411. “Dengan diamnya antah-karana lewat samãdhi[1], nikmatilah keagungan tanpa batas dari Sang Diri-jati. Dengan penuh semangat hancurkanlah belenggu bau harum-busuk dari kelahiran dan kematian; jadilah ia yang telah mencapai tujuan-akhir dari kelahiran berjasad manusia ini!

412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”

Sunday, March 02, 2014

I NYOMAN GEDOH MENUJU ALAM NIRWANA

Satu lagi warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan yang bernama I Nyoman Gedoh telah berpulang dengan tenang kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa pada hari Sabtu Wage, wara Dukut, tanggal 1 Maret 2014.

Upacara atiwa-tiwa dilaksanakan pada hari Selasa Paing wara Watugunung, tanggal 4 Maret 2014.

Semoga semua tabungan kebajikannya menjadi modal untuk menuju-Nya....Amoring Acintya..

Wednesday, February 26, 2014

RENUNGAN DI JAMAN KALI


Agama Hindu muncul pertama di Lembah sungai Gangga,di daerah Industani (Asal nama hindu). Hindu merupakan ajaran yg paling pertama Tuhan turunkan. Artefak Hindu tertua ditemukan ilmuan sudah berumur 5000 sebelum masehi. Tahun 8 sebelum masehi Hindu berkembang di Nusantara, dan menjadi begitu pesat di Indonesia pada zaman majapahit 1300m ,dan saat itu hidup harmonis dengan Budha yang datang kemudian. Terbukti dengan adanya “Bhineka Tunggal Ika”.
Hindu di Indonesia kini banyak penganutnya di pulau Bali, yang mengungsi dari Jawa karena semakin kecil dan runtuhnya supremasi kerajaan Majapahit.

Hindu datang ke Bali dan tumbuh disana. Pribumi Bali,yaitu orang Tenganan, Trunyan kini meminggirkan diri hidup di danau Batur.

Dengan latar belakang Hindu yang telah tumbuh dan berkembang begitu lama, Hindu yang murni dan sejati kini terkikis maupun tertambah dengan akulturasi budaya,adat,kebiasaan, awig-awig,tata-toto dan kearifan lokal yang mengiringi tumbuhnya Hindu di setiap daerah. Kini kehidupan beragama Hindu seperti berkembang sendiri-sendiri di setiap daerah, Setiap daerah sepertinya mempunyai aturannya sendiri yang bertameng alasan atas desa kala patra.

Di Bali sendiri,jangankan antar kabupaten,antar desa dan kampung saja memiliki aturan yang berbeda-beda. Sungguh sangat disayangkan,
pesan dari Weda yang begitu murni, tulus, suci,dan penuh dengan essensi kehidupan yang sejati,harus tenggelam dikarenakan riuh rendahnya peraturan dan tata cara ritual yang rumit,berkelit,memboroskan energi dan materi.

Weda ‘kehilangan’ auranya karena ditutupi oleh semua ketidaktahuan dan tidak adanya keinginan untuk tahu dari para penganutnya.
Hal ini jika terus-menerus berkelanjutan,maka umat tidak akan pernah tahu apa yang sesungguhnya dia sembah, dan mengapa menyembahnya. Seakan-akan umat hanya menyembah batu yang berukir,dan jika ditanya oleh Sahabat Lain,maka umat tidak tahu mau menjawab apa. Berhalakah Hindu dengan menyembah para Dewa di batu-batu?,Siapakah para Dewa?,mengapa tak menyembah Hyang Widi saja?
mengapa umat Hindu harus reinkarnasi terus,sampai kapan reinkarnasi?
bagaimana caranya agar tidak reinkarnasi lagi?
mengapa mati harus dibakar?
Setelah mati rohnya pergi kemana? Apakah dengan mati dibakar melalui upacara-upacara yang kompleks,rumit, megah meriah, rohnya dengan mudah lalunya mencapai Tuhan? Jika tidak diritualkan, lalu apakah Tuhan tidak menerimanya?
Mengapa biaya dari seluruh upacara yang mewah itu tidak dikumpulkan untuk membangun sekolah saja?
Atau dibagikan kepada orang yg membutuhkan? membangun sumur air di desa tertinggal?
Disinilah kemudian umat dengan kebodohan dan kesombongannya lalu menjawab “nak mule keto” memang begitu dari dulu.

Sungguh ironis dan naif.
Entah kemana PHDI sebagai puncak pengayom umat seperti tak bereaksi apa-apa. Tidak peka akan kehancuran laten dikemudian hari, yang tak terlihat bagai siluman maut.
Berbeda dengan majelis organisasi-organisasi Sahabat Lain,yang begitu tegas memberikan pakem-pakem,menuntun umatnya, memberikan pencerahan pembangunan rohani umat dan memposisikan eksistensinya.
Entah apa yang dilakukan para Mangku,Pinandita, Pedanda, tidak men-danda-ni umat dengan kemurnian Weda bagi kehidupan,kedamaian dan kesentosaan hidup tiap manusia yang bernafas.
Setelah dengan sombongnya mendentingkan genta di altar yang lebih tinggi dari umat,selesai ritual,kemudian ngacir aja pergi.
Pelit benar mengajar esensi Weda kepada para umat. Emangnya,hanya mereka saja yang bisa ‘berkomunikasi’ dengan para Dewa, hanya mereka saja yang berhak tahu akan ajaran hidup yg begitu luhur adi luhung adigang adigung adiguna dari Weda.
Atau mungkin malah mereka tak tahu sama sekali isi esensi kemurnian Weda yang luhur dan adiluhung itu?

Konyol kiranya.
Para Pejabat, Petinggi, cerdik dan cendikia yang berkepentingan akan hal ini,sungguh kiranya memiliki hati untuk concern akan hal ini. Jangan terkesan tutup mata tutup telinga, cuci tangan sembunyi tangan. Janganlah pula hanya gugun tuun akan hal ini,pikirkanlah,bagaimana caranya agar jiwa para umat selamat,tidak direkrut oleh roh-roh dan malaikat iblis yang jahat, hedonisme moderenisasi, degradasi moral korupsif dan korosif. Rekonstruksi ulang Silabus pelajaran agama Hindu yang lebih menekankan pada bekal ilmu rohani mengahadapi hidup dan kehidupan siswa. Buatlah Sentral Pakem ritual yang jelas yang membangun kerohanian umat. Berusahalah membangunlah pusat pencerahan umat di setiap kabupaten yang ada di Indonesia. Buatlah Pesraman yang memberikan pencerahan dan ilmu yang bermanfaat bagi umat,bukan hanya melulu menekankan pada ritual yang tak tahu juntrungan pembangunan karakter rohaninya.
Mestinya ada keseimbangan upacara dan tatwa susila. Ada Dharma Wacana di setiap kegiatan persembahyangan atau upacara, baik itu yang kecil maupun yang besar. Jangan melulu-lulu bergulat dan berkutat,muter-muter gak jelas di sajen,banten,dan pernak-pernik upakara saja. Mana esensi tatwa dan pengetahuan rohaninya?

Srada-Srada suci pengetahuan yang sebenarnya penting,major,utama dan urgent itu, kok jadi dikalahkan dan tenggelam oleh segala-gala banten, daun kelapa dan pis bolong, sesuatu yang sebenarnya hanya menjadi unsur yang kecil dan seimprit dari Weda yang luas jembar itu.
Lama kelamaan mundurlah lagi kita ke zaman animisme dan dinamisme, padahal Tuhan telah datang dengan ajaran theoismenya, yang sudah jelas dan tanpa tedeng aling-aling lagi. Kok kita malah jadi manusia yang susah banget diajari,sudah macam belut masuk oli sahaja,licin setengah mati.

Bukankah Weda itu berasal dari urat kata Wid, yang artinya pengetahuan,seharusnya lebihlah menekankan dan menitikberatkan pada esensi tatwa ini,esensi pengetahuan dan ajaran rohani yang menjadi bekal umat menghadapi segala permasalahan dan beban berat kehidupan, yang terasa semakin hari semakin berat sahaja.
LPG yang lebih berat aja udah semakin mahal,udah berat mahal lagi.

Walaupun ini pekerjaan berat,mungkin sangat berat dan membutuhkan waktu yang tak sebentar, lama, namun jika kalau bukan kita siapa lagi?
kalau tidak dari sekarang kapan lagi?
Jika ada kejahatan di bali,selalu muncul jargon ‘sing ade nak bali keto,nak jawa pasti to’ .

Sungguh naif, kiranya orang Bali itu baik semua. Bukan rahasia umum di Bali, tidak sedikit di setiap keluarga Bali,pasti ada puik/bermusuhan,entah tidak saling tegur antar tetangga,tidak cocok sama ini,tidak cocok sama orang itulah, atau antar keluarga sendiri. Berbeda dengan jawa,kehidupan begitu toleran dan setiap orang lewat,ada lips service tegur sapa ‘monggo’ nya.
Di Bali,tingkah sesama manusia Bali,walau tidak semua, tidak sedikit yang sengak dan angkuh sekali. Tidak ada saling tegur sapa, tidak ada yang mau menegur duluan.
Bahkan jika menatap mata orang langsung,tinggi hatinya. Jika sama orang luar terlihat ramah,namun sama sesama kok seperti api dalam sekam,menggunting dalam lipatan.

Belum lagi pembedaan kasta,suatu produk keegoisan manusia yang tamasik rajasik dan gelap. Ngaben yang menghabiskan banyak sekali energi dan materi.Apa lagi banyak yang sampai menjual tanah dan warisan sesepuh untuk ngaben atau upacara,lama-kelaman kalau begini terus,tanah Bali bisa habis dimiliki orang luar sahaja.

Ngaben sampai membuat tumpeng yang tinggi-tinggi ,untuk apa sih itu semua,kesombongan?
Keluarga satu merasa jengah kalau tumpengnya kurang bagus dari yang lain,terjadilah gagah-gagahan,maknanya jadi semakin kosong dan tumpul.

Sungguh mana penghapusan Sad Ripu di upacara mepandes/metatah? Jika loba,matsarya,iri hati dan dengki merajalela?
Apa guna semua banten-banten itu? Dibuat berlelah-lelah,berhari-hari,namun hanya dipakai dalam semenit kemudian di buang dan bikin sampah .
Alasan agar turis ke bali? Ritual Hanya menyedot 20 %. Turis ke Bali, sisanya kesenian dan keindahan alam.Mengapa menjual keimanan murni Hindu hanya untuk 20 % itu?

Jika ingin ritual atau ceremonial yang hanya untuk menarik turis, Govern Legislator, buatlah karnaval seperti di Brasil saja,atau dipusatkan pada tempat-tempat, yang tujuannya memperkenalkan kepada turis, bukan malah membodohi umat untuk terjebak pada ritus-ritus itu.
Dan juga kebiasaan minum-minuman keras,arak, kadangkala diadakan pada upacara dan yadnya,bahkan di acara pernikahan desa tradisi minum-minuman keras diadakan. Generasi muda di desa sepertinya dihancurkan oleh hal ini. Entah Dimana suara dan ketegasan Pihak yang berkepentingan di sini ??? Jajaran Trias Politika Bali Eksekutif,Legislatif,Yudikatif mana kepala mu??? Janganlah hanya melulu memikirkan sudut materi dan anggaran pendapatan daerah saja. Apa bagusnya gencar pembangunan Hotel, Villa dan fasilitas wisata menjamur seperti merang di musim hujan jika esensi kehidupan hilang,degradasi moral,dan tata toto titi tentrem masyarakat menjadi goyah?

Perselisihan dan bentrok warga yang dikarenakan hal sebenarnya terkesan sepele dan tidak fundamental, lahan ngaben,mesurya,bebantenan dan lainnya, sudah saatnyalah kita selalu eling lan waspodo akan semua hal ini. Mari saling asih,asuh,asah.

Buka wawasan pengetahuan selebar dan seluas-luasnya.Tradisi yang baik adi luhung dari leluhur,kita pelihara,tradisi yang jelek,tak masuk akal,dan tiada membangun kesadaran rohani umat,janganlah kita pakai lagi.

Tinggalkanlah saja itu semua. Sudah seharusnya pihak yang memiliki power untuk menetapkan regulasi,tokoh masyarakat dan pemuka rohani bahu membahu meruntuhkan proto paradoto ini,aturan dari nenek moyang yang kiranya tidak memililki manfaat dan mudharat bagi kemaslahatan pembangunan rohani umat. Berjalan kearah yang lebih maju,baik, dan sentausa bagi semua, tidak ada pengecualian.

Perjudian harum semerbak di mana-mana,ceki,kartu,adu ayam,dll. Konyolnya lagi, Bahkan upacara agama pun diadakan judi gaplek,adu ayam atau judi bola adil. Atau bahkan mempertontonkan tarian Joged bung-bung yang tak patut ditonton remaja kecil,
duh Jahat sekali Hindu di Bali kalau begini terus. Kehidupan pubs dan hiburan malam yang menjamur,gempuran erotis dari barat,transaksi2 gelap,duh keji sekali.

Bali sedang mengalami penjajahan moral.
Segala apa-apa dihubungkan ke banten dan ritual sesaji. Tanpa tahu arti dari itu semua untuk siapa,mengapa, bisa saja hikmat roh gelap yang berada di belakangnya sedang ambil kuasa akan manusia itu?
Jikalaupun Tuhan,apakah Tuhan mau di sembah-sembah dengan hiperbolik seperti itu?
apakah Tuhan gila hormat dan dapat dibeli dengan sajian dan sesaji seperti itu? Apakah Tuhan gila akan kemewahan?
Tuhan yang baik,yang dikenal oleh kemurnian Weda atau seluruh kitab yang lain,tidaklah seperti itu.
Entah tuhan yang mana itu yang gila hormat.Tuhan yang baik selalu mengajarkan kerendahan hati dan kesederhanaan.
Lagi pula Tuhan tak memerlukan itu semua haturan itu,wong Dia yang menciptakan semesta raya dengan segala isinya. Yang Dia ingini adalah ketulusan dan kebersihan hati kita.

Theolog-theolog Hindu lokal jebolan IHDI dan UNUD mempunyai beban dan peran penting sebagai agen pembaharuan dan perubahan dalam hal ini. Setiap petinggi-petingi Bali dan stakeholdernya merupakan mata tombak yang utama. We need change!!!

Mungkin di setiap kabupaten di Bali, beberapa minggu sekali, diadakan pengupasan,pembedahan dan pembelajaran Weda di balai kota, yang diwajibkan untuk para murid sekolah mengikutinya. Atau dibangun Taman Pendidikan Weda di setiapnya,agar sejak dini anak remaja dikenalkan kemurnian Weda yang benar. Diisi rohaninya dengan kesejatian rohani, agar benar jalan hidupnya,baik masa depannya, damai hatinya. Lambat laun damai dan maju future Nusantara.

Tuhan sudah berfirman melalui Bhagavadgita Bab 18 ayat 66 : Serahkanlah semua kewajiban, datanglah kepadaKu semata untuk berlindung. Janganlah bersedih! Akan Kubebaskan dikau dari semua dosa-dosa.

Sloka ini dianggap sebagai sloka yang amat penting dalam Bhagavad Gita, dan merupakan suatu ungkapan dan ajaran yang dianggap amat rahasia sekaligus penuh dengan kasih-sayang Yang Maha Esa yang tak terbatas.

Ajaran atau wejangan ini dianggap sebagai suatu kebijaksanaan yang amat dalam artinya dan menjadi patokan yang amat disegani dan dihormati oleh umat Hindu yang suci semenjak ribuan tahun yang silam di India dan di mana saja agama Hindu ini berkembang.
“Serahkan semua kewajiban,” pada sloka ini berarti tanggalkan atau lepaskanlah dharma yang ditekankan atau terdapat di pustaka-pustaka suci kuno untuk sesuatu yang nilainya lebih luhur dan agung, yaitu dengan menjadikan Yang Maha Esa secara tunggal tempat kita berlindung, memohon dan mengabdi, dan memandangnya sebagai Yang mengayom dan Yang Menuntun kita sesuai dengan kehendakNya semata. Jangan membuang-buang waktu untuk mendiskusikan soal kasta yang sudah jelas maksudnya, yaitu pembagian kerja dan bukan perbedaan status atau diskriminasi.

Jangan membuang-buang waktu yang berharga dengan melakukan tradisi dan upacara-upacara yang membingungkan dan membuang-buang energi, tetapi langsung saja menuju ke suatu perbuatan nyata yang hakiki dan sejati sifatnya, yang tanpa pamrih demi dan untuk Yang Maha Esa semata, dan bukan demi kepuasan mata, kepuasan jiwa atau indra-indra dan pikiran pribadi kita. Janganlah menerapkan kewajiban-kewajiban atau instruksi-instruksi dalam dharma-shastra kita secara ngawur dan salah, secara metafisik dan etika belaka, tetapi lakukanlah secara murni sesuai dengan sabda-sabda Tuhan, Tuhan dari semua dewa- dewa dan kekuatan-kekuatan di alam semesta ini. Semua kewajiban dan instruksi yang terdapat di dalam dharma- shastra ini akan hilang nilai dan artinya sekali seseorang sudah melakukan bhakti yang luhur dan tulus kepada Yang Maha Esa secara langsung.

Seorang jignasu (pencari kebenaran) harus menyerahkan secara total, jiwa dan raganya bagi Yang Maha Esa, dan Yang Maha Esa pasti akan membebaskannya dari segala dosa-dosa dan keterbatasannya, dari kekurang- pengetahuannya dan dari semua segi negatifnya. Ini adalah janji tulus Hyang Widi , Yang Maha Esa, kepada kita semua dan ini menunjukkan kasihNya Yang Agung dan Suci. Rahasia ke Tuhan Yang Maha Suci adalah bhakti yang tulus dan tanpa pamrih, tanpa benci, tanpa keinginan duniawi, tetapi hanya demi dan untuk Ia semata. Terjadilah kehendakNya.Seseorang yang dedikasinya kepada Yang Maha Esa masih dalam taraf yang belum matang, sewaktu bertindak sesuatu akan menganalisa dan mengkonfirmasikan setiap tindakan dan efeknya secara mental, fisik, moral, kewajiban, hukum, kaidah, kegunaan, bahkan dari segi spiritual juga akan diperhitungkan olehnya. Tetapi sekali ia berjalan dan berdedikasi secara tulus, tanpa pamrih dan dengan kesadaran yang matang, maka semua unsur, kaidah, dan nilai-nilai kewajibannya akan sirna, dan kemudian hanya timbul satu kesadaran Ilahi yang amat sukar diterangkan dengan kata-kata atau bahasa awam. Kesadaran ini bentuknya amat spiritual dan orientasinya hanya Yang Maha Esa semata. Di sini semua yang dikerjakan, diperbuat dan setiap aksi akan menjadi ibadah atau dedikasi yang amat tulus sifatnya dan setiap bentuk perbuatan pemuja ini akan sinkron dengan kehendakNya,
dan inilah misteri dari kehendakNya, yang hanya bisa dimengerti secara spiritual dan duniawi oleh pemuja itu berkat karuniaNya juga.

Suatu bentuk pengalaman atau kehidupan yang sukar dapat diterangkan dengan logika duniawi. Maka seyogyanyalah jangan menjadikan diri anda sebagai budak dari tradisi, kewajiban yang belum tentu positif nilainya, atau sesuatu tindakan yang nampaknya positif berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Ini bukan wejangan sesat atau ajaran yang salah, tetapi bhakti yang tulus kepada Yang Maha Esa memang akan menimbulkan semacam prema (kasih-Ilahi) yang tak terbatas agung dan suci yang penuh dengan pengetahuan- pengetahuan spiritual yang sukar dijangkau dengan logika duniawi, dan sukar diterangkan dengan kata-kata biasa, dan kebijaksanaan atau kesadaran Ilahi ini berada di atas semua kebaikan dan keburukan duniawi.

Tanggalkanlah semua baju-baju duniawi anda, dan secara murni lepaslah dari nafsu-nafsu dan keinginan. Sambutlah Yang Maha Esa dengan bhakti yang tulus, berlindunglah di dalamNya dan selalulah berdoa “terjadilah kehendakNya.”Inilah intisari ajaran Bhagavadgita yang agung dan suci ini.
Aliran Ramanuja di India menyimpulkan sloka 66 ini sebagai intisari atau epicentrum dari ajaran Bhagavad Gita. Bekerja, bertindak dan berbuat suatu apapun;

misalnya hal-hal yang dianggap terbaik dan suci, tetapi demi Yang Maha Esa semata dan tanpa harapan akan imbalan, maka perbuatan ini akan dilindungi oleh Yang Maha Esa dan sang pemujanya akan diselamatkan dari segala mara bahaya. Tetapi kalau sang pemuja sebaliknya berpikir bahwa semua tindakan tanpa pamrih ini malahan akan melepaskannya dari mara-bahaya dan akan dilindungi oleh Yang Maha Esa, maka pikiran semacam ini tidak murni lagi karena sudah terkena polusi dari pamrih itu sendiri. Ingat secercah harapan sekecil apapun merupakan tanda bahwa dedikasi itu sudah tidak murni lagi. “Terjadilah kehendakNya,”
apapun itu! Baik yang terlihat negatif maupun positif, Yang Maha Esa yang tahu apakah hasil dan efek yang diberikannya kepada seseorang itu negatif atau positif. Seorang yang bersatu denganNya secara sejati akan mendapatkan juga pengetahuan ini, dan ia akan selalu bahagia dengan apapun yang diberikan oleh Yang Maha Esa kepadanya.

Om Tat Sat.

Ayat ini merupakan ayat yg supreme,causa prima dan begitu di hormati oleh umat Hindu di segala penjuru bumi. Tuhan tak mengingini umat terjebak pada tata kasta yg dibuat manusia, ritus-ritus dan tata cara upacara yang sangat ribet sehingga umat lupa apa yang sesungguhnya harus mereka imani,yaitu Pribadi Tuhan, bukan malah menuhankan ritual,liturgi,tata cara dan sakralitas.

Bhagavadgita Menyingkap arti hidup yang sesungguhnya di waktu-waktu terakhir dunia kita ini, di mana kita telah dikondisikan oleh prasangka kita terhadap materialisme, yang seakan-akan menjadi tujuan, untuk pemenuhan indera-indera yang gelap. Dan inilah jawaban untuk segala kehidupan.Mencapai kedamaian hakiki yang abadi dan tak berkesudahan

Bhagavadgita merupakan ‘penyelamat’ umat dari diversifikasi Sanata Dharma Hindu. Ia adalah benang merah dari 108 upanisad weda. Ia adalah titik kulminasi dari holistiksitas Weda. Dia satu tubuh Sruti dan Smerti. Dia bagai air embun yang menyejukan kehidupan setiap manusia yang membacanya habis, dan mau menyadarinya.Sungguh berterima kasih kepada-Nya,memberikan air sejuk yg mendamaikan jiwa.

Inti dari Agama Hindu adalah AUM : Om , Ang Ung Mang (Tuhan)

Tat Wam Asi yang artinya mengasihi orang lain sebagaimana mengasihi dirinya sendiri.

Sunday, January 12, 2014

PAN RASMIN TELAH BERPULANG

Pada hari selasa tanggal 7 Januari 2014, salah satu warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan yaitu Pan Rasmin telah menutup usianya dengan tenang, meninggalkan beberapa orang anak dan cucu.
Upacara atiwa-tiwa dilakukan pada hari Minggu tanggal 12 Januari 2014.
Om Tattwatma Naryatma Swadah Ang Ah
Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu.
Om Ksama Sampurna ya Namah Swaha...
Om Vayur Anilam Amartam Athedam
Basmantam Sariram,
Om Krato Smare, Klie Smare, Krtam Smara....
Om Santih, Santih, Santih Om

Sunday, January 05, 2014

KAWITAN menjadi jembatan menuju Sangkan Paraning Dumadi

Kawitan= Kawiwitan, kawi=sastra, wiwitan=wetan-purwa-kangin-Sangkan, Kamulan, Sangkan Paran, Paran=tetujon.
Yen cening arsa uning ring Sangkan Paran/Kawitan, Sang Kawi/Wiku sane patut ruruh. Wiku Sane wikan ring kaweruh kawi, Weruh ring sangkan paran, Sang Pujangga wastane. Yening tan panggih Sang Wiku rereh di sastra Veda “Itihasa” (It happened so), yen cening sing ngeresep isin Veda ada “Purana” (Purwaning ana). Sing karesep ada wira carita “Babad” adane, sing masih karesep ade “Lelintihan” silsilah adane. Yening sing masih ngerti, Ne Bapa ngelah kadutan meselet di amben bale daja, jemak lan aud kadutane kujang cening je dewek ceninge ditu, pang kanti cening ngerti "nak ngujang cening hidup ke mercapada?". Nah ditu I Belog nyemak kadutan Bapane tur kasungsung dadi “Pajenengan” di merajan.

Semoga kita bisa belajar dari cerita diatas, banyak penyimpangan atau lebih tepatnya degradasi pemaknaan, mencari kawitan (Sangkan paran/ Hakekat hidup) menjadi mencari silsilah (hubungan biologis/darah), soroh bahkan skup yang lebih kecil menjadi pajenengan (Arcanam). Dalam Lontar sering disebutkan "Jangan pernah melupakan Leluhur", ini benar adanya sudah sepantasnya kita bakti pada Leluhur. Tapi Leluhur bukanlah tujuan, sehingga ini membuat kita terkotak-kotak dalam soroh, klan, dll. Jadi ada kelanjutannya untuk mengerti jalan kita pulang kembali pada Sang Pemilik Hidup.

Weruh ring Kawitan, weruh ring Sangkan Paran, Asal dan Tujuan, Kangin - Kauh, Putih - Kuning. dari mana kita berasal dan kemana kita pulangnya. makanya orang yang tidak mengerti asal dan tujuan hidupnya disebut "Jelma sing nawang kangin - kauh".

Sangkan Paraning Dumadi, Ibaratnya menanam pohon,
Benih adalah Sangkan, Parannya adalah tempat/media/tanah untuk menanam, dan hasilnya berupa buah (Pala) adalah dumadi untuk kehidupan anak-cucu kita kelak. begitulah hidup itu mengalir buah menjadi benih lagi dan seterusnya.

"Gajah mati meninggalkan gading, Macan mati meninggalkan belang"
Besok lusa kita mati meninggalkan apa? "Pajenengan" kah? masihkah anak cucu ingat akan "Jeneng" kita (Wajah dan Nama kita)?????.

Monday, December 30, 2013

Ni Wayan Rame Berpulang

Pada hari Sabtu tanggal 28 Desember 2013 telah berpulang Ni Wayan Rame dengan senyum manisnya meninggalkan Maya pada menuju Nirwana... Upacara atiwa-tiwa dilaksanakan pada tanggal 3 Januari 2014 dan pekeludan dilaksanakan tangga 6 Januari 2014 sesuai hasil perarem tanggal 29 Desember 2013 yang berlaku pada saat itu juga.

Om Tattwatma Naryatma Swadah Ang Ah
Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu.
Om Ksama Sampurna ya Namah Swaha...
Om Vayur Anilam Amartam Athedam
Basmantam Sariram,
Om Krato Smare, Klie Smare, Krtam Smara....

Om Santih, Santih, Santih Om

Friday, December 06, 2013

I SEPIG (Pan Rimpig) berpulang

Tattwatma naryatma
Swadah Ang Ah
Om swargantu, moksantu, sùnyantu, murcantu
Om ksàma sampurnàya namah swàha

Pada hari Jumat tanggal 6 Desember 2013, Warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan telah berpulang dengan tenang. Adalah I Sepig ( Pan Rimpig ) yang juga pernah aktif sebagai prajuru Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan pada masa kepengurusan I Wayan Kodi (Suantara). Upacara pengabenan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 13 Desember 2013.


Wednesday, November 27, 2013

KA’BAH ITU BEKAS KUIL HINDU?




Mungkin hal ini terdengar terlalu kontroversial dan kadang kala dikaitkan dengan hoax oleh sebagian orang yang merasa kedudukannya/harga dirinya terancam. Namun, saya menyajikan artikel ini tidak bertujuan untuk merendahkan kredibelitas saudara-saudara muslim, melainkah hanya untuk membuka wawasan akan apa yang sebenarnya terjadi.
Kontroversi seputar ka’bah sudah menjadi perbincangan yang sangat hot di dunia maya. Hal ini pertama kali diungkapkan oleh seorang pakar sejarah P.N. Oak. Beliau juga telah melempar isu yang tidak kalah menggegerkannya, yaitu tentang pengungkapan bukti sejarah yang menyatakan bahwa Taj’mahal pada dasarnya adalah sebuah kuil Hindu untuk dewa Siva (Tejo Himalaya) yang direbut oleh Mogul.
Di dalam Ka’bah terdapat sebuah inskripsi yg merujuk kepada raja Vikramadityayang menyatakan bahwa jazirah Arab dulu merupakan bagian dari Kerajaan Vikramaditya dari India.
Teks inskripsi Vikramaditya yg ditemukan dlm piring emas yg digantung didalam kuil Kabah di Mekah ini, dicatat pada halaman 315 dari buku yg berjudul ‘Sayar-ul-Okul’ (kata-kata berkesan) yg disimpan dalam perpustakaan Makhtab-e-Sultania diIstanbul, Turki. Sebagian manuskrip tersebut berbunyi sebagai berikut;
Itrashaphai Santu Ibikramatul Phahalameen Karimun Yartapheeha Wayosassaru Bihillahaya Samaini ElaYundan blabin Kajan blnaya khtoryaha sadunya kanateph netephi bejehalin Atadari bilamasa-rateen  phakef tasabuhu kaunnieja majekaralhada walador. As hmiman burukankad toluho watastaru hihila Yakajibaymana balay kulk amarena phaneya jaunabilamary Bikramatum. Motakabberen Sihillaha Yuhee Quid min howa Yapakhara phajjal asari nahone osirom bayjayhalem” (Halaman 315 Sayar-ul-okul).
Yang artinya;
 Beruntunglah mereka yg lahir (dan hidup) selama kuasa raja Vikram. Ia seorang penguasa penuh kasih, terhormat dan berbakti pada penduduknya. Namun pada saat itu, kami Arab, tidak peduli pada Tuhan, tenggelam dalam kenikmatan sensual. Komplotan dan penyiksaan merajalela … Kami, Arab, terjerat dalam kegelapan (jahiliyah) … namun pendidikan yang disebar raja Vikramaditya tidak mencampakkan kami, orang-orang asing.Ia menyebarkan agama sucinya diantara kami dan mengirimkan ahli-ahli yang kepintarannya bersinar seperti matahari dari negaranya kenegara kami…”
Hal ini menunjukkan bahwa kerajaan yang berpusat di India pada masa lampau juga meliputi jasirah Arab. Bahkan kalau kita kembali pada penjelasan Veda, dalam hal ini Mahabharata disebutkan bahwa Bharatavarsa/Kerajaan kekuasaan keluarga Bharata mencakup seluruh dunia.
Menurut sumber dari http://civilizedproductions.com/television.htm mengatakan bahwa bekas peninggalan peradaban bangsa Maya di Amerika sangat sesuai dengan peradaban Veda. Hal ini ditunjukkan dengan kesesuaian sistem pemujaan, sistem astronomi dan astrologi mereka yang ditulis pada tahun 300-200 SM



Sebuah laporan dari rusia juga menyebutkan bahwa disana ditemukan sebuah arca yang berbentuk menyerupai babi yang mengangkat benda bulat di moncongnya. Hal ini sesuai dengan kisah Varaha Avatara yang berwujud babi besar yang mengangkat bumi kembali ke posisi edarnya.
Di Kuwait juga ditemukan sisa-sisa arkeologi berupa pelat emas yang bergambarkan Ganesa yang membuktikan bahwa peradaban Veda pernah ada di sana.
Keberadaan Hindu di Eropa juga diperlihatkan dengan dikenalnya lambang Hindu, Swastika. Hal ini juga dibenarkan oleh seorang Arkeologi Jerman Heinrich Schliemann. Mungkin hal inilah yang juga mempengaruhi Hitler dalam menyalahgunakan Lambang Swastika sebagai lambang Nazi disamping penyalah artian arti kata Aryan dalam literatur Veda yang dilakukan oleh Max Muller.
Kembali ke masalah peninggalan Hindu di Timur Tengah, di Istanbul, Turki, sebuah perpustakaan termasur bernama Makhatab-e-Sultania, mempunyai koleksi terbesar literatur Asia Barat. Di bagian literatur Arab dalam perpustakaan tersebut terdapat sebuah antologi sajak-sajak Arab purba. Antologi ini disusun pada tahun 1742M dibawah perintah Sultan Salim yang terbuat dari harir – semacam sutera yg dibuat untuk menulis. Setiap halaman memiliki pinggiran yang dihias dengan kertas emas. Antologi itu dikenal dengan nama Sayar-ul-Okul, dan dibagi dalam 3 bagian.
Bagian pertama mengandung biografi dan komposisi puisi-puisi penyair-penyair Arab Pra-Islam.
Bagian kedua terdiri dari kesaksian dan sajak-sajak penyair dari periode yg dimulai tidak lama setelah jaman Nabi Muhamad, sampai akhir dinasti Bani Ummayyah.
Bagian ketiga adalah tentang penyair-penyair sampai jaman Khalifat Harun-al-Rashid.
Abu Amir Asamai, penyair Arab yg merupakan penyair utama kesultanan Harun-al-Rashid, menyusun dan mengedit antologi tersebut. Edisi modern pertama ‘Sayar-ul-Okul’ terbit di Berlin th 1864. Edisi berikutnya diterbitkan di Beirut th 1932.
Koleksi ini dianggap sbg antologi paling penting dan berotoritas dlm sajak-sajak Arab purbakala. Koleksi ini menujnukkan adat, tata tertib dan hiburan Arabia dijaman purbakala. Buku ini juga mengandung penjabaran deskriptif tentang kuil purbakala Mekah dan bazar tahunan yg dikenal sbg OKAJ disekitar kuil Ka’abah di Mekah. Ini berarti bahwa berkumpul di Mekah setiap tahun untuk naik haji berasal dari tradisi pra-Islam.
Bazar OKAJ bukan sebuah karnaval tempat anak muda bermarijuana. Ini merupakan kesempatan kaum elit dan terpelajar untuk membahas aspek-aspek sosial, religius, politis, literatur dan aspek2 budaya Hindu lainnya yg menyebar di Arabia. ‘Sayar-ul-Okul’ mengatakan bahwa kesimpulan yg didapatkan dari diskusi-diskusi disana diterima dan sangat dihormati diseluruh Arabia. Mekah, oleh karena itu, mengikuti tradisi Varanasi (dari India). Kuil-kuil utama di Varanasi (India) dan di Mekah (di Arvasthan/Arabia) adalah kuil-kuil dewa Siva. Ciri terpenting dari praktek pemujaan Dewa Siva adalah adanya Lingga yang biasanya berbentuk batu hitam yang lonjong dan Yoni sebagai alasnya. Batu Hajar Al-Aswat yang disentuh dan dicium saat menunaikan ibadah haji angat sesuai dengan bentuk lingga Siva, apakah berarti batu itu awalnya adalah sebuah lingga?
Raja Vikramaditya memang terkenal penyembah Siwa. Di Ujjain (India), ibukota Vikramaditya, ada kuil dewa Siva yang terkenal Mahankal, yg diasosiasikan dengan Vikramaditya. Karena menurut manuskrip Vikramaditya, dialah yang menyebarkan agama Hindu.
Dengan demikian apakah bukti ini dapat menyimpulkan bahwa raja Vikramaditya adalah pendiri kuil Siva yang sekarang disebut Ka’bah di Mekah?
Kenyataan lain yang juga perlu digaris bawahi adalah bahwasanya di India, Dewa Siva sangat diidentikkan dengan simbol bulan sabit yang terdapat pada ikat rambut beliau. Dan saat ini lambang bulan sabit juga digunakan untuk lambang Islam, apakah itu artinya Islam lahir dari warisan pemuja Siva?
Untuk masuk ke wilayah Ka’bah, umat muslim diwajibkan menggunakan jubah putih yang dililitkan ke seluruh tubuh. Mereka juga di wajibkan mencukur rambut dan janggut dan dalam keadaan bersih. Jika kita bandingkan dengan tradisi Hindu dalam memasuki tempat suci, kenapa hal ini sangat mirip?



Bandingkan gambar pakaian haji dan Hindu di atas!
Menurut Encyclopaedia Britannica, Ka’abah pada awalnya memilikii 360 arca yang pada akhirnya hanya disisakan 1 oneh Nabi Muhammad yang dikatakan diletakkan pada salah satu sisi Ka’bah.
Satu lagi tradisi Hindu lainnya adalah sungai suci Gangga. Menurut tradisi Hindu, air Gangga  jatuh bumi setelah disangga oleh Dewa Siva dan dipandang suci oleh Umat Hindu. Dimanapun ada lambang Siwa, disanalah ada air Gangga. Didekat Ka’abah juga ditemukan sebuah sumber mata air suci yg disebut ZAMZAM yang sampai sekarang dianggap suci.
Tidak terdapat masjid atau tempat ibadah muslim yang dikelilingi sebanyak 7 kali (Tawaf) selain dari Ka’bah. Hal ini sangat sesuai dengan kebiasaan umat Hindu mengelilingi tempat ibadah/kuil/pura yang disebut Parikram atau di Bali di sebut Maider-ider. Kenapa tradisi ini dapat dilakukan di Ka’bah? Apakah hal ini bukan merupakan bukti yang menguatkan bahwa Tradisi Hindu masih terpelihara disana?
Jangan kaget bahwa kata ‘ALLAH’ sendiri disinyalir berasal dari bahasa Sansekerta. Allah, Akka dan Amba adalah sinomin. Nama-nama ini berarti : DEWI atau Ibu. Istilah ‘ALLAH’ merupakan bagian dari stanza-stanza Sansekerta yang memuja Dewi Durga, yang juga dikenal sebagai Bhavani, Chandi dan Mahishasurmardini yang merupakan Sakti Dewa Siva.
Coba anda perhatikan gambar berikut ini;



Lambang Hindu : ‘OM’= angka 786-nya Arab Semua Quran Arab dicetak dengan angka-angka misterius 786. Tidak ada pakar Muslim yang tahu mengapa angka 786 dianggap sebagai angka-angka suci. Namun angka “misterius” ini tidak lain dari huruf suci Veda “OM“. Jika simbol kata “Om” tersebut diputar 90 derajat, kenapa sangat mirip dengan gambar disebelahnya “Allah”?
Kalender lunar (bulan) diperkenalkan kepada Asia Barat selama kekuasaan kerajaan India. Hal ini diindikasikan oleh Bulan Muslim ‘Safar’ yang juga menunjukkan bulan ‘extra’ (Adhik Maas) dalam kalender Hindu. Bulan Muslim ‘Rabi’ berasal dari kata Ravi yg berarti ‘matahari’ karena huruf Sansekerta ‘V’ dirubah Prakrit ‘B’ (Prakrit merupakan versi sehari-hari2 bhs Sansekerta). Tradisi Muslim juga mengenal hari Gyrahwi Sharif tidak lain dari hari Ekadashi dalam tradisi Hindu (Gyrah = elevan atau Gyaarah) yang memiliki arti yang sama.
Beberapa sumber juga mengatakan bahwa penjelasan Veda tentang bulan dan konstelasi bintang berbeda-beda serupa dengan Qur’an Surat 2, stanza 113, 114, 115, and 158, 189, Surat 9, stanza 37 & Surat 10, stanza 4 – 7.
Pembacaan Namaz (solat) lima kali sehari juga dikatakan berasal dari tradisi Veda bernama Panchmahayagna (5 kali pemujaan) yang merupakan kewajiban bagi setiap mahluk Hindu, terutama di India. Uniknya, tradisi Muslim dalam membersihkan 5 bagian tubuh sebelum solat ternyata juga sama dengan aturan‘Sharir Shydhyartham Panchanga Nyasah’ dalam tradisi Veda.
4 bulan dalam setahun dianggap suci dalam tradisi Islam dimana tidak diperboleh menjarah atau melakukan tindakan kriminal selama periode tersebut juga serupa dengan tradisi Chaturmasa dalam Veda, yaitu periode 4 bulan puasa dan menghindari tindakanan-tindakan tidak suci.
Beberapa pakar mengatakan bahwa Shabibarat adalah kata lain bagi Shiva Vratdan Shiva Ratra. Karena Ka’abah merupakan pusat penting dewa Siva, festivalShivaratri biasanya dirayakan disana dengan besar-besaran. Festival itulah yg disebut dalam Islam sebagai Shabibarat.
Menurut sejumlah encyclopaedia, memang ada ukiran-ukiran tulisan didalam dinding Kabah. Namun para pakar sejarah tidak pernah diijinkan masuk. Tetapi menurut pengakuan beberapa orang, ada tulisan dalam huruf Sansekerta dan bahkan ada stanza-stanza dari Bhagavad Gita.
Hubungan antara jaman awal Islam dengan Hindu (India) juga diperkuat oleh keterangan Ahadis Imam Bukhari bahwa suku India, Jat, berada di Arabia jauh sebelum jamannya Mohamad. Bahkan ketika Aisha jatuh sakit, keponakannya memanggil tabib Ayurvedic (kedokteran Veda),\ dari suku Jat untuk menyembuhkannya. Bukhari juga berbicara tentamg seorang raja India yang mengirim satu jahe yg direndam cuka (ginger pickles) kepada nabi. Ini menunjukkan bahwa raja Jat India menguasai kawasan didekatnya sehingga mampu memberikan hadiah yang begitu sepele seperti satu pot jahe. Nabi malah dikatakan sangat menyukainya. Ini bukti bahwa selama jaman Mohamad, orang India berpengaruh di Arabia.
Paman Muhamad sendiri, Umar-Bin-E-Hassham merupakan pengikut Dewa Siva yang taat. Ia menolak untuk masuk Islam dan akhirnya tewas oleh seorang pengikut Nabi yang fanatik. Ia seorang penyair terkenal dan menulis sajak-sajak memuja dewa Siva. Salah satunya bisa ditemukan dlm hal 235 Sayar-Ul-Okul :
“Kafavomal fikra min ulumin Tab asayru
Kaluwan amataul Hawa was Tajakhru
We Tajakhayroba udan Kalalwade-E Liboawa
Walukayanay jatally, hay Yauma Tab asayru
Wa Abalolha ajabu armeeman MAHADEVA
Manojail ilamuddin minhum wa sayattaru
Wa Sahabi Kay-yam feema-Kamil MINDAY Yauman
Wa Yakulum no latabahan foeennak Tawjjaru
Massayaray akhalakan hasanan Kullahum
Najumum aja- at Summa gabul HINDU”
Artinya;
Seorang lelaki yang menghabiskan seluruh hidupnya dalam dosa dan imoralitas dan membuang hidupnya demi nafsu dan kemarahan Jika ia bertobat dan ingin kembali kepada moralitas, adakah pengampunan tersedia baginya ? Bahkan jika hanya sekali ia dengan tulus memuja Mahadewa (dewa Siwa), ia bisa mencapai posisi tertinggi dalam jalan kebenaran Ya Tuhan! Cabut seluruh nyawa saya dan sebagai gantinya, berikan saya satu hari saja untuk tinggal di Hind (india) sebagai lelaki yg menjadi bebas secara spiritual saat mencapai tanah suci Dengan ziarah ke Hind, seorang lelaki bisa mencapai kebijakan untuk melakukan tindakan mulia dan mendapat kehormatan menyentuh guru-guru Hindu yg mulia
Nama keluarga Muhamad adalah Quraish (Kureshi), yg sebenarnya adalah bagian dari dinasti India, Kuru, yang pernah menguasai India. Diketahui bahwa paman Muhammad, Umar bin-e Hassham dan keluarganya terlibat dalam pembuatan Arca dan Kuil (Ka’abah).
Encyclopedia Islamia menjelaskan bahwa kakek Muhamad dan paman-pamannya mewariskan jabatan sebagai pendeta-pendeta Ka’abah yang menyimpan 360 arca dewa-dewi. Muhamad menghancurkan semua arca tersebut kecuali arca yang paling utama, yaitu Batu Hitam [Hajar Al Aswad] / Siva Linggam / Lingga Siva. Dewa Siva dulu pernah dipuja Arab. Dan paman Muhamad juga seorang pemuja Siva dan menulis berbagai puisi memuja dewa Siva.
Melihat bukti-bukti di atas, mungkinkah Ka’bah pada awalnya adalah sebuah Kuil Siva (Hindu)? dan sebenarnya Ka’bah itu adalah lambang perempuan, maka coba perhatikan gambar di bawah ini.



ini sekedar untuk merenungkan kembali tentang Tuhan yang di maksud.
dan sebuah catatan dari Nabi Muhammad yang perlu di renungkan adalah ;
‘MUSYRIK ITU DOSA BESAR YANG TIDAK DI AMPUNI’
syirik itu menduakan Allah dengan berhala atau benda-benda, sehingga di katakan dalam surat Al-quraish. bahwa menghadapkan wajahmu ke kiblat itu adalah kebiasaan orang-orang musyrik quraish.
lalu kenapa syirik itu merupakan dosa besar yang tidak di ampuni
BUKAN KARENA TIDAK DI AMPUNI OLEH ALLAH, KARENA ALLAH MAHA PEMURAH DAN MAHA PANGAMPUN, TAPI ORANG-ORANG SYIRIK ITU TIDAKSUKA  MENGAMPUNI.
ORANG-ORANG SYIRIK AKAN MARAH JIKA DIRINYA DI KATAKAN TELAH MENYEMBAH BERHALA, DAN MEREKA PASTI AKAN MENGATAKAN ; AKU TIDAK MENYEMBAH BERHALA, TAPI MENJADIKAN PATUNG BATU ITU SEBAGAI MEDIAKU BERIBADAH KEPADA TUHANNYA YANG SATU / WAHID. BANTAHAN AZAR KEPADA IBRAHIM. PADAHAL ALLAH BUKAN WAHID /SATUAN BENDA, TAPI ALLAH ITU AHAD, YAITU LARUT DAN MENYATU DALAM SELURUH CIPTAANNYA, MELIPUTI SELURUH CIPTAANNYA, KARENA KUASA ALLAH MELIPUTI APA YANG ADA DI DALAM DAN DI LUAR DIRI, ITU AHAD. BUKAN WAHID.
DAN SATU HAL YANG DI KHAWATIRKAN OLEH NABI MUHMMAD SEBELUM MENINGGAL BAHWA UMMATKU KEMBALI KEPADA KEMUSYRIKAN, DAN ITU KINI TERBUKTI.


"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."

OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.