411. “Dengan diamnya antah-karana lewat samãdhi[1], nikmatilah keagungan tanpa batas dari Sang Diri-jati. Dengan penuh semangat hancurkanlah belenggu bau harum-busuk dari kelahiran dan kematian; jadilah ia yang telah mencapai tujuan-akhir dari kelahiran berjasad manusia ini!

412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”

Monday, December 24, 2007

NGAYAH RING PURA BIAS TUGEL

Kadang kala kita harus percaya ucapan taksu yang keluar dari bibir Jero Dasaran....
bahwasanya yang meninggal masih punya ikatan kewajiban, seperti halnya Kematian I Wayan Ramat, yang hanyut di laut sehabis mancing tepat di depan Batu Jineng-jinengan yang berada di kawasan Geger pada hari jumat 7 Desember 2007, kira-kira jam 23.00 wita, bahwa beliau masih berkewajiban ngayah di Pura Bias Tugel, ngiring Ida Bhetara Ratu Gede saking Dalem Peed.
Jenasahnya baru ditemukan mengambang di pesuan Sekaa Nelayan Bengiat pada hari Minggu 9 Desember 2007 dalam keadaan muka yang rusak. Pelaksanaan pengabenan belum dilakukan, tetapi hanya melakukan upacara mekingsan di tanah, pada hari Senen 10 Desember 2007.
Sesuai dengan perarem yang ada di Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan, bahwa apabila ada salah satu anggota/ warga pemaksan yang meninggal dan tanpa dilakukan upacara atiwa-tiwa/pengabenan wajib anggota pemaksan/warga mengambil sesengker cuntaka selama 12 hari dari sejak layon dikuburkan. Dalam hal ini pelaksanaan makekelud di Pura Ibu Pasek Gelgel Sawangan dilakukan dalan kurun waktu 7 hari. Ini berarti telah terjadi penyimpangan pelaksanaan perarem yang telah disetujui oleh paruman.
Semoga apa yang telah terjadi tidak terulang kembali.
Semoga parajuru Pura Ibu Pasek Gelgel lebih mentaati isi pererem lagi, sehingga apa yang telah disepakati bisa dihormati...
S e m o g a . . . . . . .

No comments:


"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."

OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.