411. “Dengan diamnya antah-karana lewat samãdhi[1], nikmatilah keagungan tanpa batas dari Sang Diri-jati. Dengan penuh semangat hancurkanlah belenggu bau harum-busuk dari kelahiran dan kematian; jadilah ia yang telah mencapai tujuan-akhir dari kelahiran berjasad manusia ini!

412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”

Friday, April 27, 2018

Puputan Bayu, Perang Paling Dahsyat Antara Umat Hindu Melawan Koalisi Umat Islam dan Belanda





 
Ilustrasi Pasukan Gerilya Belanda di Aceh

Disebut Puputan Bayu karena inilah perang habis-habisan Kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa melawan koalisi VOC Belanda, Kerajaan Madura dan Kerajaan Mataram Islam. Inilah perang paling mengerikan, paling brutal serta paling dahsyat yang pernah terjadi di Indonesia selama masa penjajahan VOC Belanda. Akibat dari perang ini juga mengubah demografi wilayah tapal kuda Jawa Timur yang menjadi arena perang.
Dalam buku berjudul “Sembah Sumpah, Politik Bahasa dan kebudayaan Jawa” yang ditulis Benedict R Anderson, akibat perang ini, sekitar 60.000 rakyat Blambangan (Banyuwangi) gugur, hilang, ataupun yang menyingkir ke hutan untuk menyelamatkan diri dari VOC. Jumlah korban tersebut dianggap begitu besar karena jumlah penduduk Kerajaan Blambangan di Banyuwangi waktu itu 65.000 orang.
Setelah menderita kekalahan di perang yang pertama, Belanda akhirnya berhasil menang di perang yang kedua atas bantuan Madura dan Surakarta (Mataram Islam). Belanda membujuk mereka berperang dengan iming-iming jihad fi sabilillah memerangi orang kafir dan membersihkan pulau Jawa dari penganut agama Hindu.
Serangan Belanda yang kedua berhasil menang dengan gemilang. Membunuh 60.000 rakyat kerajaan Blambangan Banyuwangi dari total 65.000 jiwa, mereka yang selamat melarikan diri ke Pulau Bali.
Akibatnya, terjadi perubahan demografi di daerah tapal kuda bekas wilayah Kerajaan Blambangan. Laskar-laskar dari etnis Madura memilih menetap dan menjadi etnis mayoritas sampai sekarang. Mengisi kekosongan lahan setelah membunuh 60.000 jiwa penghuni sebelumnya.
Penyebab Perang Bayu I
Pada tahun 1743, terjadi perjanjian antara Pakubuwana II dan Gubernur Jenderal VOC Van Imhoff yang menyatakan bahwa Mataram melepaskan daerah taklukan sebelah timur Pasuruan, yaitu Blambangan. Masalahnya, daerah Blambangan tidak pernah ditaklukan oleh Mataram, VOC Belanda juga tahu itu.
Dengan dalih perjanjian itu Belanda mengaku berkuasa atas Blambangan.
Di Blambangan sendiri terjadi kudeta, Kerajaan Mengwi Bali menyerbu dan menempatkan Gusti Kuta Beda dan Gusti Ketut Kabakaba sebagai raja dan patih.
Serbuan ini atas dukungan Inggris yang sejak lama melakukan perdagangan di Ulupangpang (Cluring, Banyuwangi) dengan konsesi memberikan izin kepada pihak Inggris untuk mendirikan kantor dagang. Ulupampang lalu menjadi daerah perdagangan yang sibuk.
VOC Belanda yang selalu ingin memonopoli Nusantara lalu mengobarkan perang untuk merebut Blambangan dan mengusir Inggris. Johanes Vos, gubernur VOC di Semarang mengeluarkan perintah tanggal 12 Agustus 1766 agar mengadakan patroli di Selat Bali dan sekitarnya. Lalu turun perintah dari Batavia untuk menangkapi kapal-kapal Inggris dan bangsa asing lain dengan alasan masuk wilayah tanpa izin.
Setelah laut dikuasai, VOC mengalihkan serbuan ke darat. VOC mengirimkan ekspedisi militer besar-besaran di bawah pimpinan Erdwijn Blanke terdiri atas 335 serdadu Eropa, 3000 laskar Madura dan Pasuruan, 25 kapal besar dan sejumlah yang kecil lainnya. Tanggal 20 Februari 1767, ekspedisi Belanda berkumpul di Pelabuhan Kuanyar Madura.
Pada tanggal 27 Februari 1767 Panarukan diduduki dan didirikan benteng. Pada tanggal 11 Maret pasukan inti di bawah komandan dari Semarang Erdwijn Blanke bergerak melalui darat sepanjang pantai. Tanggal 23 Maret 1767 ekspedisi Belanda tiba di Banyualit. Pertempuran meletus. Ratusan laskar Blambangan pimpinan Gusti Kuta Beda terbunuh. VOC menguasai benteng di Banyualit. Selat Bali mulai dari Meneng sampai Grajagan diblokir.
Kehancuran pasukan Mengwi dimanfaatkan oleh dua pangeran keturunan Kerajaan Blambangan, Mas Anom dan Mas Weka untuk merebut kembali kekuasaan warisan leluhurnya. Mereka berhasil mengalahkan dan mengusir pasukan Mengwi mundur ke Bali.
Mas Anom dan Mas Weka membuat perjanjian damai dengan VOC, lalu diangkat menjadi regen (bupati) pertama di Blambangan.
Namun panglimanya, Wong Agung Wilis menolak berdamai dengan VOC dan terus berperang. Pada tanggal 18 Mei 1768, Wong Agung Wilis menyerang benteng VOC di di Ulupampang, Banyualit. Mas Anom dan Mas Weka yang insyaf, mereka balik membantu Wong Agung Wilis. Nahas, Pasukan Belanda mendapat bantuan dari laskar Madura berhasil menang dan membunuh semua penyerbu.
Setelah Mas Anom dan Mas Weka gugur, VOC mengangkat Sutanagara dengan patih Surateruna dan Wangsengsari dengan patih Jaksanegara sebagai regen. Mereka dipaksa masuk Islam oleh VOC Belanda agar tidak membelok ke Bali dan diharapkan bisa mengislamisasi rakyat Blambangan agar menjauh dari pengaruh Bali.
Karena kurang puas atas kinerja keduanya, VOC memecat keduanya dan mendatangkan Patih Surabaya menjadi bupati Blambangan. Pihak VOC sendiri juga mencopot Coop e Groen dari komandan tertinggi wilayah Blambangan digantikan oleh Mayor Colmond yang terkenal kejam dan brutal.
Colmond menarik pajak yang tinggi dengan merampas bahan pangan dan hasil pertanian. Untuk memperkuat benteng, dia mewajibkan penduduk untuk kerja paksa membangun dan memperkuat benteng VOC di Ulupampang dan Kota Lateng. Memerintahkan mereka membuat jalan-jalan, membersihkan pepohonan yang ada di antara laut dan benteng di Ulupampang. Membuat penangkis air dalam membangun pos pengintaian di Gunung Ikan (yaitu semenanjung yang menutupi Teluk Pangpang).
Akibatnya rakyat kekurangan pangan, terjadi kelaparan dan kematian. Banyak warga Blambangan yang memilih lari ke hutan untuk menghindari kerja paksa.
Mantan Bupati Blambangan sebelumnya. Sutanagara dan Wangsengsari serta Patih Surateruna diam-diam meminta bantuan pada Raja Gusti Agung Mengwi untuk menyerang Kompeni membebaskan rakyat Blambangan dari penindasan. Namun ketahuan oleh VOC, ketiga orang tersebut ditangkap dan dibuang ke Ceylon (Sri Lanka).
Keadaan tambah parah ketika penetrasi VOC semakin berat, misalnya setiap bekel (lurah) harus menyerahkan dua ekor kerbau. Selain itu VOC menuntut 3,5 gulden kepada setiap kepala keluarga, dan harus diserahkan setiap tahun. Sesuatu yang sangat berat di tengah sedikitnya waktu untuk pergi ke sawah dan ladang karena kewajiban kerja paksa tanpa upah dan makan.



Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati dipercaya sebagai keturunan Raja Tawang Alun, Raja terbesar Blambangan

Munculnya Tokoh Mas Rempeg atau Pangeran Rajapati
Rakyat banyak yang mengungsi ke lereng Gunung Raung di desa Bayu. Di bawah pimpinan Mas Rempek mereka mengumpulkan kekuatan siap untuk melawan VOC. Mereka dibimbing para resi Hindu yaitu Bapa Rapa, Bapa Endha dan Bapa Larat.
Sesuai petunjuk ketiga guru resi tersebut, rakyat yakin bila Mas Rempeg adalah jelmaan Wong Agung yang akan membebaskan mereka dari penderitaan. Karena kekurangan senjata terutama senapan dan meriam yang telah jatuh ke tangan VOC waktu perang Ulupampang, Banyualit dan Lateng pada masa lalu. Mas Rempeg mengirim utusan ke desa-desa untuk menghimpun bantuan dan senjata.
Maka banyak penduduk Ulupampang dan dari daerah-daerah lain di seluruh Blambangan berbondong-bondong sambil membawa senjata bergabung dengan Mas Rempek di Bayu. Dukungan tidak hanya datang dari rakyat kecil wadwa alit, namun juga datang dari para bekel agung yaitu pembantu regen yang berkedudukan di Kuta Lateng seperti Wiramanggala dan Jagakrasa, serta Lembu Giri dari Tomogoro selain menyatakan bergabung dengan Mas Rempek juga memberikan sejumlah senjata. Datang juga rombongan orang-orang Lateng di bawah pimpinan Lurah Manowadi dan Bapa Cele dari Grajagan di pesisir selatan.
Dukungan untuk Mas Rempeg juga datang dari para bekel dari 62 desa; 25 desa di bagian barat, 14 desa di wilayah selatan, 9 desa di wilayah timur dan 2 desa di sebelah utara. Kemudian masih datang lagi 12 bekel dari desa lainnya.
Pelan tapi pasti Desa Bayu muncul menjadi kerajaan baru penerus Kerajaan Blambangan. Mas Rempeg lalu diangkat menjadi pemimpin dengan nama Pageran Jagapati. Dengan cerdik dia berhasil menguasai bahan pangan dan menimbunya di Bayu. Mengumpulkan senjata termasuk bedhil dan meriam.
Para pedagang pun mulai memindahkan transaki pusat kegiatannya ke pantai selatan di Nusa Barung mengirimkan telur, garam dan ikan kering yang diangkut memakai kuda ke Bayu. Dengan dukungan ekonomi yang kuat maka dengan mudah akan membangun kekuatan militer dan cadangan logistik perang.
Kertawijaya dan Jaksanegara dua orang ini mengklaim sebagai keturunan kerajaan Blambangan memimpin serombongan pasukan dari Ulupampang menuju Bayu. Karena kalah pamor dan tenar mereka berusaha membujuk rakyat Blambangan untuk setia pada pewaris darah biru yang asli, bukan Mas Rempeg atau Jagapati.
Dengan gagah berani Pangeran Jagapati menemui rombongan itu hanya disertai 30 pasukan saja. Setelah mendengar pidatonya. Orang-orang Blambangan pengikut kedua pemimpin itu justeru membelot dan memihak kepada Pangeran Jagapati. Kedua pemimpin ditinggal pengikutnya dan hanya ditemani beberapa orang yang berasal dari Surabaya, yaitu Mindoko, Bawalaksana dan Semedirono.
Para pembelot mengamuk terhadap para Tumenggung dan pengikutnya yang tinggal beberapa itu. Kertawijaya terluka tembak di bahu kirinya dan kaki kanannya terkena tombak. Mantri Semedirono mati tertembak di kepalanya, yang lainnya terluka.
Kabar ini semakin menguatkan kesaktian dan restu dewata atas Pangeran Jagapati. Rakyat Blambangan terus membanjiri Desa Bayu sambil membawa senjata dan harta benda yang mereka miliki.



Reka ulang perang Bayu dalam sebuah karnaval kemerdakaan di Banyuwangi. Foto: beritajatim.com
Perang Puputan Bayu I
Setelah kegagalan dua petinggi boneka Blambangan tersebut. VOC melancarkan serang pertama pada tanggal 5 Agustus 1771. Dalam serangan ini, pasukan Pribumi VOC membelok mendukung Jagapati dan balik menembaki pasukan VOC Belanda, mereka pun mundur.
Karena kegagalan itu, VOC berusaha mengepung dan mengisolasi benteng Bayu dengan cara memutus suplai makanan. Serangan diarahkan ke desa penghasil beras Gambiran dan desa Tomogoro yang menjadi tempat transit pengiriman logistik ke Bayu. 200 pasukan Blambangan yang mempertahan kedua desa itu dipukul mundur.
Di desa Tomogoro, VOC membangun kubu pertahanan sembari menunggu bala bantuan. Residen Biesheuvel minta dikirim 300 pasukan pribumi dari Jawa Timur dan satu pasukan tentara Eropa berkekuatan 40 prajurit.
Terhentinya perang sejenak ini membuat kabar tersiar tentang kehebatan Pangeran Rajapati. Rakyat Blambangan makin banyak yang berbondong-bondong ke Bayu untuk merdeka dari VOC.
Di Bayu Pangeran Jagapati menyusun strategi perang dengan membagi pasukan menjadi dua sayap masing-masing berkuatan 3.000 orang. Sayap kiri diserahkan kepada Kebo Undha, sayap kanan dipercayakan kepada Kidang Salendhit. Kedua pemimpin pasukan ini ingin membalas kekalahan yang telah dialami di Gegenting (Gambiran dan Tomogoro).
22 September 1771, setelah seluruh bantuan mendarat. VOC mulai bergerak maju ke Bayu untuk mengadakan serangan besar-besaran.
Pasukan pribumi berada di garda depan dibagi dalam dua sayap, kanan dan kiri. sedangkan orang Eropa di belakang. Pangeran Jagapati terus melakukan serangan psikologis dengan terus berkhotbah untuk menurunkan mental pasukan pribumi jawa timur. Strategi ini berhasil, pasukan pribumi lari ke dalam meninggalkan orang Eropa.
Pimpinan pasukan VOC memanggil-manggil dan mengancam pasukannya yang masuk ke hutan itu namun tak dihiraukannya.
Perang lalu berkecamuk seharian di depan benteng garis depan desa Bayu. Pasukan VOC kebingungan karena mereka juga disergap dari dua arah mata angin. Setelah kehabisan peluru, pasukan VOC mundur lari tunggang langgang.
Banyak serdadu Eropa yang tewas dan terluka. Diantaranya yang terluka adalah Letnan Imhoff. VOC terpaksa meninggalkan semua perlengkapannya termasuk sebuah kanon berukuran satu pon dan dua buah mortir.
Dalam catatan VOC, pada 22 September 1771 dilakukan penghitungan berapa sisa pasukan VOC dan primbumi yang setia. Dilaporkan bahwa 13 orang tewas yang terdiri dari 5 komandan dan 8 tamtama, 94 orang terluka tembakan kena duri karena tatkala mundur mereka tergesa-gesa. Sisanya 87 orang luka kena sungga (ranjau/sunggrak).
Residen Biesheuvel lalu meminta bantuan militer sebanyak 1000 laskar Madura dengan 150 serdadu Belanda. Dia juga menggaris bawahi agar tidak ada pribumi Jawa Timur di dalam bala bantuan.
November 1771 Bieshvel tewas digantikan oleh wakilnya, Hendrik Schophoff. Bantuan tentara VOC tiba di Ulupampang di bawah komando Kapten Reygers dan Heinrich.
Serang pertama pasukan yang baru ini berhasil mengalahkan para pejuang Blambangan di Kuta Lateng. Lalu menghancurkan gudang persediaan makan di Banjar (Kecamatan Glagah), menguasai Grajagan di Pantai Selatan dan membakar sekitar 300 koyan beras (1 koyan sekitar 185 kg) atau 55,5 ton. Merasa akan menang, VOC mencoba membujuk rakyat Blambangan dengan mengeluarkan selebaran yang isinya akan memberi ampunan bagi penduduk Bayu yang mau membelot ke VOC.
14 Desember 1771 Kapten Reygers menyerbu benteng Bayu. Jika sebelumnyda dari selatan, kali ini dari arah utara, Songgon. Serangan pertama dengan kekuatan 2000 laskar Madura di bawah pimpinan Tumenggung Alap-alap, sebagai laskar terdepan. Di belakangnya dilapisi oleh serdadu Eropa yang dilengkapi dengan meriam yang dipimpin oleh Sersan Mayor van Schaar. Bayu masih belum bisa ditembus.
15 Desember 1771 Prajurit Bayu malah keluar benteng dengan dibagi menjadi sayap. Pangeran Jagapati bersama 1000 orang menyerang Songgon. Sayap kedua berkekuatan 1000 prajurit juga menyergap dari arah berlawanan. Serangan ini menyebabkan pasukan VOC terjebak lalu dihancurkan total. Kapten Reygers terluka parah di kepalanya dan kemudian ia meninggal di Ulupampang.
18 Desember 1771 menjadi puncak serangan Pejuang Blambangan. Dalam serangan umum dan mendadak terhadap serdadu VOC. Belanda sendiri menyatakannya sebagai “de dramatische vernietiging van Compagniesleger” (kehancuran dramatis pasukan kompeni). Prajurit Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Jagapati maju ke medan tempur dengan membawa senjata golok, keris, pedang, tombak, dan senjata api yang diperoleh sebagai rampasan dari tentara VOC.
Serangan pejuang Bayu yang mendadak, membuat pasukan VOC terdesak. Demikian juga pasukan Eropa VOC yang berada di belakang. Ketika posisinya terus terdesak, mereka mundur dan lari meninggalkan semua perlengkapan perang. Pejuang Bayu mengejar pasukan VOC. Saat itulah pasukan VOC banyak yang terjebak dalam jebakan yang dinamakan sungga (parit yang di dalamnya dipenuhi sunggrak) yang telah dibuat oleh pejuang Bayu.
Pasukan VOC yang terjebak dihujami tombak dan anak panah dari atas. Sersan Mayor van Schaar, komandan pasukan VOC, Letnan Kornet Tinne dan ratusan serdadu Eropa lainnya yang tewas dalam perang itu. Hanya sedikit Prajurit VOC yang berhasil melarikan diri, umumnya dalam keadaan terluka parah.
Namun sayangnya kemenangan ini dibayar mahal. Pangeran Jagapati gugur karena luka-lukanya sehari berikutnya yakni tanggal 19 Desember 1771.


ilustrasi pertarungan Mas Rempeg melawan Tumenggung Alapalap dari Madura
Peristiwa ini dikisahkan dalam Babad Tawang Alun xi.5-21, sebagai berikut:
Pangeran Jagapati bertempur melawan Alap-alap dari Madura. Keduanya tak terkalahkan. Lalu ketahuan oleh Pangeran Jagapati bahwa Alap-alap memakai baju zirah. Maka dengan lembing pusakanya, Si Kelabang, dari jenis biring lanangan, ditusuknya Alapalap dari bawah. Dan Alap-alap roboh tetapi masih sempat melukai Pangeran Jagapati. Alap-alap diusung ke perkemahan, lalu meninggal. Jagapati yang luka parah dibawa ke benteng. Dengan luka parah Pangeran Jagapati masih mampu mengatur strategi peperangan dengan menunjuk Jagalara dan Sayu Wiwit sebagai wakilnya untuk melanjutkan peperangan. Keesokan harinya pertempuran dilanjutkan diiringi suara kendang, gong, beri dan tambur dan berlangsung sampai malam tiba. Setelah kembali ke benteng para prajurit Bayu mengetahui bahwa Pangeran Jagapati telah meninggal.
Gugurnya Pangeran Jagapati membuat amarah pejuang Blambangan bergejolak. Beberapa pejuang mencincang mayat Sersan Mayor van Schaar.
Dalam catatan resmi VOC, prajurit yang gugur dan hilang adalah : Sersan Mayor van Schaar, Peltu kornet Tinne, 41 prajurit Infanteri, 15 prajurit korps khusus Dragonders, para bintara dan tamtama, 1 prajurit arteleri dan sejumlah besar laskar pribumi.

Foto prajurit keraton Solo tahun 1800an. Foto: istimewa

Persiapan Puputan Bayu II
Untuk membalas kekalahan, VOC melakukan lobi ke kerajaan-kerajaan Pribumi agar mau mengirimkan pasukan untuk membantu mengalahkan Bayu. Bantuan dari Madura saja dirasa tidak cukup. Apalagi mereka baru saja menderita kekalahan bersama.
VOC Belanda lalu membujuk Keraton Surakarta, Yogyakarta dan Cirebon untuk mengirim pasukan, VOC berdalih, bahwa perang ini adalah perang jihad fi sabilillah membebaskan Jawa dari orang-orang kafir. Selama berabad-abad, dari era Demak sampai Mataram Islam, wilayah Blambangan tidak pernah berhasil ditaklukan. Bujuk rayu VOC berhasil, mereka berhasil menghimpun kekuatan 10.000 pasukan  dari tiga keraton tersebut. 
Dari Madura, VOC juga mendapat sokongan pasukan. Pangeran Sumenep dan Panembahan Bangkalan sangat marah karena kematian Alap-alap. Mereka mengirim 13.000 pasukan
Kitab Babad Bayu menceritakan sebagai berikut:
Panembahan Madura sanggup memenuhi permintaan VOC Surabaya sebanyak 10.000 orang Madura. Laskar ini dipimpin oleh Suradiwira. Pasukan Madura barat ini berlayar dan berlabuh di Panarukan disambut oleh pasukan VOC. Madura timur di Sumenep telah menyiapkan 3.000 orang laskarnya yang dipimpin langsung oleh Pulangjiwa. Mereka ini berangkat dari pantai Pamaringan menuju Purwasari di Pantai Jawa. Semuanya bertemu di Panarukan. Esok harinya barisan maju seperti badai. Bermalam di Bajulmati, malam berikutnya sampailah mereka di kota Ulupampang.
Perang Puputan Bayu II
1 Oktober 1772 Pasukan VOC mulai bergerak Benteng Bayu dipimpin Kapten Heinrich, mereka mendirikan perkubutan didi Sodong (dekat Songgon sekarang). Vaandrig Mierop dan Vaadrig Dijkman dengan 900 orang anak buahnya dengan peralatan berat (meriam) ditempatkan di sayap kanan di atas bukit dengan ketingian yang sama dengan Bayu. Vaandrig-vaandrig Gutten bergen dan Koegel ditempatkan di Sodong dengan 500 orang prajurit, sedang Heinrick sendiri bersiap-siap di sayap kiri. Di Sentong, dengan vaandrig Jcniger dan 1500 orang prajurit, bayu terkepung secara ketat
11 Oktober 1772 Pertahanan Benteng Bayu yang dipimpin oleh Bapa Endha mulai digempur habis-habisan dengan tembakan-tembakan meriam. 
18 Desember 1772 Bapa Endha dan pejuang Bayu mengalami kekurangan perbekalan karena bahan makanan yang ada ternyata tak mampu mencukupi kebutuhan semua laskar yang ditarik dan dipusatkan ke Bayu. Bayu sudah sulit dipertahankan lagi. Namun mereka masih mengadakan perlawanan sekuatnya. Vaandrig Mierop sesuai dengan perintah komandannya, membuat alarm tipuan pada sayap kanan dengan membuat api untuk memancing membagi kekuatan musuh supaya tepat didepan dan di sayap kiri Kapten Heinrich. 
Kemudian Kapten Heinrich dengan kekuatan intinya 1.500 pasukannya menerobos dan menyerang benteng Bayu dari sayap kiri tepat pukul 08.00. Benteng Bayu yang amat kuat akhirnya dapat direbut pasukan VOC. Sebagian pejuang Bayu berhasil meloloskan diri daerah pegunungan, Belanda menawan 2.505 orang laki-laki dan perempuan. 
Kapten Heinrich menyuruh bawahannya untuk membunuh para tawanan pria dan memotong kepalanya. kemudian kepala mereka yang terpotong digantung di pepohanan yang tinggi untuk membuat pejuang Bayu lainnya takut. Pengejaran terhadap musuh masih terus dilakukan bagi pejuang Bayu lainnya. 
Perempuan yang ditawan dan dibawa ke Pangpang, atas perintah Residen Schophoff tidak sedikit yang dihukum mati dengan menenggelamkannya (dengan pemberat batu) ke laut, di siksa, direjam, dan sebahagiannya dibuang ke Surabaya atau ke Batavia sebagai budak.
Ternyata benteng Bayu merupakan benteng yang dibangun dengan rapi, lengkap, kuat dan strategis, dan sempat membuat para pemimpin militer VOC menjadi terkagum-kagum. Namun oleh Piter Luzak, penguasa VOC untuk Jawa bagian Timur, sisa dari benteng Bayu tersebut diperintahkan untuk dimusnahkan dan diratakan dengan tanah
Itulah akhir dari sebuah peperangan habis-habisan yang mengerikan, yang telah merenggut ribuan bahkan puluhan ribu kurban, baik difihak musuh dan terutama difihak rakyat Blambangan. Dan inilah gambaran tragis dari taktik politik devide et impera Belanda terhadap kita, karena yang berperang dan menjadi korban dalam peperangan puputan tersebut, hampir seluruhnya adalah bangsa kita sendiri.
Setelah Perang
Belanda dalam catatan resminya mengakui jika Perang Puputan Bayu adalah peperangan yang paling menegangkan, paling kejam, dan paling banyak memakan kurban dari semua peperangan yang pernah dilakukan VOC maupun Belanda di seluruh Indonesia.
Begilu kejamnya dan penuh dendam peperangan yang terjadi di Bayu tersebut, sampai-sampai apabila ada pasukan VOC yang tertangkap pejuang Blambangan, seperti nasib Letnan Van Schaar, kepalanya dipotong, ditancapkan di ujung tombak, dan diarak keliling desa. 
Demikian juga sebaliknya, dari hampir semua pejuang Blambangan yang tertangkap di Bayu, kepalanya dipotong dan digantung-gantungkan di pohon-pohon atau ditancap-tancapkan di tonggak-tonggak pagar di sepanjang jalan desa.
Untuk menghadapi Perang Bayu II ini VOC telah mengerahkan tidak kurang dari 20.000 personil prajurit yang didatangkan dari seluruh Jawa dan Madura seperti dari garnisun-garnisun Batavia,  Semarang(Korp Dragonders), Pasukan Keraton Yogyakarta, Surakarta, Cirebon dan Madura. Suatu jumlah yang yang luar biasa besar menurut keadaan pada waktu itu.
Peperangan di Bayu ini telah memakan kurban tidak kurang 60.000 rakyat Blambangan yang gugur, hilang, atau menyingkir ke hutan. Mungkin bagi tampaknya jumlah ini “tidak begitu besar” kalau dilihat dari hitungan jumlah penduduk Kabupaten Banyuwangi saat ini . Namun perlul diketahui bahwa jumlah penduduk seluruh Blambangan (Banyuwangi) pada waklu itu tidak sampai 65.000 orang!
 J.C . Bosc h. seorang pejabat Pemerintahan Belanda pernah menulis dari Bondowoso pada tahun 1848, ” … daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang satu ketika pernah berpenduduk sangat padat dan telah dibinasakan sampai habis … ”
Untuk merebut Blambangan, khususnya untuk peperangan di Bayu ini, VOC telah menghabiskan dana seharga 8 (delapan) Ton emas yang merupakan pukulan telak terhadap keuangan VOC pada waktu itu. Pimpinan VOC di Batavia sampai menyesal karena biaya perang tidak sesuai dengan keuntungan yang diperoleh dari Blambangan.
Perubahan Demografi Penduduk Blambangan
Perang ini juga mengubah peta demografi di kawasan Blambangan dan sekitarnya. Dari yang awalnya dihuni mayoritas etnis Jawa Osing menjadi etnis suku Madura. Orang Madura telah merebut para wanita dan anak-anak Blambangan sebagai hasil rampasan perang.
Wikkerman (residen di Blambangan pada tahun 1800-1818) melaporkan bahwa sensus penduduk pertama setelah berdirinya kabupaten Banyuwangi jumlah penduduk belum mencapai 300 keluarga. Sebelum perang berlangsung, Blambangan berpenduduk 65 ribu jiwa, yang 60 ribu orang telah meninggal dunia akibat perang puputan Bayu. Penduduk Blambangan hanya tersisa sekitar 5 ribu jiwa.
Hampir habisnya penduduk Blambangan akibat perang, pihak VOC mendatangkan tenaga kerja dari luar Blambangan untuk mengolah tanah-tanah pertanian yang kosong. Mereka ditempatkan di rumah penduduk yang kosong yang ditinggalkan ketika perang. Akibat kedatangan berbagai macam penduduk dari luar Blambangan, menjadikan Blambangan berpenduduk sangat majemuk terutama masuknya etnis Madura setelah perang.

Sunday, December 03, 2017

I MADE GATI telah berpulang kepada-Nya...

Om svargantu Pitaro devah
Svargantu pitara ganam
Svargantu pitarah sarvaya Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat tempat di surga
Semoga semua atma yang suci mendapat tempat di surga
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om moksantu Pitaro devah
Moksantu pitara ganam
moksantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mencapai moksa
Semoga semua atma yang suci mencapai moksa
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om sunyantu Pitaro devah
Sunyantu pitara ganam
Sunyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat ketenangan
Semoga semua atma yang suci mendapat ketenangan
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om bagyantu Pitaro devah
Bagyantu pitara ganam
Bagyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat kebahagian sejati
Semoga semua atma yang suci mendapat kebahagiaan sejati
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om ksamantu Pitaro devah
Ksamantu pitara ganam
Ksamantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat pengampunan
Semoga semua atma yang suci dibebaskan segala dosanya
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Telah berpisah jiwa dari raga seorang Bapak dan Kakek dari anak-anaknya, ponakan, cucu....di usia kurang lebih 51 tahun ( 1966 - 01 Desember 2017)....

Adalah Kakak kami I MADE GATI telah menutup usianya lima hari setelah Bapak kami meninggalkan dunia ini  yaitu pada hari Jumat Kliwon, Wuku Pujut, Sasih Kenem, Pinanggal Ping 13,Caka Warsa 1939 dan tanggal masehi 1 Desember 2017.

Beliau adalah sosok tangguh, hebat dan pekerja keras ...
Kami tidak akan pernah bisa menilai jasa dan pengorbanannya terhadap kami sebagai saudara, anak dan cucu-cucunya.
Beliau adalah sosok yang pekerja cepat, tidak suka menunda pekerjaan sehingga kadang kala lupa untuk merawat dirinya...

Oleh karenanya kami tempatkan beliau pada tempat yang tertinggi pada setiap relung hati kami.......
Walau kami sebagai adik dan prtisentananya belum bisa membalas segala perngorbannya, tetapi melalui doa, semoga beliau mendapat tempat yang terbaik dan melalui tabungan kebajikan yang telah beliau curahkan kepada setiap alam ini, menjadi bekal buat beliau menuju dan menyatu dengan-Nya.....

Upacara atiwa-tiwa dengan tingkatan pranawa yang dirangkai dengan proses tarpana saji diselenggarakan dalam 2 (dua) hari bersamaan dengan upacara atiwa-tiwa Bapak kami, yaitu hari Kamis (Wrhaspati Umanis, Wuku Pahang, Sasih Kenem, Panglong Ping 4, Caka Warsa 1939 dan tanggal masehi 7 Desember 2017 kurang lebih pukul 13.00 wita, dilakukan nyiramin layon dilanjutkan dengan rangkaian pemerasan, ngetarpana saji dan keesokan harinya yaitu hari Jumat Paing, Wuku Pahang, Sasih Kenem, Panglong Ping 5, Caka Warsa 1939 dan tanggal masehi 8 Desember 2017 kurang lebih 13.00 wita, dilakukan upacara atiwa-tiwa mendem layon ke setra.

Semua rangkaian upacara ini sedianya akan dipuput oleh Ida Pedanda saking Griya Toko Sanur.

Demikianlah rangkaian Upacara Atiwa-tiwa yang akan diselenggarakan, semoga beliau selalu berbahagia di alam sana....

AMORING ACINTYA

Monday, November 27, 2017

I NYOMAN BELED menutup usia


Om svargantu Pitaro devah
Svargantu pitara ganam
Svargantu pitarah sarvaya Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat tempat di surga
Semoga semua atma yang suci mendapat tempat di surga
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om moksantu Pitaro devah
Moksantu pitara ganam
moksantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mencapai moksa
Semoga semua atma yang suci mencapai moksa
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om sunyantu Pitaro devah
Sunyantu pitara ganam
Sunyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat ketenangan
Semoga semua atma yang suci mendapat ketenangan
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om bagyantu Pitaro devah
Bagyantu pitara ganam
Bagyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat kebahagian sejati
Semoga semua atma yang suci mendapat kebahagiaan sejati
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om ksamantu Pitaro devah
Ksamantu pitara ganam
Ksamantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat pengampunan
Semoga semua atma yang suci dibebaskan segala dosanya
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Telah berpisah jiwa dari raga seorang Bapak, Kakek, kumpi, dari anak-anaknya, ponakan, cucu, kumpi....di usia kurang lebih 75 tahun (31 Desember 1942 - 26 Nopember 2017)....

Adalah Bapak kami I NYOMAN BELED telah menutup usianya bertepatan dengan hari Kajeng Kliwon yaitu pada hari Minggu Kliwon, Wuku Pujut, Sasih Kenem, Pinanggal Ping 8,Caka Warsa 1939 dan tanggal masehi 26 Nopember 2017.

Beliau adalah sosok tangguh, hebat dan super hero buat kami...
Kami tidak akan pernah bisa menilai jasa dan pengorbanannya terhadap kami sebagai prtisentananya, perhatiannya baik secara material maupun spiritual sehigga kami bisa bertumbuh sampai saat ini.

Oleh karenanya kami tempatkan beliau pada tempat yang tertinggi pada setiap prtisentananya

Walau kami sebagai prtisentananya belum bisa membalas segala perngorbannya, tetapi melalui doa, semoga beliau mendapat tempat yang terbaik dan melalui tabungan kebajikan yang telah beliau curahkan kepada setiap alam ini, menjadikan beliau bekal menuju dan menyatu dengan-Nya.....

Upacara atiwa-tiwa dengan tingkatan pranawa yang dirangkai dengan proses tarpana saji diselenggarakan dalam 2 (dua) hari yaitu hari Kamis (Wrhaspati Umanis, Wuku Pahang, Sasih Kenem, Panglong Ping 4, Caka Warsa 1939 dan tanggal masehi 7 Desember 2017 kurang lebih pukul 13.00 wita, dilakukan nyiramin layon dilanjutkan dengan rangkaian pemerasan, ngetarpana saji dan keesokan harinya yaitu hari Jumat Paing, Wuku Pahang, Sasih Kenem, Panglong Ping 5, Caka Warsa 1939 dan tanggal masehi 8 Desember 2017 kurang lebih 13.00 wita, dilakukan upacara atiwa-tiwa mendem layon ke setra.

Semua rangkaian upacara ini sedianya akan dipuput oleh Ida Pedanda Nabe Oka Timbul Sanur.

Demikianlah rangkaian Upacara Atiwa-tiwa yang akan diselenggarakan, semoga beliau selalu berbahagia di alam sana....

AMORING ACINTYA

Wednesday, November 15, 2017

Men Lidug telah berpulang

Beliau adalah saudara ibu saya yaitu Men Lidug telah berpulang pada hari Buda (Rabu) Wage Wara Langkir, tanggal 15 Nopember 2017 dengan tenang menuju alam nirwana.

Upacara atiwa-tiwa dilaksanakan pada hari Redite (Minggu) Pon Wara Medangsia, tanggal 19 Nopember 2017.

Monday, November 13, 2017

SEJARAH DESA JIMBARAN


BALI INFO
(dikutip dari berbagai sumber // forum oleh manik dewata )
Foto: Area purbakala peninggalan Sri batu Putih (Dalem Putih Jimbaran) di Pura Sarin Bawana, terletak di Jalan Karang Mas, Dusun Lalang Jajang, Bukit, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung
Penyebaran penduduk Badung Selatan, khususnya Jimbaran, dimulai sejak zaman Pemerintahan Batahanar sekitar tahun 1325 Masehi. Rajanya bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Mahapatih kerajaan itu dikenal luas bernama Kebo Iwa. Bukti sejarah ini tergurat dalam Prasasti Dalem Putih Jimbaran, Purana Pura Luhur Pucak Kembar, Piagem Dukuh Gamongan, dan Prasasti Pura Maospahit.
Sri Astasura Ratna Bumi Banten mengandung arti raja yang membawahi delapan wilayah pemerintahan di Bali. Wilayahnya ini setingkat kabupaten, yaitu Jimbaran, Badung, Mengwi, Tabanan, Buleleng, Bangli, Karangasem, dan Klungkung
JIMBARAN berasal dari kata ‘jimbarwana’. Artinya, hutan luas. Wilayahnya meliputi bukit selatan Pulau Bali.
Zaman dulu di Jimbaran dikisahkan ada seorang pertapa bernama Sri Batu Putih. Pertapa ini bergelar Dalem Putih Jimbaran. Sri Batu Putih merupakan kakak kandung Sri Batu Ireng. Gelarnya Astasura Ratna Bumi Banten saat dinobatkan menjadi raja. Dalam babad, Sri Batu Putih dikenal dengan nama Dalem Bedaulu atau Dalem Selem.
Dalem Selem sebenarnya bersaudara kembar dengan Dalem Putih. Namun, kehidupan saudara kembar ini dipisah setelah lahir. Singkat kata, mereka berdua pun otomatis tak saling kenal rupa ketika dewasa. Saat Dalem Selem menjadi raja, dirinya baru sadar memunyai seorang kakak kandung. Saudara kembarnya ini berdiam konon di wilayah Jimbaran. Rindu bertemu kakaknya tak terbendung. Dalem Selem coba menelusuri jejak kediaman sang kakak. Karena tidak tahu rupa, dalam proses pertemuan, terjadi kesalahpahaman. Saudara kembar ini bersitegang. Ujungnya keduanya berkelahi sengit. Perkelahian dimulai dari Pura Sarin Bwana. Tempat ini bekas pertapaan Dalem Putih menuju Batu Maguwung, Sekang, Muaya, Kali, Tambak, Unggan-Unggan, Gaing-Gaingan daerah Pura Gaing Mas, dan Pura Ulun Swi yang jarak tempuhnya sekitar lima kilometer.
Awalnya terjadi perang Dalem Putih dan Dalem Selem. Rakyat Jimbaran sempat ikut membantu Dalem Putih. Perkelahian sengit tersebut tak kunjung berakhir. Gerak perkelahian ini bahkan sampai ke wilayah Gaing-Gaingan (Pura Gaing Mas). Di sinilah dalem Putih dan Dalem Selem kelelahan. Tenaga kedua saudara kembar ini terkuras dan jatuh terduduk lemas di tanah.
“Hai kamu raksasa, siapa kamu, dari mana, sakti tak tertandingi, tak bisa dikalahkan. Apa maksud kamu datang ke sini, kasih tahu aku,” tanya Sri Batu Putih. Dalem Selem menjawab, “Om, om, om, sang mahasakti. Aku bergelar Sri Batu Ireng dari Badhahulu, datang kemari hendak bertemu kakak ku bernama Sri Batu Putih.” “Om, om, om, adik ku. Aku Sri Batu Putih,” jelas Sri Batu Putih.
Seketika itu, kedua kakak beradik ini kaget, seraya kontan berpelukan dan bergulingan di tanah. Rasa bahagia itu disambut seluruh pasukan dan rakyat hingga depan Pasar Jimbaran.
Sri Batu Putih dan Dalem Selem lalu sepakat kelak di tempat mereka berduel dibangun sebuah pura bernama Ulun Swi, apan pahulunan maswi lawan wang sanak. Ini tonggak pertemuan bersejarah dua saudara kandung.
Kini bekas lokasi perang tersebut berdiri pura sekaligus menjadi nama dusun di Jimbaran. Arca purbakala peninggalan Sri Batu Putih alias Dalem Putih Jimbaran tersimpan di Pura Sarin Buwana, Jalan Karang Mas, Dusun Lalang Jajang, Bukit Jimbaran, Kuta Selatan.

Monday, August 14, 2017

SANGGAH KEMULAN/MERAJAN (Selayang Pandang)



Om Swastyastu
Tulisan sejenis yang dimuat dibergai media massa atau literature lainnya sudah cukup banyak, namun saya tertarik kembali mengingatkan kepada para pembaca yang mungkin sudah mumpuni dalam pemahamannya dan aplikasinya dalam urusan Sanggah Kamulan.
Belakangan di kalangan generasi muda tidak sedikit yang mulai berpikir, bahkan telah melaksanakan bahwa sanggah Kamulan telah diganti dengan satu pelinggih saja yaitu Padma Sari dengan berbagai alasan, persoalan tanah, biaya, efesiensi dan masih ada seribu alasan untuk membenarkan tindakannya.
Bagi para pembaca yang berniat mengganti (Prelina) Sanggah Kamulan, sebelum melaksanakan niatnya, semoga artikel sederhana ini bisa menjadi bahan bandingan.
Umat Hindu pada prinsipnya memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dan memuja Roh (Dewa Pitara). Disamping memuja Tuhan, Weda juga mengajarkan dan membenarkan memuja Roh Suci leluhur.
Dalam Kekawin Ramayana dinyatakan bahwa:
"Amat utama Sang DasarathaBeliau pandai tentang weda dan bakti pada Dewa (Tuhan)Tidak pernah lupa memuja leluhurAmat kasih beliau dengan seluruh keluarganya".
Jika kita kaji petikan kekawin di atas, dapat kita pahami bahwa: agar dapat dirasakan keber “ada” an dan ke Mahakuasaan Tuhan yang paling baik dilakukan di tempat pemujaan. Mengapa...?? Lebih jauh dikatakan bahwa, ibarat mengambil susu kambing, meskipun semua tubuh kambing sebagai penyebab timbulnya susu kambing, tetapi air susunya dapat diambil dari puting susunya. Demikian pula halnya dengan upaya manusia untuk dapat merasakan keber “ada” an Tuhan Hyang Maha Esa dan Roh Suci leluhur tidaklah dapat dilakukan secara sembarangan, namun hendaknya dilakukan di tempat pemujaan.
Tempat pemujaan bila dikelompokkan berdasarkan fungsinya dapat dibagi menjadi dua yaitu, tempat pemujaan Tuhan (Dewa Pratistha) dan tempat pemujaan Roh Suci leluhur (Atma Pratistha).
Tempat pemujaan Roh Suci leluhur disebut Pemerajan. Bentuk Pelinggih di Pemerajan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu, Pelinggih Inti dan Pelinggih pelengkap. Pelinggih inti disebut Kamulan dan pelinggih pelengkap terdiri dari pelinggih Taksu, Anglurah, Padma Sari, bahkan terkadang terdapat pelinggih untuk Dewa Hyang.
Dalam Lontar Ciwagama disebutkan bahwa, “… Bhagawan Manohari, Ciwapaksa sira, kindwa kinon de Cri Gondarapati, umaryanang Sadkahyangan, manista Madya motama, mamarista swadarmaning wang kabeh. Lyan Swadadyaning wang saduluking wang, kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Wang setengah bhaga rwang puluhing saduluk, sanggarpratiwi wangumen ika, kamulan panunggalanya sowing”.
Artinya:
Begawan Manohari pengikut Ciwa beliau disuruh oleh Cri Gondarapati untuk membangun Sad Khayangan kecil, sedang maupun besar. Yang merupakan kewajiban semua orang. Lain kewajiban sekelompok orang untuk empat puluh keluarga harus membangun panti. Adapun setengah bagian dari itu yakni 20 keluarga, harus membangun Ibu. Kecilnya 10 keluarga Pratiwi harus dibangun, dan Kemulan satu-satunya tempat pemujaan yang harus dibangun pada masing-masing pekarangan keluarga.
Dari kutipan tersebut di atas jelas bahwa setiap orang yang telah berkeluarga (grehasta) yang telah menempati pekarangan perumahan tersendiri wajib membangun Sanggah Kemulan.
Hal ini juga diperkuat dengan hasil keputusan pada pertemuan segitiga di Bedahulu antara 3 kelompok Agama sebagai wakil dari ke 6 sekte yang ada di Bali maka di dalam lingkungan masyarakat yang lebih kecil (keluarga) diharuskan untuk membangun Sanggah/Merajan, di Pekarangan masing-masing berupa pelinggih Rong Tiga yang biasa sidebut Sanggah Kamulan.
Sebagai umat yang ingin mendekatkan diri pada Sang Pencipta, maka langkah awal bagi setiap orang yang telah memasuki Grehasta adalah dengan mendirikan Sanggah Kamulan.
Sanggah Kemulan berasal dari kata Sanggah dan Kamulan. Sanggah adalah perubahan dari kata “Sanggar” artinya tempat pemujaan, Kamulan berasal dari kata “Mula” yang berarti akar, umbi, dasar, permulaan, asal. Jadi yang dimaksud dengan Sanggah Kemulan adalah tempat pemujaan asal atau sumber (Hyang Kamulan atau Hyang Kamimitan). Jadi yang dipuja di Sanggah Kamulan adalah Hyang Kamulan atau Hyang Kawitan yang merupakan sumber atau asal dari mana manisia itu ada.
Kamulan atau Kawitan adalah merupakan sumber atau asal manusia itu sendiri. Manusia dalam bahasa Bali halus disebut “Jatma” yang berarti Roh yang lahir, dengan demikian Roh/Atmalah yang menjadi sumber adanya manusia.
Dalam Lontar Usana Dewa disebutkan bahwa: "Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan tengen Bapa ngaran Sang Paratma, ring Kamulan kiwa Ibu ngaran Sang Ciwatma, ring Kamulan tengah ngaran raganya, yaitu Brahma, dadi meme, bapa meraga Sang Hyang Tuduh”.
Artinya:
Pada Sanggah Kemulan Beliau bergelar Sang Hyang Atma, pada ruang Kemulan kanan Ayah namanya Sang Hyang Paratma. Pada Kemulan kiri Ibu, disebut Ciwatma, pada Kamulan ruang tengah diriNya itu Brahma, menjadi purusa-pradana, berwujud Sang Hyang Tuduh.
Hal senada juga termuat pada lontar Tutur Gong Wesi, “… ngaran ira Sang Atma ring Kamulan tengah bapanta, ngaran Sang Paratma, ring Kamulan kiwa Ibunta, ngaran Sang Ciwatma, ring Kamulan madya raganta, Atma dadi meme bapa ragante, mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal, nunggalang raga …”
Artinya:
Nama Beliau (Tuhan) Sang Atma, pada ruang Kamulan kanan bapakmu, yaitu Sang Hyang Paratma, pada ruang Kamulan kiri Ibumu yaitu Sang Ciwatma, pada ruang Kamulan tengah adalah kamu, yaitu atma menjadi ayah ibu dan kamu menyatu menjadi Sang Hyang Tunggal, menyatukan wujud.
Jadi yang melinggih pada Sanggah Kamulan adalah Sang Hyang Triatma yaitu Paratma, Ciwatma dan Sang Hyang Tunggal/Tuduh.
Sedangkan dalam lontar Purwa Bumi Kamulan disebutkan bahwa Hyang Kamulan yang dipuja pada Sanggah Kamulan adalah Roh suci leluhur, seperti tersirat pada kutipan berikut: “Riwus mangkana daksina pangadegan Sang Dewa Pitara, tinuntunakene maring Sanggah Kamulan, yan lanang unggahakenna ring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan Dewa Hyangnya nguni” Artinya: Setelah demikian daksina perwujudan Roh suci dituntun pada Sang Hyang Kamulan, kalau roh suci dari perempuan dinaikkan disebelah kiri disana menyatu dengan leluhur terdahulu.
Lebih jauh disebutkan dalam lontar Purwa Bhumi, Kamulan, disebutkan bahwa, “… Begitulah caranya yang benar untuk berbakti kepada leluhur, kalau tidak seperti itu tidaklah selesai upacara untuk Dewa Pitara, Sang Dewa Pitara berkeliaran tidak mendapat tempat, maka diumpatlah keturunannya dan keluarganya, semua tertimpa penyakit, disakiti oleh Dewapitaranya, itulah sebabnya datang penyakit yang aneh-aneh tidak bisa diobati menurut ketentuan usada. Muncul penyakit ajaib, tingkah laku yang tidak patut, gila-gilaan, hati rusak, ogan, tunggah, ayan, bingung, sakit lemah, murung, sakit ingatan, sungsung baru dan juga menyebabkan boros kekayaannya habis tanpa sebab, selalu merasa kurang makan dan minum sebab telah dirusak oleh Bhuta Kala karena selamanya Dewapitara tidak mempunyai tempat. Atau tempatnya tidak menentu, karena keturunannya kurang bakti, kurang pengetahuan, kurang perasaan, karena hanya tahu merasakan kenyang dan lapar, tidak berjasa pada diri sendiri dan pula tidak berbakti pada leluhur.
Sumber lainnya menyebutkan bahwa Sanggah Kamulan terdiri dari tiga Kosmos yaitu:
1. Bebaturan sebagai Bhur Loka, alam pitara yang belum diaben.
2. Lepitan sebagai Buah Loka/pitra loka, alamnya para pitara yang telah diaben.
3. Rong Tiga sebagai Swah Loka, alamnya Para Dewa, Atma yang telah mencapai “Sidha Dewata”.
Jadi jelaslah bahwa yang dipuja pada Sanggah Kamulan Roh Suci yang telah mencapai alam dewa (Sidha Dewata) dan semua keturunannya wajib memuja roh yang telah suci itu. Karena amat besarlah pahala orang yang bhakti kepada leluhurnya. Kalau kurang bhakti pada leluhur apalagi tidak menstanakan di Kamulan maka kesengsaraan hiduplah yang akan dialami.
Sang Hyang Tri Atma adalah Hyang Tunggal/Tuduh yang menjadi Brahma sebagai Sang Pencipta.
Menurut filsafat Siwa Tattwa disebutkan bahwa Tri Atma adalah:
1. Siwatma dengan dewanya Brahma wijaksaranya Ang
2. Sadasiwatma dengan dewanya Wisnu wijasaranya Ung
3. Paramatma dewanya Iswara wijaksaranya Mang.
Ketiga Dewa tersebut dalam sekte Siwa Sidhanta umum disebut Tri Murti. Hal ini juga terdapat dalam mantram ngaturang bhakti ring Kawitan yaitu:
Om Dewa-dewa tri dewanamTrimurti tri lingganamTripurusa sudda nityamSarwa jagat jiwatmanam.
Artinya:
Om para Dewa utamanya tiga dewa Trimurti (Brahma, Wisnu, Iswara) adalah Trilingga. Tripurusa yang suci selalu adalah roh (Atma) atau semesta dengan isinya (Jagat).
Dengan demikian jelaslah yang menjadi jiwa (Atma) atau Roh dari jagat kita termasuk mahluk hidup, utamanya manusia adalah beliau yang bergelar Tri Murti, Tri Purusa.
Dewa Pitara yang distanakan di Pemerajan Kamulan karena telah mencapai alam kedewaan atau alamnya Sang Hyang Tri Murti, maka Dewa pitara itu diindentikkan dengan Sang Hyang Tri Murti.
Sehingga dapat kita pahami dan tegaskan bahwa, Sanggah Kamulan adalah perwujudan lingga Tri Murti yang merupakan pancaran dari Sang Hyang Widi Wasa. Secara mikro pelinggih rong Tiga ini adalah merupakan Khahyangan Tiga yang berada pada lingkungan keluarga.
Jadi Dewa Pitara yang telah mencapai alamnya Tri Murti dapat dipuja melalui Sanggah Kamulan. Dimana Dewa Pitara tersebut telah identik dengan Sang Hyang Tri Murti. Karena Dewa Pitara itu identik dengan Sang Hyang Tri Murti maka Dewa Pitara yang berstana di Kamulan disebut “Bhatara Hyang Guru” Bhatara Hyang disini adalah Dewa Pitara itu sendiri dan Bhatara Guru adalah Dewa Siwa, dalam fungsinya sebagai pendidik umat manusia.
Hal ini tersurat pada mantram ngaturang bakti ring kawitan yaitu:
Om Guru Dewa Guru Rupam
Guru Madyam Guru Purwan
Guru Pantara Dewanam
Guru Dewa Suddha nityam.
Artinya:
Om Guru Dewa, Guru sekala, Guru sekala-niskala dan Guru Purwan adalah Guru para Dewa, Dewa Guru suci selalu.
Matur suksma
Kirang langkung nunas ampura
Om Santih Santih Santih Om
Bersumber dari ~Jro Mangku Danu


"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."

OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.