411. “Dengan diamnya antah-karana lewat sam√£dhi[1], nikmatilah keagungan tanpa batas dari Sang Diri-jati. Dengan penuh semangat hancurkanlah belenggu bau harum-busuk dari kelahiran dan kematian; jadilah ia yang telah mencapai tujuan-akhir dari kelahiran berjasad manusia ini!

412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”

Wednesday, November 15, 2017

Men Lidug telah berpulang

Beliau adalah saudara ibu saya yaitu Men Lidug telah berpulang pada hari Buda (Rabu) Wage Wara Langkir, tanggal 15 Nopember 2017 dengan tenang menuju alam nirwana.

Upacara atiwa-tiwa dilaksanakan pada hari Redite (Minggu) Pon Wara Medangsia, tanggal 19 Nopember 2017.

Monday, November 13, 2017

SEJARAH DESA JIMBARAN


BALI INFO
(dikutip dari berbagai sumber // forum oleh manik dewata )
Foto: Area purbakala peninggalan Sri batu Putih (Dalem Putih Jimbaran) di Pura Sarin Bawana, terletak di Jalan Karang Mas, Dusun Lalang Jajang, Bukit, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung
Penyebaran penduduk Badung Selatan, khususnya Jimbaran, dimulai sejak zaman Pemerintahan Batahanar sekitar tahun 1325 Masehi. Rajanya bernama Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Mahapatih kerajaan itu dikenal luas bernama Kebo Iwa. Bukti sejarah ini tergurat dalam Prasasti Dalem Putih Jimbaran, Purana Pura Luhur Pucak Kembar, Piagem Dukuh Gamongan, dan Prasasti Pura Maospahit.
Sri Astasura Ratna Bumi Banten mengandung arti raja yang membawahi delapan wilayah pemerintahan di Bali. Wilayahnya ini setingkat kabupaten, yaitu Jimbaran, Badung, Mengwi, Tabanan, Buleleng, Bangli, Karangasem, dan Klungkung
JIMBARAN berasal dari kata ‘jimbarwana’. Artinya, hutan luas. Wilayahnya meliputi bukit selatan Pulau Bali.
Zaman dulu di Jimbaran dikisahkan ada seorang pertapa bernama Sri Batu Putih. Pertapa ini bergelar Dalem Putih Jimbaran. Sri Batu Putih merupakan kakak kandung Sri Batu Ireng. Gelarnya Astasura Ratna Bumi Banten saat dinobatkan menjadi raja. Dalam babad, Sri Batu Putih dikenal dengan nama Dalem Bedaulu atau Dalem Selem.
Dalem Selem sebenarnya bersaudara kembar dengan Dalem Putih. Namun, kehidupan saudara kembar ini dipisah setelah lahir. Singkat kata, mereka berdua pun otomatis tak saling kenal rupa ketika dewasa. Saat Dalem Selem menjadi raja, dirinya baru sadar memunyai seorang kakak kandung. Saudara kembarnya ini berdiam konon di wilayah Jimbaran. Rindu bertemu kakaknya tak terbendung. Dalem Selem coba menelusuri jejak kediaman sang kakak. Karena tidak tahu rupa, dalam proses pertemuan, terjadi kesalahpahaman. Saudara kembar ini bersitegang. Ujungnya keduanya berkelahi sengit. Perkelahian dimulai dari Pura Sarin Bwana. Tempat ini bekas pertapaan Dalem Putih menuju Batu Maguwung, Sekang, Muaya, Kali, Tambak, Unggan-Unggan, Gaing-Gaingan daerah Pura Gaing Mas, dan Pura Ulun Swi yang jarak tempuhnya sekitar lima kilometer.
Awalnya terjadi perang Dalem Putih dan Dalem Selem. Rakyat Jimbaran sempat ikut membantu Dalem Putih. Perkelahian sengit tersebut tak kunjung berakhir. Gerak perkelahian ini bahkan sampai ke wilayah Gaing-Gaingan (Pura Gaing Mas). Di sinilah dalem Putih dan Dalem Selem kelelahan. Tenaga kedua saudara kembar ini terkuras dan jatuh terduduk lemas di tanah.
“Hai kamu raksasa, siapa kamu, dari mana, sakti tak tertandingi, tak bisa dikalahkan. Apa maksud kamu datang ke sini, kasih tahu aku,” tanya Sri Batu Putih. Dalem Selem menjawab, “Om, om, om, sang mahasakti. Aku bergelar Sri Batu Ireng dari Badhahulu, datang kemari hendak bertemu kakak ku bernama Sri Batu Putih.” “Om, om, om, adik ku. Aku Sri Batu Putih,” jelas Sri Batu Putih.
Seketika itu, kedua kakak beradik ini kaget, seraya kontan berpelukan dan bergulingan di tanah. Rasa bahagia itu disambut seluruh pasukan dan rakyat hingga depan Pasar Jimbaran.
Sri Batu Putih dan Dalem Selem lalu sepakat kelak di tempat mereka berduel dibangun sebuah pura bernama Ulun Swi, apan pahulunan maswi lawan wang sanak. Ini tonggak pertemuan bersejarah dua saudara kandung.
Kini bekas lokasi perang tersebut berdiri pura sekaligus menjadi nama dusun di Jimbaran. Arca purbakala peninggalan Sri Batu Putih alias Dalem Putih Jimbaran tersimpan di Pura Sarin Buwana, Jalan Karang Mas, Dusun Lalang Jajang, Bukit Jimbaran, Kuta Selatan.

Monday, August 14, 2017

SANGGAH KEMULAN/MERAJAN (Selayang Pandang)



Om Swastyastu
Tulisan sejenis yang dimuat dibergai media massa atau literature lainnya sudah cukup banyak, namun saya tertarik kembali mengingatkan kepada para pembaca yang mungkin sudah mumpuni dalam pemahamannya dan aplikasinya dalam urusan Sanggah Kamulan.
Belakangan di kalangan generasi muda tidak sedikit yang mulai berpikir, bahkan telah melaksanakan bahwa sanggah Kamulan telah diganti dengan satu pelinggih saja yaitu Padma Sari dengan berbagai alasan, persoalan tanah, biaya, efesiensi dan masih ada seribu alasan untuk membenarkan tindakannya.
Bagi para pembaca yang berniat mengganti (Prelina) Sanggah Kamulan, sebelum melaksanakan niatnya, semoga artikel sederhana ini bisa menjadi bahan bandingan.
Umat Hindu pada prinsipnya memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dan memuja Roh (Dewa Pitara). Disamping memuja Tuhan, Weda juga mengajarkan dan membenarkan memuja Roh Suci leluhur.
Dalam Kekawin Ramayana dinyatakan bahwa:
"Amat utama Sang DasarathaBeliau pandai tentang weda dan bakti pada Dewa (Tuhan)Tidak pernah lupa memuja leluhurAmat kasih beliau dengan seluruh keluarganya".
Jika kita kaji petikan kekawin di atas, dapat kita pahami bahwa: agar dapat dirasakan keber “ada” an dan ke Mahakuasaan Tuhan yang paling baik dilakukan di tempat pemujaan. Mengapa...?? Lebih jauh dikatakan bahwa, ibarat mengambil susu kambing, meskipun semua tubuh kambing sebagai penyebab timbulnya susu kambing, tetapi air susunya dapat diambil dari puting susunya. Demikian pula halnya dengan upaya manusia untuk dapat merasakan keber “ada” an Tuhan Hyang Maha Esa dan Roh Suci leluhur tidaklah dapat dilakukan secara sembarangan, namun hendaknya dilakukan di tempat pemujaan.
Tempat pemujaan bila dikelompokkan berdasarkan fungsinya dapat dibagi menjadi dua yaitu, tempat pemujaan Tuhan (Dewa Pratistha) dan tempat pemujaan Roh Suci leluhur (Atma Pratistha).
Tempat pemujaan Roh Suci leluhur disebut Pemerajan. Bentuk Pelinggih di Pemerajan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu, Pelinggih Inti dan Pelinggih pelengkap. Pelinggih inti disebut Kamulan dan pelinggih pelengkap terdiri dari pelinggih Taksu, Anglurah, Padma Sari, bahkan terkadang terdapat pelinggih untuk Dewa Hyang.
Dalam Lontar Ciwagama disebutkan bahwa, “… Bhagawan Manohari, Ciwapaksa sira, kindwa kinon de Cri Gondarapati, umaryanang Sadkahyangan, manista Madya motama, mamarista swadarmaning wang kabeh. Lyan Swadadyaning wang saduluking wang, kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Wang setengah bhaga rwang puluhing saduluk, sanggarpratiwi wangumen ika, kamulan panunggalanya sowing”.
Artinya:
Begawan Manohari pengikut Ciwa beliau disuruh oleh Cri Gondarapati untuk membangun Sad Khayangan kecil, sedang maupun besar. Yang merupakan kewajiban semua orang. Lain kewajiban sekelompok orang untuk empat puluh keluarga harus membangun panti. Adapun setengah bagian dari itu yakni 20 keluarga, harus membangun Ibu. Kecilnya 10 keluarga Pratiwi harus dibangun, dan Kemulan satu-satunya tempat pemujaan yang harus dibangun pada masing-masing pekarangan keluarga.
Dari kutipan tersebut di atas jelas bahwa setiap orang yang telah berkeluarga (grehasta) yang telah menempati pekarangan perumahan tersendiri wajib membangun Sanggah Kemulan.
Hal ini juga diperkuat dengan hasil keputusan pada pertemuan segitiga di Bedahulu antara 3 kelompok Agama sebagai wakil dari ke 6 sekte yang ada di Bali maka di dalam lingkungan masyarakat yang lebih kecil (keluarga) diharuskan untuk membangun Sanggah/Merajan, di Pekarangan masing-masing berupa pelinggih Rong Tiga yang biasa sidebut Sanggah Kamulan.
Sebagai umat yang ingin mendekatkan diri pada Sang Pencipta, maka langkah awal bagi setiap orang yang telah memasuki Grehasta adalah dengan mendirikan Sanggah Kamulan.
Sanggah Kemulan berasal dari kata Sanggah dan Kamulan. Sanggah adalah perubahan dari kata “Sanggar” artinya tempat pemujaan, Kamulan berasal dari kata “Mula” yang berarti akar, umbi, dasar, permulaan, asal. Jadi yang dimaksud dengan Sanggah Kemulan adalah tempat pemujaan asal atau sumber (Hyang Kamulan atau Hyang Kamimitan). Jadi yang dipuja di Sanggah Kamulan adalah Hyang Kamulan atau Hyang Kawitan yang merupakan sumber atau asal dari mana manisia itu ada.
Kamulan atau Kawitan adalah merupakan sumber atau asal manusia itu sendiri. Manusia dalam bahasa Bali halus disebut “Jatma” yang berarti Roh yang lahir, dengan demikian Roh/Atmalah yang menjadi sumber adanya manusia.
Dalam Lontar Usana Dewa disebutkan bahwa: "Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan tengen Bapa ngaran Sang Paratma, ring Kamulan kiwa Ibu ngaran Sang Ciwatma, ring Kamulan tengah ngaran raganya, yaitu Brahma, dadi meme, bapa meraga Sang Hyang Tuduh”.
Artinya:
Pada Sanggah Kemulan Beliau bergelar Sang Hyang Atma, pada ruang Kemulan kanan Ayah namanya Sang Hyang Paratma. Pada Kemulan kiri Ibu, disebut Ciwatma, pada Kamulan ruang tengah diriNya itu Brahma, menjadi purusa-pradana, berwujud Sang Hyang Tuduh.
Hal senada juga termuat pada lontar Tutur Gong Wesi, “… ngaran ira Sang Atma ring Kamulan tengah bapanta, ngaran Sang Paratma, ring Kamulan kiwa Ibunta, ngaran Sang Ciwatma, ring Kamulan madya raganta, Atma dadi meme bapa ragante, mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal, nunggalang raga …”
Artinya:
Nama Beliau (Tuhan) Sang Atma, pada ruang Kamulan kanan bapakmu, yaitu Sang Hyang Paratma, pada ruang Kamulan kiri Ibumu yaitu Sang Ciwatma, pada ruang Kamulan tengah adalah kamu, yaitu atma menjadi ayah ibu dan kamu menyatu menjadi Sang Hyang Tunggal, menyatukan wujud.
Jadi yang melinggih pada Sanggah Kamulan adalah Sang Hyang Triatma yaitu Paratma, Ciwatma dan Sang Hyang Tunggal/Tuduh.
Sedangkan dalam lontar Purwa Bumi Kamulan disebutkan bahwa Hyang Kamulan yang dipuja pada Sanggah Kamulan adalah Roh suci leluhur, seperti tersirat pada kutipan berikut: “Riwus mangkana daksina pangadegan Sang Dewa Pitara, tinuntunakene maring Sanggah Kamulan, yan lanang unggahakenna ring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan Dewa Hyangnya nguni” Artinya: Setelah demikian daksina perwujudan Roh suci dituntun pada Sang Hyang Kamulan, kalau roh suci dari perempuan dinaikkan disebelah kiri disana menyatu dengan leluhur terdahulu.
Lebih jauh disebutkan dalam lontar Purwa Bhumi, Kamulan, disebutkan bahwa, “… Begitulah caranya yang benar untuk berbakti kepada leluhur, kalau tidak seperti itu tidaklah selesai upacara untuk Dewa Pitara, Sang Dewa Pitara berkeliaran tidak mendapat tempat, maka diumpatlah keturunannya dan keluarganya, semua tertimpa penyakit, disakiti oleh Dewapitaranya, itulah sebabnya datang penyakit yang aneh-aneh tidak bisa diobati menurut ketentuan usada. Muncul penyakit ajaib, tingkah laku yang tidak patut, gila-gilaan, hati rusak, ogan, tunggah, ayan, bingung, sakit lemah, murung, sakit ingatan, sungsung baru dan juga menyebabkan boros kekayaannya habis tanpa sebab, selalu merasa kurang makan dan minum sebab telah dirusak oleh Bhuta Kala karena selamanya Dewapitara tidak mempunyai tempat. Atau tempatnya tidak menentu, karena keturunannya kurang bakti, kurang pengetahuan, kurang perasaan, karena hanya tahu merasakan kenyang dan lapar, tidak berjasa pada diri sendiri dan pula tidak berbakti pada leluhur.
Sumber lainnya menyebutkan bahwa Sanggah Kamulan terdiri dari tiga Kosmos yaitu:
1. Bebaturan sebagai Bhur Loka, alam pitara yang belum diaben.
2. Lepitan sebagai Buah Loka/pitra loka, alamnya para pitara yang telah diaben.
3. Rong Tiga sebagai Swah Loka, alamnya Para Dewa, Atma yang telah mencapai “Sidha Dewata”.
Jadi jelaslah bahwa yang dipuja pada Sanggah Kamulan Roh Suci yang telah mencapai alam dewa (Sidha Dewata) dan semua keturunannya wajib memuja roh yang telah suci itu. Karena amat besarlah pahala orang yang bhakti kepada leluhurnya. Kalau kurang bhakti pada leluhur apalagi tidak menstanakan di Kamulan maka kesengsaraan hiduplah yang akan dialami.
Sang Hyang Tri Atma adalah Hyang Tunggal/Tuduh yang menjadi Brahma sebagai Sang Pencipta.
Menurut filsafat Siwa Tattwa disebutkan bahwa Tri Atma adalah:
1. Siwatma dengan dewanya Brahma wijaksaranya Ang
2. Sadasiwatma dengan dewanya Wisnu wijasaranya Ung
3. Paramatma dewanya Iswara wijaksaranya Mang.
Ketiga Dewa tersebut dalam sekte Siwa Sidhanta umum disebut Tri Murti. Hal ini juga terdapat dalam mantram ngaturang bhakti ring Kawitan yaitu:
Om Dewa-dewa tri dewanamTrimurti tri lingganamTripurusa sudda nityamSarwa jagat jiwatmanam.
Artinya:
Om para Dewa utamanya tiga dewa Trimurti (Brahma, Wisnu, Iswara) adalah Trilingga. Tripurusa yang suci selalu adalah roh (Atma) atau semesta dengan isinya (Jagat).
Dengan demikian jelaslah yang menjadi jiwa (Atma) atau Roh dari jagat kita termasuk mahluk hidup, utamanya manusia adalah beliau yang bergelar Tri Murti, Tri Purusa.
Dewa Pitara yang distanakan di Pemerajan Kamulan karena telah mencapai alam kedewaan atau alamnya Sang Hyang Tri Murti, maka Dewa pitara itu diindentikkan dengan Sang Hyang Tri Murti.
Sehingga dapat kita pahami dan tegaskan bahwa, Sanggah Kamulan adalah perwujudan lingga Tri Murti yang merupakan pancaran dari Sang Hyang Widi Wasa. Secara mikro pelinggih rong Tiga ini adalah merupakan Khahyangan Tiga yang berada pada lingkungan keluarga.
Jadi Dewa Pitara yang telah mencapai alamnya Tri Murti dapat dipuja melalui Sanggah Kamulan. Dimana Dewa Pitara tersebut telah identik dengan Sang Hyang Tri Murti. Karena Dewa Pitara itu identik dengan Sang Hyang Tri Murti maka Dewa Pitara yang berstana di Kamulan disebut “Bhatara Hyang Guru” Bhatara Hyang disini adalah Dewa Pitara itu sendiri dan Bhatara Guru adalah Dewa Siwa, dalam fungsinya sebagai pendidik umat manusia.
Hal ini tersurat pada mantram ngaturang bakti ring kawitan yaitu:
Om Guru Dewa Guru Rupam
Guru Madyam Guru Purwan
Guru Pantara Dewanam
Guru Dewa Suddha nityam.
Artinya:
Om Guru Dewa, Guru sekala, Guru sekala-niskala dan Guru Purwan adalah Guru para Dewa, Dewa Guru suci selalu.
Matur suksma
Kirang langkung nunas ampura
Om Santih Santih Santih Om
Bersumber dari ~Jro Mangku Danu

Thursday, June 29, 2017

MENGKRITISI YADNYA oleh MPU JAYA PREMA



Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
Mengkritisi Yadnya
Mpu Jaya Prema
WARGA Desa Adat Culik, Kecamatan Abang, Karangasem, mengadukan panitia karya ngenteg linggih Pura Dalem setempat karena diduga ada unsur penggelembungan biaya upacara yadnya. Ngenteg linggih itu menghabiskan biaya Rp 3,142 milyar. Yang menarik mereka membandingkan dengan ngenteg linggih desa tetangganya yang cuma menghabiskan biaya Rp 1,05 milyar.
Saya tak tahu persis bagaimana kesejahtraan masyarakat di sana. Tetapi saya sering mendengar daerah Karangasem masih banyak orang yang hidupnya di bawah garis sejahtra, untuk tidak mengatakan miskin. Berbagai berita muncul di sana tentang masyarakat yang kurang mampu apakah itu tinggal di rumah yang tidak layak atau yang makan seadanya dari pemberian tetangga. Karena itu jangankan ngenteg linggih menghabiskan tiga milyar rupiah, menghabiskan satu milyar rupiah saja saya cukup tercengang. Apakah yadnya besar-besaran yang meniru masyarakat kaya raya di Bali Selatan (Badung, Denpasar dan Gianyar) ini merambah pula ke Karangasem? Di daerah saya di pegunungan Kabupaten Tabanan, ngenteg linggih dengan biaya Rp 300 juta saja membuat orang kaget, kenapa harus sebesar itu. Kenapa tidak bisa disederhanakan?
Besar dan kecil biaya yadnya memang relatif, karena tergantung kemampuan warga setempat. Di Bukit Ungasan karya ngenteg linggih bisa menghabiskan milaran rupiah karena warga bisa iuran Rp 5 juta sampai Rp 10 juta per kepala keluarga. Belum lagi sponsor dari hotel-hotel sekitar itu. Di kawasan pariwisata Gianyar pun ngenteg linggih menghabiskan milyaran rupiah, warga memang mudah mencari uang. Tetapi di kampung saya iuran untuk yadnya di Tri Kahyangan sebesar Rp 100 ribu saja sulit.
Namun soal itu tak usah diperpanjang. Karena menyangkut “rasa beragama”. Apalagi nanti bisa dijawab dengan pembenaran “besar beryadnya besar pula rejekinya” dan ditambah pula dengan alasan “ini tradisi dari dulu untuk mengajegkan budaya Bali yang membuat Bali kebanjiran wisatawan”. Nah, perbincangan bisa menjadi debat kusir yang tak berujung.
Pelajaran baik dari Culik ini adalah kita sudah mulai berani mengkritisi urusan yadnya. Yang dipersoalkan bukan ritualnya tetapi biaya ritual itu yang seperti menggelembung dan pembelian sarana upacara yang sepertinya tidak masuk akal, minimal tidak transparan. Dicontohkan dalam pengaduan itu, membeli bebek sampai 2.200 ekor. Untuk apa bebek sebanyak dua ribu lebih? Bukankah banten yang memakai bebek terbatas? Lebih banyak memakai ayam.
Dari kasus ini bisa ditebak, sebelum pelaksanaan ngenteg linggih tidak ada sosialisasi mengenai tingkat yadnya seperti apa yang dilakukan. Seharusnya jika semua transparan, sebelum sosialisasi juga ada keputusan dari pemuka adat, pemangku, sulinggih dan mereka yang terlibat, tingkat yadnya sebesar apa yang diambil. Kalau tingkatan yadnya sudah diputuskan bagaimana dengan jenis-jenis banten yang terkait dengan ritual itu. Haruskah bermewah-mewah? Haruskah sampai ornamen pelengkap juga meriah?
Setiap ritual ada yang disebut banten pokok. Ini harus dipenuhi sesuai tingkatan yadnya. Lalu ada banten ayaban, ini bisa disederhanakan sesuai kemampuan. Yang terakhir ada ornamen hiasan, misalnya, gegantunan, lamak, sarad dan banyak lagi. Apakah ini juga harus besar dan bermewah-mewah? Ornamen ini berkaitan dengan seni, sehingga unsur seni inilah yang sesungguhnya menghabiskan biaya besar, padahal sama sekali tak mempengaruhi ritual. Misalnya sarad. Ini betul-betul karya seni yang indah karena dibuat dengan rumit dari jajanan tepung. Tak sembarang orang bisa membuatnya. Harga sepasang sarad yang dibuat di sebuah tempat di Gianyar sampai Rp 25 juta. Apakah ini perlu? Kalau misalnya tak diperlukan namun biaya itu ada, kenapa tidak dibelikan buku-buku Hindu saja untuk dibagikan kepada umat? Dengan Rp 25 juta kita bisa mendapat 500 lebih buku Bhagawad Gita. Kalau pemikiran seperti ini, maka setelah ngenteg linggih selesai bukan saja linggih Ida Bethara jadi enteg (tegak dan tidak boyang), umat pun jadi enteg mempelajari tattwa (falsafah agama). Saya tak pernah menemukan ada sarad di setiap ritual di desa-desa pegunungan di Kabupaten Tabanan.
Warga desa adat seharusmya bisa mengkritisi hal-hal seperti ini, sejak dalam perencanaan yadnya. Jika itu dilakukan maka kecil kemungkinan ada gugatan ketika yadnya sudah selesai dan protes dilakukan setelah panitia memberikan laporan pertanggung-jawaban dana. Bahkan ketika mengadakan konsultasi dengan sulinggih seharusnya semua pihak bisa kritis. Pada umumnya sulinggih saat ini lebih senang dengan upacara yang sederhana namun tidak menyimpang dari ketentuan yadnya. Namun sulinggih juga manusia, ada satu dua sulinggih yang membuat banten di griyanya, sehingga ada kecendrungan yadnya itu dibuat besar untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak. Tak berarti sulinggih itu langsung menjual banten, bisa para seratinya yang mengambil tempat di griya sulinggih, sehingga kesannya griya itu yang menjual banten. Kalau sulinggih terlibat langsung menentukan harga banten, tentulah melanggar sesana, bisa dikatagorikan sulinggih berbisnis banten.
Kalau kita mulai mengkritisi yadnya sejak dalam perencanaan dari menghadap sulinggih sampai penentuan tingkat yadnya yang diambil, kita bisa lebih tenang dalam melaksanakan yadnya. Ketenangan itu sangat dibutuhkan karena setiap yadnya harus dilakukan dengan ikhlas. Tentu sangat tidak enak selesai mengadakan yadnya ngenteg linggih ternyata warga menjadi tidak enteg karena ada gugatan, apalagi sampai laporan itu diproses secara hukum. Sangat disayangkan, mudah-mudahan kita bisa belajar banyak dari kasus ini. (*)
Catatan: Tulisan ini dimuat koran Pos Bali Senin 17 April 2017, foto ilustrasi Sarad dalam ritual Ngenteg Linggih di Bali Selatan yang sangat indah ..... tapi mahal.

Friday, June 23, 2017

I Ketut Cantug menutup Usia

Om Swastyastu,
Om Tattwatma Naryatma Swadah Ang Ah
Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu.
Om Ksama Sampurna ya Namah Swaha...
Om Vayur Anilam Amartam Athedam
Basmantam Sariram,
Om Krato Smare, Klie Smare, Krtam Smara....
Om Ksama sampurna ya namah,
Om Santih, Santih, Santih, Om 
Pada hari Jumat 23 Juni 2017 kira-kira pukul 17.30 Wita, I Ketut Cantug, salah satu warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan telah mengakhiri tugasnya di mercapada berpulang kepada-Nya
Upacara Atiwa-tiwa dilaksanakan pada hari Senin, 26 Juni 2017.

Thursday, May 18, 2017

Ni Wayan Masih aka Men Lasri telah menutup usia...


Om Swastyastu,
Om Tattwatma Naryatma Swadah Ang Ah
Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu.
Om Ksama Sampurna ya Namah Swaha...
Om Vayur Anilam Amartam Athedam
Basmantam Sariram,
Om Krato Smare, Klie Smare, Krtam Smara....
Om Ksama sampurna ya namah,
Om Santih, Santih, Santih, Om


Pada hari Kamis Kajeng, Pon, tanggal 18 Mei 2017, warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan yaitu Ni Wayan Masih aka Men Lasri telah menutup usianya...

Sebagai rasa bhakti kepada orang tua dan keluarga, upacara Atiwa-tiwa dilaksanakan Pada Hari Selasa Beteng, Pon, tanggal 23 Mei 2017.

Tuesday, April 18, 2017

Pan Citra (I Rota) telah berpulang

Pada hari Selasa Kajeng Pon, Wuku Langkir tanggal 18 April 2017, bertepatan dengan H-1 Piodalan Linggih Ida Bhetara Hyang Pura Ibu Pasek, salah satu warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan yaitu PAN CITRA ( I Rota) telah menghembuskan nafasnya dengan tenang. Piodalan tetap berjalan seperti biasanya, hanya keluarga yang berduka yang tidak bisa ngayah dan matur sembah.
Upacara atiwa-tiwa dilaksanakan dalam 2 hari yaitu :
Pada Hari Rabu, tanggal 26 April 2017 dilaksanakan pengaskaran dan dilanjutkan pada Hari Kamis, tanggal 27 April 2017 dilaksanakan atiwa-tiwa.


"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."

OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.