipakai menjadi istilah "Manusia". Dari kitab Veda, tepatnya RgVeda IV.26.21-22 isinya: "Aku menganugerahkan bumi ini kepada Adadam Aryaya (orang yang mulia). Aku turunkan hujan yang bermanfaat bagi makhluk, Aku alirkan terus gemuruhnya air dan hukum alam tunduk kepada perintah-Ku. Apakah di sini merujuk kepada "ADAM" ? Namun ada yang menafsirkan "Adadam Aryaya" sebagai "bangsa manusia ras Aryan" "aham bhUmim adadAm AryAyAhaM" diterjemahkan sebagai "I have bestowed the earth upon the Arya" Apakah Adam itu adalah pemimpin pertama bangsa Aryan? Aryan ini adalah bangsa Indo-Eropa atau persia yang sekarang ini bernama Iran. Apakah ini ada hubungannya dengan mitos serangan bangsa Aryan ke India? Dan apa yang tertulis dalam kitab Kejadian 5:1 mungkin bisa menjadi bahan pemikiran. Apakah orang-orang yang ada dalam daftar silsilah Adam itu memang benar pernah hidup dulu.... atau cuma dongeng? Apakah Eden Lab Genetika? Kalau kita membahas soal asal usul cerita Adam ini secara serius, rasanya kurang lengkap kalau kita cuma berhenti pada sumber literatur dari kitab suci yang ada saat ini saja. Kita mesti menelusuri, dari mana asal usul cerita ini semula.
Kisah penciptaan Adam ini terjadi di "Taman Eden". Hal ini dikuatkan dengan cerita atau mitologi bangsa Sumeria kuno. Di sana ada banyak tokoh, seperti Enki, Enlil, Nin-Ti, Enkidu, dan lain-lain. Tahukah Anda, bahwa ada yang menarik dari istilah kata Eden (Edin) itu sendiri. Dalam bahasa Sumeria kuno, kata "E" berarti "Rumah" dan "Din" berarti "Pembuatan". Jadi Edin atau Eden itu adalah sebuah rumah tempat mencipta, yang mana kalau di jaman sekarang ini disebut sebagai LABORATORIUM.
Jadi, Eden merupakan suatu tempat di mana "mereka" yang disebut dengan elohim (yang artinya "mereka yang datang dari langit") itu melakukan berbagai percobaan atau proses pembuatan. Kalau di jaman sekarang, istilah yang tepat adalah kloning. Sebagaimana bisa kita baca dalam kitab-kitab suci maupun mitologi-mitologi yang ada, maka kita bisa mengetahui bahwa "mereka" mencari jejak-jejak kehidupan yang terkubur di dalam tanah dan menemukan jasad-jasad yang kemudian mereka ambil intisarinya (DNA) lalu dibentuk menjadi manusia. Demikian juga binatang-binatang yang lain. Itu sebabnya, pada kitab Kejadian 2:19 disebutkan bahwa Tuhan (Yehovah Elohim) membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Makhluk-makhluk ini, dibuat dari tanah, yang tentunya bisa ditafsirkan dua macam, pertama: binatang-binatang itu diciptakan dari tanah, dibentuk dan kemudian menjadi hidup, atau kedua: dari tanah diketemukan sisa-sisa (jasad) binatang yang ada dan kemudian melakukan kloning sehingga dengan segera terbentuklah berbagai binatang.
Seperti kalau sekarang ini manusia mengkloning domba yang diberi nama Dolly itu. Tentunya akan menjadi pertanyaan yang abadi, mengapa sang pencipta harus menciptakan manusia dan binatang itu dari tanah? Mengapa tidak begitu saja "dari tidak ada" menjadi "ada"? Jika memang dalam membuat Adam digunakan proses kloning, apakah sama dengan proses yang ada saat ini?
Hal ini kita bisa bandingkan dengan proses pembuatan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian saripati itu diolah menjadi air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh atau rahim. Kemudian air mani itu dijadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu dijadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu dijadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu dibungkus dengan daging. Kemudian akhirnya terbentuklah sebagai makhluk yang berbentuk lain.
Hal itu bila dibandingkan dengan prosedur kloning yang ada sekarang ini, maka prosesnya adalah mirip. Dan yang menjadi pertanyaan: Jika manusia pertama itu dibikin dari suatu saripati (yang berasal) dari tanah, lalu diolah menjadi cairan (lendir) atau semacam gel, dan kemudian ditempatkan dalam tempat yang kokoh (diartikan sebagai rahim), maka rahim siapakah yang dipakai? Apakah ribuan tahun yang lalu, ada sekelompok ilmuwan yang bekerja di laboratorium Eden, mengerjakan semacam Proyek Adam, mencari sisa-sisa jasad renik untuk diperoleh susunan DNA dari tanah dan kemudian menciptakan manusia. Manusia ini, menurut cerita mitos yang ada, dibuat untuk bekerja kepada mereka sebagai budak dalam rangka menambang emas.
Lalu, apakah macam-macam mahluk mitos juga berasal dari lab Eden? Bisa jadi memang begitu. Meski kepastian bahwa makhluk-makhluk itu dicipta-kan di Eden memang tidak jelas. Namun kalau dalam kitab kejadian ada ditulis: "Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan (beast of the field) dan segala burung di udara (bird of the heavens)." Dan hal itu dibuat di Eden.
Menurut mitologi bangsa Sumeria, anunnaki (atau mereka yang bertanggung jawab dalam proyek Adam ini), berasal dari planet Nibiru, yang masih satu tata surya dengan kita. Sampai saat ini, planet tersebut tidak diketahui lokasinya, namun berdasarkan perhitungan, diduga kuat memang ada.
Lalu, bagaimana dengan sisa-sisa fosil dinosaurus yang hidup ratusan juta tahun yang lalu? Apakah "mereka" itu tidak tertarik untuk menghidupkan mereka juga? Padahal, saat inipun, manusia yang telah menguasai teknologi kloning pasti akan tertarik untuk "menghidupkan kembali" dinosaurus dari sisa-sisa DNA yang tersisa. Apakah menurut mereka dinosaurus yang besar-besar itu tidak baik untuk keadaan bumi di saat itu?
Mitologi Sumeria kuno mencerita-kan adanya makhluk-makhluk aneh. Misalnya, makhluk bersayap,berbadan lembu dan berkepala manusia. Makhluk ini adalah makhluk mitos, ada yang menyebut sphinx atau kerub. Ada juga burung berkepala manusia atau sebaliknya, manusia berkepala gajah atau burung. Apakah di Taman Eden, dilakukan berbagai rekayasa genetika, termasuk memproduksi makhluk yang aneh-aneh? (nas)
------------ --------- --------- --------- --------- ---------

Telah ditemukan lokasi Taman Eden
Taman Eden diserap dari kata bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut Firdaus yang diserap dari kata Persia "Pairidaeza" yang arti sebenarnya dalah Taman. Dalam Islam Taman Eden disebut juga Surga `Adnin atau Jannatul `Adnin. Banyak orang ingin hidup di taman Firdaus (taman Eden), tetapi karena mereka tidak tahu letaknya dimana, jadi mereka menganggap taman Eden itu ada di surga. Kita sekarang sudah mempunyai peralatan yang serba canggih, mulai alat pemetaan dengan komputer s/d satelit, jangankan lokasi peta di dunia, peta di bulan pun telah kita ketahui dan miliki. Oleh sebab itu kalau kita sekarang tidak bisa menemukan letaknya taman Eden di dunia ini berarti hanya ada dua kemungkinan, taman Eden itu hanya sekedar dongeng orang jaman baheula saja atau taman Eden itu letaknya benar-benar di surga, tetapi apabila letaknya di Surga, kenapa Adam & Hawa bisa keluar dari Taman Firdaus secara begitu saja tanpa menggunakan kendaraan turun dari surga ke bumi ? Banyak orang telah berusaha untuk mengungkapkan rahasia dimana letaknya taman Eden, mulai dari Calvin sampai para ahli sejarah maupun ahli geologi jaman sekarang. Ada yang menduga letaknya di Mesir, di Mongolia, di Turki, di India, di Irak dsb-nya, tetapi tidak ada yang bisa memastikannya 100%. Bahkan menurut Wikipedia bahasa Inggris, Taman Firdaus itu bisa juga letaknya di daerah Indonesia sekarang yang mereka sebut sebagai Sundaland. Kalau kita mencari letak lokasi taman Eden maka seharusnya kita mulai dari Alkitab, sebagai titik awalnya sebab dari situ pertama kalinya kita mengetahui keberadaannya taman Eden. Menurut Alkitab letak taman Eden itu dibagian timur, ini dilihat berdasarkan titik pandang si pencerita, karena penulisnya orang Yahudi, maka yang dimaksud otomatis bagian timur dari Israel. Menurut Alkitab "Ada suatu sungai yang mengalir Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang." (Kej. 2:10) Nama ke empat sungai itu ialah Hiddekel, Perath, Pison dan GihonDua sungai pertama telah bisa di identitaskan: Hiddekel = Tigris dan Perath = Efrata, maka dari itulah banyak orang beranggapan bahwa taman Eden berada di daerah Mesopotamia selatan (daerah sekitar Irak sekarang) dimana sungai Tigris dan Efrata mengalir di jaman sekarang ini. Yang tidak atau belum bisa di identitaskan adalah kedua sungai terakhir Pison dan Gihon. Banyak yang menduga bahwa Gihon berada di Etiopia, karena tercantum dalam Alkitab bahwa sungai Gihon mengelilingi tanah Kusy (Kej. 2:13). Kusy dalam Alkitab biasanya diartikan sebagai Etiopia. Sedangkan sungai Pison berada di bagian tanah Arab, seperti yang tercantum di Kej 2:11 sungai Pison mengelilingi tanah Hawila = tanah dibagian Arab.

Ditulis oleh
Suastra
at
Thursday, September 20, 2007
0
Comment
Wednesday, September 19, 2007
ALIEN ADALAH CIPTAAN TUHAN
Ditulis oleh
Suastra
at
Wednesday, September 19, 2007
0
Comment
Sunday, August 12, 2007
BALI CHINBOTSU II
''JIKA pohon terakhir sudah dibabat, burung terakhir sudah ditembak, ikan terakhir sudah dipancing dan sungai terakhir sudah menjadi kering, manusia toh tidak bisa makan uang!"
Rubag tersentak membaca puisi yang tertulis di cover buku "Kebudayaan Menggugat". Pikirannya melayang ke polemik yang terjadi belakangan ini tentang rencana pembangunan lapangan golf di Karangasem, yang dikritisi berbagai pihak. Petinggi kabupaten paling timur Bali yang jadi sasaran kritik itu berkelit dan berdalih bahwa yang diributkan orang baru "wacana" dan menyayangkan sikap para kritikusnya. Anehnya, dia juga menyebut ribuan tenaga kerja yang konon akan tertampung di lapangan golf itu, bahkan bersikukuh bahwa lokasinya jauh dari kawasan suci Besakih.
"Negeri ini benar-benar seperti Negara Teater, tempat pementasan ketoprak humor. Para aktor panggung bebas mengucapkan apa saja, dimengerti maupun tidak. Dari raja hingga panakawan nyeroscos terus untuk memancing geerrr penonton. Pejabat menyebut rencana pembangunan lapangan golf di daerahnya baru tingkat 'wacana', padahal lahan proyek telah diukur dan di setiap patoknya tertulis inisial perusahaan yang akan mengelolanya. Tahukah Bapak itu definisi wacana? Lalu, mengapa masyarakat ribut?" tanya Rubag.
"Sederhananya, aku pahami, wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Berita tentang lapangan golf itu, bagiku, telah berkembang menjadi wacana publik. Meski wacana awalnya diucapkan di ruang tertutup secara bisik-bisik, namun implikasinya terjadi di ruang publik. Kalau nggak salah, praktik wacana mengandung efek ideologi dan kekuasaan di dalamnya, sehingga masyarakat ribut. Tentu yang dimaksud ideologi di zaman sekarang adalah hal-hal yang berkelindan di seputar uang, duit dan doku. Meski publik bisa dihibur dengan kata-kata bersayap, uang bukan segalanya, kenyataannya tanpa uang susah segalanya," sahut Mandra.
"Kalau disimak puisi di cover 'Kebudayaan Menggugat' itu dan bila kita dalam kondisi 'sing ada apa buin De !', baru akan terasa bahwa uang bukan segalanya. Bali memang belum pernah dilanda bencana besar seperti yang melanda kawasan Asia saat ini. Bencana tak pernah memilih korban, siapa saja. Tapi ingat, perubahan iklim sudah kita rasakan sebagai bukti bahwa kita adalah bagian dari jaring-jaring kehidupan universal. Bali dan kita sebagai penghuninya, umpama seutas benang dalam rajutan, apa pun yang kita lakukan, bukan hanya berakibat pada kita, tapi berimbas ke seluruh rajutan. Rupanya Tri Hita Karana cuma semboyan saja, ya?"
"Bagiku, Tri Hita Karana adalah persepsi ekologis yang diperluas hingga melibatkan Tuhan. Sayang, kebanyakan dari kita menganggap hubungan antara persepsi ekologis 'agung' itu dengan perilaku yang sesuai dengannya, cuma sebagai hubungan logis, bukan psikologis. Dengan alasan logis, rasional dan ekonomis, dirabaslah hutan dan di lahannya didirikan villa-villa, pantai-pantai dibentengi hotel-hotel, sawah, ladang dan sepadan sungai dijadikan real estate, mall dan shopping center. Jeritan 'Bali sudah bopeng!' bukannya direspons dengan mulat sarira, malah sebaliknya muncul rencana pembangunan lapangan golf. Apa mau berlomba meningkatkan PAD?" tanya Rampug.
"Sekarang, bukan hanya Pura Subak yang nyaris menjadi nostalgia sejarah, juga Kahyangan Tiga, Dang Kahyangan serta tempat-tempat suci lainnya terancam kesakralannya. Kaidah adat, apanimpug, apaneleng dan apanyengker dianggap kuno dan harus mengalah pada kajian-kajian ilmiah. Ruang dan waktu yang disulap uang, dianggap sama atau homogen. Padahal dalam kosmogoni Hindu, ruang dan waktu itu heterogen. Ada waktu-waktu tertentu yang dianggap suci, selebihnya biasa, sehingga orang punya odalan, hari raya dan berbagai jenis hari suci lain. Juga ada ruang sakral dan ruang profan, yang memiliki tatacara dan etika tertentu untuk memasukinya. Ironisnya, karena mabuk duit, heteroginitas ruang dan waktu itu kian diabaikan, malah ada penganut Hindu berstatus elit ikut melabraknya, " komentar Metra.
"Nah, itulah akibat hubungan antara perilaku yang sesuai dengan persepsi ekologis yang disebut Tri Hita Karana dianggap bersifat logis, bukan psikologis! Logika dan rasio yang bertendensi ekonomis mengalahkan moralitas. Uang, bagi mereka, lebih penting daripada janji-jandi surga, waktu sekarang lebih penting ketimbang masa depan yang belum jelas. Aku khawatir, mereka juga tidak peduli, apakah cucu dan buyut mereka akan melihat Bali seperti yang kita saksikan sekarang?"
"Coba saja kalau mereka sempat menyaksikan film 'Apocallypto' produksi Mel Gibson, yang mengisahkan peradaban besar yang hancur akibat kesembronoan suku bangsa yang mendukungnya. Kerajaan Maya yang berkuasa di Amerika selama 1.000 tahun, jauh sebelum para imigran dari Eropa membanjiri benua itu, tiba-tiba tenggelam menyisakan reruntuhan kota dan piramid besar yang dibalut belukar dan hutan lebat. Peradaban besar itu hancur bukan karena serbuan bangsa luar, tapi karena ulah suku bangsa Maya sendiri yang saling berperang dan menghancurkan satu sama lain. Kita di Bali memang tidak saling berperang, namun menghilangkan warisan leluhur berupa tanah yang seharusnya kita pertahankan dan wariskan ke generasi-generasi berikutnya," tutur Widia.
"Itu, sra panggang sra tunu, baunya sama! Kalau tidak salah, menjelang akhir 1980-an aku pernah ngobrol soal 'Bali Chinbotsu' atau 'Tenggelamnya Bali', lantaran terinspirasi sinopsis novel fiksi 'Nihon Chinbotsu' karya Komatsu Sakyo. Bila Komatsu bercerita tentang Jepang yang tenggelam akibat pergeseran kerak bumi dan geografinya labil sering dilanda gempa, tsunami dan topan, aku ngobrol soal Bali yang tenggelam karena bebannya kian sarat akibat serbuan pendatang. Kalau orang Jepang yang diungsikan ke berbagai negara, menurut Komatsu, merasa terkucil karena sulit menyesuaikan diri, bagiku, orang Bali justru pergi ke luar negeri untuk mencari budayanya yang hilang. Kini gejala 'Bali Chinbotsu' sudah tampak akibat ulah beberapa elit Bali yang mengabaikan sakralitas ruang, bahkan waktu, demi uang dan kekuasaan," ujar Rubag.
"Andai saja Adam dan Hawa dimaafkan Tuhan dan tidak diusir dari surga gara-gara makan buah terlarang, mungkin dunia tidak serusak sekarang. Jumlah manusia pun tidak berkembang jadi enam milyar seperti sekarang, tapi tetap dua orang, pria dan wanita. Tidak ada gusur menggusur, hutan dan gunung dibabat, sungai dan mata air mengering, bahkan uang yang dianggap dapat membeli segalanya, tidak akan pernah ada. Tapi itu semua seandainya.. .," tukas Rampug.
"Tapi 10 KK di Cenggiling, Jimbaran, sudah merasakan 'Bali Chinbotsu'! Rumah mereka dikurung hotel dan bangunan milik investor, sehingga tidak punya akses keluar-masuk rumah. Aparat desa dan pemerintah tidak berdaya menyelesaikan masalah. Hal serupa bisa terjadi juga pada kita, bila Bali dipimpin plutokrat. Apalagi kekuasaan mereka peroleh dengan menguras rekeningnya di bank untuk membeli suara," sahut Rubag.
Ditulis oleh
Suastra
at
Sunday, August 12, 2007
0
Comment
"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."
OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.


