412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”
Tuesday, January 25, 2011
Ni Nyoman Parni menutup usia
Ditulis oleh
Suastra
at
Tuesday, January 25, 2011
0
Comment
Thursday, January 06, 2011
SIWA RATRI
SIWA RATRI – DALAM KONSEPT – KEKINIAN
Brata Ciwaratri adalah brata yang paling utama diantara semua brata.
Bagaikan Meru diantara pegunungan
Bagaikan matahari diantara semua yang menyala
Bagaikan pertapa diantara mahluk mahluk yang berkaki dua
Bagaikan Kapila diantara mahluk mahluk yang berkaki empat
bagaikan Gayatri diantara semua Mantram
bagaikan amreta diantara yang cair
Bagaikan wisnu dari semua pria
bagaikan arundatai diantara para wanita
(padma purana 239.7-9a)
Hari Siwaratri yang jatuh pada Purwanining Tilem Kapitu, Senen 03/1/2011 ini, merupakan momen yang sangat tepat untuk merenung dan mengendalikan diri. Pada hari suci penuh pengampunan itu, umat Hindu diajak untuk bisa mengekang hawa nafsu dan keinginan yang bersifat duniawi. Nilai-nilai apa yang bisa dipetik dari malam Siwaratri dalam konteks kekinian? Kemudian, apakah figur si pemburu Lubdaka yang diceritakan pada malam Siwaratri masih relevan dengan kehidupan sekarang
Hidup manusia sebenarnya dibelenggu oleh bhuta kala. Dalam usaha melepas belenggu bhuta kala itu, manusia hendaknya berusaha mendapatkan keseimbangan jasmani dan rohani yang bisa dicapai secara perlahan-lahan dan bertahap. Tidak dimungkiri banyak hambatan yang menghadang ketika manusia ingin mencapai keseimbangan itu. Hambatan itu datangnya tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam diri manusia itu sendiri perhatikan pupuh dbawah ini.
RAGADI MUSUH MAPARO,
RING HATI YA TUNGGUWANNYA TAN MADOH RING DEWEK
Hawa nafsu, ego adalah musuh yang sangat dekat
Didalam hati letaknya tak jauh dari dalam diri kita sendiri
Siwaratri pada hakikatnya merupakan sebuah ajaran untuk membangkitkan perjuangan umat Hindu untuk selalu sadar akan dirinya yang selalu diancam oleh berbagai hambatan. Upacara Siwaratri bertujuan memberikan pengetahuan kepada manusia agar menyadari bahwa dalam dirinya selalu ada pertarungan antara kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu, sebaik-baiknya manusia, pasti pernah berbuat dosa selama hidupnya. Demikian pula sejelek-jeleknya manusia, pasti pernah berbuat baik selama hidupnya. Hanya saja sejauh mana diri kita mampu untuk mengambil hikmah dari voyeges ini.
Menyadari hal itu, Siwaratri dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada setiap umat Hindu untuk selalu sadar dan berusaha semaksimal mungkin menghindari perbuatan dosa dan selalu berikhtiar untuk memperbanyak perbuatan dharma. Meskipun manusia sulit menghindari perbuatan dosa, bagaimana pun besarnya perbuatan dosa yang telah diperbuatnya, tidak tertutup jalan untuk menuju dharma. Dlm artian jgn ada kalimat kepalang ahh
Siwaratri memotivasi manusia untuk tidak berputus asa kembali ke jalan dharma. Pintu dharma selalu terbuka lebar bagi orang yang sadar akan segala perbuatan dosanya. Cerita Lubdaka, si pemburu yang pekerjaan sehari-harinya berburu binatang, sebagai salah satu contoh. Tetapi, masih relevankah figur Lubdaka yang diceritakan pada malam Siwaratri dengan kehidupan sekarang
Dari kalangan para peminat spiritual, cerita Lubdaka itu diterjemahkan sebagai berikut : Jika seseorang sudah mampu membunuh sifat kebinatangannya, maka timbullah rasa ingin dekat dengan Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Rasa keinginan atau hasrat (kerinduan) itu diwujudkan dengan berbagai cara (berjapam/mengulang-ngulang nama suci Tuhan), beryajna dan sebagainya.
Banyak kalangan yang kurang setuju, jikalau malam Siwaratri sebagai malam penebusan dosa. Karena kepercayaan Hindu, hukum karma itu tidak pandang bulu. Meskipun orang suci, jika berbuat salah tetap akan mendapat hukuman. Reaksi dari perbuatan itu sulit untuk dihapus, maka dari itu ada beberapa pakar yang menyatakan tidak setuju jika malam Siwaratri diistilahkan sebagai malam peleburan dosa.
Umumnya Siwaratri dilaksanakan dengan laku brata : Mona Brata (pengendalian dalam kata-kata). Mona brata sering diistilahkan dengan tidak mengucapkan kata-kata sepatahpun. Sehingga hal seperti ini bisa menimbulkan kesalah-pahaman. Karena jika seorang teman sedang bertandang kerumah dan menyapa atau bertanya, tapi yang ditanya tidak menyahut, akhirnya menyebabkan orang menjadi tersinggung. Karena dlm kasus ini melakukan tapa mona-brata, justru malah melakukan himsa karma, karena membuat orang lain menjadi jengkel dan sakti hati lantaran mereka tidak tau kita lagi monobrata. Kalaupun punya niat tapa brata semacam itu, sebaiknya pergi ke hutan atau ketempat yang sunyi, jauh dari keramaian. Nah itu pun jaman dulu kan begitu, nah sebanarnya kalau kita ambil inti sari dari Monobrata, bagaimana kita meminimize ucapan yg negative point kpd orang lain, kurangi berbicara, perbanyak Asmaranam menyebutkan Nama-nama Hyang widhi ( Om Na, Ma, Ci, Wa, Ya ) dsb.
Upawasa yaitu pengendalian dalam hal makan dan minum. Jadi disini ditekankan tidak diharuskan untuk berpuasa/tidak makan dan minum semalam suntuk. Melainkan pengendalian dalam hal makan dan minum. Umat dibebaskan untuk melaksanakan bratanya, mau puasa ya silahkan, tidakpun tidak apa-apa. Hanya saja brata itu berlaku untuk seterusnya. Konsept kekinian makan jangan sampai berlebihan, sedangkan disatu sisi banyak sekali kita melihat saudara kita barangkali bisa makan nasi satu kali sudah angayubagia, nah kalau demikian bagaimana kita melakukan yadnya kita dg menyisihkan makan yg berlebihan itu kita sisihkan / yadnyakan kepada saudara kita yg sangat membutuhkannya, atau dananya kita jadikan dana pendidikan.dllnya
Jagra yaitu pengendalian tidur atau dalam keadaan jaga semalam suntuk hingga menjelang pagi disertai melakukan pemujaan kepada Siwa sebagai pelebur kepapaan. Jadi pada malam Siwaratri itu yang terpenting adalah begadang demi dia (Siwa). Bukan begadang main gaple atau nonton TV. Tetapi konsept kekinian kita pergunakan berdiskusi, belajar tentang Tatwa, tentang tutur-tutur pinehayuan lan ke ahdiatmikaan, atau barangkali bedah Bhagawagt bisa jadi Manawa dharmasastra, Sarasamuscaya, kekidung lan kekwain dsbnya. Pada keesokan harinya melaksanakan Darma Santhi, pergi saling menungjungi kerumah sahabat, handai toland sambil bermaaf-maafan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Malam Siwaratri bukanlah malam peleburan dosa, melainkan peleburan ke-papaan dari kelemahan sifat-sifat manusia. Semua manusia memiliki kepapaan, karena dibelengu oleh ahamkara nafsu-nafsu indrianya/raganya, serta kegelapan yang tak mampu untuk mengintrospeksi dirinya, sehingga kabut gelap yang selalu menyelimutinya.
Itulah sebabnya sangat dianjurkan untuk melaksanakan brata Siwaratri pada Tilem Kepitu yaitu sehari menjelang Tilem Kepitu. Yang tujuannya semata-mata untuk mengurangi kepapaan dari nafsu-nafsu indria yang dimiliki oleh umat manusia.
Terutama sekali yang berupa Peteng Pitu (7/tujuh) kegelapan yg disebut dgn ”Sapta Timira” (tujuh macam kemabukan). Diantaranya adalah, Surupa (mabuk karena rupawan/rupa tampan atau cantik), Dhana (mabuk karena kekayaan), Guna (mabuk karena kepandaian), Kasuran (mabuk karena kemegahan), kulina (mabuk karena keturunan bangsawan), Yowana (mabuk karena keremajaan), Sura (mabuk karena minuman keras).
Ternyata bukan minuman keras saja yang menyebabkan seseorang menjadi mabuk, melainkan juga ke enam keberuntungan itu. Jika tidak hati-hati membawa dan menjaga keberuntungan itu, justru membuat seseorang menjadi sombong dan terjerumuslah dia kedalam kegelapan.
Ingat Penyakit orang Ganteng : Kecendrungannya menjadi Play Boy / Girl, Penyakit Orang Kaya = adalah Kikir punya makanan lebih baik busuk daripada diberikan kepada orang lain, meskipun sangat dibutuhkannya. Penyakit orang Dharmawan = adalah suka mengungkit ungkit pemberian.
Penyakit orang banyak omong = adalah Gosif dan terkadang berbohong, kalau tidak begitu tidak asyiikkk....he.....he,
Makna hari suci Siwaratri adalah untuk menyadari bahwa seseorang berada dalam pengaruh kegelapan. Kegelapan itulah yang harus diterangi, baik jiwa, pikiran maupun badan jasmaninya. Kegelapan itu harus disingkirkan dengan ilmu pengetahuan rohani.
Yang paling penting sekali adalah berkat dari Sang Hyang Siwa sendiri. Beliaulah yang akan menghapus kepapaan, ketidak berdayaan melawan hawa nafsunya sendiri. Mungkin ribuan orang akan menyoraki dan mencaci maki seorang penjahat yang mendapat hukuman. Bahkan pula dilempari dengan batu. Namun beliau (Sang Hyang Sada Siwa) menangis melihat umat-Nya dalam kesengsaraan. Beliau tidak membenci malah lebih bersimpati pada mereka yang mengalami nasib buruk seperti itu.
Itulah keutamaan Hyang Siwa, tidak membenci siapapun, walaupun penjahat kelas kakap yang dibenci jutaan manusia. Beliau tetap berbelas kasih. Bersedia mengampuni, asal umat-Nya dengan tulus iklas berserah diri, pasrah total kehadapan-Nya.
Beliau sendiri yang akan mebimbing dan memutuskan keadilan-Nya. Maka sangat dianjurkan untuk melaksanakan brata Siwaratri ini kepada siapa saja. Karena pintu tobat dan pengampunan pada hari itu terbuka lebar-lebar.
Ada lagi disebutkan keutamaan brata Siwaratri dalam lontar “Siwaratrikalpa” buah karya Mpu Tanakung, bahwa jika seseorang mampu melaksanakan laku ; upawasa, mona brata dan jagra pada hari itu, yang tujuannya memuja Sang Hyang Sada Siwa, serta memohon pengampunan-Nya maka karmawasananya akan selalu diperhitungkan oleh sang Surat-atma, kurangi dosa, perbanyaklah bertobat.
Rsi Empu Tanakung juga mengisyaratkan bahwa brata Siwaratri melebihi semua jenis yajna. Untuk itulah, seseorang jangan berputus asa jika sudah terlanjur melakukan kesalahan. Karena Siwaratri bisa dilaksanakan dimana saja (di rumah, di Pura, di tempat sunyi, bahkan di Lembaga Pemasyarakatan / Penjara). Justru disinilah mungkin ( di Lemaga Pemasyarakatan) brata Siwaratri itu dilaksanakan lebih khusuk.
Niyasa yang terungkap dalam Lubdaka Kalpa adalah :
Tilem ke pitu adalah malam yang tergelap dari malam malam lainnya, karena tiada yang lebih gelap dari ”SAPTATIMIRA” PETENG PITU”
JAGRA : Mengurangi durasi tidur dengan jalan memperbanyak improvisasi diri dengan memplejari ilmu ilmu keagamaan yang kita yakini ”HINDU”
MONOBRATA : Mengurangi pembicaraan yang tidak baik, mempitnah, menipu, gosif, serta berbohong, perbanyak dengan ASMARANAM Melakukan japa mala.
UPAWASA : mengurangi makan yang berlebihan, serta meyadnyakan dananya untuk disumbangkan kepada oran orang yang jauh lebih papa dari kita, baik itu berupa makanan, maupun berbentuk dana-dana yang lainya seperti Rumah- sakit, sekolah, serta buku buku agama. Dllnya.
Pemburu Satwa : Mencari tatwa, dengan membunuh sifat himsa karma ( kebinatangannya, dengan meningkatkan sifat sifat satwan dlm triguna sakti )
Naik Kayu dimalam hari : Munggah kayun dengan statement menghilangkan kegelapan, mulai sejak Siwa linggam dimalam hari, commit untuk selanjutnya harus berubah, karena hari esok harus lebih baik dari yang sekarang, itu prinsip
Ditulis oleh
Suastra
at
Thursday, January 06, 2011
0
Comment
Monday, December 06, 2010
selamat Hari raya Galungan dan Kuningan
BENANG MERAH YG MENGHUBUNGKAN PERTARUNGAN ADHARMA
MELAWAN ADHARMA. SATYAM EVA JAYATE
DI INDONESIA DIWUJUDKAN DALAM HARIRAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN
DI INDIA DIWUJUDKAN DALAM HARI RAYA CRADHA VIJAYA DACAMI DAN DIVAVALI
DI MALAISYA DIWUJUDKAN DALAM HARIRAYA TAIFUSAN.
BENANG MERAH ITU DISYAIRKAN DALAM bg IV-7. 8
YADA YADA HI DHARMASYA GANIR BHAVATI BHARATA
ABYUTTHANAM ADHARMASYA TADATMANAM SRJAMY AHAM
Manakala Dharma akan mengalami kemusnahan dan kebatilan merajalela
Wahai dananjaya aku akan menjelmakan diriku.
PARITRANAYA SADHUNAM WINASAYA CA DUKSKRSTAM
DHARMA-SAMSTHAPANARTHAYA SAMBAVANI YUGE-YUGE
Demi untuk melindungi para sadh, serta untuk memusnahkan orang jahat
Dan demi untuk menegakkan dharma aku menjelma dari masa ke masa
“AWATARA”
Hindu yang selalu memberikan keleluasaan Loka dresta-dan budaya local yang menjadi nandi wahana transportasi untuk mendukung perkembangan Hindu dimanapun Hindu berada itulah salah satu flexibelitas sehingga hindu tetap exist sepanjang masa, karena banyak sudah agama-agama lain yang berkembang dijaman itu dan kini sudah hilang sirna kertaning bumi, namun Hindu akan ada selamanya.
Ada beberapa contoh hariraya yang telah disinkronisasikan dibeberapa Negara yaitu berupa peperangan dharma melawan dharma, yg akhirnya dharma dalam keihklasan yang selalu menjadi pemenangnya, namun dari beberpa kemenangan itu yang diwujudkan dalam Hariraya, walaupun kelihatannya penyajiannya berbeda, namun tetap garis benang merah itu tetap lurus “SATYAM EVA JAYATE” dan dari puncak kemenanganya itu selalu ada distance – jedah selama 10 hari Contohnya :
Di Indonesia terkenal dengan hari raya Galungan sebagai puncak kemenangan kemudian 10 hari berikutnya adalah hari raya Kuningan. Di Bali dikisahkan dengan Maya-Danawa ( symbol Kebatilan ) ditaklukan oleh Indra penegak dharma.
Di India terkenal dengan Sradha Vijaya Dasami sepuluh hari kemudian adalah Divavali Rahwana Symbol kebatilan akhirnya ditaklukan oleh Sri Rama penegak dharma. Sradha = Keyakinan, Wijaya = Kemenangan, Dasa = sepuluh indria
Di Malaisya terkenal dengan Hariraya Taifusan Suradpama (symbol kebatilan) Surappama tidak bakalan gugur kecuali tubuhnya dibelah menjadi dua, hanya seorang Kumara Kartikea lah yang tau rahasia ini, sehingga Suradpama berhasil dibelah tubuhnya menjadi dua bagian yaitu Kanan menjadi burung merak, sedangkan kiri menjadilah ayam Jantan.
Bagian kanan burung merak menjadi wahananya Kartikea, sedangkan kiri mendapat tugas, kapan Ibu pertiwi begitu kotor maka darah ayam jantan inilah yang dipakai untuk Pensudha ( penyuciannya ) namun harus dilakukan melalui peperangan, sehingga jadilah pertempuran ayam ( sabuh rah ) yang dibali sangat dominant dengan “METAJEN”
Mari kita lihat pelaksanaan Galungan dan kuningan yang ada di Bali, yang disymbolkan peperangan dari kerajaan Beda Hulu (berbeda style kepeminpinan) yang di hulu dengan di daerah, Hulu saat itu Invasinya kerajaan majapahit dengan Sri Mayadenawa yang dianggap pembangkang, sehingga terjadilah pertumpahan darah yang luar biasa, Digjayanya Srimayadenawa dengan Indra, kisah ini di kisahkan disekitar Tampak Siring, tirta empul dihubungkan dengan satu buah pancoran yang tidak bisa diminum, karena strateginya Mayadenawa ketika Laskar Indra berperang dan kehausan maka ada sebuah pancoran yang diracuni, musnahlah para prajurit Indra ketika meminum pancoran beracun tersebut, sampai sekarang pancoran itu tidak baik untuk mandi apalagi diminum. Saat itupula Bhatara Indra menusukan kerisnya mengepulah air murni sebagai penawarnya yang disebut dengan Tirta empul, banyak lagi mitos tempat lain yang dihubungkan, termasuk ketika terbunuhnya Sri mayadenawa darahnyapun mengalir menjadi sebuah sungai ( Patanu ) saking dianggap kotor airnya tidak layak untuk industri pertanian disamping memang sungai ini sangat jauh dijurang sehingga subak sangat sulit mengangkat tuk mengairi sawah, ketika ada yang berhasil untuk mengairi sawah, konon saat panen tangkai padi bergetah darah. Itu hanya berdasarkan sebuah mitos yang kebenarannya sampai sekarang tidak terbukti, termasuk Bhatara Indra, apakah Awatara dewa Indra, karena di Bali sampai dengan sekarang seorang raja saking dihormatinya sering disebut Bhatara, namun ada juga yang memberikan pengertian, kemenangan itu akan bisa tercapai kalau diri kita bisa mengendalikan Indria itu sendiri, berarti pengertiannya tidak jauh dari Sradha Vijaya Dasami.
Mari kita tinggalkan mitos Bedahulu dengan Sri-Mayadenawa sebagai rajanya. Kita lihat implementasi Galungan & Kuningan di Bali.
Ketika puncak kemenangan sudah tercapai ( Galungan ) kelihatannya sejauh ini hanya digunakan untuk pemuasan “KAMA” bila kemenangan itu tidak diiringi dengan setrategy selanjutnya, mungkin kemenangan itu tidak akan bertahan lama alias akan kembali Sirna Hilang kertaning bumi, oleh karena itu waktoe doeloe, adalah sangat tepat liburan anak anak sekolah itu dilaksanakan sebanyak 2 minggu, sehingga Hari raya Kuningan itu masih libur.
Hanya saja sharing makna liburan ini kemasyarakat ini tidak dipergunakan dengan Oftimum karena:
- TRI YANTRA ini tidak dibahas dengan tuntas Tri = 3 sedangkan Yantram saktinya dari Sang Tri Tunggal yaitu Brahma saktinya Saraswaty, Wisnu Saktinya Laksmi Dewi, sedngkan Ciwa saktinya Dewi Parwaty
Nah kesemua sakti ini mengambil 3 hari untuk menghayatinya dalam implementasi yang sering disebutkan dengan
- “NAWA RATRI” Nawa = 9 hari, Rahina Ratri = hari yang khusus. Yang seharusnya dilakukan sehabis puncak kemenangan itu kita raih diantaranya.
- Pemaridan Guru = Mohon restu dari sang catur Guru yaitu mulai hari Kamis Jumat sabtu adalah pemaridan guru, Mohon ajaran dari sang catur guru untuk menentukan strategi untuk mempertahankan kemenangan dan kesemuanya ini adalah Saktinya Brahma Yaitu Sang Hyang Aji Saraswaty.
- Pemacekan Agung ( Minggu, Senin, Selasa ) melanjutkan rencena berikutnya setelah terbentuknya rencana yang pasti – tentukan denga Key Performance Indikator Wisnu dengan saktinya Dewi Laksmi sebagai pemberi kemakmuran, namun kita harus raih dengan perjuangan nyata
- Penampahan Kuningan ( Rabu, Kamis Jumat) kita Mohon kepada Hyang Ciwa sebagai pemrelina dengan saktinya Parwaty, dalam penelusuran KPI ini semestinya kita sudah bisa selective, mana yang perlu kita kembangan dan yang usang kita harus prelina, hal dilakukan pas hari jumat yang disebut dengan penampahan (prelina sane sampun usang) yang kesokannya kita rayakan pada hari raya kuningan
- Kunci Mantram yang dipakai untuk membuka evaluasi ini adalah:
Om Jung Ang Sang Bhur Bvah Sah Kartika yanamah
Om Svah, Bvah, Bhur, Sang Ang Jung yanamah. Trisakti sebagai Tri yantra, sedangkan Tripurusa sebagai Ratri
- Hari Raya kuningan – Kauningan kemantapan hati kita sampaikan ( uningan) waktunyapun tidak baik melewati tajeg surya, dalam Chandogiya upanisad, disitu disebutkan Pagi sekali adalah pemujaan untuk Ciwa, siangan dikit jam 08-10, pemujaan untuk Dewa, sedangkan selanjutnya s/d jam 12.00 adalah pemujaan untuk leluhur, termasuk sang Caturgur tadi, selanjutnya adalah untuk Bhuta yang kecendrungan nya adalah kedigjayaan.
- Ada beberapa pura yang memang odalannya pada hari raya Kuningan di Bali adalah Pucuk Brahma, adanya di Kebun raya Bedugul, dan Sakyamuni – Sakenan sekarang, di lampung Pura Waylunik, karena memang odalannya pada saat Kuningan.
- Buda Kliwon Pegat uwakan, dalam jedah ini galungan dan kuningan kita jadikan spirit untuk berusaha, sehingga s/d Buda kliwon Pahang, kita prelina semua attribute hari raya, kalau ada yang memakai aksara suci misalnya di umbul umbul penjor dsbnya seyogyanya diprelina, arengnya kita pakai jejaton, bungkus dengan ketipat sidhakarya, genanhang maring atas pintu masuk/angkul2 ring griyane soang soang sebagai pertanda perlindungan dari sang tiga sakti.
- Demikianlah sebenarnya memaknai Hariraya galungan dan kuningan ini dengan jedah 10 hari, semoga bermanfaat.
Namaste.
Ditulis oleh
Suastra
at
Monday, December 06, 2010
1 Comment
Thursday, November 25, 2010
KAKEK BERPULANG DENGAN SENYUM LEBAR
Kakekku I Made Cekeg, dengan senyum lebar menyambut kepergian untuk selamanya pada hari Rabu, tanggal 24 November 2010 kira-kira pukul 15.00 wita.
Oleh karena kendala Pedewasan dan terbentur dengan Upacara Pengatep di Pura Pengastulan Sawangan, maka dewasa ngaben pada tanggal 29 dan 30 November 2010 tidak bisa dilaksanakan, sehingga dilakukan upacara penguburan tanpa diikuti dengan Upacara Ngaben pada hari Kamis, tanggal 25 November 2010.
Untuk upacara Ngerorasin dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2010 bertepatan dengan hari Raya Galungan, yang didahului dengan ngaturang Banten Saji ke Setra dan dipuput oleh Jero Mangku Mrajapati I Made Rabih pada tanggal 7 Desember 2010.
Semoga semua kebaikan yang telah beliau berikan kepada kami yang ditingalkan menjadikan jembatan untuk menuju dan bersatu dengan-Nya.
Ditulis oleh
Suastra
at
Thursday, November 25, 2010
0
Comment
Thursday, November 04, 2010
Men COCO berpulang
Ditulis oleh
Suastra
at
Thursday, November 04, 2010
0
Comment
Thursday, August 12, 2010
I Wayan Kubuk mengakhiri swadharmanya di Maya Pada
Ditulis oleh
Suastra
at
Thursday, August 12, 2010
0
Comment
"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."
OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.

