411. “Dengan diamnya antah-karana lewat samãdhi[1], nikmatilah keagungan tanpa batas dari Sang Diri-jati. Dengan penuh semangat hancurkanlah belenggu bau harum-busuk dari kelahiran dan kematian; jadilah ia yang telah mencapai tujuan-akhir dari kelahiran berjasad manusia ini!

412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”

Wednesday, May 30, 2007

Raja Raja Gelgel

Lintas Sejarah dikutif dari Swecapura Gelgel Samai Smarajaya ( Semarapura) Klungklung

1. Dalem Ktut Ngulesir Raja Gelgel I Pusat pemerintahan di Bali setelah pindah dari keraton Samprangan dipusatkan di Gelgel. Kraton tersebut diberi nama Sueca Pura. Afapun sebagai raja peretama di Kraton Sueca Pura amasih merupakan penerus dari dinasti Kepakisan yang turun temurun dari Majapahit. Beliau adalah I Dewa Ktut yang kemudian bergelar Dalem Ktut Ngulesir, karena dianggap sebagai pelanjut dinasti Kepakisan, maka raja ini juga bergelar Dalem Ktut Kresna Kepakisan yang memerintah selama kurang lebih 20 tahun ( 1380 - 1400) Menurut sumber-sumber tradisional, raja ini dikenal sebagai raja yang sangat tampan, karena diketahui memiliki tanda khusus (cawiri) berupa tahi lalat pada paha kanannya. Hal ini juga dianggap sebagai simbol kecakapan beliau di dalam memimpin rakyatnya. Bukti-bukti atau peninggalan Raja Dalem Ktut Ngulesir sebagai raja I di Gelgel sangat sulit ditemukan. Baik yang disebutkan oleh babad maupun sumber lainnya.

2. Dalemn Watu Enggong Raja Gelgel IISetelah Dalem Ktut Ngulesir mangkat, maka pemerintah Gelgel digantikan oleh putra tertua beliau yang bergelar Dalem Watu Enggong atau sering disebut Dalem Waturenggong. Pemerintah Dalem Waturenggong merupakan puncak kebesaran atau jaman kemasan Kerajaan Bali. Karena pada jaman Dalem Waturenggong, wilayah kerajaan Bali sudah meluas sampai ke Sasak (lombok), Sumbawa, Balmbangan dan Puger. Dalem Waturenggong adalah raja yang sangat ditajuti oleh raja Pasuruan dan Raja Mataram.Pemerintah Dalem Waturenggong pada abad XVI (sekitar tahun 1550 M ) merupakan awal lepasnya ikatan dan pengaruh Majapahit terhadap kerajaan Bali seiring runtuhnya kerajaan Majapahit oleh Kerjaan Islam.Pada masa Dalem waturenggong inilah, pernah terjadi sengketa antara Gelgel dengan kerajaan Blambangan yang dikuasai oleh Dalem Juru yang dipicu karena penolakan lamaran dari Dalem Waturenggong terhadap Ni Gusti Ayu Bas Putrid Dalem Juru. Pertempuran sngitpun terjadi, laskar bali yang dipimpin oleh Patih Ularan berhasil membunuh Dalem Juru raja Blambangan. Mengenai kepastian tahun pemerintahan dan peninggalan raja Dalem Waturenggong di Gelgel maupun Klungkung sangat sulit ditemukan dari sumber babad beberapa naskah baru (yang masih harus diuji kebenarannya, koleksi AA Made Regeg Puri Anyar Klungkung, meyebutkan masa pemerintahan Dalem waturenggong disebut dalam angka tahun 1400 - 1500. Sedangkan naskah yang ditulis oleh I Dewa Gde Catra, Sidemen - Karangasem menyebutkan tahun 1460 -1552 M). Memang kedua sumber tersebut tidak berbeda jauh, tetapi masih perlu diteliti kesalahannya.

3. Dalem Bekung Raja Gelgel IIIRaden Pangharsa yang kemudian bergelar Dalem Bekung adalah putra tertua Dalem Waturenggong yang akhirnya menjadi raja Gelgel yang ke 3, karena usianya masih sangat muda, maka pemerintahan sehari-hari di Gelgel diwakilkan kepada kelima pamannya yaitu Gedong Atha, I Dewa Nusa, I Dewa Pangedangan, I Dewa Anggungan, dan I Dewa Bangli.Masa Pemerintahan Dalem Bekung adalah awal kesuraman kerajaan Gelgel. Karena pada masa pemerintahannya ini pula terjadi banyak masalah dan kesulitan. Kerajaan -kerajaan Gelgel di luar Bali yang pernah dikuasai Dalem Waturenggong satu per satu melepaskan diri. Pemberontakan juga terjadi di dalam kerajaan yang dilakukan oleh Gusti batan Jeruk atas ajakan dari I Dewa Anggungan yang tiada lain adalah pamannya sendiri, pemberontakan Batan Jeruk nyaris meruntuhkan Gelgel, sebelum Arya Kubon Tubuh yang masih setia kepada Dalem mampu memadamkan pemberontakan Batan Jeruk.

4. Dalem Segening Raja Gelgel IVSetelah meredanya pemberontakan Batan Jeruk menyusul terjadinya pemberontakan yang dilakukan oleh Krian Pande sebagai pembalasan atas kegagalan Batan Jeruk. Dan pemeberontakan inipun dapat dipadamkan dengan terbunuhnya Kareian Pande, karena situasi mulai kacau, maka oleh pembesar Kerajaan Gelgel diangkatlah I Dewa Segening sebagai raja menggantikan kakaknya Dalem Bekung. I Dewa Segening kemudian bergelar Dalem Segening. Dengan sukarela dan ihklas Dalem Bekung menyerahkan tahta kepada adiknya karena merasa dirinya tidak mampu mengemban amanat dari leluhurnya.Satu perubahan yang paling menonjol dari pemerintahan Dalem ZSegening adalah kembalinya kerajaan-kerajaan Sasak (Lombok), Sumbawa yang mengakui kekuasaan Gelgel. Dan satu hal yang penting adalah Dalem Segening mulai menyebarkan golongan ksatria Dalem hampir ke seluruh BAli. Dan gelar ksatria itupun sudah dibagi-bagi mulai status yang poaling tertinggi seperti Ksatria Dalem, ksatria predewa, kesatria prangakan dan ksatria prasanghyang..Sama seperti halnya pemerintahan Gelgel terdahulu, hampir tidak ada peninggalan yang dapat diinformasikan baik berupa dokumentasi maupun benda lainnya oleh penyunting sebagai bukti kebesaran Gelgel.

5. Dalem Di Made Raja Gelgel VSetelah masa pemerintahan Dalem Segening berakhir, akhirnya Gelgel diperintah oleh Dalem Di MAde sekaligus sebagai raja terakhir masa kerajaan Gelgel. Saat-saat damai yang pernah dirintis oleh Dalem Segening tidak dapat dipertahankan oleh Dalem Di Made. Hal ini disebabkan karena Dalem Di MAde terlalu memberikan kepercayaan yang berlebihan kepada pengabihnya I Gusti Agung Maruti. Sehingga pembesar-pembesar lainnya memilih untuk meninggalkan puri.Hal inilah yang akhirnya dimanfaatkan oleh I Gusti Agung MAruti untuk menggulingkan pemerintahan Dalem Di Made. Usaha ini ternyata berhasil, Dalem Di Made beserta putra-putranya menyelamatkan diri ke desa Guliang diiring oleh sekitar 300 orang yang masih setia. Disinilah Dalem Di Made mendirikan keraton baru.Hampir selama 35 tahun Gelgel mengalami kevakuman karena Dalem Di Made telah mengungsi ke Guliang (Gianyar). Sementara Maruti menguasai Gelgel. Hal ini justru membuat Bali terpecah-pecah yang mengakibatkan beberapa kerajaan bagian seperti Den Bukit, Mengwi, Gianyar, Badung, Tabanan, Payangan dan Bangli ikut menyatakan diri merdeka keadaan ini diperparah dengan wafatnya Dalem Di Made di keraton Guliang.Dengan wafatnya Dalem Di Made, membuat para pembesar kerajaan menjadi tergugah untuk mengembalikan kerajaan kepada dinasti Kepakisan. Hal ini dipelopori oleh tiga orang pejabat keraton Panji Sakti, Ki Bagus Sidemen, dan Jambe Pile, mereka akhirnya menyusun strategi unuk menyerang Maruti yang berkuasa di Gelgel. Penyerangan dilakukan dari tiga arah secara serentak yang membuat Maruti dan pengikutnya tidak sanggup mempertahankan Gelgel. Maruti berhasil melarikan diri ke Jimbaran kemudian memilih memukim di Alas Rangkan.

Tuesday, May 29, 2007

METODE PEMBLAJARAN AGAMA HINDU



Om Suastyastu,

Metode pemblajaran Agama Hindu yang telah dilaksanakan oleh orangtua kita saat semasih kita kecil di kampung dulu.
Untuk saat ini barangkali sudah banyak berubah, atas kemajuan jaman teknologi serta sumber sumber pelajaran agama yang dengan mudah didapat, apalagi belakangan ini Internet sudah menjamur, sehingga kuncinya sekarang adalah kemauan untuk berinovasi dan mencari ilmu sedalam mungkin.
Buku-buku sumber pelajaran agama juga telah banyak diterbitkan yang merupakan gudang, cuman kita dituntut mau dan gemar, kalau tidak ingin ketinggalan informasi tentang agama.
Namun ada baiknya kita tengok kebelakang (flashback) sehingga sesuai dengan ajaran kita yang adiluhung ( Trisemaya Atita Vartamana & Anagata). Sebenarnya metode yang dipakai oleh orangtua kita untuk belajar agama adalah metode berjenjang, bukti sebagai contoh adalah :
Saat kita masih dalam buaian mereka, saat itu kita dibuai dengan ceritra I Siap Selem. Ini berarti dari sesuatu yang paling dekat dengan lingkungan disekitar kita. Mulai besaran sedikit satua I Ubuh & Men Tiwas, kita mulai diajarkan etika dalam keluarga kecil ( menyangkut Kerangka agama Hindu Susila/boedi pakerti )
Besaran sedikit I Bawang lan I Kesuna sudah mulai dikenalkan dengan hukum karmapala, sudah mulai meningkat Tatwa bagian dari Panca srada.
kemudian mulailah berpolitik (Indra-jala ) Pan balang Tamak, nah selanjutnya mulailah silsilah keluarga, Babad, Sejarah Kerajaan dan akhirnya sudah meningkat menuju Purana dan Itihasa, demikian pula konsumsi hiburan yang kita nikmati Wayang Versi Ramayana dan Versi Mahabrata kita sudah mulai dengan tatanan hidup & kehidupan yang sering kita kenal dengan tatanan Upacara.
Upa = dekat, sedangkan Car = gerak jadi upacara itu berarti Pendekatan diri terhadap Sang Mahakawiya melalui Gerak = Mudra, Simbol = Nyasa, Ucapan = Mantram (merupakan rangkaian kata-kata yang diikuti penyatuan diri bayu, sabda, Idep =Pikiran)
Inilah yang kemudian sering disebut dengan Yantram, Mantram, dan Tantram menuju prenawa suci A U M = OM dari pemikiran mempunyai bentuk, atas kekuatan mantram mempunyai kekutan dan dari kekuatan mempunyai gerak power itulah yang dikisahkan dalam sepiritual, sesuatu yang berjiwa sehingga memiliki nilai-nilai sacral.
Dan inilah salah satu metode dasar yang dipakai orangtua kita dalam mendekatkan anak anaknya kepada sang maha pencipta dengan cara Swaarta, Paraarta & Paramearta, mulai dari Symbol=Niyasa, Ucapan Mantram, Gerak = Mudra, menuju Prenawa suci itu OM.

Namaste.


Wednesday, April 25, 2007

Swadharma dan Swadikara

Swadharma (Kewajiban) dan swadikara (Hak), merupakan dua hal yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Setiap kewajiban akan selalu dibarengi oleh hak. Dalam kebijaksanaan yang kita ambilpun harus juga memperhatikan swadharma dan swadikara, sehingga dapat berjalan secara seimbang setiap tindakan yang kita lakukan.

Friday, April 20, 2007

Sudah Sehatkah Air yg Kita Minum ?

Seperti kita ketahui, sekitar 70% tubuh manusia terdiri dari air. Sangatlah penting untuk memberikan tubuh dengan air yang berkualitas sesuai kebutuhan sel2 dalam tubuh. Kami menyediakan Air ber-Energi, yang memiliki resonansi energi yang sama dengan resonansi energi yang biasa ditemukan pada air2 alami penyembuh (healing spring water) yang terdapat di beberapa tempat di dunia. (Pengujian level energi dilakukan dengan menggunakan mesin penguji Prognos dan Medec).Dapatkan Air ber-Energi untuk membantu agar tubuh bisa kembali berfungsi normal dengan kemampuan memperbaiki sendiri (Self Healing) bagian2 tubuh yang terkena berbagai gangguan, seperti: asam lambung, migrain, autis, gangguan ginjal, diabetes, kolesterol, asam urat, gangguan jantung, hipertensi, kanker, tumor, stroke, anemia, dan berbagai jenis gangguan tubuh lainnya. Air ber-Energi dihasilkan melalui proses transfer energi dari alat penghasil energi alami yg terbuat dari 2 alam. Manfaat :- Membersihkan racun2 dari dalam tubuh- Membantu proses penyembuhan- Menyeimbangkan energi dalam tubuh- Meningkatkan sistem kekebalan tubuh- Meningkatkan kadar oksigen dalam darah- Meningkatkan penyerapan nutrisi dan memperbaiki metabolisme- Melancarkan peredaran darah- Menjaga keseimbangan fisik dan mental- Membantu membangkitkan energi CHI Life- Meningkatkan stamina- Mengurangi stress- Menyegarkan kulit wajah- Membantu meningkatkan kualitas tidur- Meningkatkan kualitas makanan dan minuman - Merubah air dan makanan menjadi lebih ber-energiAir ber-Energi bisa didapat di beberapa lokasi depot. (Diberikan GRATIS hanya bagi yg membutuhkan)

Wednesday, April 18, 2007

Kedudukan Wanita dalam Agama Hindu

MD.III.56:
Yatra naryastu pujyante, ramante tatra devatah, yatraitastu na pujyante, sarvastatraphalah kriyah.
Di mana wanita dihormati, di sanalah pada Dewa-Dewa merasa senang, tetapi di mana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala
MD.III. 57 :
Socanti jamayo yatra, vinasyatyacu tatkulam, na socanti tu yatraita, vardhate taddhi sarvada.
Di mana wanita hidup dalam kesedihan, keluarga itu akan cepat hancur, tetapi di mana wanita tidak menderita, keluarga itu akan selalu bahagia.
Dan sloka MD.III. 58:
Jamayo yani gehani, capantya patri pujitah, tani krtyahataneva, vinasyanti samantarah.

Rumah di mana wanitanya tidak dihormati sewajarnya, mengucapkan kata-kata kutukan, keluarga itu akan hancur seluruh nya seolah-olah dihancurkan oleh kekuatan gaib


Mengingat demikian penting dan sucinya kedudukan wanita dalam rumah tangga, maka para orang tua memberikan perhatian khusus di bidang pendidikan dan pengajaran kepada anak wanita sejak kecil. Tradisi turun temurun pada lingkungan keluarga Hindu misalnya seorang anak wanita harus lebih rajin dari anak lelaki. Ia bangun pagi lebih awal, menyapu halaman, membersihkan piring, merebus air, menyediakan sarapan, mesaiban, memandikan adik-adik, dan yang terakhir barulah mengurus dirinya sendiri. Ia harus pula bisa memasak nasi, mejejaitan, mebebantenan, menyama beraya, dan banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan adat dan agama.
Semoga ada manfaatnya.
Namaste .

Wednesday, April 11, 2007

Kisah Cicing Gudig


Mari kita lihat lebih dalam betapa menydihkannya kisah “I CICING GUDIG” Disamping sudah wajahnya tengil, baunyapun tak sedap, sudah terbayang pula kutu kutu busuk, yang menempel di sekujur tubuhnya, jangan kan kita sebagai manusia, mungkin sesama temannyapun mereka secara spontanitas mengusir jauh jauh, lantaran menjijikan nah kalau sudah begitu….? Bagaimana dengan kehidupannya……? ……Rejekinya…..? Masih adakah seseorang yang erbaik hati untuk menolongnya……? Dari sisa sisa keputus asaannya si anjing gudig inipun mereka mengintrospeksi diri, kenapa saya begini, kemana saya bawa perut saya yang keroncongan sudah tiga hari tidak ketemu nasi, dari tong ke tong sampah yang satu ke tong sampah yang lain selalu saja rebutan rebutan dengan manusia, rebutan dengan sesama anjing, selalu saja kalah physic karena badannya sudah berlumuran koreng dan sakit. Diakhir keputusasaan ini, timbulah niat untuk bertobat untuk mendiskusikan apa yang bisa dia perbuat untuk memperbaiki nasibnya ini, bertanya kepada sesamanya, disambut dengan perkelahian mekerah, bertanya kepada manusia sudah lebih dulu menutup hidung lantaran baunya yg tidak sedap, singkat ceritra ketemulah si anjing gudig ini dengan sang pertapa disebuah bukit, mereka tidak bercakap cakap namun dari kesidian sang Petapa terjadilah komunikasi dua arah, hai kau ajing gudig, sebenarnya kau tidak usah jauh jauh mencari rejeki, karena sesungguhnya, rejekimu ada pada ujung ekor yang kamu bawa. Belum cukup sang pertapa berkomunikasi ngibritlah si ajing gudig itu meninggalkan sang petapa tanpa pamit, sambil mencari cari tempat yang sunyi untuk meraih rejekinya itu sesuai dg wacana dari sang rsi, Rejekinya ada di ujung ekornya, hore……hore….. sahabatku belum tau, kini aku akan mulai untuk menikmati rejeki yang ada di ujung ekornya. Berputar….putar….. mereka mengigiti ujung ekornya,……kok belum juga keluar rejeki……?, semakin digigit semakin berdarah semakin sakit belum juga keluar rejeki, begitu juga melihat temannya lewat, dikejar dicaplok ekor temannya, disambut dengan perkelahian, belum juga dapat rejeki, akhirnya…….kembalilah si ajing gudig ini menemui sang Rsi sambil menghujat dalam hatinya apakah sang Rsi berbohong….?? Sebenarnya saat itu sang Rsi belum selesai berkomunikasi keburu mereka berlari meninggalkan sang Rsi, akhirnya kembali sang Rsi menjelaskan maksud dari wacana nya itu tiada lain adalah: Rejekimu ada pada ujung ekormu, karena kemanapun kau pergi kau selalu diikuti oleh ekormu, artinya kemanapun, dimanapun kau berada kita selalu dibayangi dengan karmawasana kita, untuk itu……Sucikanlah dirimu sebelum melakukan aktipitas, mohon petunjuk dari sang meraga patut, jangan lupa berpikir baik, berkata baik dan berbuatlah yang baik, sesuai dengan agama yang kita yakini. Kamu sebagai anjing, “product ungulan kamu adalah kesetiaan” tunjukanlah itu kepada majikanmu. Yaaaah akhirnya mengertilah si anjing gudig itu akan sebuah karmawasana, yang tiadalain adalah bagian dari Hukum Karma, yang secara utuh tidak dimiliki oleh agama kecuali “HINDU” Maka berbanggalah menjadi orang Hindu.
Namaste.

Thursday, April 05, 2007

Pis Bolong

1. Pis bolong mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1293 M semasa kejayaan
Majapahit. Berasal dari perdagangan antara Majapahit dengan Cina. Ketika itu
Majapahit belum mempunyai uang kartal. Maka digunakan uang kepeng sebagai alat
tukar dalam perdagangan. Perdagangan dimasa itu dikuasai oleh saudagar-saudagar
cina.
2. Pis bolong ada beberapa jenis :
- buatan Cina, dari zaman dinasti Tang, Sung dan Chin (756 M)
- buatan Jepang, dari zaman dinasti Tokugawa (1741 M)
- buatan Vietnam, tidak jelas ketika dinasti apa
- buatan Jawa dari zaman Walisongo (Islam, 1400 M) dengan huruf arab
- buatan para dukun di Bali sekitar abad ke 13
3. Pis bolong mula-mula digunakan sebagai uang kartal, berlaku di Bali sampai tahun
1950. Selain itu di Bali digunakan pula sebagai sarana upakara, karena
dianggap pis bolong mempunyai kekuatan magis.
4. Kemudian setelah tidak berfungsi sebagai uang kartal, pis bolong tetap digunakan
sebagai upakara hingga saat ini.
5. Pis bolong sebagai jimat dibuat oleh para balian/dukun di Bali disertai
pemasupati. Contohnya : pis jaran, pis dedari, pis rejuna, pis anoman, pis
kresna, pis tualen, pis jring, pis gobogan, dll.
6. Ada juga pis bolong yang dipandang sangat sakral karena datangnya secara gaib,
misalnya melalui wong samar, paica Ida Bhatara, dll.
7. Di zaman sekarang, pis bolong sudah hampir punah.
Maka dibuat tiruannya. PHDI Pusat sudah mengeluarkan keputusan paruman Sulinggih,
bahwa pis bolong sekarang sudah bisa diganti dengan uang logam yang berlaku
syah di Indonesia saat ini. Keputusan ini tertuang dalam
Kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu.


"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."

OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.