411. “Dengan diamnya antah-karana lewat sam√£dhi[1], nikmatilah keagungan tanpa batas dari Sang Diri-jati. Dengan penuh semangat hancurkanlah belenggu bau harum-busuk dari kelahiran dan kematian; jadilah ia yang telah mencapai tujuan-akhir dari kelahiran berjasad manusia ini!

412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”

Thursday, June 29, 2017

MENGKRITISI YADNYA oleh MPU JAYA PREMA



Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
Mengkritisi Yadnya
Mpu Jaya Prema
WARGA Desa Adat Culik, Kecamatan Abang, Karangasem, mengadukan panitia karya ngenteg linggih Pura Dalem setempat karena diduga ada unsur penggelembungan biaya upacara yadnya. Ngenteg linggih itu menghabiskan biaya Rp 3,142 milyar. Yang menarik mereka membandingkan dengan ngenteg linggih desa tetangganya yang cuma menghabiskan biaya Rp 1,05 milyar.
Saya tak tahu persis bagaimana kesejahtraan masyarakat di sana. Tetapi saya sering mendengar daerah Karangasem masih banyak orang yang hidupnya di bawah garis sejahtra, untuk tidak mengatakan miskin. Berbagai berita muncul di sana tentang masyarakat yang kurang mampu apakah itu tinggal di rumah yang tidak layak atau yang makan seadanya dari pemberian tetangga. Karena itu jangankan ngenteg linggih menghabiskan tiga milyar rupiah, menghabiskan satu milyar rupiah saja saya cukup tercengang. Apakah yadnya besar-besaran yang meniru masyarakat kaya raya di Bali Selatan (Badung, Denpasar dan Gianyar) ini merambah pula ke Karangasem? Di daerah saya di pegunungan Kabupaten Tabanan, ngenteg linggih dengan biaya Rp 300 juta saja membuat orang kaget, kenapa harus sebesar itu. Kenapa tidak bisa disederhanakan?
Besar dan kecil biaya yadnya memang relatif, karena tergantung kemampuan warga setempat. Di Bukit Ungasan karya ngenteg linggih bisa menghabiskan milaran rupiah karena warga bisa iuran Rp 5 juta sampai Rp 10 juta per kepala keluarga. Belum lagi sponsor dari hotel-hotel sekitar itu. Di kawasan pariwisata Gianyar pun ngenteg linggih menghabiskan milyaran rupiah, warga memang mudah mencari uang. Tetapi di kampung saya iuran untuk yadnya di Tri Kahyangan sebesar Rp 100 ribu saja sulit.
Namun soal itu tak usah diperpanjang. Karena menyangkut “rasa beragama”. Apalagi nanti bisa dijawab dengan pembenaran “besar beryadnya besar pula rejekinya” dan ditambah pula dengan alasan “ini tradisi dari dulu untuk mengajegkan budaya Bali yang membuat Bali kebanjiran wisatawan”. Nah, perbincangan bisa menjadi debat kusir yang tak berujung.
Pelajaran baik dari Culik ini adalah kita sudah mulai berani mengkritisi urusan yadnya. Yang dipersoalkan bukan ritualnya tetapi biaya ritual itu yang seperti menggelembung dan pembelian sarana upacara yang sepertinya tidak masuk akal, minimal tidak transparan. Dicontohkan dalam pengaduan itu, membeli bebek sampai 2.200 ekor. Untuk apa bebek sebanyak dua ribu lebih? Bukankah banten yang memakai bebek terbatas? Lebih banyak memakai ayam.
Dari kasus ini bisa ditebak, sebelum pelaksanaan ngenteg linggih tidak ada sosialisasi mengenai tingkat yadnya seperti apa yang dilakukan. Seharusnya jika semua transparan, sebelum sosialisasi juga ada keputusan dari pemuka adat, pemangku, sulinggih dan mereka yang terlibat, tingkat yadnya sebesar apa yang diambil. Kalau tingkatan yadnya sudah diputuskan bagaimana dengan jenis-jenis banten yang terkait dengan ritual itu. Haruskah bermewah-mewah? Haruskah sampai ornamen pelengkap juga meriah?
Setiap ritual ada yang disebut banten pokok. Ini harus dipenuhi sesuai tingkatan yadnya. Lalu ada banten ayaban, ini bisa disederhanakan sesuai kemampuan. Yang terakhir ada ornamen hiasan, misalnya, gegantunan, lamak, sarad dan banyak lagi. Apakah ini juga harus besar dan bermewah-mewah? Ornamen ini berkaitan dengan seni, sehingga unsur seni inilah yang sesungguhnya menghabiskan biaya besar, padahal sama sekali tak mempengaruhi ritual. Misalnya sarad. Ini betul-betul karya seni yang indah karena dibuat dengan rumit dari jajanan tepung. Tak sembarang orang bisa membuatnya. Harga sepasang sarad yang dibuat di sebuah tempat di Gianyar sampai Rp 25 juta. Apakah ini perlu? Kalau misalnya tak diperlukan namun biaya itu ada, kenapa tidak dibelikan buku-buku Hindu saja untuk dibagikan kepada umat? Dengan Rp 25 juta kita bisa mendapat 500 lebih buku Bhagawad Gita. Kalau pemikiran seperti ini, maka setelah ngenteg linggih selesai bukan saja linggih Ida Bethara jadi enteg (tegak dan tidak boyang), umat pun jadi enteg mempelajari tattwa (falsafah agama). Saya tak pernah menemukan ada sarad di setiap ritual di desa-desa pegunungan di Kabupaten Tabanan.
Warga desa adat seharusmya bisa mengkritisi hal-hal seperti ini, sejak dalam perencanaan yadnya. Jika itu dilakukan maka kecil kemungkinan ada gugatan ketika yadnya sudah selesai dan protes dilakukan setelah panitia memberikan laporan pertanggung-jawaban dana. Bahkan ketika mengadakan konsultasi dengan sulinggih seharusnya semua pihak bisa kritis. Pada umumnya sulinggih saat ini lebih senang dengan upacara yang sederhana namun tidak menyimpang dari ketentuan yadnya. Namun sulinggih juga manusia, ada satu dua sulinggih yang membuat banten di griyanya, sehingga ada kecendrungan yadnya itu dibuat besar untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak. Tak berarti sulinggih itu langsung menjual banten, bisa para seratinya yang mengambil tempat di griya sulinggih, sehingga kesannya griya itu yang menjual banten. Kalau sulinggih terlibat langsung menentukan harga banten, tentulah melanggar sesana, bisa dikatagorikan sulinggih berbisnis banten.
Kalau kita mulai mengkritisi yadnya sejak dalam perencanaan dari menghadap sulinggih sampai penentuan tingkat yadnya yang diambil, kita bisa lebih tenang dalam melaksanakan yadnya. Ketenangan itu sangat dibutuhkan karena setiap yadnya harus dilakukan dengan ikhlas. Tentu sangat tidak enak selesai mengadakan yadnya ngenteg linggih ternyata warga menjadi tidak enteg karena ada gugatan, apalagi sampai laporan itu diproses secara hukum. Sangat disayangkan, mudah-mudahan kita bisa belajar banyak dari kasus ini. (*)
Catatan: Tulisan ini dimuat koran Pos Bali Senin 17 April 2017, foto ilustrasi Sarad dalam ritual Ngenteg Linggih di Bali Selatan yang sangat indah ..... tapi mahal.

Friday, June 23, 2017

I Ketut Cantug menutup Usia

Om Swastyastu,
Om Tattwatma Naryatma Swadah Ang Ah
Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu.
Om Ksama Sampurna ya Namah Swaha...
Om Vayur Anilam Amartam Athedam
Basmantam Sariram,
Om Krato Smare, Klie Smare, Krtam Smara....
Om Ksama sampurna ya namah,
Om Santih, Santih, Santih, Om 
Pada hari Jumat 23 Juni 2017 kira-kira pukul 17.30 Wita, I Ketut Cantug, salah satu warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan telah mengakhiri tugasnya di mercapada berpulang kepada-Nya
Upacara Atiwa-tiwa dilaksanakan pada hari Senin, 26 Juni 2017.

Thursday, May 18, 2017

Ni Wayan Masih aka Men Lasri telah menutup usia...


Om Swastyastu,
Om Tattwatma Naryatma Swadah Ang Ah
Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu.
Om Ksama Sampurna ya Namah Swaha...
Om Vayur Anilam Amartam Athedam
Basmantam Sariram,
Om Krato Smare, Klie Smare, Krtam Smara....
Om Ksama sampurna ya namah,
Om Santih, Santih, Santih, Om


Pada hari Kamis Kajeng, Pon, tanggal 18 Mei 2017, warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan yaitu Ni Wayan Masih aka Men Lasri telah menutup usianya...

Sebagai rasa bhakti kepada orang tua dan keluarga, upacara Atiwa-tiwa dilaksanakan Pada Hari Selasa Beteng, Pon, tanggal 23 Mei 2017.

Tuesday, April 18, 2017

Pan Citra (I Rota) telah berpulang

Pada hari Selasa Kajeng Pon, Wuku Langkir tanggal 18 April 2017, bertepatan dengan H-1 Piodalan Linggih Ida Bhetara Hyang Pura Ibu Pasek, salah satu warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan yaitu PAN CITRA ( I Rota) telah menghembuskan nafasnya dengan tenang. Piodalan tetap berjalan seperti biasanya, hanya keluarga yang berduka yang tidak bisa ngayah dan matur sembah.
Upacara atiwa-tiwa dilaksanakan dalam 2 hari yaitu :
Pada Hari Rabu, tanggal 26 April 2017 dilaksanakan pengaskaran dan dilanjutkan pada Hari Kamis, tanggal 27 April 2017 dilaksanakan atiwa-tiwa.

Wednesday, March 08, 2017

UWA' TERCINTA "NI WAYAN RUMPING" telah menutup usia....

Om svargantu Pitaro devah
Svargantu pitara ganam
Svargantu pitarah sarvaya Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat tempat di surga
Semoga semua atma yang suci mendapat tempat di surga
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om moksantu Pitaro devah
Moksantu pitara ganam
moksantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mencapai moksa
Semoga semua atma yang suci mencapai moksa
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om sunyantu Pitaro devah
Sunyantu pitara ganam
Sunyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat ketenangan
Semoga semua atma yang suci mendapat ketenangan
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om bagyantu Pitaro devah
Bagyantu pitara ganam
Bagyantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat kebahagian sejati
Semoga semua atma yang suci mendapat kebahagiaan sejati
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Om ksamantu Pitaro devah
Ksamantu pitara ganam
Ksamantu pitarah sarvaya
Namah svada

Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat pengampunan
Semoga semua atma yang suci dibebaskan segala dosanya
Sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi
Dan hormat hamba kepada semua atma suci.

Telah berpisah jiwa dari raga seorang ibu, nenek, kumpi, uwa' dari anak-anaknya, ponakan, cucu, kumpi....di usia 92 tahun (31 Desember 1925 - 08 Maret 2017)....
Adalah NI WAYAN RUMPING telah menutup usianya pada hari Rabu Pahing, Wuku Wariga, Sasih Kesanga, Pinanggal Ping 11,Caka Warsa 1938 dan tanggal masehi 8 Maret 2017.

Beliau adalah seorang uwa' yang besar jasanya terhadap sosok penulis, hingga lepas SD beliau telah memberikan seluruh perhatiannya baik secara material maupun spiritual sehigga penulis bisa bertumbuh sampai tulisan ini dibuat. Beliau juga telah banyak membantu anak-anak yg kurang secara ekonomi pada jamannya sehingga bisa survive sampai saat ini. 
Oleh karenanya sudah sepatutnya Beliau ditempatkan pada tempat yang tertinggi di setiap anak-anak yang telah beliau bantu.
Walau penulis dan yang lainnya belum bisa membalas budi baiknya, tetapi melalui doa di depan, semoga beliau mendapat tempat yang terbaik dan melalui tabungan kebajikan yang telah beliau curahkan kepada anak-anak angkatnya menjadikan beliau bekal menuju dan menyatu dengan-Nya.....

Upacara atiwa-tiwa dengan tingkatan pranawa yang dirangkai dengan proses tarpana saji diselenggarakan dalam 2 (dua) hari yaitu hari Sabtu (Saniscara Paing, Wuku Warigadian, Sasih Kesanga, Panglong Ping 6, Caka Warsa 1938 dan tanggal masehi 18 Maret 2017 kurang lebih pukul 13.00 wita, dilakukan nyiramin layon dilanjutkan dengan rangkaian ngetarpana saji dan keesokan harinya yaitu hari Minggu Pon, Wuku Julungwangi, Sasih Kesanga, Panglong Ping 7, Caka Warsa 1938 dan tanggal masehi 19 Maret 2017 kurang lebih 13.00 wita, dilakukan upacara atiwa-tiwa mendem layon ke setra.
Semua rangkaian upacara ini dipuput oleh Ida Pedanda Nabe Oka Timbul Sanur.
Demikianlah rangkaian Upacara Atiwa-tiwa yang diselenggarakan, semoga beliau selalu berbahagia di alam sana....

AMORING ACINTYA

Tuesday, December 13, 2016

Ngeruwak lan Mecaru ring Punduk Dawa, Rencana Linggih Ida Bhatara Mpu Gana. Wujud bhakti warga MGPSSR ring Ida Bhatara Kawitan

...................................................... sebagai wujud bhakti pratisentana Pasek kepada leluhur/lelangit....
sikap yang diambil saat Pemacekan Agung, dimana Pujawali Ida Bhetara Mpu Gana yang sedianya dilaksanakan di Pura Dasar Buana, dilakukan Piodalan/Pijawali di Catur Lawa Besakih.
Sebagai kelanjutan sikap tersebut, maka Semeton Pasek melalui MGPSSR Pusat telah sepakat dan pada tanggal 13 Desember 2016..bertepatan dengan Purnama Kenem....













Sunday, November 20, 2016

NI WAYAN METRI BERPULANG

Pada hari Sabtu Umanis tanggal 12 Nopember 2016 telah berpulang warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan yaitu Ni Wayan Metri telah meninggalkan suami dan anak-anaknya serta seorang cucu menghadap Hyang Widhi Wasa.

Upacara atiwa-tiwa sebagai bhakti para prathisentana kepadanya, pada hari Jumat Paing tanggal 18 Nopember 2016.


"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."

OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.