411. “Dengan diamnya antah-karana lewat samãdhi[1], nikmatilah keagungan tanpa batas dari Sang Diri-jati. Dengan penuh semangat hancurkanlah belenggu bau harum-busuk dari kelahiran dan kematian; jadilah ia yang telah mencapai tujuan-akhir dari kelahiran berjasad manusia ini!

412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”

Wednesday, September 02, 2009

NGIRING NYEKAH RING SANUR

Rangkaian Upacara Nyekah ring Griya Puseh Sanur, yang diikuti oleh para Sisyan Ida Pedanda Istri Ngurah ring Griya Gede Puseh Sanur. Untuk pengiring dari Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan yang diikuti pula oleh Pura Dadia Pasek Sumerta Sawangan, Pura Dadia Arya Medura Sawangan mengawali upacara dengan Upacara Nuntun di Pantai Geger.
Upacara Nuntun dilakukan pada hari Minggu tanggal 30 Agustus 2009 kira-kira pukul 11.00 Wita. Selain dari Sawangan ada juga yang melakukan penuntunan dari Banjar Peminge yang ikut ngiring di Griya Gede Puseh Sanur yaitu warga Pura Ibu Pasek Sumerta Peminge, Istrinya Pak Rampun. Pengiring dari Banjar Peminge yaitu Keluarga Mangku Kengsi, I Wayan Ramat, I Sengat (Keluarga I Wayan Tara).

Setelah dilakukannya upacara nuntun di Pantai Geger, lalu dilanjutkan dengan upacara nganggetin di Depan Griya Ngenjung Sanur. Upacara nganggetin dimulai kira-kira pukul 14.00 wita pada hari yang sama.



Pada hari Selasa tanggal 1 September 2009, untuk keluarga I Wayan Ronci dan I Made Ugi melakukan dresta, mabina krama dengan ngundang makan bersama seluruh ijasan dan beberapa orang yang punya hubungan kekerabatan dengan Ni Molog dan Ni Rabig yang diupacarai ngiring Nyekah di Griya Gede Puseh Sanur.

Tepat pada hari Purnama Ketiga hari Jumat tanggal 4 September 2009 dilaksanakan Upacara pengesengan di halaman Griya Gede Puseh Sanur. Upacara pengesengan ini diikuti oleh total jumlah puspa sebanyak kurang lebih 300 puspa dari berbagai daerah yang menjadi sisya Ida Bhetara Pedanda Istri Ngurah Griya Gede Puseh diantaranya dari Daerah Kedonganan, Gianyar, Panjer, Sawangan dan Sanur.


Sekitar 6.000 orang lebih terlibat dalam upacara pengesengan tersebut, sehingga memadati areal pengesengan yang dilangsungkan di bilangan Jalan Tukad Bilok Banjar Puseh Sanur. Penuh sesak orang-orang yang ingin terlibat dalam upacara tersebut membuat suasana riuh berebut untuk dapat ambil bagian dalam upacara tesebut. Upacara baru berlangsung dinihari hari Sabtu tanggal 5 September 2009 sekitar pukul 04.30 Wita, yang diawali dengan mundut Puspa ke masing-masing tempat pengesengan.
Upacara pengesengan dilaksanakan dengan kidmat oleh para ahli-ahli dalam upacara tersebut. Silih berganti anggota keluarganya masuk dan keluar dari tempat pengesengan, membuat suasana menjadi semakin riuh. Sesekali terdengar gumaman orang-orang yang tidak dapat masuk ke tempat pengesengan sehingga membuat suasana pada saat itu menjadi rame oleh kibasan kipas tradisional dan kobaran api yang membakar puspa masing-masing keluarga yang ikut upacara pengesengan tersebut. Setelah semuanya terbakar dan telah menjadi abu barulah kemudian dimasukkan ke dalam Bungkak Nyuh Gading yang telah dipersiapkan, untuk kemudian di hias menjadi adegan untuk di anyut ke pantai.
Sekitar pukul 07.30 Wita, usai sudah upacara pengesengan, lalu kemudian semua adegan beriring-iringan berjalan ke Pantai Matahari Terbit Sanur. Oleh karena saking banyaknya pengikut penyekahan ini, maka tak elak bilangan jalan Griya Puseh menuju Pantai Matahari Terbit menjadi macet total. Kurang lebih pukul 09.30 wita sampailah semua di Pantai Matahari Terbit.
Di pantai masih pula ada upacara yang harus diikuti oleh semua pengiring seperti upacara natab banten penganyutan sampai dengan menyembah adegan dan akhirnya melakukan upacara pepegat, barulah akhirnya adegan dianyut ke pantai.

Deburan ombak Pantai Matahari Terbit menggerus semua adegan yang dianyut oleh masing-masing pengiring dan akhirnya bersatu dengan laut. Upacara berakhir kira-kira pukul 11.00 Wita.



Dengan berakhirnya upacara penganyutan tersebut, bukan berarti berakhir rangkaian upacara penyekahan ini, karena masih ada upacara Nuntun lan Mendem ring pura dadia masing-masing.
Pada hari Senen tanggal 7 September 2009 dilaksanakan lagi upacara Nuntun di Pantai Matahari Terbit dan kemudian adegan diiring ke pura dadia masing-masing. Upacara nuntun dilanjutkan dengan Upacara Mendem. Upacara mendem di Pura Dadia Pasek Gelgel Sawangan dilangsungkan mulai pukul 19.30 dan berakhir pukul 01.30 Wita dini hari. Prosesi upacara ini dipuput oleh Ida Pedanda Nabe Oka Timbul di Griya Timbul dan dibantu oleh beberapa Dayu Tukang, termasuk Ida Ayu Jegeg dan Jero Seroja.
Dengan berakhirnya upacara pemendeman ini maka berakhirlah rankaian upacara penyekahan yang berlangsung mulai tanggal 30 Agustus 2009 dengan upacara nuntun di Pantai Geger.

Sunday, August 16, 2009

I MADE KENENG MENUTUP USIA


Setelah 9 hari dirawat di Rumah Sakit Kasih Ibu, karena divonis mengidap penyakit Ernia dan Usus Buntu serta telah mendapat penanganan intensif dari dokter, ternyata kalau sudah giliran akan menghadap Beliau Ida Hyang Widhi Wasa pasti akan kembali juga. Tepatnya pada hari Minggu Umanis Wuku Ukir tanggal 16 Agustus 2009 menjelang Tajeg Surya (tengah hari) Beliau telah menutup mata sembari mengucap selamat tinggal semuanya....
Berbeda dengan Beliau yang telah kembali ke alamnya, mereka yang ditinggalkan menjadi sangat pilu dan menyakitkan. Mengapa tidak..??? Oleh karena anak-anaknya yang masih muda belia serta tanpa sosok orang tua satupun mereka akan menjalani hidup dua batang kara. Eka dan Eko anaknya akan melanjutkan swadharma bapaknya kelak kemudian hari dengan kemampuan yang ada serta kekuatan yang mereka miliki....

Mengenai upacara atiwa-tiwa akan dilaksanakan pada hari Jumat Umanis Wuku Ukir tanggal 21 Agustus 2009.
Demikianlah akhir swadharma dari anggota Warga Pasek Gelgel Sawangan khususnya Trah Ki Bongol..
Dalam prosesi pengabenan ini diawali dengan membuat Bambang di Kuburan oleh warga tempekan banjar yaitu Tempekan I Komang Suarnata pada pagi harinya. Usai membuat bambang maka dilakukan upacara mapag di Lebuh bagi mereka yang ikut membuat bangbang pada saat itu. Upacara ini merupakan kebiasaan yang telah turun temurun dilakukan oleh setiap anggota banjar Sawangan yang meninggal dan melakukan pengabenan. Upacara ini biasanya dilakukan dengan acara makan bersama setelah selesai natab. Upacara ini dipuput oleh Jro Mangku I Made Rabih. Setelah selesai upacara ini kira-kira jam 10.00 pagi pada hari jumat itu baru dilakukan Upacara Nyiramang/Pabersihan layon yang terdiri dari dua tahap :
1. Tahap pebersihan hidup, merupakan pebersihan bagi layon yang dianggap masih tidur
walaupun atmannya sudah terlepas dari raganya. Biasanya bagi mereka yang belum
melakukan upacara metatah semasa hidupnya, akan dilakukan pada saat setelah pebersihan
hidup ini. Setelah selesai dibersihkan layaknya masih hidup, maka akan dilakukan upacara
natab banten oton, untuk pemberian upacara otonan yang terakhir kalinya.
2. Tahap pebersihan mati, merupakan pebersihan yang dilakukan kepada layon setelah dianggap
atmannya terlepas dari raganya. Dalam upacara ini biasanya menggunakan beberapa sarana
seperti, Don Intaran untuk diletakkan di alisnya, Pecahan cermin (meka) untuk diletakkan
pada kedua matanya, Lempengan tambaga untuk diletakkan di giginya, Bunga Kelor untuk
diletakkan di kedua lubang hidungnya, dan lain sebagainya. Setelah selesai dilakukan pebersihan mati ini, baru kemudian layon akan diletakkan dalam peti yang nantinya akan digotong oleh warga banjar bersama-sama dengan Wadah/Bale-balean bila ada.
Setelah usai proses kedua pebesihan diatas baru kemudian dilakukan upacara pemerasan, dengan mengitari Banten Pemerasan, yang biasanya diletakan pada sebuah meja. Usainya proses upacara pemerasan ini biasaya akan dilanjutkan dengan ngajum kajang yang maknanya menurut Sang Wikan sebagai upacaran Dwijati bagi atman yang telah meninggalkan raganya. Selain dalam bentuk Kajang juga akan dibuat dalam bentuk Adegan (semacam Daksina Linggih).
Dengan berakhirnya proses ngajum kajang yang dilakukan pula dengan nyuntik kajang ini, maka upacara akan dilanjutkan dengan upacara Mapepegat.

Upacara mapepegat ini bermakna sebagai pelepasan bagi sanak saudara dan atau teman-teman dekatnya terhadap yang telah meninggalkan/meninggal, sehingga nantinya tidak lagi teringat dengan hal-hal tertentu yang kemudian akan membuat trachuma.
Setelah proses upacara ini maka layon yang telah diletakkan pada Bale-balean bersama-sama dengan peti akan di arak ke kuburan oleh warga tempekan banjar yang bertugas dengan diikuti oleh keluarga dan warga banjar lainnya. Iring-iringan akan diawali dengan Peras Marga. Banten ini biasanya di persembahkan setiap ketemu dengan persimpangan jalan. Banten ini biasanya diikuti pula dengan meletakkna ikatan padi dan uang kepeng pada bambu. Setelah banten ini akan disertai pula oleh iring-iringan genjer-genjer, rantasan, adengan, kajang. Bale-balean yang telah diletakkan layon akan ditarik dengan benang Tri Datu beserta tulup yang akan dipegang oleh satu orang. Untuk bale-balean biasanya akan dinaiki pula oleh dua orang Ida Bagus dengan memegang Burung Kedewatan dan Beras Kerura. Untuk beras kerura akan dilemparkan setiap ketemu persimpangan jalan.
Setelah layon sampai di Kuburan/Setra baru kemudian layon akan diturunkan dari bale-balean dan kemudian akan diletakkan pada tempat yang telah disiapkan di Kuburan untuk kemudian akan dilakukan upacara ngentas dan penggesengan. Walaupun di Desa Adat Peminge tidak dilakukan proses pembakaran mayat, tetapi prosesi secara simbolis tetap dilakukan dengan menembakkan tirta penggesengan. Berakhirnya proses upacara pengentasan, maka layon akan dikuburkan dan kemudian tanahnya akan diambil untuk kemudian akan direka(dibentuk) menjadi adegan yang akan dianyut ke laut.
Setelah tanah yang diambil dengan menggunakan sehelai daun dapdap direka/dibentuk menjadi adegan baru kemudian akan dilakukan upacara peningkatan status atma oleh Ida Pedanda, yang dalam upacara atiwa-tiwa ini dipuput oleh Ida Pedanda Griya Santrian Sanur ( Ida Bagus Anom - saat Welaka)
Setelah dilakukan upacara oleh Ida Pedanda, dilanjutkan dengan sembahyang bersama memberi doa kepada atma Semoga dapat menghadap Ida Hyang Widhi Wasa dengan selamat sentausa. Berakhirnya persembahyangan bersama, maka akan dilakukan prosesi mengelilingi bale wantilan Ida Pedanda bersama adegan yang akan dianyut sebanyak tiga kali.
Setelah selesai prosesi upacara yang dilakukan di kuburan, baru kemudian dilakukan upacara nganyut ke Segara/Pantai Geger Desa Adat Peminge. Dengan berakhirnya upacara nganyut ke segara, yang dalam hal ini dipimpin oleh Jro Mangku Mrajapati/Prajapati yaitu Jero Mangku I Made Rabih, maka selesailah prosesi upacara Atiwa-tiwa I Made Keneng yang terlaksana pada Hari Jumat Umanis Wuku Ukir tanggal 21 Agustus 2009.
Semoga amal bhaktinya dapat menjadikan tabungan untuknya menuju nirwana menghadap kepada-Nya..
Namaste,

Sunday, July 05, 2009

PENGABENAN I WAYAN RAMAT

Setelah beberapa tahun dikubur I Wayan Ramat, pada hari Minggu 5 Juli 2009 dilakukan upacara atiwa-tiwa yang di puput oleh Ida Pedanda Oka Griya Timbul.
Upacara atiwa-tiwa ini dilakukan bersama dengan beberapa sawa dari Sawangan ( Dong Rinso, Dong Darya, dan I Nargi) dan di Peminge (I Wayan Ramat, Keluarga Pak Loteng, Keluarga Pan Kengsi).
Prosesi upacara ini dilakukan pada sore hari, kira-kira pukul 13.00 wita, namun prosesi ngulapin dilakukan sehari sebelum upacara atiwa-tiwa yaitu hari Sabtu tanggal 4 Juli 2009.

Demikianlah prosesi upacara atiwa-tiwa yang merupakan pembayaran hutang (Rna) kepada orang tua, telah berjalan dengan baik sesuai harapan.
Semoga apa yang telah dilakukan dapat bermanfaat guna bagi kehidupan kita semua untuk menjaga keharmonisan tiga bhuwana.

Namaste,

KENAPA NAMANYA BALI

TAHUKAH Anda dari mana asal nama Bali untuk menyebut sebuah pulau di timur Pulau Jawa?Kedatangan seorang Maha Rsi Markandeya abad ke-7 memberikan pengaruh besar pada kehidupan penduduk Bali. Beliau adalah seorang pertapa sakti di Gunung Raung, Jawa Timur.Suatu hari beliau mendapat bisikan gaib dari Tuhan untuk bertempat tinggal di sebelah timur Pulau Dawa (pulau Jawa sekarang). Dawa artinya panjang, karena memang dulunya pulau Jawa dan Bali menjadi satu daratan.Dengan diikuti oleh 800 pengikutnya, beliau mulai bergerak ke arah timur yang masih berupa hutan belantara. Perjalanan beliau hanya sampai di daerah Jembrana sekarang Bali Barat karena pengikut beliau tewas dimakan harimau dan ular-ular besar penghuni hutan. Akhirnya beliau memutuskan kembali ke Gunung Raung untuk bersemedi dan mencari pengikut baru.Dengan semangat dan tekad yang kuat, perjalanan beliau yang kedua sukses mencapai tujuan di kaki Gunung Agung (Bali Timur) yang sekarang disebut Besakih.Sebelum pengikutnya merabas hutan, beliau melakukan ritual menanam Panca Dhatu berupa lima jenis logam yang dipercayai mampu menolak bahaya. Perabasan hutan sukses, tanah-tanah yang ada beliau bagi-bagi kepada pengikutnya untuk dijadikan sawah, tegalan, rumah, dan tempat suci yang dinamai Wasukih (Besakih).Di sinilah beliau mengajarkan agama kepada pengiringnya yang menyebut Tuhan dengan nama Sanghyang Widhi melalui penyembahan Surya (surya sewana) tiga kali dalam sehari, menggunakan alat-alat bebali yaitu sesajen yang terdiri atas tiga unsur benda: air, api, dan bunga harum.Ajaran agamanya disebut agama Bali. Lambat laun para pengikutnya mulai menyebar ke daerah sekitar, sehingga daerah ini dinamai daerah Bali, daerah yang segala sesuatunya mempergunakan bebali (sesajen).Bisa disimpulkan bahwa nama Bali berasal dari kata bebali yang artinya sesajen.Ditegaskan lagi dalam kitab Ramayana yg disusun 1200SM: "Ada sebuah tempat di timur Dawa Dwipa yang bernama Vali Dwipa, di mana di sana Tuhan diberikan kesenangan oleh penduduknya berupa bebali (sesajen)."Vali Dwipa adalah sebutan untuk Pulau Vali yang kemudian berubah fonem menjadi Pulau Bali atau pulau sesajen. Tidak salah memang interpretasi ini melihat orang Bali memang tidak bisa lepas dari sesajen dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya.

Thursday, June 11, 2009

Bersimbah Darah Menghormati Leluhur

Dengan hati-hati Kadek Budi Juliantara, 13 tahun, membersihkan duri di pundak Kadek Anjasmara, 12 tahun. Menggunakan ujung peniti, Juliantara menusuk goresan-goresan luka di pundak temannya itu untuk mengambil sisa duri di bekas luka itu.
Dua remaja ini berpakaian adat. Berbeda dengan pakaian adat Bali pada umumnya yang menggunakan baju, pakaian adat di Tenganan tanpa baju. Dua remaja ini pun bertelanjang dada. Mereka hanya menggunakan sarung (kamen), selendang (saput), dan ikat kepala (udeng) tanpa baju. Bersama teman-temannya, dua remaja ini sedang menunggu perang pandan dimulai.Peran pandan adalah tradisi warga Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Karangasem tempat di mana dua murid SMP Negeri 1 Manggis ini tinggal. Sebagai warga Tenganan, Juliantara dan Anjasmara pun harus ikut kegiatan yang oleh warga setempat disebut mekare-kare ini. Ritual ini digelar tiap tahun di Desa Tenganan. Desa yang terletak di 70 km timur Denpasar ini masuk salah satu desa tua di bali, disebut bali aga, selain Trunyan di Kintamani, Bangli.
Kepercayaan warga Tenganan agak berbeda dengan warga Bali pada umumnya. Umat Hindu Bali pada umumnya menjadikan Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa sebagai dewa tertinggi. Namun bagi warga Tenganan Dewa Indra adalah dewa dari segala dewa. Dewa Indra adalah dewa perang. Menurut sejarahnya Tenganan adalah hadiah dari Dewa Indra pada wong peneges, leluhur desa Tenganan.Karena memuja Dewa Indra sebagai dewa tertinggi, maka perang adalah sesuatu yang akrab bagi Tenganan. Bentuk desa ini dibuat seperti benteng. Struktur desa adalah jaga satru yang berarti waspada pada musuh. Hanya ada empat pintu utama (lawangan) untuk masuk desa ini sehingga memudahkan warga untuk tahu siapa saja yang datang. Lokasi desa yang dikelilingi bukit, menurut mantan Kepala Desa I Nyoman Sadra, adalah benteng itu sendiri.Selain bentuk desa, ritual di desa ini pun akrab dengan simbol-simbol perang. “Bagi kami, perang adalah upacara untuk menghormati leluhur,” kata Sadra dalam sebuah obrolan dengan saya.Perang yang digelar di Tenganan antara lain adalah mesabatan biu atau perang pisang yang digelar untuk menunjukkan kedewasaan. Perang pisang ini hanya diikuti oleh remaja. Ada pula perang lumpur yang tujuannya kurang lebih sama dengan perang pisang. Di antara perang-perang tersebut, perang pandan sudah kadung jadi yang paling terkenal.Semula perang ini dilakukan tertutup dalam artian hanya untuk warga Tenganan. Perang ini memang bagian dari upacara besar yang disebut Usaba Sambah. Ketika pariwisata mulai masuk desa ini pada 1930an, perang pandan yang semula sakral pun jadi profan. Orang luar tak hanya boleh menonton, mereka pun boleh ikut bertarung.
Tahun ini perang pandan digelar pada 9-10 Juni. Ribuan penonton pun tumpek blek di desa ini. Menjelang masuk desa, mobil dan bis berjejer sepanjang jalan yang biasanya relatif sepi. Di dalam desa, saya bahkan sampai kesulitan mencari tempat parkir sepeda motor saking penuhnya. Padahal biasanya sepeda motor selain milik warga lokal tidak boleh masuk.Selama perayaan perang pandan Tenganan pun mirip pasar malam. Di sekitar bale petemu, tempat perang digelar, banyak pedagang kaki lima. Penjual minuman, bakso, mainan, sampai bra pun berjejer di depan rumah warga. Pedagang musiman ini bersaing dengan warga setempat yang memang menjadikan rumahnya sebagai art shop untuk menjual aneka cindera mata khas Tenganan seperti kain tradisional gringsing, kalender, dan lukis telur.
Di antara para pedagang itu, ada pula para penjudi tradisional seperti bola adil. Judi memang sesuatu yang jadi parasit dalam setiap upacara besar di Bali. Dia selalu mendompleng ritual di Bali, termasuk di perang pandan ini. Ironisnya, pemain judi ini justru sebagian besar anak-anak. Jadi sekalian main judi, mereka juga menonton perang pandan.
Tiap laki-laki di desa ini wajib ikut perang pandan ini. Begitu pula Juliantara. Hari ini dia kembali ikut perang. Sambil menunggu perang pandan dimulai, Juliantara dan teman-temannya membersihkan sisa duri pandan di tubuh mereka sisa perang sehari sebelumnya. Selain di pundak, luka-luka itu terlihat pula di punggung dan pinggang.
Luka yang sudah mengering itu akibat goresan duri daun pandan (Pandanus amaryllifolius) . Daun bergerigi di dua sisinya inilah yang mereka bawa siang itu sambil menunggu perang dimulai. Daun pandan itu dipotong sepanjang sekitar 15 cm lalu diikat sebanyak 10-15 buah. Sebagian anak-anak mengurangi tajamnya gerigi itu dengan menggoreskannya pada batu atau dinding rumah, termasuk Juliantara. “Biar durinya tidak terlalu sakit,” kata Anjasmara.
Juliantara dan Anjasmara adalah dua sahabat. Mereka berteman sejak kecil, di rumah maupun di sekolah. Namun ketika perang pandan digelar mereka jadi lawan bagi satu sama lain. “Sejak kecil sampai sekarang dia jadi lawanku,” kata Juliantara.
Sekitar pukul 2 siang gamelan di bale petemu, balai pertemuan, mulai ditabuh. Suara penonton makin riuh. Juliantara dan teman-temannya beranjak mendekati panggung.
Ribuan penonton sesak mengelilingi panggung berukuran sekitar 5 x 5 meter persegi itu. Dengan tinggi sekitar 1 meter, panggung benar-benar seperti ring tinju. Bedanya ini tanpa tali pengaman mengelilingi. Pengamannya adalah para pemedek (orang yang ikut upacara) itu sendiri.Sebelum perang pandan dimulai, ada ritual minum tuak dulu. Tuak di bambu itu dituangkan ke daun pisang yang berfungsi seperti gelas. Peserta perang saling menuangkan tuak itu ke daun pisang peserta lain. Semua lalu dikumpulkan pada satu orang yang kemudian membuang tuak itu ke samping panggung. Bau tuak tercium kuat siang itu.
Mangku Widia, pemimpin adat di Desa Tenganan, duduk di salah satu pojok panggung. Dia memberi aba-aba dengan suaranya. Dua pemuda bersiap-siap. Mereka berhadap-hadapan dengan seikat daun pandan di tangan kanan dan perisai terbuat dari anyaman daun ata di tangan kiri. Penengah, layaknya wasit, berdiri di antara dua pemuda ini.
Setelah penengah mengangkat tangan tinggi-tinggi, dua pemuda itu saling menyerang. Mereka memukul punggung lawan dengan cara merangkulnya terlebih dulu. Mereka berpelukan. Saling memukul punggung lawan dengan daun pandan itu lalu menggeretnya. Karena itu ritual ini disebut pula megeret pandan.Peserta perang yang lain bersorak memberi semangat. Gamelan ditabuh dengan tempo cepat. Dua pemuda itu saling berangkulan dan memukul hingga jatuh. Penengah memisahkan keduanya dibantu pemedek yang lain.
Pertandingan itu tak berlangsung lama. Kurang dari satu menit bahkan. Selesai satu pertandingan langsung disambung pertandingan yang lain.
Hingga giliran Juliantara dan Anjasmara pun tiba. Mereka berhadapan lalu saling menyerang. Saya teringat Achiles di film Troy yang menyerang musuhnya dengan garang. Tapi ini berbeda. Kalau Achiles yang diperankan Brad Pitt itu menyerang lawan untuk menghabisi nyawa, maka dua remaja ini menyerang hanya untuk melukai. Achiles berperang demi kekuasaan, Juliantara berperang karena penghormatan pada leluhur.
Ketika penengah memisahkan maka selesailah pertandingan Juliantara dan Anjasmara. Mereka mundur dari gelanggang lalu kembali menonton pertandingan lain.
Seperti pertandingan lain, selalu ada ketakutan yang muncul sebelumnya bertanding. Begitu pula Juliantara. “Sebelum mulai selalu deg-degan. Takut sakit. Tapi begitu mendengar gamelan, takutnya langsung hilang. Gamelannya membuat saya berani,” katanya.
Keberanian itu, menurut Juliantara, datang begitu saja ketika pertandingan tiba. “Saya juga tidak tahu kok bisa begitu,” tambah Anjasmara.
“Biar keliatan gagah juga,” sahut Juliantara diiringi tawa teman-temannya.Perang pandan memang kegiatan maskulin, macho. Pesertanya hanya laki-laki. Perempuan hanya menjadi penyaksi ketika perang berlangsung. Namun begitu perang selesai, para perempuan sigap memberikan obat. “Kalau sudah dikasih obat baru terasa perih. Tapi cepat sembuhnya,” ujar Anjasmara.Selesai perang, punggung dan pundak peserta memang penuh bercak darah yang mengalir akibat geretan daun pandan. Tapi bagi mereka itulah bukti bahwa mereka sudah berbakti pada tradisinya. “Kalau sudah keluar darah, saya merasa sudah melakukan bakti saya pada leluhur,” kata Juliantara. [b]

Wednesday, April 08, 2009

Anaknya I Nyoman Widya lahir muda dan telah berpulang

Adalah hari yang sangat menyedihkan bagi semeton Pasek Gelgel Sawangan I Nyoman Widya..
Belum sempat menghirup udaranya bhuwana anaknya I Nyoman Widia yang baru berumur 4-5 bulan dalam kandungan telah pergi tanpa minta apapun dari orang tuanya...
Pada malam hari kira-kira pukul 02.00 Wita dini hari, dalam hitungan hari pawukon masih termasuk Hari Selasa Kliwon Wuku Medangsia, bertepatan dengan Piodalan di Pura Sad Kahyangan Uluwatu, tanggal 7 April 2009 ia telah lahir tanpa menghela napas sedikitpun.
Upacara ngelungah dilakukan pada hari Rabu Umanis wuku Medangsia pada sore hari.

Proses makekelud akan dilakukan pada hari ke-21 yaitu pada tanggal 29 April 2009.
Walaupun konsistensi prajuru Dadia Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan kurang dapat di pahami, tetapi proses tersebut harus tetap dijalankan untuk menjaga keutuhan dresta.
Tidak kosisten dimaksud karna pada saat meninggalnya anak I Nyoman Dorin yang juga "ngaba mala" hanya ngambil sebel/cuntaka 7 hari, tepatnya dilakukan pada tanggal 11 Maret 2009 setelah dikuburkan pada tanggal 5 Maret 2009.

Yah begitulah harus tetap dimaklumi karna kurang profesionalnya prajuru Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan...

Tapi haruskah ini terus terjadi..????

Namun...............

Semoga ia yang pergi dengan sisa karmanya dan amoring acintya menyatu dengan-Nya...

Namaste,

Monday, April 06, 2009

Semeton Pasek Gelgel Sawangan "Bapak Made Rodin" istirahat panjang

Telah beristirahat panjang semeton Pasek Gelgel Sawangan yang bernama "I Made Rodin" pada hari Senen Wage wuku Medangsia tanggal 6 April 2009 pagi-pagi....
Hari yang sangat cerah di suasana Karya Panca Bali Krama di tahun 2009 ini beliau berpulang tanpa meninggalkan sesal apapun...
Berbicara tentang tugas dan tanggungjawabnya, beliau telah selesai membesarkan anak sehingga berbuah cucu yang lucu-lucu....
Oleh karena masih dalam suasana Upacara Agung Panca Bali Krama, maka kepergian beliau tidak serta merta dilanjutkan dengan Upacara Atiwa-tiwa...
Penguburannya langsung dilangsungkan saat itu pula (tanggal 6 April), tanpa upacara Atiwa-tiwa...

Semoga amal dan bhaktinya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, memberikan beliau tempat dan dapat menjadi tabungan kebajikan untuk Amoring Acintya....

Namaste..


"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."

OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.