412. “Bebas dari semua identifikasi- diri keliru itu, sadarilah Diri-jati sebagai perwujudan dari Eksistensi Sejati – Kesadaran Murni – Kebahagiaan Abadi yang tiada tara, yang tak tunduk pada lingkaran-setan kelahiran dan kematian!”
Monday, December 24, 2007
Friday, October 05, 2007
SASIH BAGI UMAT HINDU
Ditulis oleh
Suastra
at
Friday, October 05, 2007
2
Comment
Thursday, September 20, 2007
ALIEN

Aham bhumim adadam aryaya.aham vrsthim dasuse martyaya,aham apo anayam vavasanamama devaso anu ketam ayam. (Rgveda IV.26.2).
Artinya:
Aku anugerahkan bumi ini kepada orang yang mulia.
Aku turunkan hujan yang bermanfaat bagi semua makhluk.
Aku alirkan terus gemuruhnya air dan
hukum alam yang patut pada kehendak-Ku.
1. Did Extraterrestrials Visit Earth Before the Flood?
2. Was Adam a Alien Half-Breed? by James Donahue
3. ebook FLYING SERPENTS AND DRAGONS by R.A. Boulay
4. Humanity's Extraterrestrial Origins: The Lizzies
Proyek Adam di Lab Eden Apa Yang Terjadi di Eden 6000 Tahun Lalu? Sering menjadi pertanyaan, apakah Adam merupakan manusia pertama di bumi ini? Benarkah dia dibuat di Eden? Apakah sebenarnya yang terjadi di sana? Apakah yang ada di kitab kejadian (Genesis), khususnya penciptaan dalam enam hari itu, di mana manusia diciptakan (atau dibikin) pada hari keenam, itu merujuk kepada penciptaan Adam dan Hawa? Bagaimana dengan petunjuk yang ada dalam kitab-kitab lain? Bagaimana pula jika dikaitkan dengan mitologi bangsa Sumeria kuno? Apakah Adam Manusia Pertama? Kebanyakan orang mempercayai bahwa Adam adalah nenek moyang dari semua manusia. Dengan demikian, sebelum Adam tidaklah ada manusia sama sekali. Tapi, banyak orag tentunya meragukan hal ini, apalagi menurut temuan arkeologi, sudah ada peradaban manusia yang jauh lebih tua dari perkiraan masa kehidupan Adam.
Yang jadi pertanyaan, benarkah kisah yang dikemukakan dalam berbagai manuskrip bahwa Adam itu dibuat dari tanah?
Ada pendapat yang mengkaitkan proses pembuatan Adam ini dengan makhluk luar angkasa. Hal ini dikaitkan dengan adanya fenomena makhluk dari dimensi lain yang dikisahkan bersamaan dengan proses pembuatan Adam. Dan ada anggapan bahwa yang dimaksud "dari tanah" itu bukan berarti bahan materi dari Adam adalah tanah, melainkan diciptakan dari sisa-sisa yang ada di dalam tanah.
Proses penciptaan Adam dari sisa-sisa makhluk hidup yang ada sebelumnya, mungkin bisa ditunjang dengan adanya pandangan bahwa dalam proses menciptakan langit dan bumi, sang pencipta berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu.
Ada kepercayaan bahwa penciptaan bumi dan langit ini terjadi berulang-ulang, sehingga ada proses penciptaan pertama dan penciptaan yang berikutnya. Hal itu dikatakan supaya manusia yang hidup saat ini bisa mengambil pelajaran dari pengalaman "manusia" terdahulu.
Dari studi yang ada, umumnya sampai pada kesimpulan bahwa Adam hidup sekitar 6000 tahun yang lalu. Kalau memang Adam dianggap hidup 6000 tahun yang lalu, maka mestinya ada catatan kuno tentang hal itu. Hanya saja, kalaupun ada catatan kuno, apakah catatan kuno itu bisa dipakai sebagai bukti atau cuma sekedar mitos dan legenda saja?
Adam, kalau memang pernah ada, harusnya hidup di daerah sekitar Mesopotamia, atau sekarang ini daerah Irak, Iran atau sekitarnya. Ada yang bilang, Adam sebenarnya muncul (turun) di India. kalau memang di India, harusnya ada keterangan tentang hal itu. Di India ada kisah tentang Manu dengan bencana air bah, di mana kata "Manu" ini sama dengan "Nuh" dan juga kemudian dipakai menjadi istilah "Manusia". Dari kitab Veda, tepatnya RgVeda IV.26.21-22 isinya: "Aku menganugerahkan bumi ini kepada Adadam Aryaya (orang yang mulia). Aku turunkan hujan yang bermanfaat bagi makhluk, Aku alirkan terus gemuruhnya air dan hukum alam tunduk kepada perintah-Ku. Apakah di sini merujuk kepada "ADAM" ? Namun ada yang menafsirkan "Adadam Aryaya" sebagai "bangsa manusia ras Aryan" "aham bhUmim adadAm AryAyAhaM" diterjemahkan sebagai "I have bestowed the earth upon the Arya" Apakah Adam itu adalah pemimpin pertama bangsa Aryan? Aryan ini adalah bangsa Indo-Eropa atau persia yang sekarang ini bernama Iran. Apakah ini ada hubungannya dengan mitos serangan bangsa Aryan ke India? Dan apa yang tertulis dalam kitab Kejadian 5:1 mungkin bisa menjadi bahan pemikiran. Apakah orang-orang yang ada dalam daftar silsilah Adam itu memang benar pernah hidup dulu.... atau cuma dongeng? Apakah Eden Lab Genetika? Kalau kita membahas soal asal usul cerita Adam ini secara serius, rasanya kurang lengkap kalau kita cuma berhenti pada sumber literatur dari kitab suci yang ada saat ini saja. Kita mesti menelusuri, dari mana asal usul cerita ini semula.
Kisah penciptaan Adam ini terjadi di "Taman Eden". Hal ini dikuatkan dengan cerita atau mitologi bangsa Sumeria kuno. Di sana ada banyak tokoh, seperti Enki, Enlil, Nin-Ti, Enkidu, dan lain-lain. Tahukah Anda, bahwa ada yang menarik dari istilah kata Eden (Edin) itu sendiri. Dalam bahasa Sumeria kuno, kata "E" berarti "Rumah" dan "Din" berarti "Pembuatan". Jadi Edin atau Eden itu adalah sebuah rumah tempat mencipta, yang mana kalau di jaman sekarang ini disebut sebagai LABORATORIUM.
Jadi, Eden merupakan suatu tempat di mana "mereka" yang disebut dengan elohim (yang artinya "mereka yang datang dari langit") itu melakukan berbagai percobaan atau proses pembuatan. Kalau di jaman sekarang, istilah yang tepat adalah kloning. Sebagaimana bisa kita baca dalam kitab-kitab suci maupun mitologi-mitologi yang ada, maka kita bisa mengetahui bahwa "mereka" mencari jejak-jejak kehidupan yang terkubur di dalam tanah dan menemukan jasad-jasad yang kemudian mereka ambil intisarinya (DNA) lalu dibentuk menjadi manusia. Demikian juga binatang-binatang yang lain. Itu sebabnya, pada kitab Kejadian 2:19 disebutkan bahwa Tuhan (Yehovah Elohim) membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Makhluk-makhluk ini, dibuat dari tanah, yang tentunya bisa ditafsirkan dua macam, pertama: binatang-binatang itu diciptakan dari tanah, dibentuk dan kemudian menjadi hidup, atau kedua: dari tanah diketemukan sisa-sisa (jasad) binatang yang ada dan kemudian melakukan kloning sehingga dengan segera terbentuklah berbagai binatang.
Seperti kalau sekarang ini manusia mengkloning domba yang diberi nama Dolly itu. Tentunya akan menjadi pertanyaan yang abadi, mengapa sang pencipta harus menciptakan manusia dan binatang itu dari tanah? Mengapa tidak begitu saja "dari tidak ada" menjadi "ada"? Jika memang dalam membuat Adam digunakan proses kloning, apakah sama dengan proses yang ada saat ini?
Hal ini kita bisa bandingkan dengan proses pembuatan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian saripati itu diolah menjadi air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh atau rahim. Kemudian air mani itu dijadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu dijadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu dijadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu dibungkus dengan daging. Kemudian akhirnya terbentuklah sebagai makhluk yang berbentuk lain.
Hal itu bila dibandingkan dengan prosedur kloning yang ada sekarang ini, maka prosesnya adalah mirip. Dan yang menjadi pertanyaan: Jika manusia pertama itu dibikin dari suatu saripati (yang berasal) dari tanah, lalu diolah menjadi cairan (lendir) atau semacam gel, dan kemudian ditempatkan dalam tempat yang kokoh (diartikan sebagai rahim), maka rahim siapakah yang dipakai? Apakah ribuan tahun yang lalu, ada sekelompok ilmuwan yang bekerja di laboratorium Eden, mengerjakan semacam Proyek Adam, mencari sisa-sisa jasad renik untuk diperoleh susunan DNA dari tanah dan kemudian menciptakan manusia. Manusia ini, menurut cerita mitos yang ada, dibuat untuk bekerja kepada mereka sebagai budak dalam rangka menambang emas.
Lalu, apakah macam-macam mahluk mitos juga berasal dari lab Eden? Bisa jadi memang begitu. Meski kepastian bahwa makhluk-makhluk itu dicipta-kan di Eden memang tidak jelas. Namun kalau dalam kitab kejadian ada ditulis: "Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan (beast of the field) dan segala burung di udara (bird of the heavens)." Dan hal itu dibuat di Eden.
Menurut mitologi bangsa Sumeria, anunnaki (atau mereka yang bertanggung jawab dalam proyek Adam ini), berasal dari planet Nibiru, yang masih satu tata surya dengan kita. Sampai saat ini, planet tersebut tidak diketahui lokasinya, namun berdasarkan perhitungan, diduga kuat memang ada.
Lalu, bagaimana dengan sisa-sisa fosil dinosaurus yang hidup ratusan juta tahun yang lalu? Apakah "mereka" itu tidak tertarik untuk menghidupkan mereka juga? Padahal, saat inipun, manusia yang telah menguasai teknologi kloning pasti akan tertarik untuk "menghidupkan kembali" dinosaurus dari sisa-sisa DNA yang tersisa. Apakah menurut mereka dinosaurus yang besar-besar itu tidak baik untuk keadaan bumi di saat itu?
Mitologi Sumeria kuno mencerita-kan adanya makhluk-makhluk aneh. Misalnya, makhluk bersayap,berbadan lembu dan berkepala manusia. Makhluk ini adalah makhluk mitos, ada yang menyebut sphinx atau kerub. Ada juga burung berkepala manusia atau sebaliknya, manusia berkepala gajah atau burung. Apakah di Taman Eden, dilakukan berbagai rekayasa genetika, termasuk memproduksi makhluk yang aneh-aneh? (nas)
------------ --------- --------- --------- --------- ---------

Telah ditemukan lokasi Taman Eden
Taman Eden diserap dari kata bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut Firdaus yang diserap dari kata Persia "Pairidaeza" yang arti sebenarnya dalah Taman. Dalam Islam Taman Eden disebut juga Surga `Adnin atau Jannatul `Adnin. Banyak orang ingin hidup di taman Firdaus (taman Eden), tetapi karena mereka tidak tahu letaknya dimana, jadi mereka menganggap taman Eden itu ada di surga. Kita sekarang sudah mempunyai peralatan yang serba canggih, mulai alat pemetaan dengan komputer s/d satelit, jangankan lokasi peta di dunia, peta di bulan pun telah kita ketahui dan miliki. Oleh sebab itu kalau kita sekarang tidak bisa menemukan letaknya taman Eden di dunia ini berarti hanya ada dua kemungkinan, taman Eden itu hanya sekedar dongeng orang jaman baheula saja atau taman Eden itu letaknya benar-benar di surga, tetapi apabila letaknya di Surga, kenapa Adam & Hawa bisa keluar dari Taman Firdaus secara begitu saja tanpa menggunakan kendaraan turun dari surga ke bumi ? Banyak orang telah berusaha untuk mengungkapkan rahasia dimana letaknya taman Eden, mulai dari Calvin sampai para ahli sejarah maupun ahli geologi jaman sekarang. Ada yang menduga letaknya di Mesir, di Mongolia, di Turki, di India, di Irak dsb-nya, tetapi tidak ada yang bisa memastikannya 100%. Bahkan menurut Wikipedia bahasa Inggris, Taman Firdaus itu bisa juga letaknya di daerah Indonesia sekarang yang mereka sebut sebagai Sundaland. Kalau kita mencari letak lokasi taman Eden maka seharusnya kita mulai dari Alkitab, sebagai titik awalnya sebab dari situ pertama kalinya kita mengetahui keberadaannya taman Eden. Menurut Alkitab letak taman Eden itu dibagian timur, ini dilihat berdasarkan titik pandang si pencerita, karena penulisnya orang Yahudi, maka yang dimaksud otomatis bagian timur dari Israel. Menurut Alkitab "Ada suatu sungai yang mengalir Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang." (Kej. 2:10) Nama ke empat sungai itu ialah Hiddekel, Perath, Pison dan GihonDua sungai pertama telah bisa di identitaskan: Hiddekel = Tigris dan Perath = Efrata, maka dari itulah banyak orang beranggapan bahwa taman Eden berada di daerah Mesopotamia selatan (daerah sekitar Irak sekarang) dimana sungai Tigris dan Efrata mengalir di jaman sekarang ini. Yang tidak atau belum bisa di identitaskan adalah kedua sungai terakhir Pison dan Gihon. Banyak yang menduga bahwa Gihon berada di Etiopia, karena tercantum dalam Alkitab bahwa sungai Gihon mengelilingi tanah Kusy (Kej. 2:13). Kusy dalam Alkitab biasanya diartikan sebagai Etiopia. Sedangkan sungai Pison berada di bagian tanah Arab, seperti yang tercantum di Kej 2:11 sungai Pison mengelilingi tanah Hawila = tanah dibagian Arab.

Ditulis oleh
Suastra
at
Thursday, September 20, 2007
0
Comment
Wednesday, September 19, 2007
ALIEN ADALAH CIPTAAN TUHAN
Ditulis oleh
Suastra
at
Wednesday, September 19, 2007
0
Comment
Sunday, August 12, 2007
BALI CHINBOTSU II
''JIKA pohon terakhir sudah dibabat, burung terakhir sudah ditembak, ikan terakhir sudah dipancing dan sungai terakhir sudah menjadi kering, manusia toh tidak bisa makan uang!"
Rubag tersentak membaca puisi yang tertulis di cover buku "Kebudayaan Menggugat". Pikirannya melayang ke polemik yang terjadi belakangan ini tentang rencana pembangunan lapangan golf di Karangasem, yang dikritisi berbagai pihak. Petinggi kabupaten paling timur Bali yang jadi sasaran kritik itu berkelit dan berdalih bahwa yang diributkan orang baru "wacana" dan menyayangkan sikap para kritikusnya. Anehnya, dia juga menyebut ribuan tenaga kerja yang konon akan tertampung di lapangan golf itu, bahkan bersikukuh bahwa lokasinya jauh dari kawasan suci Besakih.
"Negeri ini benar-benar seperti Negara Teater, tempat pementasan ketoprak humor. Para aktor panggung bebas mengucapkan apa saja, dimengerti maupun tidak. Dari raja hingga panakawan nyeroscos terus untuk memancing geerrr penonton. Pejabat menyebut rencana pembangunan lapangan golf di daerahnya baru tingkat 'wacana', padahal lahan proyek telah diukur dan di setiap patoknya tertulis inisial perusahaan yang akan mengelolanya. Tahukah Bapak itu definisi wacana? Lalu, mengapa masyarakat ribut?" tanya Rubag.
"Sederhananya, aku pahami, wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Berita tentang lapangan golf itu, bagiku, telah berkembang menjadi wacana publik. Meski wacana awalnya diucapkan di ruang tertutup secara bisik-bisik, namun implikasinya terjadi di ruang publik. Kalau nggak salah, praktik wacana mengandung efek ideologi dan kekuasaan di dalamnya, sehingga masyarakat ribut. Tentu yang dimaksud ideologi di zaman sekarang adalah hal-hal yang berkelindan di seputar uang, duit dan doku. Meski publik bisa dihibur dengan kata-kata bersayap, uang bukan segalanya, kenyataannya tanpa uang susah segalanya," sahut Mandra.
"Kalau disimak puisi di cover 'Kebudayaan Menggugat' itu dan bila kita dalam kondisi 'sing ada apa buin De !', baru akan terasa bahwa uang bukan segalanya. Bali memang belum pernah dilanda bencana besar seperti yang melanda kawasan Asia saat ini. Bencana tak pernah memilih korban, siapa saja. Tapi ingat, perubahan iklim sudah kita rasakan sebagai bukti bahwa kita adalah bagian dari jaring-jaring kehidupan universal. Bali dan kita sebagai penghuninya, umpama seutas benang dalam rajutan, apa pun yang kita lakukan, bukan hanya berakibat pada kita, tapi berimbas ke seluruh rajutan. Rupanya Tri Hita Karana cuma semboyan saja, ya?"
"Bagiku, Tri Hita Karana adalah persepsi ekologis yang diperluas hingga melibatkan Tuhan. Sayang, kebanyakan dari kita menganggap hubungan antara persepsi ekologis 'agung' itu dengan perilaku yang sesuai dengannya, cuma sebagai hubungan logis, bukan psikologis. Dengan alasan logis, rasional dan ekonomis, dirabaslah hutan dan di lahannya didirikan villa-villa, pantai-pantai dibentengi hotel-hotel, sawah, ladang dan sepadan sungai dijadikan real estate, mall dan shopping center. Jeritan 'Bali sudah bopeng!' bukannya direspons dengan mulat sarira, malah sebaliknya muncul rencana pembangunan lapangan golf. Apa mau berlomba meningkatkan PAD?" tanya Rampug.
"Sekarang, bukan hanya Pura Subak yang nyaris menjadi nostalgia sejarah, juga Kahyangan Tiga, Dang Kahyangan serta tempat-tempat suci lainnya terancam kesakralannya. Kaidah adat, apanimpug, apaneleng dan apanyengker dianggap kuno dan harus mengalah pada kajian-kajian ilmiah. Ruang dan waktu yang disulap uang, dianggap sama atau homogen. Padahal dalam kosmogoni Hindu, ruang dan waktu itu heterogen. Ada waktu-waktu tertentu yang dianggap suci, selebihnya biasa, sehingga orang punya odalan, hari raya dan berbagai jenis hari suci lain. Juga ada ruang sakral dan ruang profan, yang memiliki tatacara dan etika tertentu untuk memasukinya. Ironisnya, karena mabuk duit, heteroginitas ruang dan waktu itu kian diabaikan, malah ada penganut Hindu berstatus elit ikut melabraknya, " komentar Metra.
"Nah, itulah akibat hubungan antara perilaku yang sesuai dengan persepsi ekologis yang disebut Tri Hita Karana dianggap bersifat logis, bukan psikologis! Logika dan rasio yang bertendensi ekonomis mengalahkan moralitas. Uang, bagi mereka, lebih penting daripada janji-jandi surga, waktu sekarang lebih penting ketimbang masa depan yang belum jelas. Aku khawatir, mereka juga tidak peduli, apakah cucu dan buyut mereka akan melihat Bali seperti yang kita saksikan sekarang?"
"Coba saja kalau mereka sempat menyaksikan film 'Apocallypto' produksi Mel Gibson, yang mengisahkan peradaban besar yang hancur akibat kesembronoan suku bangsa yang mendukungnya. Kerajaan Maya yang berkuasa di Amerika selama 1.000 tahun, jauh sebelum para imigran dari Eropa membanjiri benua itu, tiba-tiba tenggelam menyisakan reruntuhan kota dan piramid besar yang dibalut belukar dan hutan lebat. Peradaban besar itu hancur bukan karena serbuan bangsa luar, tapi karena ulah suku bangsa Maya sendiri yang saling berperang dan menghancurkan satu sama lain. Kita di Bali memang tidak saling berperang, namun menghilangkan warisan leluhur berupa tanah yang seharusnya kita pertahankan dan wariskan ke generasi-generasi berikutnya," tutur Widia.
"Itu, sra panggang sra tunu, baunya sama! Kalau tidak salah, menjelang akhir 1980-an aku pernah ngobrol soal 'Bali Chinbotsu' atau 'Tenggelamnya Bali', lantaran terinspirasi sinopsis novel fiksi 'Nihon Chinbotsu' karya Komatsu Sakyo. Bila Komatsu bercerita tentang Jepang yang tenggelam akibat pergeseran kerak bumi dan geografinya labil sering dilanda gempa, tsunami dan topan, aku ngobrol soal Bali yang tenggelam karena bebannya kian sarat akibat serbuan pendatang. Kalau orang Jepang yang diungsikan ke berbagai negara, menurut Komatsu, merasa terkucil karena sulit menyesuaikan diri, bagiku, orang Bali justru pergi ke luar negeri untuk mencari budayanya yang hilang. Kini gejala 'Bali Chinbotsu' sudah tampak akibat ulah beberapa elit Bali yang mengabaikan sakralitas ruang, bahkan waktu, demi uang dan kekuasaan," ujar Rubag.
"Andai saja Adam dan Hawa dimaafkan Tuhan dan tidak diusir dari surga gara-gara makan buah terlarang, mungkin dunia tidak serusak sekarang. Jumlah manusia pun tidak berkembang jadi enam milyar seperti sekarang, tapi tetap dua orang, pria dan wanita. Tidak ada gusur menggusur, hutan dan gunung dibabat, sungai dan mata air mengering, bahkan uang yang dianggap dapat membeli segalanya, tidak akan pernah ada. Tapi itu semua seandainya.. .," tukas Rampug.
"Tapi 10 KK di Cenggiling, Jimbaran, sudah merasakan 'Bali Chinbotsu'! Rumah mereka dikurung hotel dan bangunan milik investor, sehingga tidak punya akses keluar-masuk rumah. Aparat desa dan pemerintah tidak berdaya menyelesaikan masalah. Hal serupa bisa terjadi juga pada kita, bila Bali dipimpin plutokrat. Apalagi kekuasaan mereka peroleh dengan menguras rekeningnya di bank untuk membeli suara," sahut Rubag.
Ditulis oleh
Suastra
at
Sunday, August 12, 2007
0
Comment
Monday, July 16, 2007
Banten Sebagai Penguatan Konsep Hidup
BANTEN merupakan visualisasi dari ajaran tattwa dan susila Hindu yang memiliki tujuan mengarahkan, menuntun manusia guna tumbuhnya sifat-sifat yang mulia dalam diri. Oleh sebab itu apa yang ada dibalik banten itu ternyata sangat kaya akan konsep hidup yang bersifat universal, yang wajib diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari misalnya: Banten Peras, Banten ini lambang perjuangan hidup dan doa untuk mencapai kesuksesan (Prasiddha) dalam kehidupan ini. Sebagai manusia normal kesuksesan dalam hidup merupakan dambaan setiap orang. Lalu apa yang harus dilakukan dalam meraih sukses tersebut. Dalam Banten Pras kesuksesan itu digambarkan dengan jelas sekali dinyatakan : " Pras Ngaranika Prasiddha Tri Guna Sakti ", artinya Pras namanya adalah sukses (Prasiddha) dengan kuatnya Tri Guna. Tri Guna itu adalah Sattwam, Rajas dan Tamas. Apabila ketiga Guna ini berada pada struktur dan komposisi yang idial, maka ia akan menjadi kekuatan luar biasa untuk mengantarkan seseorang menuju pada kesuksesan hidup. Struktur dan komposisi idial yang dimaksud adalah apabila guna Sattwam menguasai guna Rajas dan guna Tamas. Dalam Banten Pras ketiga guna ini disimbulkan dengan benang, uang dan beras. Benang sebagai lambang Sattwam, Uang sebagai lambang Rajas, dan Beras sebagai lambang Tamas. Banten Penyeneng melambangkan konsep hidup yang berkeseimbangan, dinamis dan produktif. Hidup yang seimbang mengandung suatu arti bahwa tujuan hidup ini harus diselaraskan antara kebutuhan jasmani (material) dengan kebutuhan rokhani, dinamis mengandung arti bahwa dalam hidup ini manusia diwajibkan untuk tidak henti-hentinya mengejar kemajuan dan produktif artinya senantiasa berkarya atau mencipta yang patut diciptakan, memelihara yang patut di pelihara dan meniadakan sesuatu yang patut ditiadakan. Visualisasi dari konsep hidup yang tiga ini diwujudkan dengan bentuk sampian yang beruang tiga. Dalam usaha membangun konsep hidup ini maka manusia hendaknya memiliki pandangan yang benar. Benar dalam arti dilandasi oleh kesucian bathin. Kesucian bathin akan muncul manakala telah lenyapnya sifat-sifat negatif dalam diri. Dengan demikian barulah benih kesucian dapat disemaikan. Hal ini divisualisasikan dalam bentuk sarana yang disebut segawu tepung tawar dan beras. Banten Tulung adalah suatu banten dengan tiga kojong yang berisi nasi dan lauk pauk dan rerasmen. Makna dari banten tulung ini adalah bahwa hidup ini saling memiliki ketergantungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan binatang, manusia dengan tumbuh-tumbuhan. Ini menggambarkan manusia disamping sebagai makhluk individu juga berdimensi sebagai makhluk social. Ciri makhluk sosial adalah memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan semua komponen yang hidup di muka bumi ini. Banten Sesayut adalah suatu banten yang melambangkan perjuangan hidup manusia untuk meraih kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup yang disebut ayu. Kesejahteraan dan kebahagiaan hidup ini tidak dapat diwujudkan sekaligus, melainkan diraih dengan cara bertahap sesuai bentuk alas dari sesayut itu yang berbentuk bulat maiseh. Oleh karena itu dalam wujud apa kesejahteraan dan kebahagiaan itu dimohonkan disesuaikan jenis sesayut atau tebasan yang ada. Itu sebabnya banyak ditemui jenis sesayut yang masing-masing mempunyai pengharapan yang mengkhusus.Banten Dapetan adalah suatu banten yang memiliki makna untuk mencari, pengembangan kebajikan sehingga apa yang kita warisi baik dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang merupakan proses karma kita dimasa lampau maupun karma dimasa kini. Untuk napet (mewarisi) yang baik manusia wajib pengembangan, serta menyemai kebajikan itu kepada semua orang dengan selalu berpegang kepada Satya. Jika hal ini senantiasa dilembagakan niscaya akan dipetik hasil atau buah yang baik. Hal ini divisualisasikan dengan beras (bija) yang dicampur bunga kamboja atau cempaka (sesarik) sebagai lambang benih yang harus disemaikan, serta benang sebagai lambang kebenaran. Hal ini harus dikembangkan kesegala penjuru yang dilambangkan oleh alas sesarik yang berdimensi ke delapan penjuru mata angin. Dan masih banyak banten-banten lain yang merupakan pengejewantahan dari kebenaran ajaran Weda. **
Ditulis oleh
Suastra
at
Monday, July 16, 2007
0
Comment
Banten Sebagai Simbol Berserah Diri
BERSERAH diri menurut konsep Hindu, bukan sebuah sikap apatis, melainkan sebuah sikap proaktif yang bersifat dinamis, untuk memperbaiki kehidupan ini dengan senantiasa menumbuh kembangkan rasa bhakti yang dilandasi oleh Jnana dan Karma. Banten menurut Yajna Prakrti merupakan salah satu bentuk penyerahan diri kepada hyang Widhi. Hal ini disebutkan sebagai berikut : "Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayajna. Sekare pinaka kaheningan kayunta mayajna. Plawa pinaka peh pakayunane suci, raka-raka pinaka Widyadara-Widyadari". Artinya: Reringgitan dan Tatuwasan lambang dari kesungguhan hati dalam beryajna. Bunga lambang dari kesucian hati untuk beryajna. Daun-daunan lambang dari tumbuh berkembangnya pikiran suci. Buah-buahan, jajan pelengkap banten adalah melambangkan Widhyadara dan Widhyadari. Apa yang dilukiskan oleh pernyataan lontar diatas mewrupakan penjabaran dari konsep bhakti menurut Hindu yang dikemas dalam wujud banten, jika hal itu disimpulkan ternyata didalamnya terkandung ajaran syarat-syarat berserah diri kepada Hyang Widhi, yang mana hal itu digambarkan: Pertama adalah langgeng artinya bersungguh-sungguh. Berserah diri kepada Hyang Widhi tidaklah boleh ragu-ragu. Berserah diri hendaknya dilandasi oleh keyakinan yang kuat dan keteguhan hati, bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Adil. Seseorang yang memiliki keteguhan hati merupakan cerminan dari kebijaksanaan serta pikiran yang mantap. Konsep langgeng dan keteguhan hati ini dalam Bhagawad Gita II 54 diistilahkan dengan Sthitaprajna, yakni orang yang teguh dalam yoga yang tidak terpengaruh oleh suka dan duka. Kedua adalah kesucian pikiran. Pikiran atau manah harus diperkuat hingga mencapai kesempurnaan untuk mengendalikan indria sesuai bunyi Bhagawad Gita III 42. Manah yang sempurna berada di bawah kendali dari Buddhi. Biddhi yang kuat berada di bawah sinar suci atma. Kesucian pikiran ini hendaknya senantiasa diperjuangkan dalam wujud latihan rohani dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bunga dalam upacara tidak hanya dalam arti nyata, melainkan pula bagaimana kita dapat mempersembahkan bunga padma hredaya kita yang tumbuh sebagai akibat berseminya rasa bhakti itu kepada Tuhan. Ketiga mengembangkan pikiran yang suci. Penggunaan plawa ini dimaksudkan dalam berserah diri dilakukan dengan mengembangkan vibrasi kesucian itu kepada setiap lingkungan yang mungkin dapat dicapai. Dengan kata lain sesuatu yang baik, yang dapat dicapai patut untuk didayagunakan untuk melayani sesama dan itu berarti juga melayani Tuhan. Dengan demikian prinsip pelayanan kepada Tuhan tidak hanya semata-mata secara langsung ditujukan kepada Tuhan, tetapi pelayanan kepada semua ciptaan Tuhan juga memiliki makna pelayanan kepada Tuhan. Keempat adalah melambangkan Widhyadara-Widhyadari. Secara etimologi kata Widyadara itu berasal dari kata Vidya yang berarti Pengetahuan dan kata Dhara artinya memangku atau penyangga. Para pemangku ilmu pengetahuan itulah yang disebut Vidyadara-Vidyadari. Dari ilmu pengetahuan itulah didapatkan pengetahuan atau jnana, sebagai landasan untuk melakukan kerja. Berserah diri kepada Tuhan dalam wujud bhakti hakikatnya adalah penyerahan karma berdasarkan jnana. Demikianlah makna berserah diri yang dilakukan oleh umat Hindu dalam merealisasikan keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.**
Ditulis oleh
Suastra
at
Monday, July 16, 2007
0
Comment
BANTEN SEBAGAI BAHASA SIMBOL

Ditulis oleh
Suastra
at
Monday, July 16, 2007
0
Comment
Wednesday, July 11, 2007
PURA PEDHARMAN PASEK DI BESAKIH
Daivadyantam tadihetaPitradyantamna tad bhavet.
Maksudnya:
Hendaknya seseorang itu melakukan upacara Sraddha terlebih dahulu dan berakhir dengan pemujaan para Dewa. Hendaknya jangan berakhir dengan pemujaan leluhur. Karena pemujaan yang hanya berhenti pada pemujaan leluhur akan cepat hancur bersama keturunannya.

Demikianlah berbagai manifestasi Tuhan yang disebut Dewa atau Batara itu dipuja di berbagai kompleks pura di Besakih. Sedangkan tempat pemujaan para leluhur di Besakih disebut Pura Padharman. Fungsi pura memang ada dua yaitu Dewa Pratistha adalah pura untuk memuja Dewa manifestasi Tuhan. Atma Pratistha pura untuk memuja roh suci leluhur. Di Besakih juga demikian ada pura untuk memuja para Dewa dan ada pura untuk memuja leluhur yang sudah mencapai tahap Dewa Pitara.
Pura Padharman adalah pura untuk memuja leluhur yang sudah suci yang disebut Dewa Pitara. Di Besakih ada banyak Pura Padharman. Salah satu adalah Pura Padharman Pasek. Di pura ini sebagai tempat pemujaan leluhur warga Pasek. Warga Pasek telah memiliki suatu lembaga bersama yang disebut Maha Gotra Sanak Sapta Resi. Dengan lembaga yang cukup solid itulah Pura Padharman tersebut dikembangkan sehingga memiliki fungsi yang semakin luas sesuai dengan tuntutan zaman.
Memang pura bukanlah semata-mata sebagai tempat sembahyang dan tempat menyelenggarakan upacara yadnya. Pura Padharman Pasek ini sudah banyak dikembangkan dengan berbagai bangunan pelengkap, sehingga di Pura Padharman Pasek ini dapat berfungsi sebagai pura untuk mengembangkan pendidikan kerohanian baik untuk mendidik calon-calon pinandita maupun pandita.
Meskipun Pura Padharman Pasek ini sudah sedemikian dikembangkan tetapi tidak mengurangi fungsi utamanya sebagai tempat pemujaan Mpu Geni Jaya, Mpu Semeru dan Mpu Kuturan. Bahkan dalam pengembangan selanjutnya juga didirikan Pelinggih Pepelik sebagai Penyawangan Mpu Gana, Mpu Beradah. Krena Mpu Geni Jaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Kuturan dan Mpu Beradah adalah lima pandita bersaudara yang disebut Pandita Panca Tirtha.
Mpu Geni Jaya tempat pemujaan utama beliau di Pura Lempuyang Madia sebagai Pura Kawitan Maha Gotra Sanak Sapta Resi. Sedangkan di Padharman sebagai pemujaan penyawangan. Pura Kawitan memang beda dengan Pura Padharman. Pendirian Pura Padharman di Pura Besakih itu lebih menekankan pada kebijaksanaan penguasa saat itu sebagai media untuk mendudukkan berbagai kelompok warga di Bali dalam posisi setara dan bersaudara. Ini berarti kebijaksanaan raja saat itu menerapkan ajaran agama sabda Tuhan menjadi sistem religi menata sistem sosial untuk membangun dinamika sosial yang harmonis produktif.
Sepanjang pengetahuan, Pura Padharman di Besakih tidak dibeda-bedakan. Maksudnya tidak ada Pura Padharman yang utama, madya dan nista. Apalagi Pura Padharman Pasek sangat jelas yang dipuja di sana adalah para pandita besar seperti Mpu Geni Jaya dengan saudara-saudara beliau Sang Panca Pandita.
Di Pura Padharman Pasek, Mpu Geni Jaya dipuja di Pelinggih Meru Tumpang Tiga, Mpu Semeru di Pelinggih Meru Tumpang Tujuh. Sedangkan Mpu Kuturan di Pelinggih Manjangan Saluwang. Tentang Palinggih Manjangan ini umumnya terdapat pada Merajan Gede keluarga Hindu di Bali. Keberadaan Pura Padharman Pasek ini berdiri di sebelah kanan Pura Panataran Agung Besakih.
Hal ini membuktikan bahwa pada zaman dahulu raja mendudukkan dengan setara Maha Gotra Sanak Sapta Resi di kerajaan di Bali. Warga Pasek bukanlah warga keturunan Sudra. Warga Pasek adalah keturunan Brahmana. Karena leluhur warga Pasek di Bali dari Mpu Geni Jaya yang menurunkan Sapta Resi. Dari Sapta Resi inilah selanjutnya menurunkan Warga Pasek.
Dalam proses sejarah warga Pasek tidak lagi memegang kekuasaan seperti menjadi raja maupun petinggi-petinggi kerajaan yang lainnya. Karena tidak memegang jabatan maka gelar-gelar jabatan dalam kerajaan pun tidak dipakainya sebagai sebutan di depan namanya. Umumnya warga Pasek menggunakan sebutan Wayan, Made, Nyoman dan Ketut sebagai sebutan di depan namanya.
Karena tidak berada dalam lingkar kekuasaan kerajaan, warga Pasek disebut orang Jaba. Dalam kenyataannya yang disebut orang Jaba tidak semata-mata dari warga Pasek, dari keturunan Arya dan warga-warga lainnya seperti warga Pande Bujangga Waisnawa ada juga disebut orang Jaba. Yang dimaksud Jaba itu adalah orang yang berada di luar kekuasaan kerajaan.
Banyak dari orang-orang yang disebut Jaba itu karena tersingkir dalam ''permainan'' kekuasaan. Karena proses sejarah juga lama-kelamaan orang Jaba itu diidentikkan dengan Sudra. Kesalahpahaman ini terjadi karena permainan kekuasaan juga saat itu.
Keturunan Danghyang Dwijendra di Bali disebut Brahmana. Danghyang Dwijendra sendiri adalah keturunan dari Mpu Beradah. Mpu Geni Jaya, leluhur Maha Gotra Sanak Sapta Resi, itu adalah saudara dari Mpu Beradah. Secara logika keturunan Mpu Geni Jaya pun sesungguhnya Brahmana Wangsa. Tetapi faktanya dalam masyarakat tidak demikian. Itulah sejarah. Ke depan sejarah seperti itu sebaliknya tidak terulang lagi di Bali. Jadikan semuanya itu sebagai pelajaran saja untuk lebih jujur menjalankan sejarah.
Sejarah yang pahit itu tidak perlu diperuncing lagi, untuk selanjutnya jangan ada kekuasaan untuk merendahkan sesama warga. Marilah bangun lagi kesetaraan, persaudaraan dan kemerdekaan dalam kehidupan bersama ini. · I Ketut Gobyah
Ditulis oleh
Suastra
at
Wednesday, July 11, 2007
4
Comment
Monday, July 09, 2007
Pura Sakenan
Pura Sakenan terletak di Pulau Serangan, Desa Serangan, Denpasar Selatan. Pura atau kahyangan ini dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha bersamaan dengan pembangunan beberapa pura lainnya pada zaman pemerintahan raja suami-istri Sri Masula Masuli.
Dalam lontar Usana Bali antara lain disebutkan, Mpu Kuturan juga disebut Mpu Rajakretha. Ia membangun pura berdasar konsep yang dibawanya dari Majapahit (Jawa Timur), diterapkan di Bali seluruhnya. Mengenai bertahtanya Sri Masula Masuli di Bali dapat diketahui dari prasasti Desa Sading, Mengwi, Badung. Prasasti itu bertahun Icaka 1172 atau 1250 M. Di situ disebut, Raja Sri Masula Masuli menjadi raja di Bali sejak tahun Icaka 1100 (1178 M). Raja ini memerintah selama 77 tahun. Artinya, ia mengakhiri pemerintahannya sekitar tahun Icaka 1177 (1255 M).
Ketika Danghyang Nirartha mengadakan perjalanan keliling Bali mengunjungi tempat-tempat suci, ia sampai pula di Pulau Serangan. Lalu, di bagian barat pantai Pulau Serangan dibangunlah pura. Di situ, Danghyang Nirartha dapat menyatukan pikirannya secara langsung. Mengenai peristiwa ini, dalam Dwijendra Tattwa, antara lain diuraikan sbb.; "...sesudah Danghyang Nirartha mensucikan diri di Bukit Payung, lalu beliau meneruskan perjalanan dengan menyusur pantai laut yang sangat indah dan mempesonakan menuju arah utara. Pantai yang dilalui cukup permai dengan pasirnya yang memutih memberikan keindahan alam yang mempesonakan, ditambah lagi dengan herembusnya angin dan lautan yang dapat menyegarkan jasmani beliau."
Lalu disebutkan lagi, "Dalam perjalanannya ini kemudian beliau menjumpai dua buah pulau kecil yaitu Nusa Dwa. Di pulau ini Danghyang Nirartha lagi beristirahat untuk melepaskan lelah, dan di sinilah beliau menyusun sajak atau kakawin Anjangsana Nirartha. Setelah selesai mencatat dan menyusun segala sesuatu yang berkaitan dengan sajak ini, Danghyang Nirartha lagi melanjutkan perjalanan menuju arah utara."
Tak dikisahkan bagaimana halnya di dalam perjalanannya, sampailah Danghyang Nirartha di suatu pulau kecil yaitu Serangan. Pada pantai bagian barat Pulau Serangan, Danghyang Nirartha beristirahat sambil mengagumi keindahan alam sekitarnya. Di tempat itu ia merasakan dan menyaksikan perpaduan harmonis antara daratan pulau Serangan dengan laut yang mengelilinginya. Karenanya, Danghyang Nirartha berketetapan hati dan memutuskan untuk tinggal dan bermalam beberapa hari di sana.
Akhirnya, di situlah Danghyang Nirartha membangun palinggih (bangunan suci) di Pura atau Kahyangan Sakenan. Sakenan berasal dan kata cakya yang berarti dapat langsung menyatukan pikiran. Pujawali atau piodalan di Pura Sakenan jatuh pada setiap 210 hari, pada Sabtu Kliwon, wara Kuningan, bertepatan dengan hari raya Kuningan. Sedangkan keramaiannya diselenggarakan pada Minggu Umanis, wara Langkir.
Ada hal penting yang setidaknya harus diperhatikan oleh para umat atau pemedek yang hendak tangkil ngaturang bakti atau bersembayang ke Pura Sakenan. Konon, hal ini masih rancu terjadi. Yang sering terjadi, umat melakukan persembahyangan di Pura Dalem Sakenan (pura yang di pinggir paling barat) dan di Pura Susunan Agung (di sebelah timur Dalem Sakenan), setelah itu langsung pulang.
Dalam pasamuan atau rapat nyanggra piodalan di Pura Sakenan yang sudah digelar, dijelaskan bahwa persembahyangan itu merupakan satu paket. Artinya, pemedek harus bersembahyang (1) ke Pura Susunan Wadon -- sekitar 0,5 km ke timur Pura Sakenan), (2) ke Pura Susunan Agung, dan (3) ke Pura Dalem Sakenan -- pada pelingih paling barat di pinggir pantai yang berbentuk Padmasana.
Dalam kajian sastranya, rangkaian ini bisa di telusuri dari kata Pura Susunan Wadon, Susunan Agung, dan Pura Dalem Sakenan. Terdapat suatu pengertian Purusa, Pradhana dan Susunan Agung adalah Lingga, Yoni dan Susunan Agung adalah tempat penyatuan antara Purusa dan Pradana -- penyatuan sang diri dengan maharoh sebagai asal mula setiap mahluk hidup. Pemahaman inilah yang ditemukan Mpu Kuturan sehingga melahirkan Pura Sununan Lanang dan Susunan Wadon.
Pun dengan kehadiran Dang Hyang Nirartha, juga terjadi hal yang sama. Sehingga, sebagai penghormatan terhadap beliau, maka dibuatkanlah pelinggih Pura Dalem Sakenan yang merupakan penyatuan antara Siwa dan Budha.
Ditulis oleh
Suastra
at
Monday, July 09, 2007
0
Comment
Wednesday, July 04, 2007
KUNINGAN & SAKENAN

Bisa dirinci perihal makna warna kuning itu atau makna khusus hari Kuningan?
Kuning itu bisa dilihat dari poros kangin-kauh, timur-barat. Mahadewa di arah kauh itu kan kuning. Dalam konteks pengendalian diri dari unsur indria, jika itu sudah mampu dilakukan orang, itu sudah kahuningan. Makanya, banten pada hari Kuningan tidak berisi daging babi, melainkan ada calon yang bermakna kebulatan. Kalau orang sudah uning, pasti unsur bulat itu menjadi power-nya. Bulat itu simbol kesempurnaan. Sunia, purna, itu semuanya bulat. Tamiyang yang ditampilkan juga bulat. Persembahan kepada Dewa semuanya berbentuk bulat -- banten, daksina, sampai isi suci pun bulat-bulat. Pada Kuningan, titik-titik itu ditonjolkan ke Dewa, sedangkan Galungan itu memang keceriaan yang lebih mengarah ke Durga Puja.
Hari Kuningan selalu identik dengan Pura Sakenan karena di situ pada saat bersamaan sedang berlangsung rangkaian "piodalan". Apa sesungguhnya relevansi Kuningan dan Pura Sakenan?
Pada dasarnya, di Pura Sakenan itu ada unsur pertemuan Siwa dan Budha. Di masa lalu, di situ orang menghidupkan power. Dalam sejarah, Sakenan adalah salah satu titik yang dilakukan oleh Danghyang Nirarta dalam perjalanannya mengelilingi Bali. Ketika mengelilingi Bali yang sudah dilakukan beberapa kali, poros tengah juga dilewati. Selain keliling di pinggir laut, poros tengah juga ditempuh misalnya di gunung seperti di Gobleg, Batur, dan sebagainya. Dari perjalanan keliling itu beliau kembali pulang ke luhur atau kembali ke titik api pembakaran secara spiritual melewati Sakenan. Dalam konteks ini, Sakenan itu untuk beryoga yang dicari setelah Durga Puja.
Mengapa bernama Sakenan?
Karena di situ Danghyang Nirarta melakukan power budha, sakiana. Sakenan itu berasal dari kata sakia yang lebih dekat dengan kekuatan Budhism -- beliau melaksanakan dua yaitu sebagai Budha maupun Siwa. Budha dalam konteks ajaran di Indonesia lebih mengarah pada makna energi untuk mengalahkan segala yang menyerang kekuatan bhairawa. Siwa sebagai kekuatan bhairawa, jelas menonjolkan kekuatan sidhi dalam rangka membakar diri beliau sendiri. Beliau membangun api suci Siwa Ageni untuk membakar diri beliau sendiri sampai menjadi abu.
***

Dibangunnya jembatan penghubung atau penyatuan daratan seperti itu, bagi saya, adalah sebuah kemunduran dari segi spiritual. Sakenan mestinya "terputus" karena itu merupakan tempat beryoga di masa lalu. Sakenan secara keseluruhan maupun pura yang lebih kecil itu pada mulanya juga terputus. Yoga di satu tempat yang dikelilingi air itu sangat luar biasa kekuatannya. Dari situ kesucian terjaga. Oleh karena kini Sakenan dihubungkan oleh daratan, maka terjadi polusi yang menyebabkan kesucian memudar.
Berarti, menurut Anda, dibangunnya jembatan di sana itu merupakan kesalahan?
Dari segi pandangan spiritual, itu sudah menjadi kesalahan yang fatal. Terputusnya jalan itulah yang sesungguhnya dapat memberi kekuatan. Jika setiap hari orang naik sepeda motor dan mobil, sekali waktu naik jukung, itu kan memberi suatu rasa yang lain. Ziarah itu jangan naik motor. Ziarah itu mesti dengan jalan kaki sehingga ada proses perubahan secara fisik -- darah dapat bergerak. Setelah terengah-engah, barulah duduk, sehingga di situ ada stabilitasi. Setelah itu barulah memuja Tuhan. Dengan adanya jembatan atau jalan penghubung, itu berarti sudah menghilangkan mala dalam diri.
Tapi itu kan demi pertimbangan efisiensi dan kepraktisan?
Untuk hal-hal spiritual jangan mengambil pertimbangan praktis. Di Bali, kita harus mempertimbangkan aspek-aspek nonmaterial seperti kebudayaan dan kesenian. Spiritual merupakan kriteria pokok yang harus dipertimbangkan dalam membangun Bali. Sekarang kan kita dapat rasakan sendiri, di situ (di sekitar Pura Sakenan, red) debu beterbangan, motor meraung-raung, orang tak akan bisa berkonsentrasi dalam sembahyang. Di situ tidak akan ada aspek estetik atau keindahan. Satvam, siwam, dan sundaram itu tidak akan tercapai. Kesucian tak akan bisa terjaga karena terjadi polusi. Jangan ngomong kesucian dalam pikiran saja, lingkungan juga harus suci. Satvam, kebenaran dalam arti energi air itulah suatu kebenaran. Kalau kita berada di tengah sebuah pulau kecil yang dikelilingi air, itu kan sebuah kebenaran. Jadi keharmonisan itu sudah hilang, tak ada sesuatu yang transenden.
Itu berarti juga keberadaan Sakenan kini tidak spesifik lagi?
Ya, intinya, orang pergi ke Sakenan kini tidak merasakan sesuatu yang lain. Padahal, Sakenan itu memang disiapkan untuk lain daripada yang lain. Spiritual itu kan harus menembus batas rutinitas. Harus ada yang lain. Orang Bali kan selalu menciptakan yang lain, menciptakan beratus-ratus dunia budaya Bali, sehingga setiap saat mereka memasuki dunia berbeda. Pada titik tertentu, mereka siap menerima sesuatu apapun yang terjadi atas kehidupan mereka -- dari atas, bawah, dan sebagainya.
Ditulis oleh
Suastra
at
Wednesday, July 04, 2007
0
Comment
Sunday, June 24, 2007
CANDI SUKUH

Sebuah candi yang dibangun pada sekitar abad XV terletak di lereng gunung Lawu di Wilayah Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah . Dari permukaan air laut, ketinggiannya sekitar 910 M. Berhawa sejuk dengan panorama yang indah. Kompleks Situs purbakala Candi Sukuh mudah dicapai dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat, dengan jarak 27 Km dari kota Karanganyar.
Candi Sukuh terdiri tiga tiga trap. Setiap trap terdapat tangga dengan suatu gapura. Gapura-gapura itu amat berbeda bila dibandingkan dengan gapura umumnya candi di Jawa Tengah, apa lagi gapura pada trap pertama. Bentuk bangunannya mirip candi Hindu dipadu dengan unsur budaya asli Indonesia yang nampak begitu kentara, yakni kebudayaan Megaliticum.
Trap I Candi Sukuh menghadap ke barat. Seperti yang sudah diutarakan, trap pertama candi ini terdapat tangga. Bentuk gapuranya amat unik yakni tidak tegak lurus melainkan dibuat miring seperti trapesium, layaknya pylon di Mesir (Pylon : gapura pintu masuk ke tempat suci).
Trap Ketiga Trap ketiga ini trap tertinggi yang merupakan trap paling suci. Candhi Sukuh memang dibuat bertrap-trap semakin ke belakang semakin tinggi. Berbeda dengan umumnya candhi-candhi di di Jawa Tengah, Candi Sukuh dikatakan menyalahi pola dari buku arsitektur Hindu Wastu Widya. Di dalam buku itu diterangkan bahwa bentuk candhi harus bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya, dan yang ditengah itulah tempat yang paling suci. Sedangkan ikwal Candi Sukuh ternyata menyimpang dari aturan-aturan itu, hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, sebab ketika Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah memudar, dan mengalami pasang surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu kebudayaan prahistori jaman Megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada candhi Sukuh ini.
Di sebelah selatan jalan batu, di pada pelataran terdapat fragmen batu yang melukiskan cerita Sudamala. Sudamala adalah salah satu 5 ksatria Pandawa atau yang dikenal dengan Sadewa. Disebut Sudamala, sebab Sadewa telah berhasil "ngruwat" Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil "ngruwat" Bethari Durga yang semula adalah raksasa betina bernama Durga atau sang Hyang Pramoni kembali ke wajahnya yang semula yakni seorang bidadari.di kayangan dengan nama bethari Uma Sudamala maknanya ialah yang telah berhasil membebaskan kutukan atau yang telah berhasil "ngruwat".
Adapun Cerita Sudamala diambil dari buku Kidung Sudamala. Sejumlah lima adegan yaitu : 1. Relief pertama menggambarkan ketika Dewi Kunti meminta kepada Sadewa agar mau "ngruwat" Bethari Durga namun Sadewa menolak. 2. Relief kedua menggambarkan ketika Bima mengangkat raksasa dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menancapkan kuku "Pancanaka" ke perut raksasa. 3. Relief ketiga menggambarkan ketika Sadewa diikat kedua tangannya diatas pohoh randu alas karena menolak keinginan "ngruwat" sang Bethari Durga. Dan sang Durga mengancam Sadewa dengan sebuah pedang besar di tangnnya untuk memaksa sadewa.. 4. Relief keempat menggambarkan Sadewa berhasil "ngruwat" sang Durga. Sadewa kemudian diperintahkan pergi kepertapaan Prangalas. Disitu Sadewa menikah dengan Dewi Pradapa 5. Relief kelima menggambarkan ketika Dewi Uma (Durga setelah diruwat Sadewa) berdiri di atas Padmasana. Sadewa beserta panakawan menghaturkan sembah pada sang Dewi Uma.
Pada sebelah selatan jalan batu ada terdapat candi kecil, yang di dalamnya terdapat arca dengan ukuran yang kecil pula. Menurut mitologi setempat, candi kecil itu merupakan kediaman Kyai Sukuh penguasa ghaib kompleks candi tersebut . Di dekat candi kecil terdapat arca kura-kura yang cukup besar sejumlah tiga ekor sebagai lambang dari dunia bawah yakni dasar gunung Mahameru, juga berkaitan dengan kisah suci agama Hindhu yakni "samudra samtana" yaitu ketika dewa Wisnu menjelma sebagai kura-kura raksasa untuk membantu para dewa-dewa lain mencari air kehidupan (tirta prewita sari). Ada juga arca garuda dua buah berdiri dengan sayap membentang. Salah satu arca garuda itu ada prasasti menandai tahun saka 1363. Juga terdapat prasasti yang menyiratkan bahwa Candi Sukuh dalam candi untuk pengruwatan, yakni prasasti yang diukir di punggung relief sapi. Sapi tersebut digambarkan sedang menggigit ekornya sendiri dengan kandungan sengkalan rumit : Goh wiku anahut buntut maknanya tahun 1379 Saka. Sengkalan ini makna tahunnya persis sama dengan makna prasasti yang ada di punggung sapi yang artinya kurang lebih demikian : untuk diingat-ingat ketika hendak bersujud di kayangan (puncak gunung), terlebih dahulu agar datang di pemandian suci. Saat itu adalah tahun saka Goh Wiku anahut buntut 1379. Kata yang sama dengan ruwatan di sini yaitu kata : "pawitra" yang artinya pemandian suci.
Ikwal upacara "ngruwat" yang dipaparkan di sini sudah barang tentu berbeda dengan upacara ruwatan pada jaman sekarang yang biasanya dilakukan oleh seorang dalang sejati. Yang sering di sebut dalam masyarakat jawa dalang Kandha Buwana. Dan ada anak yang diruwat pun mempunyai "sukerta" karena posisinya dalam keluarga misalnya: anak ontang-anting, uger-uger lawang, kembang sepasang,kedhana kedhini, sendhang kapit pancuran. Pancuran kapit sendang dan sebagainya; juga karena kebiasaan sehari-hari yang tidak kita sadari misalnya: menjatuhkan "dandang" (tanakan nasi), membuang sampah dari jendela,berjalan seorang diri diwaktu siang hari bolong, atau karena bawaan sejak lahir misalnya gondang-kasih, bungkus, kalung usus; atau karena waktu kelahirannya misalnya julung serap, julung wangi dan sebagainya. Anak-anak yang mempunyai sukerta ini diruwat oleh dalang sejati agar terbebas dari incaran Bethara Kala.
Ditulis oleh
Suastra
at
Sunday, June 24, 2007
0
Comment
Tuesday, June 19, 2007
Ngewaliang Linggih Ida Bhetara Dalem Tungkub lan Kahyangan
Hari Selasa pahing tanggal 19 Juni 2007 dilaksanakan Upacara Pemelaspasan yang merupakan rangkaian dari proses ngingsir linggih Ida Bhetara Dalem Tungkub dan Kahyangan, melinggih ring purwaning daksina.
Dalam proses ini di "puput" oleh Ida Pedanda dari Griya Toko dan upakaranya dibuat oleh Ida Ayu Mayun okan Ida Dayu Agung.
Upacara ini digarap oleh dua banjar wewengkon Desa Adat Peminge yaitu Br. Sawangan dan Br. Peminge.
Upacara dimulai jam 13.00 wita diikuti alunan gamelan dari Banjar Sawangan dan lantunan nyanyian suci oleh sekaa santhi kedua belah banjar. Dan upacara berakhir kira-kira pukul 17.00 wita.
Mengenai upakara yang dihaturkan sesuai dengan keputusan rapat prajuru Desa Adat dan para sutri mangku, yaitu Ayaban Pulagembal mebebangkit, caru panca sata. Tentang Ida Bhetara Tirtha yang dituwur adalah :
Pura Geger yang diikuti dengan ngaturang pejati meganjaran mesemayangan di Dane Sedahan dan ngaturang pejati meganjaran di Sorin Taru Sabo
Pura Gunung Tedung yang diikuti dengan ngaturang pejati meganjaran di Dauh Margi.
Pura Karang Boma
Mapejati meganjaran mesemayangan di Pura Penaweng, mapejati maganjaran di Dalem Unen, mapejati maganjaran di Dalem Dasar, mapejati maganjaran di Dalem Kesiman.
Mapejati maganjaran di Pura Melanting, Pura Bhetari, Pura Mrajapati. Nunas tirtha di Dalem Kahyangan, Dalem Tungkub, Dalem Penataran, Pura Puseh lan Desa, Dalem Lamun.
Mapejati maganjaran di Taman Lamun lan ratu gede ring dalem lamun, mapejati maganjaran masemayangan di Pura Bias Tugel dan Kalangan Gambuh. Mapejati maganjaran di Pura Pererepan Jaba dan mapejati maganjaran masemayangan di linggih Indra Belaka di Pura Pererepan Jaba. Nunas Tirtha di Pura Segara mengiat.
Demikianlah beberapa hal serangkain upacara ngewaliang linggih Ida Bhetara Dalem Tungkub dan Kahyangan.
namaste,
Ditulis oleh
Suastra
at
Tuesday, June 19, 2007
0
Comment
Thursday, June 14, 2007
Pitra Puja
apa yang ada ditempat lain pasti ada di "Veda"
dan apa yang ada di "Veda" belum tentu ada
di tempat lain....
Saat niga (tiga) hari, tujuh hari, seratus hari
di jawa umum di lakukan pitra puja
yang biasanya di hadiri oleh sanak saudara, kerabat
dan kadang umat dari lain desa....
Om Swargantu... Moksantu... Sunyantu..
Om Swargantu... Moksantu... Sunyantu..
Om Swargantu... Moksantu... Sunyantu.. (108x)
Ditulis oleh
Suastra
at
Thursday, June 14, 2007
0
Comment
Sunday, June 10, 2007
IBU JARI

Ditulis oleh
Suastra
at
Sunday, June 10, 2007
0
Comment
Friday, June 08, 2007
Sentuhan perih dari seorang Wayan Jabut
Untuk Organisasi Pemuda, agar setiap membuat acara apapun bentuknya bijak dalam memilah-milah dan secara profesional berpikir, tujuan apakah yang akan kita raih dengan adanya kegiatan yang kita rencanakan....?. Harusnya jelas, aktual dan able to be acknowleged for the future, not only at present.
Libatkan penglingsir dan prajuru dalam setiap merencanakan kegiatan......
Jangan sampai menyentuh hak asasi orang lain...... agar tidak berurusan dengan hukum...
Semoga pelajaran ini menjadikan organisasi pemuda ini menjadi lebih dewasa...
Namaste
Ditulis oleh
Suastra
at
Friday, June 08, 2007
0
Comment
Wednesday, May 30, 2007
Raja Raja Gelgel
Lintas Sejarah dikutif dari Swecapura Gelgel Samai Smarajaya ( Semarapura) Klungklung
1. Dalem Ktut Ngulesir Raja Gelgel I Pusat pemerintahan di Bali setelah pindah dari keraton Samprangan dipusatkan di Gelgel. Kraton tersebut diberi nama Sueca Pura. Afapun sebagai raja peretama di Kraton Sueca Pura amasih merupakan penerus dari dinasti Kepakisan yang turun temurun dari Majapahit. Beliau adalah I Dewa Ktut yang kemudian bergelar Dalem Ktut Ngulesir, karena dianggap sebagai pelanjut dinasti Kepakisan, maka raja ini juga bergelar Dalem Ktut Kresna Kepakisan yang memerintah selama kurang lebih 20 tahun ( 1380 - 1400) Menurut sumber-sumber tradisional, raja ini dikenal sebagai raja yang sangat tampan, karena diketahui memiliki tanda khusus (cawiri) berupa tahi lalat pada paha kanannya. Hal ini juga dianggap sebagai simbol kecakapan beliau di dalam memimpin rakyatnya. Bukti-bukti atau peninggalan Raja Dalem Ktut Ngulesir sebagai raja I di Gelgel sangat sulit ditemukan. Baik yang disebutkan oleh babad maupun sumber lainnya.
2. Dalemn Watu Enggong Raja Gelgel IISetelah Dalem Ktut Ngulesir mangkat, maka pemerintah Gelgel digantikan oleh putra tertua beliau yang bergelar Dalem Watu Enggong atau sering disebut Dalem Waturenggong. Pemerintah Dalem Waturenggong merupakan puncak kebesaran atau jaman kemasan Kerajaan Bali. Karena pada jaman Dalem Waturenggong, wilayah kerajaan Bali sudah meluas sampai ke Sasak (lombok), Sumbawa, Balmbangan dan Puger. Dalem Waturenggong adalah raja yang sangat ditajuti oleh raja Pasuruan dan Raja Mataram.Pemerintah Dalem Waturenggong pada abad XVI (sekitar tahun 1550 M ) merupakan awal lepasnya ikatan dan pengaruh Majapahit terhadap kerajaan Bali seiring runtuhnya kerajaan Majapahit oleh Kerjaan Islam.Pada masa Dalem waturenggong inilah, pernah terjadi sengketa antara Gelgel dengan kerajaan Blambangan yang dikuasai oleh Dalem Juru yang dipicu karena penolakan lamaran dari Dalem Waturenggong terhadap Ni Gusti Ayu Bas Putrid Dalem Juru. Pertempuran sngitpun terjadi, laskar bali yang dipimpin oleh Patih Ularan berhasil membunuh Dalem Juru raja Blambangan. Mengenai kepastian tahun pemerintahan dan peninggalan raja Dalem Waturenggong di Gelgel maupun Klungkung sangat sulit ditemukan dari sumber babad beberapa naskah baru (yang masih harus diuji kebenarannya, koleksi AA Made Regeg Puri Anyar Klungkung, meyebutkan masa pemerintahan Dalem waturenggong disebut dalam angka tahun 1400 - 1500. Sedangkan naskah yang ditulis oleh I Dewa Gde Catra, Sidemen - Karangasem menyebutkan tahun 1460 -1552 M). Memang kedua sumber tersebut tidak berbeda jauh, tetapi masih perlu diteliti kesalahannya.
3. Dalem Bekung Raja Gelgel IIIRaden Pangharsa yang kemudian bergelar Dalem Bekung adalah putra tertua Dalem Waturenggong yang akhirnya menjadi raja Gelgel yang ke 3, karena usianya masih sangat muda, maka pemerintahan sehari-hari di Gelgel diwakilkan kepada kelima pamannya yaitu Gedong Atha, I Dewa Nusa, I Dewa Pangedangan, I Dewa Anggungan, dan I Dewa Bangli.Masa Pemerintahan Dalem Bekung adalah awal kesuraman kerajaan Gelgel. Karena pada masa pemerintahannya ini pula terjadi banyak masalah dan kesulitan. Kerajaan -kerajaan Gelgel di luar Bali yang pernah dikuasai Dalem Waturenggong satu per satu melepaskan diri. Pemberontakan juga terjadi di dalam kerajaan yang dilakukan oleh Gusti batan Jeruk atas ajakan dari I Dewa Anggungan yang tiada lain adalah pamannya sendiri, pemberontakan Batan Jeruk nyaris meruntuhkan Gelgel, sebelum Arya Kubon Tubuh yang masih setia kepada Dalem mampu memadamkan pemberontakan Batan Jeruk.
4. Dalem Segening Raja Gelgel IVSetelah meredanya pemberontakan Batan Jeruk menyusul terjadinya pemberontakan yang dilakukan oleh Krian Pande sebagai pembalasan atas kegagalan Batan Jeruk. Dan pemeberontakan inipun dapat dipadamkan dengan terbunuhnya Kareian Pande, karena situasi mulai kacau, maka oleh pembesar Kerajaan Gelgel diangkatlah I Dewa Segening sebagai raja menggantikan kakaknya Dalem Bekung. I Dewa Segening kemudian bergelar Dalem Segening. Dengan sukarela dan ihklas Dalem Bekung menyerahkan tahta kepada adiknya karena merasa dirinya tidak mampu mengemban amanat dari leluhurnya.Satu perubahan yang paling menonjol dari pemerintahan Dalem ZSegening adalah kembalinya kerajaan-kerajaan Sasak (Lombok), Sumbawa yang mengakui kekuasaan Gelgel. Dan satu hal yang penting adalah Dalem Segening mulai menyebarkan golongan ksatria Dalem hampir ke seluruh BAli. Dan gelar ksatria itupun sudah dibagi-bagi mulai status yang poaling tertinggi seperti Ksatria Dalem, ksatria predewa, kesatria prangakan dan ksatria prasanghyang..Sama seperti halnya pemerintahan Gelgel terdahulu, hampir tidak ada peninggalan yang dapat diinformasikan baik berupa dokumentasi maupun benda lainnya oleh penyunting sebagai bukti kebesaran Gelgel.
5. Dalem Di Made Raja Gelgel VSetelah masa pemerintahan Dalem Segening berakhir, akhirnya Gelgel diperintah oleh Dalem Di MAde sekaligus sebagai raja terakhir masa kerajaan Gelgel. Saat-saat damai yang pernah dirintis oleh Dalem Segening tidak dapat dipertahankan oleh Dalem Di Made. Hal ini disebabkan karena Dalem Di MAde terlalu memberikan kepercayaan yang berlebihan kepada pengabihnya I Gusti Agung Maruti. Sehingga pembesar-pembesar lainnya memilih untuk meninggalkan puri.Hal inilah yang akhirnya dimanfaatkan oleh I Gusti Agung MAruti untuk menggulingkan pemerintahan Dalem Di Made. Usaha ini ternyata berhasil, Dalem Di Made beserta putra-putranya menyelamatkan diri ke desa Guliang diiring oleh sekitar 300 orang yang masih setia. Disinilah Dalem Di Made mendirikan keraton baru.Hampir selama 35 tahun Gelgel mengalami kevakuman karena Dalem Di Made telah mengungsi ke Guliang (Gianyar). Sementara Maruti menguasai Gelgel. Hal ini justru membuat Bali terpecah-pecah yang mengakibatkan beberapa kerajaan bagian seperti Den Bukit, Mengwi, Gianyar, Badung, Tabanan, Payangan dan Bangli ikut menyatakan diri merdeka keadaan ini diperparah dengan wafatnya Dalem Di Made di keraton Guliang.Dengan wafatnya Dalem Di Made, membuat para pembesar kerajaan menjadi tergugah untuk mengembalikan kerajaan kepada dinasti Kepakisan. Hal ini dipelopori oleh tiga orang pejabat keraton Panji Sakti, Ki Bagus Sidemen, dan Jambe Pile, mereka akhirnya menyusun strategi unuk menyerang Maruti yang berkuasa di Gelgel. Penyerangan dilakukan dari tiga arah secara serentak yang membuat Maruti dan pengikutnya tidak sanggup mempertahankan Gelgel. Maruti berhasil melarikan diri ke Jimbaran kemudian memilih memukim di Alas Rangkan.
Ditulis oleh
Suastra
at
Wednesday, May 30, 2007
1 Comment
Tuesday, May 29, 2007
METODE PEMBLAJARAN AGAMA HINDU
Metode pemblajaran Agama Hindu yang telah dilaksanakan oleh orangtua kita saat semasih kita kecil di kampung dulu.
Untuk saat ini barangkali sudah banyak berubah, atas kemajuan jaman teknologi serta sumber sumber pelajaran agama yang dengan mudah didapat, apalagi belakangan ini Internet sudah menjamur, sehingga kuncinya sekarang adalah kemauan untuk berinovasi dan mencari ilmu sedalam mungkin.

Namun ada baiknya kita tengok kebelakang (flashback) sehingga sesuai dengan ajaran kita yang adiluhung ( Trisemaya Atita Vartamana & Anagata). Sebenarnya metode yang dipakai oleh orangtua kita untuk belajar agama adalah metode berjenjang, bukti sebagai contoh adalah :
Saat kita masih dalam buaian mereka, saat itu kita dibuai dengan ceritra I Siap Selem. Ini berarti dari sesuatu yang paling dekat dengan lingkungan disekitar kita. Mulai besaran sedikit satua I Ubuh & Men Tiwas, kita mulai diajarkan etika dalam keluarga kecil ( menyangkut Kerangka agama Hindu Susila/boedi pakerti )
Besaran sedikit I Bawang lan I Kesuna sudah mulai dikenalkan dengan hukum karmapala, sudah mulai meningkat Tatwa bagian dari Panca srada.
kemudian mulailah berpolitik (Indra-jala ) Pan balang Tamak, nah selanjutnya mulailah silsilah keluarga, Babad, Sejarah Kerajaan dan akhirnya sudah meningkat menuju Purana dan Itihasa, demikian pula konsumsi hiburan yang kita nikmati Wayang Versi Ramayana dan Versi Mahabrata kita sudah mulai dengan tatanan hidup & kehidupan yang sering kita kenal dengan tatanan Upacara.
Upa = dekat, sedangkan Car = gerak jadi upacara itu berarti Pendekatan diri terhadap Sang Mahakawiya melalui Gerak = Mudra, Simbol = Nyasa, Ucapan = Mantram (merupakan rangkaian kata-kata yang diikuti penyatuan diri bayu, sabda, Idep =Pikiran)
Inilah yang kemudian sering disebut dengan Yantram, Mantram,

Dan inilah salah satu metode dasar yang dipakai orangtua kita dalam mendekatkan anak anaknya kepada sang maha pencipta dengan cara Swaarta, Paraarta & Paramearta, mulai dari Symbol=Niyasa, Ucapan Mantram, Gerak = Mudra, menuju Prenawa suci itu OM.
Namaste.
Ditulis oleh
Suastra
at
Tuesday, May 29, 2007
0
Comment
"Om Samaniwah akusih samaniwah dayaniwah, samanamas to va mano Jatihva susaha sati."
OM Hyang widhi, satukanlah kami dalam pemikiran, dalam pendapat, dalam
perkataan, serta pelaksanaan yang berdasarkan mufakat, seperti halnya para Deva
yang bersatu padu dalam membangun sorga kehidupan.