Inilah asal mulanya ada Besakih,
sebelum ada apa-apa hanya terdapat kayu-kayuan serta hutan belantara di
tempat itu, demikian pula...
sebelum ada Segara Rupek(Selat Bali). Pulau Bali dan pulau Jawa dahulu
masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut. Pulau itu panjang dan
bernama Pulau Dawa. Di Jawa Timur yaitu di Gunung Rawang (sekarang
dikenal dengan nama Gunung Raung) ada seorang Yogi atau pertapa yang
bernama Resi Markandeya.
Beliau berasal dan Hindustan (India), oleh para pengiring-pengiringnya
disebut Batara Giri Rawang karena kesucian rohani, kecakapan dan
kebijaksanaannya (sakti sidhi ngucap). Pada mulanya Sang Yogi
Markandeya bertapa di gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang
(konon gunung Hyang itu adalah DIYENG di Jawa Tengah yang berasal dan
kata DI HYANG). Sekian lamanya beliau bertapa di sana, mendapat titah
dari Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan di
pulau Dawa setelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para
pengikutnya.
Sang Yogi Markandeya melaksanakan titah itu dan
segera berangkat ke arah timur bersama para pengiring-pengiringnya
kurang lebih sejumlah 8000 orang. Setelah tiba di tempat yang dituju
Sang Yogi Markandeyamenyuruh semua para pengiringnya bekerja merabas
hutan belantara, dilaksanakan sebagai mana mestinya.
Saat merabas
hutan, banyak para pengiring Sang Yogi Markandeya yang sakit, lalu mati
dan ada juga yang mati dimakan binatang buas, karena tidak didahului
dengan upacara yadnya (bebanten / sesaji)
Kemudian perabasan
hutan dihentikan dan Sang Yogi Markandeya kembali lagi ke tempat
pertapaannya semula (Konon ke gunung Raung di Jawa Timur. Selama
beberapa waktu Sang Yogi Markandeya tinggal di gunung Raung. Pada suatu
hari yang dipandang baik (Dewasa Ayu) beliau kembali ingin melanjutkan
perabasan hutan itu untuk pembukaan daerah baru, disertai oleh para resi
dan pertapa yang akan diajak bersama-sama memohon wara nugraha
kehadapan Hyang Widhi Wasa bagi keberhasilan pekerjaan ini. Kali ini
para pengiringnya berjumlah 4000 orang yang berasal dan Desa
Age (penduduk di kaki gunung Raung) dengan membawa alat-alat pertanian
selengkapnya termasuk bibit-bibit yang akan ditanam di hutan yang akan
dirabas itu. Setelah tiba di tempat yang dituju, Sang Yogi
Markandeya segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama para yogi
lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta
Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya disuruh bekerja
melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon-pohonan dan
lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Karena dipandang sudah cukup
banyak hutan yang dirabas, maka berkat asung wara nugraha Hyang Widhi
Wasa, Sang Yogi Markandeya memerintahkan agar perabasan hutan, itu
dihentikan dan beliau mulai mengadakan pembagian-pembagian tanah untuk
para pengikut-pengikutnya masing-masing dijadikan sawah, tegal dan
perumahan.
Di tempat di mana dimulai perabasan hutan itu Sang
Yogi Markandeya menanam kendi (payuk) berisi air, juga Pancadatu yaitu
berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata
Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten / sesajen) selengkapnya
diperciki tirta Pangentas (air suci). Tempat di mana sarana-sarana itu
ditanam diberi nama BASUKI. Sejak saat itu para pengikut Sang Yogi
Markandeya yang datang pada waktu-waktu berikutnya serta merabas hutan
untuk pembukaan wilayah baru, tidak lagi ditimpa bencana sebagai mana
yang pernah dialami dahulu. Demikianlah sedikit kutipan dari lontar
Markandeya Purana tentang asal mula adanya desa dan pura Besakih yang
seperti disebutkan terdahulu bernama Basuki dan dalam perkembangannya
kemudian sampai hari ini bernama Besakih.
Mungkin berdasarkan
pengalaman tersebut, dan juga berdasarkan apa yang tercantum dalam
ajaran-ajaran agama Hindu tentang Panca Yadnya, sampai saat ini setiap
kali umat Hindu akan membangun sesuatu bangunan baik rumah, warung,
kantor-kantor sampai kepada pembangunan Pura, demikian pula memulai
bekerja di sawah ataupun di perusahaan-perusahaan, terlebih dahulu
mereka mengadakan upakara yadnyaseperti Nasarin atau Mendem Dasar
Bangunan. Setelah itu barulah pekerjaan dimulai, dengan pengharapan agar
mendapatkan keberhasilan secara spiritual keagamaan Hindu di samping
usaha-usaha yang dikerjakan dengan tenaga-tenaga fisik serta kecakapan
atau keahlian yang mereka miliki. Selanjutnya memperhatikan isi
lontar Markandeya Purana itu tadi dan dihubungkan pula dengan
kenyataan-kenyataan yang dapat kita saksikan sehari-hari sampai saat ini
tentang tata kehidupan masyarakat khususnya dalam hal pengaturan desa
adat dan subak di persawahan. Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa
Besakih adalah tempat pertama para leluhur kita yang pindah dari gunung
Raung di Jawa Timur mula-mula membangun suatu desa dan lapangan
pekerjaan khususnya dalam bidang pertanian dan peternakan. Demikian pula
mengembangkan ajaran-ajaran agama Hindu.
1. Pura Pesimpangan
Dari Pura Dalem Puri ke timur dan membelok lagi ke selatan yaitu di
sebelah timur jalan raya, di tempat yang agak terpencil, terletak Pura
Pesimpangan. Piodalannya pada hari Anggara Keliwon Julungwangi, pura ini
merupakan tempat pesimpangan (singgah) sejenak bila kembali melelasti
dari Segara Kelotok Klungkung.
2. Pura Dalem Puri
Pura ini
terletak paling selatan dari Pura Penataran Agung, yaitu di sebelah
barat sungai. Untuk mencapainya kita harus berjalan kaki kira-kira 300
meter ke utara dan kemudian membelok ke barat di suatu tempat yang agak
terpencil. Di pura ini distanakan Bhatari Durga yang dahulu dinamai Pura
Dalem Kedewatan. Para umat Hindu yang telah selesai mengadakan Upakara
Pitra Yadnya yaitu ngaben dan Memukur atau Ngeroras biasanya ke pura ini,
Mendak Nuntun Sang Pitara untuk distanakan di Sanggah atau Pemerajan
masing-masing. Di sekitar Pura Dalem Puri terdapat suatu tanah lapang
yang agak luas yang dinamai Tegal Penangsaran dilengkapi sebuah
Pelinggih Tugu kecil di sebelah timur pura. Piodalan di pura ini pada
hari Buda Keliwon Ugu, sedang setiap tahun pada sasih Kepitu penanggal
1, 3 atau 5 diselenggarakan upakara Yadnya Ngusaba Kepitu. Di dalam pura
inilah menurut suatu cerita, Sri Jayakasunu menerima pewarah-warah atau
sabda dari bhatari Durga tentang Upacara Eka Dasa Rudra, Tawur Kesanga,
Galungan, Kuningan dan lain - lainnya, yaitu setelah Sri Mayadenawa
dihancurkan karena tindakannya menghalang-halangi masyarakat melakukan
ibadah agamanya ke Pura Besakih.
3. Pura Manik Mas
Pura
ini merupakan Kahyangan Dewi Pertiwi atau disebut juga Sang Hyang
Giriputri (Saktinya Siwa). Piodalannya pada hari Saniscara Keliwon
Wariga (Tumpek Uduh). Di tempat ini seharusnya umat sembahyang dengan
mempersembahkan aturan sepatutnya sebelum ia akan ke Pura Penataran
Agung Besakih. Maksudnya agar baik jasmani dan rohani disucikan secara
niskala sebelum akan menyelenggarakan sesuatu upakara Yadnya baik diPura
Penataran Agung maupun di pura pura sekitarnya. Diceriterakan oleh
orang-orang tua, bahwa di masa-masa yang lalu yaitu waktu zaman Dalem
atau Raja beliau biasanya ke Besakih dengan menunggang kuda, diiringi
oleh masyarakat. Di sebelah selatan Pura Manik Mas beliau turun,
kemudian bersama-sama muspa(sembahyang) di Pura Manik Mas. Selanjutnya
barulah beliau menuju ke Pura Penataran Agung Besakih dengan berjalan
kaki. Hal ini dilakukan karena wilayah antara Pura Manik Mas sampai ke
puncak disebut Telajakan Pura Besakih yaitu Soring Ambal-ambal dan
Luhuring Ambal-ambal. Oleh karenanya pula baik sekali bila mulai
sekarang dirintis jalan agar setiap orang yang akan sembahyang ke Pura
Penataran Agung Besakih, terlebih dahulu turun dan sembahyang di Pura
Manik Mas, dan kemudian barulah setelah itu berjalan kaki ke Pura
Penataran Agung sehingga keagungan dan kemuliaan Pura Besakih ini akan
semakin dapat dirasakan serta diresapi.
4. Pura Bangun Sakti
Letaknya disebelah timur jalan raya, di mana distanakan Triantabhoga
yaitu Hyang Naga Basukih, Hyang Naga Sesadan Hyang NagaTaksaka.
Piodalannya pada hari Buda Pon Watugunung. Di samping itu setiap waktu
tertentu diselenggarakan aci Pengangon dan Ngusaba Posyapada hari Tilem
sasih keenem. Di pura inilah kononDanghyang Manik Angkeran di hidupkan
kembali setelah beberapa lamanya wafat akibat kesalahannya kepadaHyang
Naga Basukih.
5. Pura Ulun Kulkul
Di sebelah barat jalan
terletak Pura Ulun Kulkul di mana Hyang Mahadewa distanakan. Sebuah
kulkul (kentongan besar) terdapat di pura ini dan dipandang sebagai
kulkulyang paling utama dan mulia dari pada semua kulkul yang ada di
Bali. Di zaman dahulu setiap desa atau banjar membuat kulkul, kulkul itu
harus dipelaspas dan dimohonkan tirta di Pura Ulun Kulkul, agar atas
asung wara nugraha Hyang Widhi Wasa, kulkul itu mempunyai taksu, yaitu
ditaati oleh krama desa atau krama pemaksan pura yang akan memakai
kulkul tersebut. Adapunpiodalan di pura ini jatuh pada hari Saniscara
Keliwon Kuningan atau tepat pada hari Raya Kuningan, sedang pada setiap
hari tilem ketiga diadakan upakara aci Pengurip Bumi dan pada setiap
hari tilem kaulumenghaturkan aci sarin tahun. Aci Pengurip
Bumi dimaksudkan untuk memohon agar semua tanam-tanaman baik di sawah
maupun di ladang menjadi subur dan sebagian kecil dari hasil pertanian
itu kemudian dipersembahkan yang dinamakan aci sarin tahun. Jika ada
Upakara-upakara Yadnya di Pura ini dan di Pura Penataran Agung, maka
semua bangunan Pelinggih yang terdapat di dalamnya harus dihias dengan
pengangge-pengangge sarwa jenar atau hiasan serba kuning.
6. Pura Merajan Selonding
Di sebelah utara Pure Ulun Kulkul dan agak masuk ke barat dan jalan
raya terdapat Pure Merajan Selonding. Dahulu kala pura ini adalah
Merajan dari Dalem Kesari Warmadewa yang diperkirakan pernah mempunyai
istana di Besakih dengan nama Bumi Kuripan. Raja Purana Besakih dalam
bentuk lontar yang sering disebut Prasasti Bredah disimpan di pura ini,
demikian pula seperangkat gamelan kuno yang bernama Selonding. Dalam
Lontar Catur Muni-Muni yaitu yang menceriterakan tentang asal mulanya
ada tabuh gamelan di Bali, dikatakan bahwaBhagawan Narada mengajarkan
para pertapa menabuh gamelan dengan gamelan Selonding. Sementara itu
dalam Markandeya Purana ditegaskan bahwa Sang Yogi Markandeya juga
memakai nama Hyang Naradatapa. Apakah yang dimaksud dengan Bhagawan
Narada ini Sang Yogi Markandeya dan gamelan yang dipakainya itu gamelan
selonding yang tersimpan di pura ini, masih perlu diadakan penelitian
lebih lanjut oleh para ahli. Piodalan di pura merajan Selonding pada hari
Wraspati Keliwon Warigadian.
7. Pura Goa
Ke utara dari
Pura Manik Mas di sebelah timur jalan raya terletak Pura Gua di mana
Hyang Naga Basuki diistanakan. Di sebelah timur Pura ini terdapat sebuah
sungai dan pada tebingnya ada sebuah gua besar, tetapi sekarang gua
tersebut sudah tertimbun runtuhan tanah longsor. Dalam ceritera tentang
perjalanan Dang Hyang Sidimantra ke Besakih, diceriterakan bahwa di gua
inilah beliau setiap hari-hari tertentu mempersembahkan haturan kepada
Hyang Naga Basuki berupa empahan(susu), madu dan telur. Juga di tempat
ini Dang Hyang Manik Angkeran memotong ekor Naga Basuki, sehinggaDang
Hyang Manik Angkeran dipanggang sampai meninggal, tetapi kemudian
dihidupkan lagi setelah Dang Hyang Sidimantra (Ayah dan Dang Hyang Manik
Angkeran) dapat memasang kembali ekor Naga Basuki yang terpotong itu.
Menurut ceritera rakyat, dahulu kala gua itu tembus sampai ke Gua Lawah
Klungkung, sehingga pernah terjadi pada waktu ada sabungan ayam di Gua
Lawah, salah seekor ayam sabungan itu lari masuk keGua Lawah kemudian
dikejar terus oleh pemiliknya dan akhirnya ia keluar di gua Besakih.
Pada permukaan gua sekarang ini sudah diperbaiki sehingga memungkinkan
orang duduk untuk sembahyang atau semadi. Piodalandi pura Gua pada hari
Buda Wage Kelawu atau Buda Cemeng Kelawu.
8. Pura Banua Kawan
Pura Banua Kawan terletak di sebelah timur jalan raya yaitu di timur
parkir kendaraan menghadap ke selatan. Di sini diistanakan Batari Sri
dan hari piodalannya jatuh pada hari Sukra Umanis Kelawu. dahulunya di
sebelah timur pura ini agak ke selatan terdapat sebuah lumbung padi
untuk tempat menyimpan sebagian dari padi hasil sawah druwe Pura
Besakih. Sekarang lumbung ini sudah tidak ada dan akan diusahakan untuk
dibangun kembali. Dengan adanya lumbung ini diharapkan sebagai sarana
permohonan untuk penginih-inih, artinya segala yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan pangan dapatlah dipenuhi, meskipun sederhana tetapi
cukup.
9. Pura Merajan Kanginan
Letaknya di sebelah timur
Banua Kawan, yaitu di ujung timur di tepi sebuah sungai menghadap ke
selatan. Di sini distanakan Bhatara rambut Sedana dan terdapat pelinggih
untuk memulyakan Empu Bradah dan Bhatara Indra. Adapun piodalannya
jatuh pada hari Saniscara Keliwon Kerulut atau tumpek Kerulut. Menurut
ceritera-ceritera yang pernah didengar oleh para orang-orang tua di
Besakih, konon Pura ini bekas merajan dan Danghyang Manik Angkeran
sewaktu beliau menjadi pertapa di Besakih.
10. Pura Hyang Haluh (Pura Jenggala)
Dari Pura Banua Kawan ke barat melalui jalan setapak agak jauh ke dalam
dan kemudian membelok ke utara akan kita dapati Pura Jenggala di atas
sebuah bukit kecil. Menurut masyarakat setempat pura ini sering juga
disebut Pura Hyang Haluh dan difungsikan sebagaiKahyangan Prajapati. Hal
ini bisa dimengerti karena agak ke selatan dari Pura Jenggala terdapat
tanah kuburan yang disebut Setra Agung. Di pura ini terdapat beberapa
patung batu yang agak kuno menyerupai seorang resi, garuda dan lain
lainnya, yang sakral dan dibuatkan pelinggih-pelinggih. Banyak sekali
ceritera rakyat yang dihubungkan dengan pura ini, ada yang mengatakan
bekas pertapaan Dyah Kulputih, ada yang mengatakan Kahyangan Melanting
dan ada pula yang memperkirakan semacam Pura Alas Angker.
11. Pura Basukihan
Di kaki Pura Penataran Agung Besakih yaitu di sebelah kanan kalau kita
akan menaiki tangga Pura Penataran Agung, terdapat sebuah pura yang
pelinggih induknya berupa meru tumpang pitu (tingkat tujuh). Pura ini
bernama Pura Basukihan di tempat mana menurut perkiraan para sulinggih,
Danghyang Markandeya menanam Pedagingan Pancadatu (lima jenis logam
dengan kelengkapan upakaranya). Pura Basukihan, Pura Penataran Agung dan
Pura Dalem Puri adalah induk dariKahyangan Tiga di desa-desa yaitu pura
Puseh, pura Desadan pura Dalem. Dari kelengkapan
palinggih-palinggihyang terdapat di masing-masing pura itu, demikian
pula sastra-sastra agama yang ada hubungannya dengan tata cara membangun
suatu pura, nampak bahwa pura Basukihan itu adalah pura Puseh Jagat,
Pura Penataran Agung berfungsi sebagai pura Desa Jagat dan Pura Dalem
Puri sebagai pura Dalem Jagat. Dengan demikian Pura Basukihan, Pura
Penataran Agung dan Pura Dalem Puri adalah pusat dan semua pura Puseh,
pura Desa dan pura Dalem yang terletak di manapun, sehingga pura Besakih
secara keseluruhan adalah pura Penyungsung Jagat. Adapun yang
distanakan di pura ini ialah Hyang Naga Basuki. Hari Piodalannya jatuh
pada hari Buda Wage Kelawu atau Budha Cemeng Kelawu.
12. Pura Penataran Agung
Di sebelah utara Pura Basukihan dinamai Pura Penataran Agung. Di antara
semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih. maka Pura
Penataran Agung ini adalah yang terbesar, terbanyak bangunan-bangunan
pelinggihnya, terbanyak jenisupakaranya dan merupakan pusat dan semua
pura yang ada di Besakih. Dalam Raja Purana Besakih dikatakan bahwa Pura
Penataran Agung Besakih adalah tempat Pesamuaning Batara Kabeh.
13. Pura Batu Madeg
Untuk mencapai Pura Batu Madeg ini kita berjalan kaki keutara disebelah Barat Suci dan kemudian membelok sedikit ke Barat.
Pura ini cukup luas di mana di dalamnya banyak terdapat
palinggih-palinggih dan meru. Palinggih pokok adalah stana Hyang Widhi
Wasa dalam manifestasinya sebagai Hyang Wisnu berupa meru tumpang 11.
Upakara Yadnya atau Pangaci di pura Batu Madeg terdiri daripiodalan pada
hari Soma Umanis Tolu Ngusabha Warigadian pada hari penanggal 5 sasih
kelima danBenaung Bayu pada hari tilem sasih kelima
Palinggih-palinggih di Pura Batu Madeg antara lain:
Bebaturan tempat memuja Bhatara Gajah Waktera. Di masa-masa yang lalu
yaitu pada waktu perjuangan merebut kemerdekaan, konon para pejuang
banyak yang bersemadhi di palinggih ini.Bebaturan linggih Bhatara
Batudinding.Gedong Palinggih Bhatara Pujungsari.Meru tumpang 11
Palinggih Bhatara Manik Bungkah.Meru tumpang 11 Palinggih Bhatara Bagus
Babotoh.Meru tumpang II Palinggih Bhatara Sakti Batu Madeg (Hyang
Wisnu).Bebaturan Palinggih I Ratu Kelabangapit, tempat masyarakat
memohon keselamatan bila akan membuat empelan (bendungan besar) dan
memohon agar sawah-sawahnya tidak mengalami kekurangan air.Meru tumpang 9
Palinggih Bhatara Manik Buncing.Meru tumpang 9 Palinggih Bhatara Manik
Angkeran yang dimuliakan oleh para prati sentananya dan sekarang dikenal
dengan sebutan Pinatih, sulang dan Wayabya, di samping oleh Masyarakat
umat Hindu umumnya.Bale Tegeh Palinggih Lingga.Bale Pesamuhan Agung
tempat pemujaan umum ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa dalam
manifestasinya sebagi Hyang Wisnu.Bebaturan Pelinggih Bhatara Sanghyang
Batur.Gedong Palinggih Sanghyang Kumpi Batur. Enam buah Bale Pelik
diantaranya terdapat tempat pemujaan pada Dukuh Suladri di Bale Pelik
bagian Timur. Bangunan-Bangunan Bale Pegat, Bale Gong, Bale Pewedaan, dan
Candi bentar
Bila terdapat karya-karya agung di pura Besakih
demikian pula pengaci di pura Batu madeg, maka semua palinggih-palinggih
yang terdapat di Pura ini dihias dengan pengangge-pengangge Palinggih
seperti ider-ider, Lelontek, Pedapa dan lain-lainnya dengan warna serba
hitam.
14. Pura Batu Kiduling Kreteg
Dari Pura Penataran
Agung ke timur melewati jalan setapak di sebelah menyebelah pura-pura
Pedharmandan pada ujung timur terdapat Pura Kiduling Kreteg, yaitu di
sebelah Timur sungai melalui sebuah jembatan. Luas Pura ini demikian
pula jumlah palinggih-palinggihnya hampir sama dengan Pura Batu Madeg,
di mana pelinggih pokoknya Meru tumpang 11 kahyanganSang Hyang Widhi
Wasa dalam manifestasinya sebagaiHyang Brahma. Di dalam lontar-lontar
Pura ini kadang-kadang dinamai Pura Dangin Kreteg dan kadang
PuraKiduling Kreteg, mungkin karena tempatnya seolah-olah berada di
sebelah timur jembatan dan seolah-olah di sebelah selatan jembatan kalau
kita sedang berada diPura Penataran Agung . Ini bisa dimengerti karena
Pura Besakih sesungguhnya tidak sepenuhnya menghadap ke Selatan tetapi
agak miring kearah Barat berhadapan dengan Pura Luhur Uluwatu di desa
Pecatu Kabupaten Badung. Ini pulalah sebabnya Pura Luwur Uluwatu dan
Pura Besakih Hyang Hyangning Segara Ukir atau Hyang Hyangning Segara
Gunung dalam arti Pura Luhur Uluwatu berfungsi Predana dan Pura Besakih
Purusa.
Adapun bangunan-bangunan pelinggih yang terdapat di Pura Kiduling Kreteg antara lain:
Meru tumpang 11 Pelinggih Hyang Brahma, yang oleh umum disebut Bhatara
Agung Sakti.Meru Tumpang 7 Pelinggih Bhatara Bayu, yang oleh umum
disebut I Ratu Bagus Bayusan. Meru tumpang 5 Palinggih Ida Ratu Bagus
Swa.Meru tumpang I I Palinggih Ida Ratu Bagus Cili. Meru tumpang 5
Palinggih Ida Ratu Bagus Soha.Meru tumpang 3 Palinggih Ida Ratu
Sihi. Meru tumpang 3 Palinggih Dewa-Dewi.Bale Pesamuan Agung. Bale
Agung. Bale Pegat. Bale Pawedaan. Bebaturan. Bale
Tegeh. Bebaturan. Panggungan. Bale Gambang. Bale Gong. Candi Bentar. Bale
Pesambiyangan.
Piodalannya jatuh pada Anggara Wage Dungulan
atau Penampahan Galungan, sedang Aci Panyebab Brahma diselenggarakan
setahun sekali pada hari purnama sasih Kaenem. Aci Panyebab Brahma
adalah untuk memohon agar padi di sawah tidak merana dan hangus
kekeringan. Dalam karya-karya di pura Kiduling Kreteg, semua penganggen
pelinggih berwarna merah.
15. Pura Gelap
Dari jalan setapak
di sebelah timur Pura Penataran Agung ke utara (jalannya agak menanjak
kira-kira 5 menit perjalanan), terdapat Pura Gelap di ketinggian.
Pelinggih pokok berupa Meru tumpang 3 di sana distanakan Hyang Iswara,
di samping sebuah Padma, Palinggih Ciwa Lingga, Bebaturan Sapta Petala,
Bale Pewedaan dan Bale Gong. Piodalan di Pura Gelap jatuh pada hari Soma
Keliwon Wariga dan Aci Pengenteg Jagat pada setiap hari Purnama sasih
Karo.
Di sinilah pura tempat umat maturan dan memohon kedamain
pikiran dan kesejahteraan hidup sesuai dengan makna pengacinya yang
disebut Aci Pengenteg Jagat. Pada waktu karya-karya di Pura Besakih
semua pengangge-pengangge di Pura ini berwama serba putih
16. Pura Pengubengan
Pura Pengubengan ini letaknya ke utara dari Pura Penataran Agung
melalui jalan setapak kira-kira 30 menit perjalanan. Di sini terdapat
pelinggih pokok meru tumpang 11 di samping bale gong, bale Pelik,
Piyasan, Candi Bentardan tembok penyengker. Di sinilah pelinggih
Pesamuhan Bhatara Kabeh sebelum Bhatara Turun Kabeh di Penataran Agung.
Di antara pura-pura lainnya yang ada di Besakih, letak Pura Pengubengan
ini yang tertinggi. Jika masyarakat bermaksud mempersembahkan aturannya
kepuncak Gunung Agung akan tetapi tidak mampu karena tingginya, maka
cukup aturan itu dipersembahkan di Pura Pengubengan ini. Sama halnya
dengan dan Pura Peninjoan, dari sinipun pemandangan alam kelihatan indah
sekali, akan tetapi Pura Penataran Agung tidak nampak. Sesungguhnya
baik sekali apabila pada hari-hari tertentu (Rerainan) kita dapat pedek
tangkil serta mempersembahkan aturan di Pura Peninjoan dan Pura
Pengubengan secara berombongan, karena di samping hal-hal berkunjung ke
Pura Pura itu termasukYadya yang disebut Tirtha Yatra, juga kita
mengetahui secara langsung pura-pura itu. Piodalan di Pura Pengubengan
jatuh pada hari Budha Wage Kelawu.
17. Pura Batu Tirtha
Tempatnya tidak begitu jauh dan Pura Pengubengan yaitu disebelah timurnya
kira-kira 10 menit perjalanan. Di sini terdapat sumber tirtha atau air
suci yang dipergunakan bila ada karya-karya agung di Pura Besakih
ataupun karya-karya agung di desa-desa pekraman, demikian pula di
sanggar-sanggar pemujaan umat seperti di sanggah maupun merajan.
Piodalan dipura Tirtha jatuh pada hari Budha Wage Kelawu.
18. Pura Batu Peninjoan
Letak Pura ini agak kebarat-laut dari Pura Batu Madeg, melalui jalan
setapak, menuruni lembah dan menyelusuri pinggir sungai kering tegalan
penduduk. Perjalanan kurang lebih atarara 15 sampai 25 menit dan kita
akan sampai di Pura Peninjoan disebuah bukit kecil. Di sana terdapat
sebuah Meru tumpang 9. Dari tempat inilah konon Empu Kuturan meninjau
wilayah Desa Besakih yang sekarang menjadi tempat pelinggih-pelinggih di
Pura Penataran Agung dan sekitarnya, sewaktu beliau merencanakan
pembanguan dan memperluas Pura Besakih ini yang di masa yang lalu tidak
sebanyak yang kita saksikan sekarang. Di tempat inilah Empu
Kuturan menjalankan tapa yoga samadhi bila beliau ke Besakih.
Ajaran-ajarannya tentang tata cara membangun pura, membuat pelinggih
meru, kahyangan tiga, Asta Kosala Kosali dan lain-lainnya sampai
sekarang masih dipraktekkan oleh segenap lapisan masyarakat Hindu.
Setelah beliau wafat beliau tidak lagi disebut Empu Kuturan, tetapi
Bhatara Empu Kuturan, karena beliau dipandang sebagai Awatara atau Dewa
Kemanungsan tidak ternilai besar jasanya dalam menuntun masyarakat Umat
Hindu dan untuknya distanakan di Meru tumpang 9 di Pura Peninjoan ini,
selain di tempat-tempat lain seperti di Silayukti (Padangbai -
Karangasem). Dari Pura Peninjoan, semua pelinggih di Pura Penataran
Agungdapat dilihat dengan jelas, demikian pula pantai dan daratan pulau
Bali di sebelah selatan kelihatan indah sekali. Selain dari meru tumpang
9, pura ini juga dilengkapi dengan dua buah Bale Pelik dan
Piyasan.Piodalan di Pura Peninjoan pada hari Wraspati Wage tolu