411. “Dengan diamnya antah-karana lewat samãdhi[1], nikmatilah keagungan tanpa batas dari Sang Diri-jati. Dengan penuh semangat hancurkanlah belenggu bau harum-busuk dari kelahiran dan kematian; jadilah ia yang telah mencapai tujuan-akhir dari kelahiran berjasad manusia ini!

412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”

Monday, June 17, 2019

UPACARA MEMUKUR DESA ADAT PEMINGE 10 JULI 2019



Mamukur merupakan kelanjutan dari upacara ngaben sbg bentuk penyucian atma (roh) fase kedua. Mamukur berasal dari kata bhukur, bhu = alam dan ur = atas. Jadi mamakur adalah penyucian atma agar terlepas dari badan halusnya (suksma sarira) berupa sifat-sifat manusia dan keinginannya sehingga bisa menyatu dengan Sang Pencipta menjadi dewa pitara (roh suci). Ritual ini waktu pelaksanaannya tidak harus setelah ngaben, bisa beberapa tahun kemudian tergantung kemampuan, mengingat biaya yang dikeluarkan berkali-kali lipat dari ngaben.
Dalam prosesi mamukur tidak ada jenazah. Maka dari itu perlu dibuatkan simbol-simbol badan halus dari atma/roh yang akan di-prosesi. Tahapan mamukur sangatlah banyak dan lebih rumit dari ngaben. Pelaksanaan upacara Mamukur dan yadnya lainnya disesuaikan dengan kemampuan Sang Yajamana, yaitu mereka yang melaksanakan upacara tersebut. Secara garis besar dan sesuai dengan kemampuan umat upacara ini dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu yang kemampuannya besar disebut (Uttama), yang kemampuannya menengah disebut (Madhya) dan yang kemampuannya kecil atau sederhana disebut (Kanistama/Nista/ Alit)
Pada Upacara Mamukur/Nyekah tanggal 10 Juli 2019, yang diselenggarakan oleh Desa Adat Peminge untuk pertama kalinya ini diikuti oleh beberapa puspa dari Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan, termasuk trah Bongantik seperti berikut :
1.      Ni Wayan Lumur saking I Wayan Sugiarta
2.      Ni Wayan Lasir saking I Wayan Suana
3.      I Ketut Rodeg saking I Wayan Waker
4.      Ni Nyoman Romen saking I Made Komplit
5.      Ni Wayan Rupik saking I Wayan Suaka
6.      I Nyoman Rimpek saking I Nyoman Suamba
7.      I Ketut Cantug saking I Nyoman Subrata
8.      I Wayan Raba saking I Nyoman Suamba
9.      Ni Wayan Metri saking I Wayan Batreana
10.  I Made Wanci saking I Wayan Ronci
11.  I Wayan Rota saking I Wayan Citra
12.  Ni Wayan Rumping saking I Nyoman Mandia
13.  I Nyoman Kiteh saking I Wayan Hardika
14.  I Nyoman Rate saking I Wayan Surata
15.  Ni Ketut Waluh saking I Wayan Pundung
16.  I Nyoman Beled saking I Komang Sugita
17.  I Made Gati saking I Nengah Suastra
18.  I Wayan Kebek saking I Wayan Kastra
19.  Ni Wayan Masih saking I Made Suanda
20.  I Made Lemet saking I Wayan Pait
21.  Ni Wayan Sekin saking I Wayan Roden
22.  Ni Made Repi saking I Made Metra
23.  Ni Made Kecap saking I Wayan Sutama
24.  I Ketut Minta saking I Nyoman Meting
25.  Ni Made Rintet saking I Ketut Gora
26.  I Nyoman Riten saking I Wayan Sukadana
27.  I Made Arta saking I Wayan Tona
28.  I Nyoman Rembung saking I Wayan Batreana



Biasanya nama sang pitra akan diganti dengan nama bunga, misal sandat, cempaka, jempiring, dan sebagainya (untuk sawa wanita),
Sedangkan untuk sawa pria memakai nama kayu yaitu cendana, majagau, ketewel, damulir dan sebagainya. Pada Mamukur dengan tingkatan Uttama rangkaian upacaranya terdiri dari :

1. Rahina Saniscara Paing Warigadian tanggal 6 Juli 2019, Ngulapin di Segara Geger, mohon ijin Ida Bethara Baruna sebagai penguasa laut untuk melanjutkan upacara Pitra Yadnya.
2. Rahina Redite Pon Julungwangi, tanggal 7 Juli 2019, Ngangget Don Bingin di Taru Bingin Pura Desa, Puseh lan Bale Agung, yaitu upacara memetik daun beringin (kalpataru/kalpavriksa) untuk dipergunakan sebagai bahan puspasarira (symbol badan roh) yang nantinya dirangkai sedemikian rupa seperti sebuah tumpeng (dibungkus kain putih), dilengkapi dengan prerai (ukiran/lukisan wajah manusia, laki/perempuan) dan dihiasi dengan bunga ratna. Upacara ini berupa prosesi (mapeed) menuju pohon beringin diawali dengan tedung agung, mamas, bandrang dan lain-lainnya. Sebagai alas daun yang dipetik adalah tikar kalasa yang di atasnya ditempatkan kain putih sebagai pembungkus daun beringin tersebut.

3. Rahina Redite Pon Julungwangi, tanggal 7 Juli 2019, Ngangget Don Bingin di Taru Bingin Pura Desa, Puseh lan Bale Agung, setelah daun beringin tiba di tenpat upacara, maka untuk masing-masing perwujudan roh, dipilih sebanyak 108 lembar, ditusuk an dirangkai sedemikian rupa kemudian disebut Sekah. Jumlah Sekah sebanyak roh yang akan diupacarakan, di samping jumlah tersebut, dibuat juga untuk Lingga atau Sangge. Setelah Sekah dihiasi seperti tubuh manusia dengan busana selengkapnya (berwarna putih), dilakukan upacara Ngajum, yaitu mensthanakan roh pada Sekah tersebut, sekaligus ditempatkan di panggung upacara yang disebut Payajnan (tempat upacara yang khusus untuk itu terbuat dari batang pinag yang sudah dihaluskan).


4. Rahina Anggara Kliwon Julungwangi, tanggal 9 Juli 2019, Amet Toya Hening di Pura Bale Agung, adalah Rangkaian upacara selanjutnya dapat dilakukan pagi hari menjelang hari H berupa prosesi (mapeed) mengambil air jernih (toya hening) sebagai bahan utama air suci (Tirtha) bagi pandita atau dwijati yang akan memimpin upacara yajna Mamukur tersebut. Toya hening tersebut ditempatkan di bale Pamujaan (Pawedaan) di depan panggung Payajnan.
5. Mapinton atau Mapajati, adalah upacara ini berupa prosesi mapeed bagi puspasarira (roh yang diupacarakan) untuk mempermaklulmkan kepada para dewata yang bersthana pada pura-pura terdekat, utamanya pura untuk pemujaan leluhur (Kawitan).
6. Rahina Budha Umanis Julungwangi, tanggal 10 Juli 2019, Mapradaksina di Bale Piyadnyan, upacara ini sering disebut Mapurwadaksina, yaitu prosesi mapeed bagi puspasarira yang dipangku atau dijunjung oleh anak cucu keturunannya, memakai bhusana serba putih, dilakukan pada hari “H”, setelah upacara Mapinton, mengelilingi panggung Payajnan sebanyak 3 kali dari arah selatan ke arah timur mengikuti jejak lembu putih yang dituntun oleh gembalanya, di atas hamparan kain putih, dilakukan secara khusuk, diiringi gamelan gambang, saron atau slonding, gong gede, kidung kakawin, pembacaan parwa (Mahabharata) dan Putrupasaji (bisa oleh Walaka senior).
7. Rahina Budha Umanis Julungwangi, tanggal 10 Juli 2019, Puncak Upacara, bersamaan dengan upacara Mapradaksina atau Mapurwadaksina seseorang atau beberapa pandita ?Sulinggih yang memimpin pelaksanaan upacara juga melakukan upacara:
7.1. Melaspas bukur atau madya atau padma anglayang, alat untuk mengusung puspasarira yang telah disucikan (di-pralina) berupa meru (beratap bertumpang) dihias dengan hiasan kertas emas, kemudian ditempatkan di dekat panggung Payajnan.
7.2. Ngaliwet yaitu upacara menanak nasi sebagai saji tarpana (penek/pulung-pulung kecil) disebut panda, sebanyak 108 buah dipersembahkan kepada roh yang diupacarakan, disamping dipersembahkan kepada para dewata dan leluhur. Memasaknya dilakukan di depan Sanggar Tawang (depan panggung Paajnan) ipimpin oleh pandita. Beras yang dipersiapkan diatas nyiru berisi lukisan padma dan wijaksara (hurup suci) tertentu dituangi empehan (susu) dan madu (madhuparka).
7.3. Ngenyitin Damar Kurung yang ditempatkan di sebelah panggung Payajnyan atau di pintu masuk areal upacara.
7.4. Ngilenan Padudusan yaitu melaksanakan upacara panyucian dutujukan kepada Sanggar Tawang (Sanggar Surya) untuk memohon perkenan para dewa/dewata turun menyaksikan dan menganugrahkan keberhasilan Yajna tersebut di panggung Payajnan untuk menyucikan roh-roh yang diuparakan.
7.5. Muspa yaitu upacara persembahyangan yang didahului pemujaan kepada Sang Hyang Surya sebagai saksi agung alam semesta, kemudian kepada para dewata dan leluhur, serta sembah untuk pelepasan roh (Atma) dari ikatan Sukma Sarira yang diikuti oleh Sang Yajamana dan seluruh keluarga besarnya.
7.6. Pralina yaitu upacara tahap akhir dilakukan oleh pandita (Sulinggih) sebagai symbol pelepasan Atma dari ikatan Sukma Sarira.

7.7. Papendetan yaitu mempersembahkan tari-tarian, bahwa tapa pelepasan roh telah dilaksanakan, para leluhur sesaat lagi akan menuju alam sorga.
7.8. Ngeseng Puspalingga yaitu membakar puspasarira (wujud roh) di atas dulang dari tanah liat atau dulang perak, dengan sarana sepit, penguyegan, balai gading dan lain-lain, dengan api pembakaran yang diberikan oleh pandita pemimpin upacara. Upacara ini sangat baik dilakukan pada dinihari saat dunia dan segala isinya dalam suasana hening guna mengkondisikan pelepasan Atma dari keduniawian.
7.9. Sekah tunggal. Selesai upacara Ngeseng maka arang/abu dari puspasasrira dimasukkan de dalam degan (kelungah) kelapa gading dibungkus kain putih dan dihias dengan bunga harum selanjutnya aisthanakan di dalam bukur di atas padma anglayang atau dalam bokor perak diikuti dengan persembahyangan oleh keluarga.
8. Rahina Wrahaspati Paing Julungwangi, tanggal 11 Juli 2019, Nganyut Sekah ke Segara Bengiat. Upacara ini merupakan tahap terakhir dari upacara Mamukur, dapat dilakukan pagi hari selesai upacara Ngeseng Sekah disebut upacara Ngirim. Setelah tiba di tepi pantai, arang/abu yang ditempatkan didalam kelapa gading dikeluarkan dan ditebarkan di tepi pantai yang didahului dengan upacara persembahyangan sesajen kepada Sang Hyang Baruna, sebagai penguasa laut, sekaligus permohonan penyucian rethadap roh yang diupacarakan dan diakhiri dengan persembayhangan oleh keluarga.
9. Rahina Saniscara Wage Julungwangi, tanggal 13 Juli 2019, Dewapitra Praistha (ngelinggihan Dewapitra/Dewapitara), Upacara ini bukan merupakan bagian dari upacara Mamukur, melainkan merupakan upacara kelanjutan dari upacara Mamukur. Upacara ini sering disebut Ngalinggihang Dewa Hyang, merupakan tradisi lebih lanjut dari mendharma-kana leluhurnya pada pura kawitan masing-masing yang dirangkai pula dengan upacara Nyegara-Gunung atau Maajar-ajar, seperti ke Segara Goa Lawah, Pura Goa lawah, Pura Dalem Puri, Pura Penataran Besakih, Pura Pedharman, Pura Uluwatu, Pura Desa, Puseh dan Bale Agung, Pura Dalem Tungkub, Kahyangan Sakti.



Monday, June 10, 2019

I NYOMAN REMBUNG TELAH BERPULANG

Om svargantu Pitaro devah
Svargantu pitara ganam
Svargantu pitarah sarvaya Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat tempat di surga
Semoga semua atma yang suci mendapat tempat di surga
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om moksantu Pitaro devah
Moksantu pitara ganam
moksantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mencapai moksa
Semoga semua atma yang suci mencapai moksa
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om sunyantu Pitaro devah
Sunyantu pitara ganam
Sunyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat ketenangan
Semoga semua atma yang suci mendapat ketenangan
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om bagyantu Pitaro devah
Bagyantu pitara ganam
Bagyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat kebahagian sejati
Semoga semua atma yang suci mendapat kebahagiaan sejati
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om ksamantu Pitaro devah
Ksamantu pitara ganam
Ksamantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat pengampunan
Semoga semua atma yang suci dibebaskan segala dosanya
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Pada  hari Minggu Wara Kliwon, Pinanggal Kaping 7, Sasih Sadha, tanggal masehi 9 Juni 2019, kira-kira pukul 08.00 di Rumah Sakit Sanglah, telah berpulang I Nyoman Rembung, Warga Ibu Pasek Gelgel Sawangan.
Prosesi upacara atiwa-tiwa mulai dilaksanakan pada hari Senin tanggal 10 Juni 2019 diawali dengan Nyiramin Layon. Pada saat ini pula dilaksanakan upacara ngulapin Ni Wayan Rupik, yang akan melakukan upacara atiwa-tiwa setelah sebelumnya dilaksanakan upacara mekingsan di gni. Upacara Ngulapin di setra dipimpin oleh Ida Pedanda Nabe Oka Griya Timbul, sekaligus sebagai pemimpin upacara Tarpana Saji di rumah duka. Prosesi Upacara Ngajum Kajang ditangani oleh Ida Welaka, Ida Bagus Putu dan Ida Bagus Hardis (okan Ida Pedanda Nabe Oka Griya Timbul, adik Ida Pedanda Anyar Raka Griya Timbul).
Upacara Puncak Atiwa-tiwa Ni Wayan Rupik dan I Nyoman Rembung, dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 12 Juni 2019 yang bersamaan pula dengan Upacara Atiwa-tiwa I Made Lemet.
Demikianlah hal ikhwal prosesi Upacara Atiwa-tiwa Ni Wayan Rupik, I Nyoman Rembung dan I Made Lemet, yang mengambil hari yang sama.
Semoga pratisentana semua mendapatkan kebahagiaan dalam menjalankan swadharma...

Om Ksama Sampurna Ya Namah Swaha....

Monday, June 03, 2019

MAKNA KAJANG

Art taksu
Kajang berasal dari bahasa kawi yang artinya penutup, atau kerudung. Kajang adalah salah satu piranti upacara Pengabenan. Kajang ini terbuat dari selembar kain putih dengan panjang kurang lebih satu setengah meter (3 hasta). Dalam lembaran kain tersebut ditulisi dengan gambar-gambar tertentu dan aksara-aksara modre yang memiliki nilai-nilai magis sebagai simbol kelepasan. Dalam membuat kajang ini, tidak sembarang orang boleh membuatnya, biasanya orang yang berhak membuat adalah Sang Sulinggih (dwijati) , orang yang ditunjuk/mendapat anugrah dari Sulinggih untuk nyurat kajang, atau pemangku kawitan.
Cerita awal tentang kajang ini terdapat dalam Kakawin Bharatayudha, diceritakan dalam kakawin tersebut Dewi Hidimbi meminta sebuah kerudung kepada Dewi Drupadi untuk menutup diri dalam perjalanan yang panas untuk menemui nenek moyang (leluhur) agar tidak mendapat rintangan dalam perjalannya menuju Swarga. Dalam kisah ini tersirat nilai yang sangat mendalam tentang fungsi, dan makna penggunaan kajang dalam upacara ngaben.
Kajang ini sesungguhnya ada dua macam, yaitu :
Kajang Siwa
Kajang Siwa adalah kajang yang diperoleh dari Sang Sulinggih (Pedanda, Sri Empu, Dukuh, Bhagawan, dll) yang muput upacara bersangkutan.
Kajang Kawitan
Kajang Kawitan adalah kajang yang diperoleh dengan cara nunas kepada Bhatara Kawitan, di Pura Kawitan warga masing-masing. Kajang Kawitan ini akan berbeda antar setiap soroh/clan, seperti misalnya Kajang Pasek, Pande dll
Kajang merupakan simbol atman yang dilukiskan dengan aksara dan gambar-gambar suci, penggunaan kajang ini dalam upacara pengabenan adalah diletakkan diatas jenazah/petinya seperti selimut. Sebelum dapat digunakan sesuai dengan nilai spiritualnya harus dilaksanakan upacara Ngajum Kajang, mengenai upacara ini akan diulas khusus pada artikel selanjutnya. Setelah selesai ngajum kajang barulah kajang ini dinyatakan telah memiliki nilai spiritual atau daya magis, pada saat pemberangkatan jenazah menuju kuburan (Setra/Patunon) kajang ini diletakkan di atas jenazah yang diusung menggunakan wadah/bade, dan nantinya akan dibakar bersama jenazah.
Kajang memiliki nilai spiritual sebagai tanda restu dari sanak keluarga, Sang Sulinggih, dan Bhatara Kawitan terhadap kepergian Sang Lina (mati) untuk manunggal kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Identitas persaudaran di alam sana tidak ditentukan lagi oleh kelahiran dari ibu yang sama, dadia yang sama, melainkan dari kajang kawitan tersebut.
Identitas kajang kawitan yang mempersatukan kita nanti dengan saudara-saudara kita.
Selain itu, kajang kawitan juga menuntun supaya orang kembali ke hakikatnya.
Sekecil apapun upacara pengabenan, kajang menjadi sebuah keharusan karena merupakan sebuah identitas.
#art_taksu
IG @art_taksu

NI WAYAN RUPIK TELAH BERPULANG

Sekian lama sudah beliau menyandang status single parent...
Beliau membesarkan anak-anaknya sendiri tanpa suami (karena sudah duluan pergi meninggalkannya selamanya..)
Setelah anak-anaknya dewasa dan bertumbuh kembang menurunkan cucu dan cicit, akhirnya beliau tergolek lemas di tempat tidur untuk sekian hari lamanya, mungkin sampai hitungan bulan....
Dengan sabar dan telaten semua anak-anaknya merawat beliau, sampai akhirnya beliau tak kuat lagi melawan rapuhnya tubuh beliau....
Setelah sekian lama tergolek lemas di tempat tidur, akhirnya beliau berpulang pada hari Rabu Wage, wara Menail, 20 Maret 2019, bertepatan dengan hari purnama, kurang lebih pukul 01.00 wita.
Oleh karena diselenggarakannya Upacara Panca Wali Krama di besakir yang baru berakhir pada tanggal 12 April 2019, maka sebagai rasa bhakti para pratisentananya, beliau hanya dibuatkan upacara mekingsan di GNI pada hari Sabtu Paing, wara Menail tanggal 23 Maret 2019.
Sebagai kelanjutan upacara atiwa-tiwa akan dirembugkan kemudian setelah Upacara Panca Wali Krama, sebelum rencana Penyekahan Bersama (Masa) yang akan dilaksanakan oleh Warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan.

Om svargantu Pitaro devah
Svargantu pitara ganam
Svargantu pitarah sarvaya Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat tempat di surga
Semoga semua atma yang suci mendapat tempat di surga
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om moksantu Pitaro devah
Moksantu pitara ganam
moksantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mencapai moksa
Semoga semua atma yang suci mencapai moksa
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om sunyantu Pitaro devah
Sunyantu pitara ganam
Sunyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat ketenangan
Semoga semua atma yang suci mendapat ketenangan
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om bagyantu Pitaro devah
Bagyantu pitara ganam
Bagyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat kebahagian sejati
Semoga semua atma yang suci mendapat kebahagiaan sejati
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om ksamantu Pitaro devah
Ksamantu pitara ganam
Ksamantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat pengampunan
Semoga semua atma yang suci dibebaskan segala dosanya
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Thursday, March 21, 2019

I MADE LEMET TELAH BERPULANG


I Made Lemet telah berpulang dan oleh karena saat kematiannya sedang diselenggarakannya Upacara Panca Wali Krama di Besakih yang baru berakhir pada tanggal 12 April 2019, maka sebagai rasa bhakti para pratisentananya, beliau hanya dibuatkan upacara mekingsan di GNI. Sebagai kelanjutan upacara atiwa-tiwa dilaksanakan pada hari Rabu 12 Juni 2019.

Om svargantu Pitaro devah
Svargantu pitara ganam
Svargantu pitarah sarvaya Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat tempat di surga
Semoga semua atma yang suci mendapat tempat di surga
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om moksantu Pitaro devah
Moksantu pitara ganam
moksantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mencapai moksa
Semoga semua atma yang suci mencapai moksa
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om sunyantu Pitaro devah
Sunyantu pitara ganam
Sunyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat ketenangan
Semoga semua atma yang suci mendapat ketenangan
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om bagyantu Pitaro devah
Bagyantu pitara ganam
Bagyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat kebahagian sejati
Semoga semua atma yang suci mendapat kebahagiaan sejati
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om ksamantu Pitaro devah
Ksamantu pitara ganam
Ksamantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat pengampunan
Semoga semua atma yang suci dibebaskan segala dosanya
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Sunday, January 20, 2019

RAJA PISUNA

Kisaran tanggal 8 Desember 2018 tersebar surat kaleng (surat tanpa identitas pengirim), yang tertuju kepada Sadeg Ida Bhetara Pura Pasek Gelgel Sawangan yaitu I Wayan Suta. Beliau adalah Sadeg Ida Bhetara/Tapakan/Mangku Kulit yang disucikan di Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan dan di Pura Pengastulan sebagai korban pencemaran nama baik berdasarkan isi surat kaleng tersebut.

Entah siapa sejatinya yang berbuat hal tersebut, telah sempat dihembuskan dalam sebuah rapat di Pura Ibu Pasek Gelgel saat parum mengagendakan perencanaan Penyekahan Bersama, namu dari pihak keluarga korban menangguhkan untuk membicarankan kasus tersebut sampai selesainya Upacara Pedudusan saat setelah selesai Upacara Penyekahan perkiraan bulan Juli/Agustus 2019.

Belum sampai pada batas waktu yang telah disampaikan oleh keluarga korban saat rapat sebelumnya, akhirnya ada pelaksanaan rapat atas prakarsa pengurus untuk menindaklanjuti kasus yang menimpa Sadeg Ida Bhetara tersebut. Dari beberapa analisa, alibi dan kesimpulan-kesimpulan warga akhirnya keluarga korban (I Wayan Mendra) ingin minta "penedas keneh", dan disambut sorakan warga menyetujui dengan mengusulkan agar dilaksanakan "Medewa Saksi" tetapi pihak pengurus tidak berani mengambil tindakan tegas untuk menyetujui hal tersebut, justru tidak menyetujui usulan warga dengan alasan tidak berani dan malu terhadap warga lain.

Tidak berselang lama di bulan Januari 2019 telah dilaksanakan paruman kecil Unen dan Anggarkasih, mengkhusus membicarakan kasus tersebut, karena Sadeg Ida Bhetara punya kewajiban juga untuk ngayah di Pura Pengastulan. Dari agenda rapat tersebut maka tercetuslah nama yang dipertanyakan oleh keluarga korban (I Wayan Mendra) kepada paruman, tentang keberadaan Jro Mangku Wayan Arsa, yang mana dulunya beliau yang sering di-ulemin sebelum Sadeg Ida Bhetara/Mangku Kulit I Wayan Suta melaksanakan kewajiban tersebut.

Ditanggapinyalah pertanyaan tersebut oleh Jero Mangku Ketut Regig, bahwa ketika Kak Leri tidak bisa melakukan kewajibannya ngayah karena sakit, maka disuruhlah Jro Mangku Ketut Regig untuk ngulemin Jro Mangku Wayan Arsa sebagai pengganti dirinya.

Tidak berselang lama dari pelaksanaan paruman unen tersebut, pada hari Minggu 13 Januari 2019, Jro Mangku Wayan Arsa mendapat laporan dari 2 orang, saat pagi dan sore, yang menyatakan bahwa Jro Mangku Wayan Arsa yang membuat surat kaleng tersebut.

Mendengar permasalahan tersebut Keluarga Bongantik pada hari Rabu 16 Januari 2019 telah mengambil sikap untuk meminta klarifikasi Pengurus Dadia dan bersikap untuk selalu mendukung Jro Mangku Wayan Arsa dalam mengambil langkah apapun demi terselesaikannya "RAJA PISUNA" ini. Dengan sikap Keluarga Bongantik seperti itu maka pada hari Sabtu 19 Januari 2019, telah diadakan rapat keluarga Bongantik kembali untuk mendengarkan penjelasan Jro Mangku Wayan Arsa atas apa yang telah menimpa dirinya.
Dari hasil rapat tersebut telah disepakati beberapa hal penting yaitu :
1. Menerima dan mempercayai penuh bahwa apa yang dituduhkan kepada Jro Mangku Arsa adalah tidak     benar.
2. Mendukung Jro Mangku Wayan Arsa untuk melakukan Sumpah Cor/Me-Dewa Saksi atas apa yang telah dituduhkan.
3. Kalau memungkinkan akan menempuh jalur hukum untuk meng-clear-kan permasalahan ini.
Demikian untuk sementara penyelesaian atas RAJA PISUNA yang menimpa Jro Mangku Wayan Arsa dari pihak keluarga besar, semoga Hyang Kawitan asung kertha wara nugraha mapaica pemargi sane becik lan rahayu.

Menindaklanjuti RAJA PISUNA ini, keluarga BONGANTIK meminta kepada Pengurus Dadia Pasek Gelgel Sawangan untuk mengadakan pertemuan antara keluarga Bongantik dengan Tokoh warga, Pengurus dan Jro Mangku. Pada hari Minggu 27 Januari 2019, telah diterima usalan oleh Pengurus Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan, untuk bertemu dan meminta kepada pengurus untuk mengklarifikasi permasalah Raja Pisuna ini. Rapat diikuti oleh Pengurus, Jro Mangku di Lingkungan Pura Dadia, Sadeg Ida Bhetara dan Tokoh Warga. 
Pengurus membuka rapat dan memaparkan apa yang telah dilaporkan oleh Jro Mangku Wayan Arsa, mengenai hal yang menimpa dirinya berupa tuduhan membuat surat kaleng yang menimpa Jro Mangku Wayan Suta. Dalam rapat tersebut tidak seperti biasanya, dimana membiarkan Jro Mangku Wayan Arsa duduk berbaur dengan pemilet rapat tidak diminta duduk disamping pengurus, bagaimana biasanya. Kemudian pengurus memberi kesempatan kepada Jro Mangku Wayan Arsa untuk memaparkan apa yang menjadi keluhan mengenai tuduhan yang menimpa dirinya. Dalam memaparkan kronologi tuduhan dan siapa yang datang memberi informasi tuduhan tersebut kepada peserta rapat. Dalam pemaparan tersebut Jro Mangku Wayan Arsa mengaku tidak ada membuat Surat Kaleng tersebut, sampai bersedia melakukan Sumpah Cor/Dewa Saksi, untuk meyakinkan warga dan peserta rapat bahwa memang benar dirinya tidak ada membuat surat kaleng tersebut. Banyak peserta meminta untuk membongkar siapa yang melapor kepada Jro Mangku Wayan Arsa tersebut, termasuk pengurus juga menginginkan untuk dibongkar. Tetapi dari pihak Jro Mangku Wayan Arsa bersikukuh untuk melindungi nama yang melapor tersebut, begitu juga semua pihak keluarga Bongantik teguh dan tetap menjaga kerahasiaan siapa nama orang yang melapor tersebut.
Dari simpulan rapat diperoleh satu keputusan yang menjadi pokok permintaan pihak keluarga Bongantik, yaitu :
"Pengurus berkomitmen untuk menyampaikan kepada warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan pada tanggal 13 Februari 2019, bertepatan dengan Buda Wage Wara Merakih, dalam acara Rapat Penutupan Buku 6 Bulanan"
Belum selesai acara rapat, I Nyoman Mesten kerauhan Ida Bhetara Dalem Ped (sesuai ucapannya sendiri) yang menyebut bahwa kita harus tetap bersatu jangan sampai terpecah belah oleh segala isu yang ada, diikuti oleh I Made Rodat kerauhan Ida Bhetara Dalem Tojan menyebutkan bahwa yang menyebabkan Jro Mangku Wayan Arsa kepetengan (pikirannya kalut) karena tidak pernah ingat dengan Dalem Tojan, padahal yang duluan kepetengan yaitu Jro Mangku Wayan Suta. Apakah Jro Mangku Wayan Suta mengalami kepetengan akibat beliau tidak pernah tangkil/eling kepada Dalem Tojan ?? ENTAHLAH.... Tetapi hal ini harus dijadikan sebagai bahan introspeksi diri, khususnya bagi keluarga Bongantik. Mengenai kebenarannya kita akan buktikan nanti. 
Dalam kesepakatan keluarga Bongantik sudah melaksanakan Dewa Saksi di Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan pada hari Selasa, 12 Februari 2019 Pukul 18.00 Wita, serangkaian dengan Pujawali di Kemulan Jumah Wayah dan Paruman Ageng Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan.
Dalam proses Medewa Saksi, sempat terjadi debat dengan Prajuru Dadia akibat terjadi perbedaan dalam memahami  proses medewa saksi. Namun akhirnya Prajuru dan Para Mangku setuju dan mau sebagai saksi dari pelaksanaan proses tersebut.
Pada hari Rabu Wage, Wuku Merakih, tanggal 13 Pebruari 2019, dilaksanakan Pujawali Ida Bhetara ring Kemulan Jumah Wayah. Dalam pelaksanaan upacara ini, Ida Bhetara tedun ring pedasaran Jro Mangku Arsa, mengenai hal ikhwal keberadaan Semeton Pasek Gelgel Sawangan serta hal-hal yang menyebabkan terjadinya wicara dan surat kaleng tersebut. Namun demikian, Ida Bhetara Lingsir ring Lempuyang Luhur memberikan batas waktu kisaran A Bulan Pitung Dina, pelaku akan segera teridentifikasi melalui ciri-ciri tertentu, yang bisa dirasakan dan dilihat oleh kita semua.
Ada hal yang menurut kami sebagai sesuatu yang sulit terpikirkan mengenai Ida Bhetara nyawis pedasaran, sugra pakulun Ida Bhetara Suniantara, dengan piteket agar kami sekeluarga dapat ngemit, sehingga selalu dalam lindungan-Nya.

Setelah berselang beberapa bulan, tepatnya hari Selasa Umanis Wuku Kuningan, tanggal 25 Februari 2020, ketika dilaksanakan Piodalan Ida Bhetara Susunan diadakanlah rapat kecil Prajuru bersama Para Pemangku saat setelah selesainya pelaksanaan Piodalan.
Pokok pembahasan rapat diantaranya adalah :
1. Ngaturang penyepuhan kepada Jro Mangku Wayan Suta dan Jro Mangku Wayan Arsa.
2. Perencanaan nyapsap pedasaran baru ( I Wayan Nodya dan Ni Wayan Suadi)
3. Ngaturang Pakeling di Pura Geger dan Pura Gunung Tedung rangkaian pelaksanaan Upacara Penyepuhan pada point 1.
Pada paruman ini, yang kebetulan Jro Mangku Wayan Arsa ikut serta, tetapi belum memberikan kesanggupan untuk melaksanakan Upacara Nyepuh yang diprogramkan oleh Prajuru Dadia, dengan alasan akan Rapat Keluarga Bongantik dahulu, karna permasalahan ini ada pada ranah Keluarga Besar Bongantik.

Berkenaan dengan hal tersebut, pada hari Kamis Pon, Wuku Kuningan, tanggal 27 Februari 2020, kembali Jro Mangku Wayan Arsa meminta masukan pada Rapat Keluarga Besar Bongantik dalam hal memutuskan untuk MENERIMA atau MENOLAK program Prajuru Dadia untuk melaksanakan Upacara Nyepuh khususnya kepada Jro Mangku Wayan Arsa.
Pada Rapat Keluarga Besar Bongantik ini disepakati beberapa hal sebagai berikut:
1. Menunggu panggilan dari Prajuru Dadia, untuk meminta kesanggupan Jro Mangku Wayan Arsa.
2. Menanyakan tentang dasar dilaksanakannya Upacara Nyepuh kepada Jro Mangku Wayan Arsa.

Setelah menunggu dua hari akhirnya pada hari Sabtu Kliwon, Wuku Kuningan (Tumpek Kuningan), tanggal 29 Februari 2020, Jro Mangku Wayan Arsa ditanya kembali tentang kesanggupannya untuk ikut melaksanakan Upacara Penyepuhan. Akhirnya pada saat itu beberapa perwakilan Keluarga Besar Bongantik ( I Wayan Suwendra, I Wayan Surata, I Nyoman Tembles, I Ketut Suwita, I Wayan Pundung, I Made Ugi, I Made Sumarta, I Nengah Suastra, Jro Mangku Wayan Arsa dan I Ketut Pastika) bertemu dengan Prajuru Dadia ( I Wayan Kendra, I Wayan Madra dan I Wayan Gunawan) untuk menanyakan dasar-dasar pelaksanaan Upacara Nyepuh yang ditujukan kepada Jro Mangku Wayan Arsa. Dari sekian pertanyaan dan penyataan dalam perdebatan tersebut, akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa:
1. Dasar pelaksanaan Upacara Nyepuh adalah untuk NGERAHAYUANG segala tindak tanduk yang akan dilaksanakan di Pura Ibu Pasek Gegel Sawangan bukan karena KECUNTAKAN.
2. Mengenai Pemangku Penganteb dan Upakara menjadi tanggung jawab Prajuru Dadia sebagai perwakilan Warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan.
3. Walaupun sesungguhnya menjadi tanggung jawab Prajuru Dadia, Biaya Upacara disanggupi oleh Jro Mangku Wayan Arsa.

Belum ada beberapa hari, pada hari Minggu Umanis, Wuku Langkir, tanggal 1 Maret 2020, akhirnya keputusan dilanggar oleh Prajuru Dadia khususnya pada point 2. yang mana seharusnya Pemangku Pengateb menjadi tanggung jawab Prajuru Dadia tetapi dibebankan kepada Jro Mangku Wayan Arsa untuk Nyedek Jro Mangku Ketut Kanca ( Pemangku Dalem Dasar Pasek Gelgel Sawangan).
Oleh karena hal tersebut maka Pada hari itu juga diadakan rembug kecil Keluarga Besar Bongantik untuk membahas tentang Prajuru Dadia yang mangkir terhadap isi keputusan. Dalam rembug ini dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Karena sudah terlanjur nyedek Jro Mangku Ketut Kanca, maka Upacara Nyepuh tetap dilaksanakan pada hari Rabu Wage, Wuku Langkir, tanggal 4 Maret 2020, kurang lebih jam 8.00 pagi.
2. Jro Mangku Wayan Arsa tetap memberikan pelayanan kepada Warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan yang sesuai kapasitasnya.
3. Keluarga Besar Bongantik dan Jro Mangku Wayan Arsa, selalu waspada dan melakukan intelijensi dan berusaha untuk mengkanter/meluruskan rumor-rumor negatif yang menyudutkan Jro Mangku Wayan Arsa.
4. Membuat program untuk ngembalikan sesana khususnya dalam hal tangkil ke Pura Dalem Tojan, setelah menemukan jalan yang baik saat pelaksanaan Upacara Nyepuh dan Pujawali di Pura Kemulan Jumah Gede.

Demikianlah beberapa suratan tentang pejalanan Kasus Raja Pisuna yang menimpa Jro Mangku Wayan Arsa.

Harapan : Semoga Ida Hyang Bethara Kawitan memberikan jalan yang terbaik dan membimbing damuhnya ke jalan yang terbaik.

Sunday, July 15, 2018

PASILAKRAMA ACI BULU GELES


oleh Nyoman Budi Arma
Upacara adat Pasilakrama Aci Bulu Geles diadakan di Desa Paktaman Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Kabulaten Buleleng, dan Desa Bulian merupakan dalah satu desa tua atau ancient village di Bali. Upacara ini di mulai sejak pagi, ratusan krama nampak berkumpul dan memadati areal Pura Dalem Purwa. Krama adat sedang melakukan persiapan untuk mengikuti prosesi upacara sakral disebut Pasilakrama Aci Bulu Geles, sebuah tradisi turun-temurun yang wajib dijalani oleh krama Desa Pakraman Bulian khususnya bagi kaum purusa (laki-laki) yang telah menikah. Mereka sangat percaya jika siapapun krama yang belum mampu melaksanakan ritual Aci Bulu Geles ada sebuah Bisama Tata Kertha Desa diyakini lambat laun akan berimbas buruk bagi kehidupan mereka.
Kepercayaan krama sangat kental dan kuat terhadap tradisi yang sangat disakralkan oleh krama desa setempat. Konon, jika tidak melaksanakan ritual sakral tersebut krama akan mengalami sebuah musibah hingga diserang wabah penyakit. Selain disakralkan prosesi ritual Pasilakrama Aci Bulu Geles. Mereka yang akan mengikuti ritual Aci Bulu Geles dinyatakan wajib mempersembahkan hewan seperti godel (anak sapi) sebagai sarana utama dan dilengkapi dengan sarana lainnya berupa babi guling.
Uniknya, sekalipun pasangan suami istri (pasutri) sudah meninggal dunia dan menjadi Dewa Hyang, bukan berarti mereka luput untuk menjalani prosesi ritual Aci Bulu Geles. Mereka tetap memiliki kewajiban untuk menjalani prosesi ritual tersebut. Biasanya untuk para leluhur yang semasa hidupnya belum menjalani tradisi ini, mereka disimbolkan dalam bentuk sebuah adegan (kayu nisan bertulis). Ketika digelarnya prosesi itu, simbol adegan tersebut dibawa oleh putra pewarisnya itu sendiri.
Berbicara soal sarana utama persembahan berupa hewan godel dan pelengkap hewan babi, keluarga yang akan melaksanakan ritual Aci Bulu Geles harus menyediakan tiga ekor godel serta tiga ekor hewan babi dengan jenis kelamin berbeda. Bahkan, hewan persembahan tersebut memiliki ciri khas tersendiri.
Kalau hewan babi harus cundang panyut dan untuk godel tidak boleh sembur. Semua hewan persembahan itu, bulu atau warnanya harus sama dari kepala hingga sampai ke bagian ekornya.
Prosesi upacara adat ini dilangsungkan di dua tempat berbeda, yakni di Pura Dalem Purwa dan Pura Pengaturan.
Hewan persembahan godel jantan nampak diikat pada pohon cem-cem di jaba Pura Dalem Purwa. Selang beberapa menit kemudian, beberapa para Pemangku Ulun Desa bersama prajuru desa setempat mengadakan ritual persembahyangan pengerebuan ( dibersihkan dengan air) areal jaba Pura tersebut.
Ritual Aci Bulu Geles disebutkan memiliki nilai kesakralan yang sangat tinggi.
Prosesi bakti pengikut itu pelaksanaannya dipimpin oleh Jro Pewayah Kiwa dan Tengen dibantu oleh Jero Bau Kiwa dan Tengen yang ada di Desa Pakraman Bulian.
Kewajiban bagi seorang pria sebagai purusa yang berasal dari Bulian, bahkan bisa dikatakan mutlak dijalani oleh pasutri yang menikah. Ini murni adalah kewajiban dari pihak purusa (laki-laki), ketika mereka masih ngayah atau hidup sebagai bagian anggota krama desa. Ritual Aci Bulu Geles juga berlaku bagi krama yang sudah meninggal. Untuk laki-laki yang menikah dua kali atau lebih, ritualnya sama. Hanya dilakukan sekali, cukup dengan istri pertama saja,. Ritual Aci Bulu Geles di Pura Pengaturan, hewan godel dan hewan babi yang digunakan sebagai persembahan masing-masing memakai dua ekor hewan berkelamin betina. Proosesinya pun hampir sama, kedua hewan disembelih tepat di tengah areal Pura Pengaturan. Usai disembelih, kedua godel tersebut dipotong dijadikan bangun urip. Kemudian dipasupati dengan banten pengastawa. Ritualnya dipimpin juga oleh para Pemangku Ulun Desa. Prosesi pun kemudian berlanjut pada proses nunas. Lawar dihidangkan dan disantap bersama-sama.
Sebuah atraksi seru usai prosesi itu tuntas dilaksanakan, biasanya secara spontanitas krama akan bersorak sorai sebagai tanda luapan rasa kebahagiaan dan kegembiraan karena telah mampu menuntaskan sebuah kewajiban sebagai krama Desa Pakraman Bulian.
Selama dilangsungkannya ritual tersebut nyaris tak ada satu pun iring-iringan bunyi gamelan dan juga tarian yang dipentaskan seperti tradisi umat Hindu di Bali pada umumnya. Ritual ini berjalan sunyi, tetapi dijalani secara khusuk dan khidmat oleh krama desa setempat.
Ritual Pasilakrama Aci Bulu Geles tidak tersurat dalam sastra ataupun lontar. Sudah merupakan sebuah tradisi turun temurun dan dijalani sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu.
Desa Bulian sampai saat ini memiliki keyakinan yang sangat kental dan melekat terhadap warisan leluhur ritual persembahan Silakrama Aci Bulu Geles.. Istilahnya, ritual Silakrama Aci Bulu Geles merupakan bentuk bhakti Rna kepada para leluhur.




"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."

OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.