411. “Dengan diamnya antah-karana lewat samãdhi[1], nikmatilah keagungan tanpa batas dari Sang Diri-jati. Dengan penuh semangat hancurkanlah belenggu bau harum-busuk dari kelahiran dan kematian; jadilah ia yang telah mencapai tujuan-akhir dari kelahiran berjasad manusia ini!

412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”

Sunday, November 20, 2016

NI WAYAN METRI BERPULANG

Pada hari Sabtu Umanis tanggal 12 Nopember 2016 telah berpulang warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan yaitu Ni Wayan Metri telah meninggalkan suami dan anak-anaknya serta seorang cucu menghadap Hyang Widhi Wasa.

Upacara atiwa-tiwa sebagai bhakti para prathisentana kepadanya, pada hari Jumat Paing tanggal 18 Nopember 2016.

Sunday, October 23, 2016

KAPITAYAN AGAMA PERTAMA DI NUSANTARA (copas dari BLOG CATATAN ANAK NEGERI)


SEBENARNYA AGAMA APA YANG ADA PERTAMA KALI BERKEMBANG DI NUSANTARA?

Agama yang paling awal berkembang di Nusantara adalah Kapitayan. Sebuah kepercayaan yang memuja sesembahan utama yang disebut, “Sanghyang Taya” yang bermakna hampa atau kosong. Orang Jawa mendefinisikan Sanghyang Taya dalam satu kalimat, “tan kena kinaya ngapa” alias tidak bisa diapa-apakan keberadaannya. Untuk itu, supaya bisa disembah, Sanghyang Taya mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut “Tu” atau “To”, yang bermakna “daya gaib”, yang bersifat adikodrati.

Dalam bahasa Jawa kuno, Sunda kuno juga Melayu kuno, kata “taya” artinya kosong atau hampa namun bukan berarti tidak ada. Ini adalah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan sesuatu yang tidak bisa didefinisikan, tan kena kinaya ngapa, sesuatu yang tidak bisa dilihat, juga tidak bisa diangan-angan seperti apapun. Ia ada tetapi tidak ada.

BAGAIMANA DASAR PEMAHAMAN AJARAN TERSEBUT?

Dalam sistem ajaran Kapitayan yang begitu sederhana waktu itu, Sanghyang Taya tidak bisa dikenali kecuali ketika muncul dalam bentuk kekuatan gaib yang disebut “Tu”. “Tu” adalah bahasan kuno yang artinya benang atau tali yang menjulur. “Tu” inilah yang dianggap sebagai kemungkinan pribadi Sanghyang Taya.

“Tu” kemudian diketahui mempunyai sifat utama yaitu sifat baik dan sifat tidak baik. Yang baik bersifat terang dan yang tidak baik begitu gelap namun dalam satu kesatuan. “Tu” yang baik disebut Tuhan, dan “Tu” yang tidak baik disebut Hantu.

“Tu” bisa didekati ketika dia muncul di dunia dalam sesuatu yang terdapat kata-kata ‘tu’. Seperti wa-tu, tu-gu, tu-nggak, tu-nggul, tu-ban, dan sebagainya, yang menyiratkan adanya kekuatan ghaib dari “tu” yang bersemayam. Biasanya orang-orang memberikan sesajen. Ini jaman purba sekali.


DALAM MENYEBARKAN AGAMA ISLAM APAKAH WALISONGO MENGADOPSI KAPITAYAN?


Memang Kapitayan ini diadopsi oleh Wali Songo untuk menyebarkan Islam. Karena selama 850 tahun Islam tidak bisa masuk pada kalangan pribumi yang mayoritas penganut Kapitayan. Karena apa? Karena para saudagar muslim menceritakan bahwa Allah itu duduk di atas singgasana bernama Arsy. Lho, itu kan seperti manusia?. Orang-orang pribumi yang memahami Kapitayan tidak bisa menerima logika seperti itu. Bagaimana Tuhan duduk, itu kan sama seperti manusia?

LALU PRINSIP AJARANNYA BAGAIMANA ?

Dalam ajaran Kapitayan tidak mengenal dewa-dewa seperti Hindu dan Budha. Nah, pada jaman Wali Songo, prinsip dasar Kapitayan dijadikan sarana untuk berdakwah dengan menjelaskan kepada masyarakat bahwa Sanghyang Taya adalah laisa kamitslihî syai’un, berdasarkan dalil al-Quran dan Hadis yang artinya sama dengan tan kena kinaya ngapa, sesuatu yang tidak bisa dilihat, juga tidak bisa diangan-angan seperti apapun.

Wali Songo juga menggunakan istilah ‘sembahiyang’ dan tidak memakai istilah shalat. Sembahiyang adalah menyembah ‘Yang’. Di mana? Di sanggar. Tapi, bentuk sanggar Kapitayan kemudian diubah menjadi seperti langgar-langgar di desa yang ada mihrabnya. Dilengkapi bedhug, ini pun adopsi Kapitayan. Tentang ajaran ibadah tidak makan tidak minum dari pagi hingga sore tidak diistilahkan dengan ‘shaum’ karena masyarakat tidak ngerti tapi menggunakan istilah ‘upawasa’ kemudian menjadi puasa.

Orang-orang dahulu jika ingin masuk Islam cukup mengucapkan syahadat, setelah itu selamatan pakai tumpeng. Jadi, Kapitayan selalu menyeleksi atas semua yang masuk. Jangan harap bisa diterima oleh Kapitayan bila ada agama yang Tuhannya berwujud seperti manusia. Karena, alam bawah sadar mayoritas masyarakat Nusantara akan menolak.

Hindu pun ketika masuk ke Nusantara juga diseleksi. Ajaran Hindu yang paling banyak pengikutnya waktu itu adalah Waisnawa, pemuja Wisnu. Namun karena terdapat ajaran yang menyatakan bahwa Wisnu bisa muncul dalam sosok manusia akhirnya ajaran itu habis tergusur, digantikan ajaran Siwa yang berpandangan bahwa Tuhan tidak bisa mewujud sebagaimana manusia.

MENURUT PERSEPSI ANDA, APA YANG DISEBUT KEJAWEN?

Kata Kejawen secara gramatika kebahasaan saja sudah salah. Dalam bahasa Jawa, tidak ada

kata Kejawen. Sebetulnya Kejawen diberikan kepada kelompok hasil reformasi yang dilakukan oleh Syaikh Lemah Abang di daerah pedalaman. Reformasi dari masyarakat “kawulo” yang artinya budak menjadi masyarakat merdeka sehingga menimbulkan konflik dengan Kesultanan Demak.

Syaikh Lemah Abang membentuk banyak sekali Desa Lemah Abang, dari daerah Banten sampai daerah ujung timur Jawa. Para pengikut Syaikh Lemah Abang umumnya menentang tradisi Kesultanan Demak.

Dalam buku Negara Kerta Bumi disebutkan bahwa Syaikh Lemah Abang pernah tinggal di Baghdad selama tujuh belas tahun. Oleh karena itu, pemahaman dia terhadap sistem kekuasaan banyak terpengaruh oleh sistem kekuasaan di Baghdad.

Ketika balik ke Nusantara, dia melihat realita Kesultanan Demak yang masih meneruskan pola kekuasaan Majapahit. Jika ada masyarakat yang akan menghadap sultan atau raja diharuskan nyembah dulu yang oleh Syaikh Lemah Abang dianggap tidak benar. Sebab ketika Syaikh Lemah Abang menghadap sultan maupun raja, dia tetap dengan posisi berdiri, tidak nyembah, dan sejak itu dia melarang masyarakat menyembah jika menghadap sultan.

Pokok ajaran KAPITAYAN:

"Hamemayu Hayuning Bawono: Menata Keindahan Dunia".
Kapitayan, Agama Universal Dari Tanah Jawa.
Wahai saudaraku. Jauh sebelum era perhitungan Masehi dimulai, khususnya di tanah Jawa sudah ada satu keyakinan pada Ke-Esaan Tuhan. Para leluhur kita dulu SUDAH SADAR DIRI, jauh sebelum ajaran agama baru yang di import dari Timur Tengah, India dan China hadir di Nusantara. Para beliau merasa bahwa KEYAKINAN itu adalah untuk DIPERCAYA dan DILAKUKAN ajarannya, bukannya menjadi bahan perdebatan atau malah dicarikan eksistensinya lalu menjadi sumber pertikaian dan peperangan. Oleh sebab itu, nenek moyang orang Jawa sudah membekali dirinya dengan pengetahuan tentang Dzat (kenyataan) Tertinggi serta tentang bagaimana bisa menemukan-Nya.
Ya. Orang Jawa di masa lalu telah percaya akan keberadaan suatu entitas yang tak kasat mata namun memiliki kekuatan Adikodrati yang menyebabkan kebaikan dan keburukan dalam kehidupan dunia. Mereka tidak pernah menyembah selain kepada Tuhan Yang Maha Agung. Meskipun ia adalah seorang Dewa atau Bhatara sekalipun, semua itu tetaplah mereka anggap sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dan tentunya tidak layak untuk disembah sebagaimana Dzat Yang Maha Kuasa sendiri. Tuhan-lah yang orang Jawa yakini dan mereka sembah, yang telah mereka pahami sebagaimana yang disebut kemudian dengan istilah Sang Hyang Taya.
Memang pada masa itu orang Jawa belum memiliki Kitab Suci, tetapi mereka telah memiliki bahasa sandi yang dilambangkan dan disiratkan dalam semua sendi kehidupannya dan mempercayai ajaran-ajaran itu tertuang di dalamnya tanpa mengalami perubahan sedikitpun karena memiliki pakem (aturan yang dijaga ketat). Kesemuanya merupakan ajaran yang tersirat untuk membentuk laku utama yaitu Tata Krama (Aturan Hidup Yang Luhur) dan untuk menjadikan orang Jawa sebagai sosok yang hanjawani (memiliki akhlak terpuji).
Karena itulah, masyarakat Jawa yang cair (ramah dan santun), juga menerima dengan baik ajaran agama yang dibawa oleh kaum migran (Hindu, Buddha, Islam, Nasrani dan lainnya) selama mempunyai konteks yang sama dengan ujung MONOTHEISME (Tuhan yang satu). Sebab inilah banyak agama yang dibawa kaum migran lalu memilih basis dakwahnya dari tanah Jawa.
Sungguh, leluhur Jawa dulu selalu melihat bahwa agama itu sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan “ibadah”). Ajaran mereka biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Mereka hampir tidak pernah mengadakan kegiatan perluasan ajaran, tetapi melakukan pembinaan secara rutin. Simbol-simbol “laku” berupa perangkat adat asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya itu menampakan kewingitan (wibawa magis), bukan inti ajarannya. Namun memang tidak bisa dipungkiri telah banyak orang (termasuk penghayat Kejawen sendiri) yang dengan mudah memanfaatkan ajaran leluhur itu dengan praktik klenik dan perdukunan, padahal sikap itu tidak pernah ada dalam ajaran para leluhur dulu.
color: white; color: #666666; font-family: "noto sans", sans-serif; font-size: 0.928571em; margin-bottom: 10px; padding-bottom: 10px;"> Kemudian jauh sebelum agama Islam masuk, di Nusantara terdapat agama kuno yang disebut Kapitayan – yang secara keliru dipandang sejarawan Belanda sebagai Animisme dan Dinamisme. Agama ini adalah perkembangan dari ajaran dan prinsip keyakinan kepada Sang Hyang Taya sebelumnya. Dimana Kapitayan ini adalah suatu ajaran yang memuja sesembahan utama yang disebut Sang Hyang Taya, yang bermakna Hampa atau Kosong atau Suwung atau Awang-uwung. Dia-lah Dzat Yang Maha Kuasa dan Pencipta segala sesuatu.
Perlu diketahui bahwa konsep Hyang adalah asli dari sistem kepercayaan masyarakat Nusantara, khususnya di tanah Jawa, bukan konsep yang berasal dari ajaran Hindu atau Buddha dari India. Kata Hyang dikenal dalam bahasa Melayu, Kawi, Jawa, Sunda dan Bali sebagai suatu keberadaan kekuatan Adikodrati yang supranatural. Keberadaan spiritual ini bersifat Ilahiah yang mencipta, mengatur dan mempengaruhi segala sesuatu yang ada di alam jagat raya. Sesuatu Yang Absolut yang tidak bisa dipikir dan dibayang-bayangkan (Niskala). Tidak bisa didekati dengan panca indera. Orang Jawa lalu mendefinisikan Sang Hyang Taya dalam satu kalimat “Tan kena kinaya ngapa” alias tidak bisa diapa-apakan keberadaan-Nya. Untuk itu, agar bisa disembah, Sang Hyang Taya mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut TU atau TO, yang bermakna “daya gaib” yang bersifat Adikodrati.
Perlu diketahui juga bahwa TU atau TO adalah tunggal dalam Dzat, Satu Pribadi. TU lazim disebut dengan nama Sang Hyang Tunggal. Dia memiliki dua sifat, yaitu Kebaikan dan Kejahatan. TU yang bersifat Kebaikan disebut TU-han disebut dengan nama Sang Hyang Wenang. TU yang bersifat Kejahatan disebut dengan nama Sang Hyang Manikmaya. Demikianlah, Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Manikmaya pada hakikatnya adalah sifat saja dari Sang Hyang Tunggal. Karena itu baik Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Manikmaya bersifat gaib, tidak dapat didekati dengan panca indera dan akal pikiran. Hanya diketahui sifat-Nya saja.
Lalu, oleh karena Sang Hyang Tunggal dengan dua sifat itu bersifat gaib, maka untuk memuja-Nya dibutuhkan sarana-sarana yang bisa didekati panca indera dan alam pikiran manusia. Itu sebabnya, di dalam ajaran Kapitayan dikenal keyakinan yang menyatakan bahwa kekuatan gaib dari Pribadi Tunggal Sang Hyang Taya yang disebut TU atau TO itu ‘tersembunyi’ di dalam segala sesuatu yang memiliki nama TU atau TO. Para pengikut ajaran Kapitayan meyakini adanya kekuatan gaib pada wa-TU, TU-gu, TU-lang, TU-nggul, TU-ak, TU-k, TU-ban, TU-mbak, TU-nggak, TU-lup, TU-rumbuhan, un-TU, pin-TU, TU-tud, TO-peng, TO-san, TO-pong, TO-parem, TO-wok, TO-ya. Dalam melakukan bhakti memuja Sang Hyang Taya, orang menyediakan sesaji berupa TU-mpeng, TU-mbal, TU-mbu, TU-kung, TU-d kepada Sang Hyang Taya melalui sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan gaib.
Kalau dalam Islam ada tingkatan-tingkatan ibadah seperti Syari’at, Thariqah, Hakikat dan Makrifat, maka di Kapitayan praktek di atas adalah proses ibadah tingkatan syari’at yang dilakukan oleh masyarakat awam kepada Sang Hyang Tunggal. Untuk para ‘ulama’-ulama’ sufi’ nya Kapitayan, mereka menyembah langsung kepada Sang Hyang Taya dengan gerakan-gerakan tertentu, pertama melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap Tutuk(lubang) sambil mengangkat kedua tangan dengan maksud “menghadirkan’ Sang Hyang Taya di dalam Tutu-d (hati). Setelah merasa sudah bersemayam di hati, langkah selanjutnya adalah tangan diturunkan dan didekapkan di dada yang disebut swa-dingkep (memegang ke-aku-an diri). Setelah dirasa cukup proses Tu-lajeg ini, kemudian dilanjutkan dengan Tu-ngkul (membungkuk menghadap ke bawah), lalu dilanjutkan lagi dengan Tu-lumpak (duduk bersimpuh dengan kedua tumit diduduki), dilanjutkan proses terakhir yaitu To-ndhem (bersujud). Sedangkan tempat ibadahnya disebut Sanggar, yaitu bangunan persegi empat beratap tumpak dengan lubang di dinding sebagai lambang kehampaan. Kalau Anda kesulitan membayangkan tempatnya, maka modelnya tidak jauh berbeda dengan langgar/musholla di desa-desa pada umumnya.
Untuk itu, seorang hamba pemuja Sang Hyang Taya yang dianggap shaleh akan dikaruniai kekuatan gaib yang bersifat positif (TU-ah) dan yang bersifat negatif (TU-lah). Mereka yang sudah dikaruniai TU-ah dan TU-lah itulah yang dianggap berhak untuk menjadi pemimpin masyarakat. Mereka itulah yang disebut ra-TU atau dha-TU (cikal bakal gelar Ratu dan Datu bagi para pemimpin kerajaan Nusantara).
Mereka yang sudah dikaruniai TU-ah dan TU-lah, gerak-gerik kehidupannya akan ditandai oleh PI, yakni kekuatan rahasia Ilahi Sang Hyang Taya yang tersembunyi. Itu sebabnya, ra-TU atau dha-TU, menyebut diri dengan kata ganti diri: PI-nakahulun. Jika berbicara disebut PI-dato. Jika mendengar disebut PI-harsa. Jika mengajar pengetahuan disebut PI-wulang. Jika memberi petuah disebut PI-tutur. Jika memberi petunjuk disebut PI-tuduh. Jika menghukum disebut PI-dana. Jika memberi keteguhan disebut PI-andel. Jika menyediakan sesaji untuk arwah leluhur disebut PI-tapuja lazimnya berupa PI-nda (kue tepung), PI-nang, PI-tik, PI-ndodakakriya (nasi dan air), dan PI-sang. Jika memancarkan kekuatan disebut PI-deksa. Jika mereka meninggal dunia disebut PI-tara. Sehingga seorang ra-TU atau dha-TU, adalah pengejawantahan kekuatan gaib Sang Hyang Taya. Seorang ra-TU atau dha-TU adalah citra Pribadi Sang Hyang Tunggal.
Dengan prasyarat-prasyarat sebagaimana terurai di atas, kedudukan ra-TU dan dha-TU tidak bersifat kepewarisan mutlak. Sebab seorang ra-TU atau dha-Tu dituntut keharusan secara fundamental untuk memiliki TU-ah dan TU-lah, tidak bisa diwariskan secara otomatis pada anak keturunannya. Seorang ra-TU harus berjuang keras menunjukkan keunggulan TU-ah dan TU-lah, dengan mula-mula menjadi penguasa wilayah kecil yang disebutWisaya. Penguasa Wisaya diberi sebutan Raka. Seorang Raka yang mampu menundukkan kekuasaan raka-raka yang lain, maka ia akan menduduki jabatan ra-TU. Dengan demikian, ra-TU adalah manusia yang benar-benar telah teruji kemampuannya, baik kemampuan memimpin dan mengatur strategi maupun kemampuan Tu-ah dan TU-lah yang dimilikinya.
Tapi kemudian, pengaruh Kapitayan dalam sistem kekuasaan Jawa dengan konsep ra-TU dan dha-TU, mengalami perubahan ketika pengaruh Hinduisme terutama ajaran Bhagavatisme yang dianut oleh para pemuja Vishnu masuk ke Nusantara. Ajaran Bhagavatisme dianggap lebih mudah dalam pelaksanaan ditambah sistem kepewarisan tahta yang bersifat kewangsaan, telah memberi motivasi bagi raja-raja Nusantara yang awal untuk menganut Vaishnava. Hanya saja, sekalipun pengaruh sistem kekuasaan Hindu dengan konsep rajawi dianut oleh penguasa-penguasa di Nusantara, namun sistem lama yang bersumber dari ajaran Kapitayan tidak dihilangkan. Keberadaan seorang raja atau maharaja misalnya, selalu ditandai oleh kedudukan ganda sebagai ra-TU atau dha-TU. Sehingga seorang raja, dipastikan memiliki tempat khusus yang disebut ‘keraton’ atau ‘kedhaton’ di samping bangsal dan puri. Selain itu, seorang raja selalu ditandai oleh kepemilikan atas benda-benda yang memiliki kekuatan gaib seperti wa-TU, TU-nggul, TU-mbak, TU-lang, TO-san, TO-pong, TO-parem, TO-wok, dll. Karena memang dulu sistem kekuasaan di Nusantara mensyaratkan keberadaan ra-TU atau dha-TU dengan benda-benda yang ber-TU-ah.
Namun zaman pun berganti dan keadaan dunia juga berubah sangat drastis. Dan ironisnya agama Kapitayan sebagai tuan rumah pernah di tekan hebat oleh para tamunya. Contohnya ketika zaman kerajaan Kadhiri, penganut agama Hindu yang mampu merangkul penguasa saat itu menekan golongan Kapitayan sehingga mereka harus naik ke gunung Klothok dan gunung Wilis (artefak peninggalan Kapitayan banyak tersebar disana, sebagian dibawa kaum penjajah ke Leiden dan berkembang menjadi aliran kepercayaan Hasoko Jowo yang justru bermarkas di Leiden-Belanda sana). Lalu di zaman kerajaan Tumapel/Singosari kejadiannya pun sama, penganut agama Hindu-Buddha menekan hebat kelompok ini hingga mengungsi ke pesisir selatan tanah Jawa. Selanjutnya di zaman kerajaan Demak, penganur agama Islam  yang melakukan penetrasi bahkan hingga sekarang ini. Dan yang terakhir di zaman Kolonoial, penganut agama Nasrani mendapat tempat elite di sosial kemasyarakatan dan lainnya.
Sungguh, jika Anda mau bertanya seberapa ramah dan besarnya pengorbanan suatu peradaban menerima perobahan? Itu hanya milik peradaban tanah Jawa di Nusantara. Andai saja mereka bersikukuh pada keyakinannya dan mengabaikan nilai universal yang dipahaminya, saya amat yakin bahwa TIDAK AKAN ADA AJARAN AGAMA IMPORT BEGITU MUDAHNYA MASUK DI TANAH JAWA, bahkan tanpa pertumpahan darah. Justru yang belum yakin itulah yang bertanya dan kearifan tanah ini menjawab dengan bahasa semesta. Ketika agama Buddha dipahami dari sudut pandang Jawa, kita memiliki Borobudur yang dikagumi seluruh dunia dan dijadikan tempat pendidikan kelas dunia di masanya. Hal yang sama juga terjadi pada agama Hindu dengan candi Prambanan dan masyarakat Balinya. Kemudian agama Islam bahkan dengan pendekatan kebudayaannya telah menjadikan Walisongo sebagai ulama kelas wahid di Asia Tenggara dan lainnya, dan kini timbullah dengan apa yang dikenal dunia kini dengan sebutan Islam Nusantara.
Tapi, ketika semua dijalankan dengan kaku dan harus seperti aslinya dimana agama itu diturunkan, maka terjadilah benturan yang nyata. Dan ketika ada orang yang menganggap adalah sempurna bila agama dijalankan sejurus dengan adat dimana ia diturunkan. Maka JAWABANNYA ADALAH SALAH BESAR, karena tata nilai agama itu bersifat universal, sedangkan adat dianugerahkan pada suatu komunitas dan kekhususan lokasi. Sehingga jangan mimpi untuk bisa hidup sempurna jika memaksakan sesuatu – terutama keyakinan – tanpa menyatupadukan dengan kultur dan karakter bangsa setempat. Sebab, getaran semestanya (nyata dan gaib) akan melawan dengan hebat. Akan ada hukuman bagi siapa saja yang keliru dan bersikap tidak adil dan tidak bijaksana kepada sesama. Dan Tuhan itu adalah Sang Maha Kuasa, Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, lantas mengapa masih saja ada orang yang berani mengkerdilkan keperkasaan-Nya itu dengan mengatakan “Tuhan hanya paham bahasa atau cara kami saja”?. Sungguh aneh.
“Akan tiba waktunya di tanah Nusantara ini bangkit kembali ajaran kuno yang pernah berjaya di masa silam. Bukan hanya di tanah Jawa, tetapi membawa pengaruh bagi seluruh dunia. Ajaran itu sangat indah karena di dalamnya terdapat aturan hidup yang menuhankan Tuhan Yang Satu, mengabdi kepada Dzat Yang Maha Mulia, dan tunduk hanya kepada Dia Yang Maha Kuasa. Sebagaimana yang telah dikabarkan di dalam kitab suci semua agama besar dunia”
Wahai saudaraku. Semoga kita tetap bisa menjadi pribadi yang tidak berpikiran picik atau fanatik yang buta, karena itu hanya akan menyusahkan. Bahkan jika terus dipertahankan, maka kehidupan pun akan semakin kacau, karena kepicikan dan fanatik itu sendiri adalah sumber dari kebodohan. Bersikaplah bijaksana disertai hati yang lapang, dengan begitu tujuan hidup di dunia akan tercapai.

Wednesday, September 14, 2016

MAKNA SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA




 
Jas Merah adalah ungkapan Bung Karno yang pasti tidak akan pernah lekang oleh waktu. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah, Itulah kepanjangan ungkapan itu, yang sesungguhnya berdimensi amat luas bila dikaitkan dengan keberadaan kita sebagai makhluk sosial.
....
Sejarah tidak datang dengan sendirinya. Dia tidak jatuh dari langit untuk kemudian dibanggakan semata sebagai hak individu atau sekelompok tertentu saja. Sejarah adalah serangkaian upaya masa lalu, yang didalamnya ada situasi berkembang dinamis. Yang penuh kecemasan dan juga rasa bangga dari seluruh pelakunya. Sehingga dia menjadi patut sebagai sebuah ceritra yang menginspirasi siapapun pada era setelahnya. Sehingga dia dapat menjadi bagian yang menyatukan, bukan sebaliknya memporak porandakan.
 
Karenanya, menuliskan sejarah adalah mengguratkan kerendahan hati untuk ceritra yang harus dibagi. Tidak saja tentang keperkasaan dan kemenangan tetapi juga tentang kesetiaan dan kesetiakawanan. Begitupun dalam memperlakukan sejarah. Dia tidak dapat dimanipulasikan. Apalagi diceritrakan dengan niat busuk para pendusta. Karena sang waktu pada akhirnya akan membuka tabir tentang apa yang seharusnya dan sesungguhnya pernah terjadi.
....
Sejarah tentang Bali adalah sejarah yang tidak semata tentang penguasaan dan keangkuhan. Tetapi juga ceritra tentang sikap yang saling memahami. Yaitu sikap yang akhirnya dipilih bersama guna menjadi 'sedhulur' dengan saling membisiki makna Vasudevam Khutumbakam - Kita semua adalah bersaudara. Itupula sebabnya mengapa akhirnya akultrasi menjadi begitu cepat dan tanpa tedeng aling-aling.
...
Namun demikian waktu yang terus menggelinding, mengajak juga generasi untuk ikut berganti. Dan para pendustapun berkesempatan untuk menebar sihir kebohongan. Karena sejarah kemudian diplintir. Sikap sebagai sedhulurpun diabaikan. Mengingat yang ada kemudian adalah kalimat yang semarak dengan hujatan serta ungkapan memilukan para leluhur : "Kau bukan Aku ... Kita bukan Mereka dan seterusnya". Akhirnya yang kemudian tersisa adalah sejarah yang gamang. Yang tidak jelas keterkaitannya dengan kebanggaan apapun bilamana diruntut ke hulu sebagai ikhwal. Sejarah akhirnya tidak bermanfaat apapun bagi generasi berikutnya, karena sejarah tidak lagi menjadi ceritra tentang keperkasaan sekaligus kerendahan hati sebagaimana para pelakunya dulu. Sejarah kini diabaikan karena dianggap membebani gengsi. Sejarah seolah telah menjadi batu sandungan bagi karier dan relasi serta kemasan lainnya dalam rangka kekinian.
 
Masa kini seolah tidak butuh sejarah. Begitu juga sebaliknya dengan sejarah, yang juga tidak butuh masa kini. Karena masa kini dipenuhi dengan kepentingan untuk menguasai segalanya sebagai hak kelompok. Yang tentu bertolak belakang dengan tujuan para leluhur ketika mengguratkannya sebagai sesuluh, pelita, bagi sebuah relasi sosial.
....
Jaman kini adalah jaman dengan langkah besar menuju kemunduran cara menakar hubungan. Kasta dan Soroh menjadi begitu marak. Tidak saja menggelinding di pojok-pojok keremangan berpikir kaum marginal, tetapi juga di gemerlap intelektualitas para tokoh.
 
Lalu, siapa yang mau direndahkan ketika satu Kasta butuh meninggikan dirinya??
 
Siapa yang mau ditindas untuk mengejawantahkan keperkasaan terhadap yang lain??
 
Jaman kini, telah membuat sejarahnya yang tidak ada sesuatupun untuk menjadi pantas ditauladani oleh generasi berikutnya. Karena sejarah masa kini adalah sikap pragmatisme yang levelnya adalah sekedar untuk menguasai lahan parkir dan pungutan retribusi guna menopang hidup. Kalau sekedar itu; kebanggaan apa yang dapat diwariskan?
 
Tidak ada apapun!!!!
 
Bahkan satu kebanggaan yang sebelumnya begitu takzim ketika menyebutnyapun telah pula terjual. Yaitu ketika Geria yang seharusnya sebutan bagi tempat bersenayam para Sulinggih dan Puri yang seharusnya sebagai sebutan istana para Raja, kini telah menjadi sebutan bagi kompleks perumahan.
....
Jadi menjadi wajar dan tidak terlalu angkuh bila warga Pasek akhirnya ikutan menggali sejarahnya sendiri. Yang lama terserak dan tertahan di kerendahan hatinya. 
 
Penulis : Ketut Sumarya

Sunday, September 11, 2016

Ketika keharmonisan belum terpaut....Ida Bhetara Mpu Gana di tuntun ke Pura Catur Lawa Besakih tanggal 11 September 2016




Ketika kata berbagi sudah begitu rumit untuk saling dipahami, adakah yang lebih baik dari kata Berpisah?
Itulah yang sedang terjadi hari ini di Besakih. Tepatnya di Pura Catur Lawa Ratu Pasek.
Hari ini, Redité, Kajeng Wage uku Kuningan, tanggal masehi 11September 2016, para penglingsir dan tokoh Pasek mengambil jalan tengah. Mereka menunjukkan komitmennya untuk tetap saling mengasihi sebagai warih para leluhur yang telah mewariskan kesepahaman. Yaitu agar pura Dasar Gelgel mesti didedikasikan sebagai sebuah arena. Dimana kecamuk cinta, benci disikapi sebagai rangkaian dinamika yang mengokohkan. Yang tidak hanya menginspirasi guna saling merindukan, tetapi juga memotivasi. Agar semua warih bersama-sama mengukir jaman. Juga menata angin guna menyejukkan gejolak benci, untuk kemudian menjadi kerinduan sexy yang menggairahkan.
....
Tetapi hari ini sebuah sikap telah diambil untuk selanjutnya dikukuhkan sebagai rangkaian nadar. Karena kesepahaman yang digadang-gadang para leluhur ternyata tidak pernah terwujud nyata. Juga telah semakin direntankan. Tidak saja oleh Lupa, tetapi juga oleh jaman yang tak sepakat untuk diukir bersama.
...
Lalu...siapa yang dikutuk oleh para leluhur?
...
Tapi pentingkah menjadikan kutukan sebagai bagian dari penangkal lupa ketika dia begitu lama diam. Tidak mengingatkan apapun kepada para warih bahwa mereka semua adalah sedhulur? Bahwa mereka semua wajib saling mengukuhkan sebagai warih dari kerendahan hati masa lalu ? Yaitu manakala salah satu diantara para warih senantiasa meradang akibat merasa diabaikan. Bahkan merasa tidak lagi dipadankan sebagai warih?
...
Hari ini pura Catur Lawa Ratu Pasek Besakih telah menjadi sebuah arena. Dimana gerah matahari disapu angin yang berhembus bagai menciumi apapun dengan kegairahan tak terperi. Yang menyeruak penuh berahi terhadap pucuk-pucuk bambu dan cemara yang tak kalah sexy memanggil-manggil. Pun juga terhadap mereka yang 'pedek tangkil'. Angin meraba sekujur mereka bagai sedang bercinta. Mereka semua bergairah. Menyambut sebuah sikap yang lama ditunggu. Yaitu untuk dipadankan tidak semata sebagai warih, tetapi sebagai anak-anak manusia. Yang setara dalam menata linggih untuk didedikasikan bagi sang waktu dan juga jaman.
...
Hari ini mungkin momentum yang telah dipahami oleh para leluhur sebagai sikap METILESAN dari salah satu warih mereka. Mungkin juga mereka ikut bosan atas apa yang telah terjadi begitu lama. Sehingga sepakat untuk sejenak memalingkan muka. Atau juga memburamkan pandang dengan bulir air mata yang menggenang penuh sesal. Bahwa para warih tidak lagi meneruskan kesepahaman yang dulu digurat penuh kerendahan hati dan suka cita untuk saling setia dan bersetia kawan.
....
Mungkin sikap yang telah diambil untuk 'Metilesan Raga' adalah sebuah keputusan yang sepadan. Karena ditujukan untuk memuliakan leluhur sesuai sesuluk yang semestinya. Dimana beliau di suguhkan Puspam, Dupam, Tirtam dan Mantram yang dibalut Mudram mengharukan oleh warih yang telah menggapai Dwi Jati. Tidak sekedar Sehe sesontengan, sekalipun digaungkan dari bangunan berukir indah. Memang tidak segurat kukupun dari keduanya nenjadikan bhakti berkurang. Tetapi bukankah menjadi penting manakala si anak menyuguhkan sesuatu yang mempertunjukkan bahwa mereka telah tidak menyia nyiakan segala kesempatan untuk menjadikan leluhur lebih bangga?
Adakah yang lebih mampu membuat air mata orang tua berderai ketimbang sapaan dan suguhan sepenuh syukur dari anak cucu??
Itulah yang hari ini terjadi. Yaitu ketika para warih PASEK tidak hanya memohon tetapi menyuguhkan keberadaan mereka kepada leluhurnya. Bahwa kini mereka adalah manusia yang tidak abai atas apa yang menjadi kehendak para leluhurnya. Bahwa kini mereka adalah manusia yang di kerendahan hatinya, juga berkehendak mengukir jaman agar sejarah tidak ragu memadankannya.
...
Sikap Metilesan Raga adalah pilihan dari mereka yang tidak abai akan rasa hormat. Yaitu agar pura Dasar Bhuwana Gelgel tak tersedak kesejarahannya. Bahwa PASEK adalah bagian terpenting darinya***
11/9/16

Thursday, September 08, 2016

NI WAYAN ROMEN telah berpulang....

Pada hari sabtu umanis malam tanggal 3 September 2016, warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan yaitu Ni Wayan Romen telah berpulang kepada Hyang Widhi Wasa.....

Upacara atiwa-tiwa dilaksanakan pada hari Minggu Wage Tanggal 11 September 2016 oleh Prathi sentananya....

Atas segala amal dan bhaktinya sebagai tabungan kebaikan semoga beliau amoring acintya...

Wednesday, June 22, 2016

Pan Waker aka I Rodeg telah berpulang

Bertepatan dengan Purnama Sasih Sadha, kajeng kliwon dan runtuhnya Watugunung atau sering disebut Tuun Sebel, satu lagi warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan yaitu Pan Waker alias I Rodeg telah menutup usia pada hari Minggu Kliwon Wuku Watugunung tanggal 19 Juni 2016.

Oleh pratisentananya, upacara atiwa-tiwa dilaksanakan pada hari Senen Pon Wuku Sinta, tanggal 27 Juni 2016. Sehingga bagi warga Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan tidak dapat melaksanakan perayaan Hari Raya Pagerwesi karena kacuntakan....

Atas semua amal kebaikaanya, semoga dapat menjadi tabungan kebajikan untuk menyatu dengan-Nya...

Om Swastyastu,
Om Tattwatma Naryatma Swadah Ang Ah
Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Murcantu.
Om Ksama Sampurna ya Namah Swaha...
Om Vayur Anilam Amartam Athedam
Basmantam Sariram,
Om Krato Smare, Klie Smare, Krtam Smara....
Om Ksama sampurna ya namah,
Om Santih, Santih, Santih, Om

Sunday, June 12, 2016

Bercerminlah pada Panca Pandawa


1. Pertama kali Bima yg mati.
Pada saatnya nanti, tenaga besar yg kau sombongkan itu meninggalkanmu pertama kalinya.
2. Kedua kalinya Arjuna yg mati.
Ketampanan, kesaktian, juga harta benda yg kau sombongkan itu meninggalkanmu berikutnya.
3. Ketiga kalinya Nakula yg mati.
Makanan (sekula) enak-enak yg kau sombongkan meninggalkanmu ditahap ketiga.
4. Keempat kalinya Sahadewa yg mati.
Kepradnyanan, keahlian, ketrampilan yg kau sombongkan meninggalkanmu selanjutnya.
Hanyalah Dharma yg diikuti seekor anjing (asu = asuba karma dan suba karma) yg kau bawa pulang ke desa tuamu.


"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."

OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.