411. “Dengan diamnya antah-karana lewat samãdhi[1], nikmatilah keagungan tanpa batas dari Sang Diri-jati. Dengan penuh semangat hancurkanlah belenggu bau harum-busuk dari kelahiran dan kematian; jadilah ia yang telah mencapai tujuan-akhir dari kelahiran berjasad manusia ini!

412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”

Thursday, December 24, 2009

Kematian Bentuk Awal Kelahiran....

Life can be found only in the present moment.
The past is gone, the future is not yet here,
and if we do not go back to ourselves in the present moment,
we cannot be in touch with life....
~ Thich Nhat Hanh.
Kita tahu kalau jasad yang kita kenakan ini terbuat dari sari-sari unsur alam material yang notabene adalah benda-mati. Dan kitapun tahu, tanpa dukungannya, tanpa dukungan benda-mati itu —kalaupun seandainya dimungkinkan— kehidupan ini menjadi tidak lengkap seperti apa adanya kini bukan? Benda-benda mati itu, segenap unsur mahabhuta itu, mendukung kehidupan. Dan ini fakta.
Kebanyakan dari kita seringkali mempertentangkan antara hidup dan mati. Padahal mereka sebetulnya tidak bertentangan. Bukan saja benda-benda mati mendukung kehidupan, yang juga berarti mesti ada kematian guna berlangsungnya kehidupan, namun mereka juga berdampingan, menjalin suatu kerja-sama yang —mungkin buat sementara kita— terlihat misterius.
Sebutir telur mesti mati untuk memungkinkan lahir dan hidupnya seekor ulat; dan ulatpun mesti mati demi eksistensi sebuah kepompong, yang pada saatnya juga akan mati demi kelahiran dan kehidupan seekor kupu-kupu yang indah. Kematian mengiringi kelahiran, kehidupan. Kematianlah yang memungkinkan lahirnya sebentuk kehidupan —yang boleh jadi— sama-sekali baru, sama-sekali lain, sama-sekali berbeda dengan yang dikenal sebelumnya. Makanya, Anda dan saya mesti mati demi kelahiran ‘yang tak dikenal’ itu, ‘yang misterius’ itu.

Bali, Sabtu, 09 Februari 2008.
Oleh Ngestoe Raharjo..

No comments:


"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."

OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.